CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
TIGA MINGGU KELABU


__ADS_3

Hari berganti dengan suasana berubah-ubah, kadang ditemani senang, kadang berbalut duka. Hingga bulan baru menyapa dengan semangat yang lebih baik. Sama halnya dengan Renata, di liburan semester ini, tak banyak yang ia kerjakan. Alat penelitiannya selesai uji coba dan siap digunakan untuk mengambil data.


Diputuskan di Perusahaan makanan olahan dan Frozen sebagai tempat melakukan penelitian Renata. Saat ini ia masih menunggu jawaban surat izin dari perusahaan tersebut, tak lain adalah perusahaan milik anak Jeng Ratna, teman arisan mama Jea.


Perusahaan ini merupakan anak cabang dari perusahaan keluarga Jeng Ratna, yang dikelola anak sulungnya, Benito Rajendra Purwanto, yang akrab dipanggil Pak Ito. Keduanya sudah bertemu, dan secara prosedural memang harus menunggu surat izin melakukan penelitian tersebut.


Ting


Pesan masuk di ponsel Renata, tertera nama Pak Ito. Jea penasaran, ia pun membuka pesan itu. Hanya sebuah lampiran berupa pdf yang berisi surat izin melakukan penelitian.


"Seorang bos rela mengirimkan surat receh kayak gini." Gumam Jea, sedikit kesal juga. Entahlah, jika Renata berhubungan dengan laki-laki lain, ada perasaan tak suka. Padahal pesan itu berhubungan dengan skripsi Renata dan tak ada caption khusus menyertainya.


"Surat izin penelitian kamu udah dikirim." Ucap Jea sambil menyodorkan ponsel Renata lalu melewati sang istri begitu saja, dengan dongkolnya.


Renata mengerutkan dahi, heran dengan sikap sang suami. Ia membaca pesan teratas, dan membuka lampiran pdf tersebut.


/Terimakasih Pak, Insyaallah senin saya akan menemui bapak/


Ting


Hanya butuh beberapa detik saja, pesan Renata terbalas.


/Sama-sama, oke aku tunggu/


"Gak usah lama-lama pegang hp nya, sini temani aku kerja." Suara Jea membuyarkan fokusnya pada surat izin penelitiannya. Renata yang memang tipe penurut segera meletakkan ponselnya di nakas lalu mendekati sang suami.


Heran juga sih, wajah suaminya itu badmood, tapi ia tidak tahu apa penyebabnya. Renata duduk di samping Jea yang masih berkutat pada pekerjaannya. Ia memperhatikan apa yang dikerjakan Jea, toh dia disuruh menemani tapi tak diajak bicara. Biasanya meskipun fokus dengan laptop, Jea tak pernah mengabaikan Renata.


"Kamu kenapa?" Renata mulai curiga ada sesuatu yang tidak beres pada suaminya itu.


"Gak pa-pa!" jawab Jea singkat.


"Aneh!" sambar Renata, beranjak mengambil ponsel dan duduk kembali di samping Jea. Ia pun asyik chatting dengan Ola, Ceca, ataupun anak lorong 13. Sesekali ia cekikikan karena membaca pesan dari para sahabatnya, sampai ia juga mengabaikan sang suami.


Jea sudah kesal sejak tadi, ditambah Renata mengabaikan dan sibuk dengan ponselnya, ia langsung menutup laptop dan menuju ranjang. Tanpa mengajak Renata.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih?" tanya Renata yang sudah mengikuti jejak sang suami menuju ranjang.


"Gak pa-pa."


"Kalau aku punya salah tuh ngomong, aku gak suka kamu cuek gini."


Yah memang Renata selalu terbuka dengan sang suami. Apa yang tidak dia suka langsung ia lontarkan. Ia tidak mau memendamnya takut menjadi bom waktu suatu saat nanti.


Jea membuka selimutnya, menatap lekat sang istri, lalu menghembuskan nafas panjang. "Aku gak suka kamu berhubungan sama Ito."


Renata melongo. Eh gimana-gimana, kok jadi bawa Ito?


"Maksud kamu?"


"Harus ya kamu berhubungan dengan cowok lain untuk penelitian ini, ambil data di kantorku bisa kan?" agak ketus juga omongan Jea.


