CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
TANGAN SIAPA???


__ADS_3

Masih dengan motor, Neva membonceng Renata, cukup kencang juga ia melajukannya. Sampai di lobi RS Renata berlari kesetanan. Foto yang dikirim Wira membuat dirinya melupakan Neva begitu saja.


"Rachel Alfizea, Kamar VVIP 1," begitu resepsionis rumah sakit memberitahu kamar perawatan Ceca.


Segera naik dengan lift menuju kamar perawatan Ceca. Di depan kamar sudah ada Wira, Ola, dan Bik Ratri yang ia tahu adalah ART Ceca.


Tap


Renata terpaku melihat Ola menangis dalam pelukan Wira. Bik Ratri juga menangis sambil memegang ujung dasternya.


"La!" panggil Renata pelan.


Linangan air mata terlihat dengan jelas di pipi Ola, "Kenapa?"


Ola menoleh, "Ceca mau bunuh diri, Ta, huwaaaaaa!"


"Ya Allah!" Renata juga menangis seketika, kedua gadis itu berpelukan, Wira menyandarkan tubuhnya ke dinding. Menunduk lemah.


"Di dalam ada dia sama siapa? Kenapa tidak masuk?"


"Masih ada mamanya! Alhamdulillah dia udah sadar."


"Bik Ratri apa yang terjadi?" tanya Renata mendekati wanita paruh baya itu.


Sepulang magang Ceca masih wajar, ia lewat dapur setelah memarkirkan mobilnya di garasi, meneguk air dingi dari kulkas dan sempat mengobrol dengan para ARTnya, ditawari makan tapi ia menjawab akan mandi dulu.


Sampai dia menyadari di ruang tamu, kedua orangtuanya kedatangan tamu, seorang wanita berumur 35 tahunan dengan seorang balita. Awalnya Ceca tidak menghiraukan tamu tersebut, ia naik tangga dan segera menuju kamar. Baru dua langkah, jeritan sang mama menghentikannya, Ceca berbalik arah menuju ruang tamu.


Sang papa menampar mamanya, wanita asing itu menangis sesenggukan sambil merangkul balitanya. Ada apa ini?


Lagi-lagi masalah perselingkuhan, sang papa telah menikahi wanita itu. Hampir empat tahun sang papa menjalani poligami, dan sekarang terbongkar karena papa Ceca dan istri barunya kepergok Mama di sebuah mall tadi siang.


Ceca langsung ambruk di lantai, ia menangis dan menjerit sekeras-kerasnya. Para ART tidak berani ikut campur, mereka hanya diam di dapur dengan perasaan was was.


Sang mama meminta cerai, tapi papa Ceca tidak mau menceraikan baik istri tua maupun istri muda. Beliau mengatakan sanggup berbuat adil untuk menghidupi kedua istri dan anak-anaknya.


Permasalahan keluarga itu berakhir sekitar jam 8 malam, Ceca mengantarkan sang mama ke kamar dan kemudian dia pun berusaha tegar. Hanya saja saat di kamar, perasaan hancurnya muncul. Setelah ditipu oleh sang kekasih, kini papanya pun mengkhianati mamanya. Hancur sudah perasaan Ceca. Kalut dan frustasi.


Bik Ratri yang berniat mengantarkan makan malam nona mudanya pun menuju kamar Ceca, dua kali ketukan tak membuat Ceca membukanya, hingga Bik Ratri memutuskan masuk.


Tangan Ceca sudah berlumur darah, nampan yang dibawa Bik Ratri terlepas begitu saja. Teriakan Bik Ratri membuat penghuni rumah lari tunggang langgang menuju kamar nona mudanya.


"Dan sialnya istri kedua papa Ceca adalah Tante gue, adik bungsu mama gue, Ta!" penjelasan Wira membuat Ola dan Renata menganga begitu saja.


"Jadi Lo tahu sebelumnya?" Cecar Renata curiga.


Wira menggeleng, sudah lama ia tidak bertemu dengan sang tante, memang sudah hampir empat tahun ini sang tante absen dari reuni keluarga, kata mama Wira sang tante bertengkar dengan Oma Wira lantaran tidak disetujui menikah dengan pilihannya. Ternyata jadi istri kedua, dan mungkin mama Wira menutup rapat masalah ini dari Wira.


"Gue tahu Ceca masuk rumah sakit dari Tante gue, dia telpon mama."


"Ya Allah, Wir. Trus gimana?" Ola tidak habis pikir hubungan Wira dan Ceca nanti seperti apa.

__ADS_1


Pemuda itu hanya mengedikkan bahu, belum punya pikiran bagaimana menghadapi Ceca. Malu, jelas itu.


Renata tiba-tiba mengambil ponselnya, ia baru menyadari telah meninggalkan Neva.


"Vaaaa, Lo dimana?" tanya Renata cepat.


"Di lobi, gak oke banget ditinggal gue, kalau ketemu Wira aja gak ingat sama teman tidur." Omel Neva yang disambut cekikikan Renata.


"Gue samperin deh, teman gue masih belum bisa ditemui."


"Gue aja yang samperin, di mana kamarnya?" tanya Neva.


"VVIP 1, bisa naik lift lantai 3." Jelas Renata, ia kemudian mengirim pesan ke Ilma, minta maaf karena tidak bisa menemaninya jalan-jalan dan merayakan hari jadinya.


