
Wira marah, dia keluar group CALON ORANG SUKSES lagi, penghuni group sudah tidak peduli, mau keluar mau masuk, mau marah silahkan, terserahhhhhhhh. Cowok kok ngambek kan, ledek Ceca. Cowok kok gak gentle, ledek Ola. Kalau Bian mah tapres, urusan Wira dia gak pernah ikut campur. Ada sisi gak peduli dengan Wira, meskipun ia dekat dengannya. Dari awal mereka sahabatan, Bian selalu bilang, ketiga gadis itu cukup enak kadi sahabat saja, tidak untuk dicintai. Carilah cewek selain mereka, tapi Wira kekeuh, mengejar Renata tapi ngembat cewek luar juga. Bikin jengah, kelihatan gak serius.
Ola, Ceca dan Bian pun baru bisa takziyah di hari ketujuh. Mereka baru longgar dan mencocokkan waktu kosong mereka bertiga. Petakziyah juga sudah berkurang dari kemarin, sehingga mereka lebih leluasa mengobrol dengan pengantin baru.
"Akhirnya anak perawan gue nikah juga!" peluk Ceca pada Renata begitu ia dipersilahkan masuk ke kediaman Jea.
"Akhirnya sahabat perawan gue bisa disosor cowok halalnya." Cibir Ola sambil mencoel pipi Renata lalu memeluk sahabatnya itu.
Renata mendengus kesal gak usah embel-embel perawan kenapa sih.
"Akhirnya gadis idaman hati para pria laku juga!" giliran Bian yang akan memeluk Renata tapi Jea langsung menyambut pelukan Bian.
"Baik-baik ya, istri orang!" balas Jea membuat Renata tertawa dan menepuk pundak Bian. "Gak takut sama pawang Lo, noh taringnya mau keluar."
Bian berdesak sebal, ia sebenarnya hanya menggoda Renata saja, gak mungkin juga memeluk sahabatnya itu, ada pawang yang siap melahapnya, siapa lagi kalau bukan Kia.
"Silahkan duduk, lesehan ya!" ujar Renata.
"Sama nasi liwet ya!" Bian nyerocos berasa di warung lesehan mungkin, dasar.
"Garing Lo!" omel Ceca.
"Jangan kumat di sini ya guys, malu gue sama mertua gue." Pinta Renata memelas, harus ada warning dulu sebelum sengklek bertebaran. Jea hanya tersenyum melihat interaksi istrinya dengan para sahabatnya. Pantesan mereka dekat banget, satu server, kecuali Wira. Kayaknya memang gak pantes bareng mereka, sifat gampang ngambeknya beda sekali dengan ketiga orang dihadapannya ini, kalau dilihat omongan mereka gak ada filter dan gak ngambekan sih.
"Pak Sanjaya kaya banget ternyata, gue gak kira rumahnya Segede dan semewah ini. Beruntung Lo, Ta. Punya mertua kaya, setidaknya Lo bisa hamburin uangnya." Tuh kan mulut tak berfilter Ola membuka aib sahabatnya di depan suaminya lagi.
"Gak peritungan lagi." Lanjut Ceca.
Tonyoran di jidat Ola dan Ceca tak bisa dielakkan, Renata pelakunya. "Sembarangan, bukan peritungan, tapi hemat tau." sisi bar-bar Renata mulai keluar
"Kelewat hemat iya." Omel Ola lagi.
"Maafkan istri kamu ya, Kak Jea, gini amat kelakuannya." Bian seolah malu punya sahabat seperti Renata, kadang iya juga sih.. Kelewat cerewet dan perhitungannya.
Jea hanya mengelus rambut Renata sambil tersenyum, heran juga kenapa gadis setengah waras gini bisa jadi istrinya.
"Ta, Lo kan jadi mantunya orang kaya. Kok kita gak ditawarin makan siang sih?" Bian lagi. Ola dan Ceca langsung menunduk malu. Ya kali takziyah minta makan juga.
"Bian kerok, Lo tuh niat takziyah apa minta makan sih?" hentak Renata, nanti nunggu tamunya mama pulang baru deh ia mengajak sahabatnya makan siang.
"Enak aja bilang gue Bian kerok!" balas Bian sambil berdiri dan siap menghadiahkan tonyoran di kening Renata.
__ADS_1
"Eh...mantu mama kenapa ditonyor?"
Glek....
Bian menoleh ke sumber suara, hanya cengiran yang ditampilkan cowok itu. "Maaf."
Sumpah lucu, Jea sudah tidak tahan dengan kelakuan sahabat istrinya itu. Benar-benar setengah gak waras. Begitu mama mendekat Bian kincep dan bersembunyi di balik punggung sang kekasih, takut kena omel.
"Mantu mama gak pa-pa?" tanya Mama penuh dengan rasa sayang.
"Gak pa-pa, Ma. Cuma agak pusing, lumayan sakit tonyorannya." Renata akting. Bian melotot sambil komat-kamit mengumpan Renata.
"Kalian silahkan makan siang, kecuali kamu." Tunjuk mama pada Bian. Ola dan Ceca menahan tawa, gak nyangka mertua Renata agak gesrek juga. Astaghfirullah.
"Ah Tante...mereka diet!" Rengek Bian, dih....baru kenal aja sok dekat gitu. Mama Jea cekikikan, lucu juga ternyata teman-teman mantunya itu. "Enggak-enggak, ayo makan semua."
"Tuh, Ta. Mertua Lo baik banget, gak kaya' Lo?" Cibir Bian setelah mama agak menjauh, menuju ruang makan.
Renata mencibir sambil menusukkan kedua jarinya ke arah mata Bian seolah bicara Lo gue end.