"Ini udah pilihan pak Shandy, Yang. Web seperti ini memang cocok untuk usaha makanan."


"Sumpah aku gak rela kamu di wa cowok." Jea memeluk tubuh ramping sang istri. Lucu juga gelagatnya kalau cemburu.


"Belumlah, nanti lama-lama juga banyak modus yang dilancarkan duda itu."


Renata memukul pelan sang suami, ini masalah penelitian kenapa jadi bawa status orang.


"Kamu cemburu?"


"Iya!" jawab Jea tegas. Rahangnya mengeras dan tatapan tajam pada manik mata sang istri, sedangkan Renata malah tersenyum. Ia mendekap sang suami erat kemudian.


"Aku udah cinta mati sama kamu sayang, gak usah khawatir aku tergoda sama dia."


"Namanya suami, Yang. Istri cantiknya digigit nyamuk aja gak rela, apalagi ditatap cowok lain."


Keduanya saling berhadapan, Jea mengelus pipi sang istri, terlihat sekali dia menyanyangi perempuan itu.


"Dulu aku bisa kok jaga hati buat gak pacaran atau suka sama siapapun, dan hanya butuh waktu satu bulan aku cinta sama kamu, karena apa?"

__ADS_1


"Apa?"


"Kesungguhan kamu menjadikanku wanita halal bagimu."


"Aku takut kamu tergoda dengan dia."


Renata merubah posisinya, menatap langit kamar dan menghembuskan nafas pelan. "Apa menariknya Pak Ito sih? Di mataku cuma kamu laki-laki hebat selain bapak."


"Pintar banget buat gombal neng."


Renata tertawa, "Diajari raja gombal sih."


Obrolan serius pun berujung candaan, begitulah Renata dan Jea jika berdiskusi. Saling terbuka dan mengutarakan isi hatinya, tanpa ada emosi. Berbicara dari berbagai sudut pandang untuk menyelesaikan masalah.


"Janji ya, kamu hanya punya aku?" Jea memastikan. Lucu memang, baru kali ini Jea meragukan kesetiaan Renata.


Cup


Renata mengecup bibir sang suami sekilas, lalu memegang pipi Jea, menatap lekat mata teduh Jea, "Aku cuma milik kamu sayang."


Dan detik berikutnya, Jea yang selalu meminta melakukan ibadah halal mereka. Suasana hatinya mencair dengan pelukan sang istri di bawah kungkungan tubuh kekarnya.


I love you Renata Adzkiya


I Love you too Jea Andra Sanjaya


Malam panjang dilewati keduanya dengan bahagia. Dalam benak Renata, ia tidak pernah terpikir untuk bermain api dengan selingkuh. Suaminya sudah terlalu sempurna di matanya. Mau cari apalagi pada laki-laki lain jika dirinya sudah memiliki laki-laki halal, ganteng, pekerja keras, sopan, kaya lagi.


Rugi kalau sampai ia melepas Jea. Apalagi Renata merasakan cinta dan sayang dengan lawan jenis karena Jea, untuk pertama dan terakhirnya.


Sedangkan hati Jea tetap gusar, meskipun kegiatan mengasyikkan tadi berhasil membuatnya tenang sedikit. Sebagai seorang suami jelas ia tidak rela istrinya berdekatan dengan Duda keren itu. Terlebih duda tanpa anak, rasa khawatir itu muncul karena posisi Ito yang singel dan kecantikan istrinya.


Laki-laki mana yang tidak mengakui kecantikan Renata, bahkan Daffa sang asisten saja beberapa kali bilang istri bos cantik meskipun di belakangnya selalu ada embel-embel setengah waras. Begitu saja ia kesal apalagi sampai kecantikan istrinya dipandang oleh laki-laki lain.


Dan sekarang, ia harus menata hati, memberikan izin kepada sang istri untuk melakukan penelitian demi skripsinya. Berkali-kali ia memantapkan hati agar percaya bahwa hati Renata hanya untuk Jea.

__ADS_1


Tiga minggu kelabu, begitu Jea menyebut durasi penelitian yang dilakukan sang istri di perusahaan Ito.


__ADS_2