
Kepergian Jea membuat Renata terbebas dari tugas sucinya. Kini dia seperti layaknya anak mahasiswa lainnya, ke kampus, ke perpustakaan dan nongkrong di kantin. Bersama Ola dan Ceca, Bian tak berniat gabung karena pasti nempelin si Kia. Wira? sibuk
dengan pacar barunya. Renata bersama kedua sahabatnya menuju ke perpustakaan, di sana WiFi nya kencang banget, mereka bertukar pikiran dalam membuat alat penelitian. Bahkan ketiganya sempat saling tukar pendapat, memberikan komentar ataupun kemungkinan kesalahan ataupun kegagalan yang akan terjadi saat pengambilan data. Meskipun terselip banyolan khas gadis setengah waras juga.
Jea hanya memberi kabar tadi pagi, mungkin dia sudah bisa fokus bekerja karena tidak ada Renata di sampingnya, atau dia fokus bekerja bahkan sampai lembur agar pulang lebih cepat.
Renata sendiri selalu pulang, niatan untuk menginap di kos tidak terealisasi. Dia hanya bertemu dengan Neva atau anak lorong lain di sekitar kampus. Janjian bertemu di kantin fakultas seni dan desain sering mereka lakukan, karena menu makanan dan minuman di kantin tersebut bervariasi dan murah.
Kegiatan Renata selama ditinggal Jea selalu diunggah di status WA, salah satu tujuannya agar Jea tahu siapa saja teman yang ada di sekelilingnya. Toh Renata hanya keluar ke kampus lalu balik ke rumah maksimal jam 5 sore, dan selalu diantar jemput oleh sopir.
Mama dan Mita berangkat ke Singapura dua hari setelah Jea berangkat ke Batam, saat ada mama dan Mita rumah tidak sepi. Sekarang mah rumah tingkat dua itu senyap tidak ada Omelan mama, teriakan nyanyian Mita. Hufh.....
"Masih belum tidur, Yang?" tanya Jea di video call tepat jam 11 malam. Renata masih sibuk dengan desain alat penelitiannya , sedangkan Jea sudah merebahkan diri di kasur hotel.
"Belum, masih mau nambah fitur responden di web nya. Kakak tumben jam 11 udah tidur, biasanya masih berkutat sama tablet."
"Capek, aku suruh Daffa aja. Kangeeeeen." Mulai deh merengek layaknya bayi.
"Bentar jangan pulang dulu ya, kalau webku sudah jadi silahkan pulang."
"Kamu gitu, Yang. Aku kangen berat kamu nya gak kangen sama sekali."
"Kangen kok kata siapa aku gak kangen. Cuma kalau disuruh milih kerjain skripsi apa kangen, ya pilih kerjain skripsi lah."
"Jahatnya istri Pak Jea ini."
Renata terkekeh, suaminya itu mudah sekali membuat candaan yang menggemaskan.
"Jangan begadang, nanti kalau aku mau pulang nyalon ya, biar syantiiikkkkk gak ketulungan."
Renata mengibaskan rambut panjangnya, sengaja menggoda iman Jea, " Beres." Dan itu membuat Jea tertawa. Keduanya larut dalam obrolan layaknya pasangan LDR, hingga Renata harus tertidur dengan video call yang masih menyala.
I love you sayang. Ucap Jea meski ia tahu tidak dibalas oleh Renata.
*****
Pagi ini Renata menyetorkan desain web pada Pak Sandy, harap-harap cemas semoga segera ACC.
ACC dong
Plis pak ACC
Jangan dipersulit ya pak
Biar cepat uji coba
Pak Sandy mengotak atik Web Renata, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Beliau hanya memegang dagu dan tangan lainnya sibuk dengan mouse.
"Udah bagus, Ta, kapan mau uji coba?"
Mata Renata berbinar, yessss!!!
"Kalau hari Jumat besok bagaimana pak?"
