CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
CEREWET


__ADS_3

Rangkaian program KKN sedikit demi sedikit sudah terlaksana, terutama dalam hal pendidikan, anak usia sekolah cukup antusias mendapat pembelajaran gratis dari mahasiswa KKN.


Tak jarang juga anak-anak yang bisa bersekolah ikut gabung saat sore hari. Untuk pengenalan internet juga sama, peminatnya juga cukup banyak, terlebih para BALITA alias bayi di bawah lima luluh tahun. Baru diajari chat WA udah pada heboh.


/Nanti langsung beli telpon baru, antarkan ke kota ya Mas/


/Wah kalau kayak gini saya bisa lihat foto neng Dessy Ratnasari terus atuh/


Banyak lagi komentar-komentar lucu dari bapak-bapak itu. Belum lagi emak-emak yang mendengar suaminya kecentilan karena pura-pura tanya ke mahasiswi tentang penggunaan internet, sudah pasti jeweran kuping menjadi santapannya.


Sedangkan para mahasiswa, cukup sibuk juga membuat laporan, dokumentasi sebagai pertanggungjawabannya dalam pelaksanaan KKN ini.


Seperti siang ini, Renata berkutat dengan pengeluaran dana, Wira bertugas membuat laporan merdeka belajar tahap 1 beserta dokumentasinya, dan Jea berdiskusi dengan keempat mahasiswa lain untuk program pertanian yang akan dilaksanakan lusa.


"Ta, Lo punya obeng?" Agus tiba-tiba datang dan langsung duduk di depan Renata, gadis itu cukup serius mencatat dana yang terpakai selama pelaksanaan KKN, maklum dia terpilih menjadi bendahara.


"Gak punya!" tanpa menoleh ke arah Agus, Renata menjawab cukup singkat. Bibirnya komat komit , tangannya lincah menulis di buku besar.


"Kalau nomer hp punyakan?"


Aksi penggombalan ala Agus dimulai. Renata menghentikan aktivitasnya sejenak dan melihat Agus sebentar, "Lo gombalin gue, Gus!"


Hufttt.....


Wira dan Jea yang duduk agak jauh dari Renata dan Agus tak kuasa menahan tawa. Pasalnya sudah berapa kali dia dibilangi Wira gak usah dekat dengan Renata kalau gak mau disengap, eh gak percaya. Dan siang ini, pemuda itu membenarkan larangan Wira.


"Gak mempan kali, Gus. Nomer Wa gue pasti ada di grup KKN, gak mungkin kan gak loh simpan. Secara gue cantik gituloh."


Agus melongo, detik berikutnya pura-pura muntah mendengar kalimat terakhir Renata. Gagal deh, rencananya mau PDKT sama Renata, ternyata dirinya sudah di-blok duluan. Njirr, neh cewek terlalu peka atau kepedean tingkat tinggi. Hadehhhhhhh.


"Set dah, Ta. Diam ah, Lo langsung bikin mood gue anjlok coba!"


" Lah ngapa? Gak siap ditolak cewek?"

__ADS_1


"Tebakan Lo kok bener banget, Ta? Heran gue."


"Karena laki-laki yang deketin gue pasti menjurus ke arah penembakan, gak mungkin kan ngajak temenan doang."


Agus menggaruk pelipisnya, cewek di depannya ini ceplos-ceplos sekali ya. Gak ada jaim-jaimnya didekati cowok, terlalu kepedean. kekekkeke.


"Awas Lo, Ta. Gak laku jadi perawan tua loh!"


Renata memicingkan mata sinis ke arah Agus. "Gak mungkin, noh ada si Wira yang siap ngelamar gue setelah jadi CEO."


Sudah, tawa Wira menggema di halaman rumah kontrakan, sahabat setengah warasnya itu benar-benar membuat Agus malu. Baru kali Agus ditolak sebelum katakan cinta. Njritttt ....malu setengah mampus.


"Santai, Gus. Kalau ditolak sama gue gak usah dendam, yah. Karena gue gak bakal menghindar buat jadi teman Lo."


Ucap Renata sambil menepuk bahu Agus dengan penanya, dan Agus hanya menyunggingkan senyum sangat tipis.


