
Denting suara jam, deruan mesin printer, ditambah suara ketikan komputer mewarnai kesibukan di jam kerja perusahaan properti. Lalu lalang para pegawai pasti berurusan dengan dokumen-dokumen penting perusahaan.
Mampus
Satu kata untuk hari ini, selain sibuk mereka kedatangan bos lagi. Heloooooooo ngapain bos? Kalau boleh protes mungkin itu kali pertanyaan yang muncul di benak para pengais rupiah.
Cukup santai bos muda itu melewati berbagai kubikel dengan menyambut sapaan para bawahannya. Bisik-bisik terus terdengar mencari tahu alasan bos datang ke kantor lagi, bukannya sudah kemarin???
Hufh....apa-apaan ini??????
"Pak, Bos kok bisa datang lagi?" Elsa bertanya sambil berbisik, ada rasa khawatir juga kalau ditagih laporan dan tugas lain, masih belum rampung.
Renata si anak magang hanya mencuri dengar, tapi tak berani ikut obrolan. Terlihat Pak Fahmi mengulum senyum, "Lagi kangen seseorang kali." Jawabnya masih dengan menatap laptop.
"Gak menagih laporan kan?"
"Gak."
"Trus?" Elsa masih penasaran.
"Tanya Renata."
"Hah? kok saya, pak?" Renata masih belum paham. Sedangkan Pak Fahmi masih saja cekikan sendiri.
"Ouh ....pak bos datang karena mau nyamperin Renata?" Elsa sudah mulai paham, "Kayaknya pak bos naksir berat sama kamu deh, Ta!" lanjutnya.
"Hah? gak mungkin, Mbak!" Renata sebisanya menyangkal, karena ia mau magang dengan tenang, biarkan tiga minggu ini dia bisa hidup tenang di kantor ini tanpa ada sindirian dan nyinyiran.
"Kamu ditaksir bos gak mau si, Ta. Kalau aku mah pasti aku terima." Elsa mengompori.
"Selera Renata mungkin bukan bos kali."
"Hem...emang kurangnya bos apa, Ta?"
Kok jadi urusan pribadi dibawa-bawa sih, sumpah bikin badmood aja deh.
"Gak ada kurang, Mbak. Kelebihan malah," Renata berusaha melontarkan candaan, "Justru saya yang minder."
"Udah-udah, ayo lanjutkan kerja. Urusan bos nanti saja."
Hah... beruntung sekali Pak Fahmi mengakhiri pembicaraan tentang bos muda. Lebih baik memang fokus pada kerja.
Ting
Ting
Ponsel Renata berbunyi, dua pesan sekaligus dari Wira dan Jea. Hufh.....
/makan siang bareng ya nanti/ Jea
/Pulang magang aku jemput ya/ Wira
Renata menggaruk pelipisnya, dia sangat tidak suka keadaan seperti ini. Tidak merasa bangga sekalipun diberi perhatian dua cowok sekaligus. Ia malah khawatir sekali membuat mereka berharap lebih, meskipun kenyataannya memang seperti itu.
/Maaf, Pak. Saya makan siang dengan yang lain saja/ balasan untuk Jea.
__ADS_1
/Gak usah, Wir. Gue bawa motor/ balasan untuk Wira.
Yah memang lebih baik seperti itu, menolak ajakan keduanya, agar mereka tidak bermusuhan juga.
Setelah membalas seperti itu, hidup Renata sedikit tenang. Ia bisa menyelesaikan tugas yang diberikan Pak Fahmi dengan lancar, meskipun ada koreksi sedikit dari manajer itu.
Ia pun kini membantu Elsa untuk membuat laporan promosi bulan kemarin, "Mbak laporan ini untuk promosi virtual atau promosi yang di lapangan?"
Elsa menghentikan kerjanya kemudian mendekat ke arah Renata yang memang sedang duduk di depannya. "Ta, kamu memang gak berminat sama pak bos?" Elsa sengaja bertanya dengan sangat pelan agar Pak Fahmi tidak curiga.
Renata hanya menggeleng, kemudian menatap Elsa dengan seksama, "Rugi tau kalau kamu tolak, karyawan di sini semua pada ngincer."
Hufh....Renata menghela nafas pendek. "Mbak saya minder sama pak bos, kata bapak saya kalau mau cari pasangan itu sewajarnya saja, sepadan dengan kita agar tidak timpang. Kalau mengharap yang lebih tinggi dari kita jatuhnya nyesek."
Elsa diam, kemudian mencebikkan bibirnya, "Lo nyindir gue, ya?"
Sebenarnya iya, hanya saja Renata masih punya hati untuk menggeleng. "Enggak, Mbak. Kan Mbak gak naksir pak bos, tapi naksir Pak Fahmi kan, hemmm beliau sepadan dengan mbak kok. Serasi."
Peuh....geli rasanya Renata memuji Elsa seperti itu, mana ada sepadan dengan Pak Fahmi yang kalem, murah senyum, pekerja keras, ramah. Lah ini, cewek gak ada ramah-ramahnya, jutek mulu tiap hari.
"Kamu juga gak naksir Pak Fahmi?"
"Enggaklah, mana berani anak magang ngecengin manajer, Mbak."
Tampaknya mulut manis Renata berhasil, senyuman Elsa mulai merekah. Pantes juga gue jadi penjilat, kekkekkek, gumam Renata dalam hati.
"Oke...nanti penilaian kinerja aku kasih nilai A."
