CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
ITO


__ADS_3

POV ITO


Aku hanya tersenyum tipis melihat mahasiswi berjalan tergesa menuju bagian administrasi kantor. Rambutnya dikuncir, mengenakan blazer biru muda dan celana baggy putih, sekaligus sepatu kets warna putih juga. Cantik. Ah sudah lama rasanya aku tidak melihat perempuan cantik ini. Dua tahun menjadi duda membuatku malas dekat dengan perempuan, masih ada trauma untuk menjalin hubungan dengan seorang perempuan.


Tapi mahasiswi itu, cukup menarik perhatianku. Wajah polosnya berhasil membuatku terpana, masuk ke kantor dengan bibir mengerucut. Entah apa yang membuat dia sekesal itu.


Hufh...Aku mengusap wajahku kasar. Sudah cukup berimajinasi tentang gadis itu, saatnya bekerja.


Drt ..drt..


Layar ponselku tertulis nama Mama . Aku angkat saja.


"Iya, Ma?"


"To, ada mahasiswi yang mau penelitian di kantor kamu, itu anaknya Nyonya Ajeng."


Lagi-lagi ada kesalahan, menganggap Renata adalah anak mama Jea, padahal anak mantu. Kurang kata mantu saja bisa fatal.


"Nanti aku hubungi lagi, Ma!" pikiranku tertuju pada gadis itu yang akan melakukan penelitian di kantorku.


Aku memutus sambungan telpon mama, lalu menuju ke bagian administrasi, agak berlari agar bisa menemui gadis itu. Meskipun dalam hati masih bertanya, anak Nyonya Ajeng kan paling besar laki-laki, ouh mungkin adiknya, karena setahuku anak beliau memang laki-laki dan perempuan.


Dewi Fortuna berpihak padaku. Gadis yang kulihat tergesa tadi masih menulis form pengajuan perizinan penelitian. Tepat dugaanku, ternyata yang dimaksud mama adalah gadis itu.


Aku hanya duduk mengamatinya, meskipun beberapa karyawan menyapaku. Tak berselang lama aku memanggil Puri, salah satu staf administrasi. Meminta mahasiswa itu menghadapku dan segera ACC surat penelitiannya.


"Maaf, tadi bapak memanggil saya?" tanyanya beberapa saat kemudian. Aku yang sibuk bermain ponsel seketika mendongak, tersenyum sebentar lalu menyuruhnya duduk di hadapanku.


"Kamu anaknya Nyonya Ajeng?"


Dia sempat mengerutkan dahi, mungkin heran bagaimana aku tahu siapa dirinya.


"Iya, pak. Saya menantunya Nyonya Ajeng."


Duarr


Menantu???


Loh?


Istri Jea?


Aku segera menyembunyikan wajah kagetku, berita pagi yang membuatku langsung badmood. Menantu. Hishh...mama ngeprank ternyata. Memang benar dia anak Nyonya Ajeng tapi anak mantu lebih tepatnya, duh..gagal dong PDKT sama dia.

__ADS_1


Aku hanya memperkenalkan diri sebagai anak Jeng Ratna, teman arisan Nyonya Ajeng, dan gadis itu tersenyum karena ia pernah bertemu dengan mama. Dia pun segera pamit dan mengucapkan terimakasih.


Gadis manis, pikirku.


Yah ....tapi aku harus mengubur rasa penasaran terhadap gadis itu. Sudah milik orang, aku tidak mau dicap sebagai pebinor, perebut bini orang. Aku tahulah rasanya pengkhianatan dalam rumah tangga, sakit sampai membuat trauma.


Kembali kufokuskan pikiranku pada pekerjaan. Rasa tertarik dengan perempuan pupus sudah. Mungkin belum saatnya aku menjalin kasih, biarkan aku menikmati kesendirian, mengobati trauma akan pengkhianatan dalam berumah tangga.


Ternyata perhatianku pada gadis itu cukup mudah, ya memang baru pertama sih wajar kalau aku cepat melupakannya, tak terasa waktu pulang kerja pun datang. Sebelum aku keluar ruangan, terlebih dulu ada yang mengetuk ruanganku.


"Masuk!" titahku


Ternyata Puri, dia menyodorkan amplop, yang berisi surat izin penelitian untuk menantu Nyonya Ajeng.


Renata Adzkiya, itulah nama panjangnya. Aku meminta Puri menyerahkan pdf nya juga dikirimkan ke nomorku.


Dia pun menurut, tak berselang lama aku pun mendapat lampiran pdf surat izin penelitian. Segera kukirim saja pada Renata, kita sempat bertukar nomor tadi. Berkali-kali aku memantapkan hati untuk tidak membahas hal pribadi, istri orang..istri orang ...begitu aku meyakinkan hatiku agar tidak mengirim pesan aneh-aneh.