/Gue malu mbak, ya elah/


*******


"Wir, kayaknya meja gak di situ deh."


"Eh, Wir jangan. Jangan di kasih warna hijau, double warna nanti."


War...Wir...terus saja menggema dari bibir Renata, pasalnya anak desain grafis itu memang ditugaskan membuat desain khusus perpus desa. Semenjak Pak Bagyo, salah satu warga desa yang kaya raya itu memberikan satu ruang khusus untuk baca anak desa, Wira dan Renata mulai memikirkan desain ruang yang nyaman untuk belajar anak-anak.


Dari segi warna cat, hiasan dinding, maupun tata letak. Keduanya dibantu Jea dan Nadya yang memang anak aristek juga. Hanya saja Nadya mungkin kurang nyaman dengan kehadiran Jea, gadis itu cenderung pendiam dan pasrah saja, tak memberikan usul sama sekali.


"Ah Lo, kerjain sendiri. Cerewet amat."


Babang Wira sudah mulai gak betah guys dengan ocehan Renata, emang si Wira yang cuek agak gak cocok dengan Renata yang perfeksionis. Ada saja koreksi dari pekerjaan Wira.


Bagi Wira toh ini satu ruangan yang tidak begitu luas, dana yang digelontorkan Pak Bagyo juga gak terlalu besar. Sudahlah desain dan tata letak ruang baca seadanya saja.

__ADS_1


Berbeda dengan Renata, ia menginginkan ruang baca itu nyaman dan ceria, layaknya taman bermain, meskipun dananya terbatas. Ia juga tidak mau menarik iuran lagi kepada teman-temannya. Pengeluaran untuk biaya KKN terbilang cukup besarlah bagi kaum mahasiswa yang berasal dari keluarga menengah.


"Emang budgetnya mahal banget, Ta?" kalau Jea sudah bersuara, sinyal-sinyal neh bakalan disuntik dana gede nih.


"Kakak mau nyumbang? Wah gue ikhlas menerimanya, aduh kakak baik banget. Benar-benar anak sultan kayaknya, gak kayak seseorang yang menyebut dirinya anak sultan batu bara. Pelit."


Tonyoran mendarat cantik di kening Renata. "Eh kesindir ya?" dan kali ini pitingan lengan pada leher Renata berhasil membuat gadis cerewet itu meronta.


"Udah kalian tuh jadian aja!" Usul Jea tiba-tiba.


"Kakak ikhlas kalau gue jadian sama Wira Sableng?"


Kedua pemuda itu saling tatap. "Maksudnya?"


"Ya kali Kak Jea juga suka sama gue, kan kak Jea doang yang belum PDKT sama gue."


Renata cekikikan, heran juga dia punya tingkat kepedean di ambang batas gini. Memalukan.


"Masa'? Ilham, Rakha, Dimas, Apid, udah PDKT atau nembak kamu?"


Giliran Jea yang memberi umpan, niatnya nge-tes aja sejauh mana tingkat kepedean gadis berlesung Pipi ini.


Jawaban Renata hanya mengangguk, "Udah, via wa ...mereka gak berani berhadapan langsung. Takut malu. Lagian gue heran, ada 14 cewek kenapa banyak yang naksir gue, ya? Apa gue terlalu cantik, perasaan biasa aja deh. Atau memang cewek model gue gini bikin cowok tertantang buat naklukin gue. Malangnya nasib gue dibuat tantangan."


Tanpa jeda


Wira menahan senyum melihat seorang Jea yang tampan hanya melongo mendengarkan ocehan gadis setengah waras itu. Shock mungkin melihat sisi lain dari Renata.


"Mundur gue, gak sanggup kalau dia jadi bini gue. Kuping panas nanti." Bisik Jea dan disambut gelegar tawa Wira.


"Gimana? Kak Jea mau coba nembak gue?" tawar Renata dengan menahan senyum. Percaya diri sekali dirinya sampai memberi tawaran pada pak ketua.


"Dasar pelakor!"

__ADS_1


Ucap seseorang yang tiba-tiba datang dan memberi tatapan tajam pada Renata. Mampus!!!


Jeng...Jeng.... siapa tuh ?????


__ADS_2