"Sabar-sabar ya sama gadis sengklek kaya dia." Ucap Bian sambil menepuk pundak Jea.
"Beressss." Jawab Jea.
*****
Namun hidup terus berjalan, hari demi hari di lewati mama, Jea dan Mita tanpa kehadiran papa. Mereka bertiga mulai menata hidup dengan suasana baru tanpa melupakan papa.
Jea yang sudah memiliki istri, tentu tanggung jawabnya bertambah. Ia berusaha sebisa mungkin membagi waktu antara istri, keluarga dan pekerjaan. Mama yang pernah menjadi sekertaris sebelum menikah dengan papa, sangat cekatan membantu Jea dalam mengolah berbagai usaha papa, belum lagi bisnis yang beliau dirikan sendiri, seperti butik dan toko kue, benar-benar wanita karier dan ibu rumah tangga yang sukses.
Renata yang telah menyelesaikan magangnya, kini kembali berkutat di kampus menyelesaikan proposal skripsinya dan bahan penelitian. Hubungannya dengan Jea sudah banyak perubahan meskipun ia masih berstatus gadis di satu bulan pernikahannya ini.
"Weekend besok ikut jalan yuk, Ceca ngajak ke Dufan, bisa?" Renata menawarkan kencan di hari Sabtu besok. Di group sudah ada woro-woro ke Dufan. Sejak menikah, Renata sangat jarang nongkrong, dan sahabatnya pun memahami itu. Tapi untuk kali ini, Ceca memaksa Renata agar ikut. Wajib, dan kencan kali ini boleh membawa pasangan. Eh .. tunggu Ceca kan masih jomblo.
"Boleh, weekend ini aku kosong." Jawab Jea sambil menatap tabletnya. Seperti biasa, sebelum tidur ia menyempatkan membuka email yang dikirim para asisten dari kantor cabang.
"Yes...asyikkk, jalannnnnn!" Renata tampak gembira sekali, dan Jea menyadari hal itu. Kasihan juga ia sering melewatkan waktu nongkrong bersama sahabatnya. Bukan Jea yang melarang tapi Renata sendiri yang membatasi. Alasannya, mereka masih ketemu di kampus, kencan dengan mereka bisa lain waktu.
"Kamu seneng banget kayaknya." Jea sudah meletakkan tabletnya.
"Banget, udah lama gak kencan sama mereka."
__ADS_1
"Wira juga ikut?"
Senyum Renata langsung memudar, ia menatap manik mata sang suami. "Kenapa ngelihatin kayak gitu?" tanya Jea menahan senyumnya.
"Dia gak kenal aku sekarang." Wajah sendu sang istri muncul.
"Karena pernikahan kita?"
Renata mengangguk. "Bahkan di kelas dia selalu menghindar, kalau ngobrol sama Ceca dan Ola biasa aja, tapi enggak sama aku. Dia benci banget kayaknya." Hampir saja Renata meneteskan air mata, bagaimanapun juga Wira adalah sahabatnya, mereka pernah dekat satu sama lain. Ada rasa kehilangan pada Renata.
"Kamu gak mau jelasin keadaan sebenarnya?" Jea mulai iba, dan berhadapan dengan sang istri.
"Gak perlu juga, cuma aku tuh gak suka sikap dia yang benar-benar gak nyapa aku. Asli aku dikacangin. Ya udah aku juga ngacangin dia, tapi nyesek tahu, ditinggal sahabat gitu. Dia gak bisa dewasa."
"Namanya juga cinta." Agak perih juga sih bilang kayak gini, apalagi dengar cerita Renata yang merasa kehilangan sahabatnya. "Udah pernah Wa dia?" pertanyaan pancingan, Jea mau mengetes juga apakah istrinya masih berhubungan dengan Wira di belakangnya atau enggak.
Renata menggeleng. Yes!!!! hati Jea bahagia.
"Aku gak bakal wa dia, gak ada gunanya juga menjelaskan ke dia, hubungan kita cuma sahabat dan aku yakin Ola, Ceca dan Bian sudah menjelaskan. Lagian aku gak mau berhubungan dengan cowok lain di belakang kamu. Kita masih belajar mencintai satu sama lain, jangan pernah merusak hubungan kita hanya karena dia."
"Eh ralat kamu aja yang masih belajar cinta sama aku, kalau aku mah udah cinta banget sama kamu."
"Kapan kakak bilang cinta sama aku?"
Ck .. Jea berdecak sebal, masa' dia gak bisa merasakan sih, tiap hari dipeluk, dicium, dianterin ke sana ke mari dan perlu nyatakan cinta juga. Masih gak peka juga ternyata. Ah iya lupa.... perempuan kan lebih suka cinta itu diucapkan daripada perbuatan.
"ya udah, sini peluk. Aku mau menyatakan cintaku untuk istriku."
"Idih...gak romantis banget."
"Salah terus akunya." Jea memelas dan Renata tertawa ngakak. Ia pun mendekat dan memeluk suaminya. Ada kemajuan sedikit untuk Renata, ia sudah berani inisiatif memeluk suaminya. Meskipun ia selalu menyiapkan kebutuhan sang suami sesuai wejangan kanjeng mami, alias ibu seperti menyiapkan baju kantor, mengambilkan makan, masih sebatas itu. Tapi tidak untuk hal yang intim.
"Ouh ya kak, aku mau tanya." Renata penasaran dengan kebiasaan suami yang aneh menurutnya.
"Apa?"
"Kenapa kakak hampir tiap malam mandi? Padahal pulang kantor juga langsung mandi?"
Jea mendelik.
*******
__ADS_1
Hayooooo Jea
Hayoooooo