"Ta!" panggil Neva pelan. Keempat orang di situ menoleh ke arah Neva. Renata berdiri dan mengajak duduk di dekatnya.


"Kenalin, teman tidur gue, Neva!" cicit Renata yang sempat bikin Wira mendelik mendengar ucapan Renata yang dianggap gak wajar, teman tidur. Ah...babang Wira, pikirannya terlalu Travelling ke mana-mana.


Neva


Ola


Wira


Begitu mereka berkenalan. Mereka pun terdiam, menunggu pintu kamar Ceca terbuka. Neva yang tidak tahu menahu hanya bermain ponsel, melihat postingan Ilma yang sedang menikmati hari jadinya bareng Elea dan Sita.


Ceklek


"Tante!" panggil Wira, Ola dan Renata.


"Mau masuk?" tanya beliau ramah, meskipun suaranya cukup serak.


Mereka hanya mengangguk pelan. "Maaf ya, besok pagi saja, Ceca barusan saja tidur, gak pa-pak, kan?"


Mereka mengangguk lagi, meskipun mereka adalah sahabat Ceca, tetap saja ia tidak bisa memaksa perintah mama Ceca, alhasil mereka pun berpamitan pulang. Bik Ratri diantar Wira pulang, sedangkan Ceca ditemani mamanya.


*****


Tepat pukul 10 teng, Neva dan Renata sampai di depan kos. Pagar sudah terkunci rapat, Renata menghubungi Mbak Nita, ketua kos yang memegang kunci pagar. Sungkan juga menghubungi Bu kos.


Sambil menunggu Mbak Nita, deru motor mendekat ke mereka, ternyata Ilma, Elea, dan Sita baru datang juga.


"Hem .... kebiasaan anak lorong ini, pulangnya malam terus."


Sang tersangka hanya cengengesan mendengar omelan Mbak Nita, mereka pun tak lupa mengucapkan terimakasih dan Ilma memberikan sekotak martabak telor untuk pemegang kunci pagar tersebut, sebagai sogokan tanda terimakasih lah. he..he..he.


"Wira kenapa mbak?" tanya Elea saat naik tangga.


"Bukan Wira, Ceca!" ralat Renata.


"Ouh kirain Wira, semangat bener ke rumah sakitnya." Sindir Ilma

__ADS_1


"Bahkan gue ditinggal coba di lobi, sendiri, tega!"


"Ck...maaf deh, Va. Gue panik."


"Wira ganteng ternyata, kok Lo gak naksir?" tanya Neva kepo.


"Tanya hati gue!" ujar Renata gemas. Teman-teman lorongnya ini kenapa selalu dukung Wira sih, ganteng emang ganteng, kaya juga kaya, tapi gak suka sebagai kekasih gimana dong, kan hati gak bisa dipaksa, ya kan????


Mereka masuk ke kamar masing-masing, membersihkan muka dengan tonner, sebelum ke kamar mandi.


"Siapa yang mau ke kamar mandi, ayo bareng." Ajak Sita, yang selesai lebih dulu.


"Ayo!" Jawab Renata, Ilma kompak. Mereka berjalan beriringan, kos an sudah tampak sepi, lampu menyala hanya bagian depan selasar.


"Nanti barengan ya, baliknya!" ajak Renata yang sudah masuk kamar mandi.


"Bilang aja, mbak takut, ya kan?" ledek Ilma.


Ketiganya sudah masuk kamar mandi, gosok gigi, berwudhu. Sita keluar terlebih dulu, menunggu kedua orang yang belum keluar.


"Mbak, Il, cepet!" pintanya, suaranya agak gemetar.


"Bentar Napa," protes Renata


"Mbak!" panggil Sita, suaranya sangat pelan.


"Apa?" tanya Renata. Sita mendekat dan membisikkan sesuatu ke Renata, karena penasaran Renata pun melihat ke arah tempat jemuran, tiba-tiba matanya mendelik, ada sebuah tangan melambai.


"Lariiiiiii" ujar Renata meninggalkan Ilma yang masih di kamar mandi, keduanya tunggang langgang.


"Yahhh gue ditinggal," Ilma pun ikut berlari setelah keluar kamar mandi dan tak menemukan kedua sahabat gesreknya itu.


Huh..Haa...huh....


Renata dan Sita ngos-ngosan, "Kalian kenapa?" tanya Elea yang hendak ke kamar mandi.


"Jahat gue ditinggal." Protes Ilma


"Ada..ada...ada..ta..ada tangan di jemuran." Sita mencoba memberi alasan keduanya berlari sampai ngos-ngosan. Sudah pasti besok pagi diomelin sama Mbak Nita karena membuat gaduh dengan berlari dan teriak.


"Tangan apa sih maksud Lo?" Elea gagal paham.


"Lo pikir tangan siapa, malam-malam gini di jemuran, cuma tangan doang melambai, gue dan Kisut tidak melihat badan orang di situ."


"Sumpah?"


"Gue gak jadi ke kamar mandi!" Neva takut.


"Yah Mbak Neva, aku kebelet."


"Pakai kresek aja, El. Besok dibuang."

__ADS_1


"Joroknyaaaaaa."


__ADS_2