"Yah, Mbak. Kalau kasih nilai sesuai kemampuan saya dong, jangan karena urusan pribadi."
"Ck...Kamu pantas kok dapat nilai A. Kamu memang cekatan dan tugas yang kita berikan kamu juga selalu beres. Gak berniat melamar kerja di sini?"
"Apaaaaaa?"
*********
Beberapa manajer disembur omelan di ruang bos. Sungguh hari ini adalah hari apes bagi mereka. Laporan yang hanya diminta tiap akhir bulan kini pertengahan bulan sudah diminta, maunya apa sih bos ini.
Niat hati ingin mengerjakan laporan nanti saja, kini mau tidak mau memberikan draft laporan yang belum selesai. Jelas kena semprot, dibilang gak becus kerjalah, kenapa numpuk kerjaan kalau sudah menjadi tanggung jawabnya, mau dipecat. Wah...Wah...bos berubah jadi singa.
"Fahmi, laporan promosi lapangan kenapa seperti ini, kenapa hanya promosi melalui reklame saja yang kamu laporkan, revisi!"
"Baik, Pak!"
"Guntur, laporan marketing hanya dua supervisor yang kamu laporkan, kamu niat bekerja apa tidak. Berapa supervisor di bawah arahan kamu?"
"Maaf, Pak, nanti saya revisi."
"Saya tanya berapa supervisor yang di bawah naungan devisi kamu?"
"Delapan, Pak?"
"Lalu yang enam ke mana? Mau korupsi kamu?"
"Tidak, Pak!"
__ADS_1
"Sebenarnya kalian ini kerja ngapain aja sih, apa nunggu saya datang dulu baru kalian kerja, hah? jawab!"
Semua menunduk, tidak berani ada yang menatap. Begini ya kalau punya kekuasaan, anak muda yang berumur 23 tahun bisa membentak para manajer yang usianya pun di atasnya.
"Revisi semua laporan, saya mau sore nanti sudah ada di meja saya. Mengerti?"
"Mengerti, Pak!"
"Silahkan bubar."
Mereka mengangguk hormat, kemudian bergegas keluar dari kandang singa tersebut. Banyak yang hanya menggelengkan kepala, ada juga yang khawatir kalau bos itu bisa datang ke anak perusahaan ini tiap hari.
Ceklek
Pak Fahmi masuk ke ruangan dengan tampang loyo, ia langsung terduduk lemas sambil merenggangkan lilitan dasi. Map laporan pun dihempaskan begitu saja.
"Ta, magang kamu kurang berapa minggu lagi?"
Hah??? tumben tanya.
"Tiga minggu, Pak. Tapi gak full sepertinya."
"Bagus deh."
Renata mengerutkan dahi, sebegitu gak sukanya kah ada anak magang? takut ada saingan? takut posisinya tergeser?
"Kenapa memangnya?" bukan Renata tapi Elsa yang bertanya.
"Analisis saya, bos kemari dan berniat tiap hari karena ingin bertemu dengan kamu, Ta!"
Melotot itulah ekspresi Renata, "Kok bisa?" gumamnya.
"Ta, terima aja pak bos, Ta. Tugas gue banyak banget, Ta. Kalau tiap hari ke sini, bisa stres aku, Ta!" Yah....Elsa memohon, begitupun dengan Pak Fahmi, beliau hanya menganggukkan kepala, sangat setuju dengan permohonan Elsa.
"Pak Jea gak menawarkan apa-apa, mbak. Apa yang harus saya terima?"
"Cantik-cantik gak peka." Gerutu Pak Fahmi.
"Ya dia minta apa terima kek, apapun deh yang ditawarkan, ya..ya..ya.."
"Emang kenapa sih Mbak, dia mau ke sini kan terserah dia, kantor punya dia."
"Duh, Ta. Kalau ke sini sekedar berkunjung, rapat, tanya ini itu, menagih laporan saat akhir bulan gak masalah, Ta. Tapi kalau seperti ini, gak sanggup, Ta." Kali ini Pak Fahmi yang mengeluh.
Karena otak Renata terlalu polos, ia hanya berpikir ya kalau kerja dan gak berbuat salah ngapain takut bos datang tiap hari sih???
Yah Wijaya property merupakan anak cabang perusahaan Sanjaya Group. Perusahaan ini merupakan perusahaan properti yang didedikasikan untuk mengenang kakak Jea yang meninggal, Wijaya Ardian Sanjaya.
Selama ini, anak cabang dipegang oleh orang kepercayaan Pak Sanjaya, papanya Jea, berhubung Pak Sanjaya sakit, semua tugas dialihkan kepada Jea dan beberapa asisten kepercayaan beliau. Setiap bulan, Jea akan mengadakan kunjungan ke berbagai anak cabang, meskipun tiap hari ia mendapatkan laporan tiap anak cabang ke emailnya.
Hanya saja untuk hari ini sangat aneh, beliau datang tanpa pemberitahuan, menagih laporan tiap devisi, dan hasilnya para manajer terkena omelan. Mantappp.
"Kalau menurut saya, bapak dan mbak Elsa gak perlu takut bos datang tiap hari deh, kan Mbak Elsa dan Pak Fahmi gak korupsi."
"Susah ngomong sama anak yang belum lulus S1 ini."
__ADS_1
"Gak pa-pa menurut kamu, momok bagi kita. Karena kerja gak bisa santai."
Renata kincep.