Setelah mendapat balasan dari Renata, aku segera pulang ingin sekali bertanya pada mama tentang Renata.


"Beneran ma, dia itu menantu Tante Ajeng?" sepulang kerja aku langsung menemui mama yang sedang berkutat dengan masakan untuk makan malam.


"Iya, kenapa?" Sepertinya mama menangkap gelagatku yang memang tertarik dengan Renata.


"Jangan macam-macam kamu, To. Bini orang itu." Ucap Mama sambil mengayunkan spatula ke arahku. Aku terkekeh melihat respon mama, sadis.


"Awalnya sih tertarik, tapi waktu dia bilang menantu Nyonya Ajeng, pupus deh ma. Gak bakal aku dekati."


"Baguslah, cari cewek lain aja, jangan bini orang."


"Jea emang kapan nikah?" aku memang tahu Jea, beberapa kali bertemu urusan bisnis dan kolega keluarga kami tentunya.


"Sehari sebelum papanya meninggal. Kamu tahu mereka tuh tanpa pacaran loh, langsung nikah aja. Istilahnya tuh mereka ta'arufan."


"Oh." Aku hanya ber oh saja. "Emang nikah melalui ta'aruf gitu bisa cinta ya Ma?" lanjutku masih berharap ada celah untuk dekat dengan Renata. Niat yang salah sebenarnya.


"Bisa. Nyonya Ajeng sering upload mereka. Tatapan mata keduanya gak bisa bohong kalau mereka saling cinta."


"Di medsos gitukan banyak yang berbeda dengan kenyataan, Ma!" aku masih menyangkal cinta diantara keduanya lemah. Fix aku jadi orang jahat. Astaghfirullah.


"Mama tahu sendiri, kemarin waktu arisan Renata diajak, dia begitu sayang sama Nyonya Ajeng begitupun dengan Nyonya Ajeng bangga sekali dengan mantunya. Mama pengen banget punya mantu seperti Renata, sudah cantik, ramah, sayang sama keluarga."


Aku tersenyum, tidak salahkan pandangan pertamaku terhadap Renata sungguh berkesan, mama saja menginginkannya.

__ADS_1


"Tapi kamu jangan merusak hubungan mereka, To. Gak baik loh!" lagi, mamaku memberi ultimatum keras agar aku tidak menjadi pebinor.


Benar sih, hanya saja bolehlah menganggap Renata single saat penelitian. Gak pa-pa, kan? Aku tertawa dalam hati, kenapa aku punya niat gak baik seperti ini. Masih banyak perempuan baik dan bukan istri orang. Aku saja yang belum bisa membuka hati buat perempuan lain. Baru tertarik ternyata istri orang. Nyesek.


"To, emang kamu sudah mau menjalin kasih dengan perempuan lagi?"


"Belum, Ma."


"Masih trauma?"


Aku mengangguk, toh kenyataannya memang seperti itu.


"Kriteria perempuan yang kamu inginkan seperti apa?"


"Renata."


PLUK


Spatula yang sudah anteng di wajan kok bisa-bisanya dipegang mama lagi, dan kepalaku jadi korban pula.


"Aduh, Ma. Kira-kira dong kalau mau mukul." Protesku.


Mama sudah berkacak pinggang, "Jangan pernah ada pikiran untuk jadi pebinor kamu ya, disekolahkan tinggi-tinggi kok punya cita-cita jadi pebinor, Astaghfirullah."


Aku tertawa ngakak mendengar ocehan mama, pengkhianatan Erin padaku dengan kembali ke mantannya sudah membuat mama stress, jangan sampai anaknya bermasalah dengan istri orang juga.


"Insyaallah anak mama masih waras, Ma. Jauh-jauh deh dari perebut istri orang."


"Syukur deh, kamu pun sudah merasakan ditinggal karena pengkhianatan, sakit tentunya sampai trauma gitu."


"Banget, Ma. Lagi sayang-sayangnya malah diselingkuhi. Andai dulu Ito dengar omongan mama bahwa Erin bukan yang terbaik untuk Ito, mungkin Ito bisa nikah sama Renata ya."


Aku masih saja menyebut istri Jea, entahlah suka aja melihat mama yang uring-uringan karena anaknya mulai menjurus ke profesi baru, pebinor.


Puk


Mama memukul mulutku, yassalam, bau bawang lagi tangan mama.


"Renata..Renata, gak usah macem-macem kamu!"


"Iya...iya!"


Iya di mulut bukan berarti aku mengiyakan dalam hati. Lihat saja mulai hari Senin besok, bagaimana hatiku memilih.

__ADS_1


__ADS_2