"Boleh, kamu mau uji coba di mana?"
__ADS_1
"Niatnya sih ke teman-temannya Mita dan anak kos, kan usia remaja hingga mahasiswa lebih tertarik dengan makanan Korea, jadi nanti mereka order by web, itu pemikiran saya pak."
Pak Sandy manggut-manggut, sembari menuliskan beberapa saran pada kartu pembinaan Renata.
"Butuh berapa responden pak kalau uji coba itu?"
"Lebih banyak lebih bagus, Ta. Saran saya minimal 30 orang."
"Baik."
"Kalau web yang kamu kembangan ini responnya baik, kamu bisa menjualnya di perusahaan-perusahan besar, untung besar kamu."
Renata meringis, bisa dapat responden saja syukur Pak, gak mau muluk-muluk yang penting cepat lulus. Mengerjakan skripsi seberat ini rasanya agak menyesal terlalu idealis. Coba mengambil tema membuat video promosi saja, gampang dan cepat. Skripsi beres.
"Kecuali perusahaan suami kamu, pasti minta gratis."
"Hem gak bisa gitu pak, urusan bisnis suami tetap bayar pak."
"Bagus! bedakan urusan bisnis dan pribadi."
"Siap, Pak. Saya permisi dulu, terimakasih."
"Sama-sama."
Renata keluar dari ruang Pak Sandy dengan tersenyum, ia langsung mengirim pesan pada sang suami.
/Webku udah di ACC, Jumat bisa uji coba/
Renata lalu memasukkan ponsel ke dalam tasnya, karena ia yakin suaminya sekarang masih sibuk. Ia melangkah menuju kantin jurusan, karena sudah ada Neva dan Ilma yang menunggunya.
"Hemm kangeeennnn." Ucap Renata sembari memeluk Neva dan Ilma secara bergantian.
"Eh iya Lo, Mbak. Gede bingit, diapain tuh sama Pak CEO." lanjut Ilma jadi kompor juga.
"Nyesel gue janjian sama kalian." Renata pura-pura cemberut.
"Mbak, jalan yuk. Mbak gak nyari kebaya ke butik buat wisuda pak CEO? tanya Ilma sebelum menyeruput es teh manisnya.
"Udah disiapin mama mertua gue sebelum berangkat ke Singapura."
"Elea juga lagi bingung neh cari kostum buat ketemu camer!" sesi gosip ala Neva mode on.
"Camernya Elea agak serem." Lanjut Neva.
"Kenapa?" tanya Renata dan Ilma kompak.
"Punya yayasan, terus Elea bingung, kan dia gak pakai hijab."
Renata manggut-manggut, "Ya pakai hijab yang simple aja, biar dia nyaman." Saran Renata yang diangguki Ilma dan Neva.
******
Alarm ponsel Renata berbunyi nyaring tepat pukul 5, tadi malam ia menunggu kedatangan mama, beliau Tidak ikut penutupan acara karena memang pagi ini Jea wisuda. Sedangkan Jea sendiri entahlah pulang jam berapa karena sampai tengah malam belum tampak batang hidungnya ataupun menjawab pesan Renata.
Saat akan bangun, ada tangan yang melingkar di pinggang Renata, samar terdengar dengkuran halus, ternyata suaminya.
__ADS_1
"Bangun," ucap Renata pelan sambil menyingkirkan tangan Jea.
"Hemm!" hanya deheman sebagai jawaban, malah mengeratkan pelukannya.
"Pulang jam berapa?"
"Jam setengah 4."
"Ada ya penerbangan jam segitu, pagi amat. Atau mampir ke mana dulu?" tanya Renata dengan nada curiga.
Cup
Jea mengecup bibir Renata sekilas. "Masih pagi sayang, jangan cerewet." Jea malah tengkurap dan tak melepaskan pelukannya.
"Awas ih, tangannya." Renata berusaha melepaskan tangan Jea. "Yang, aku mau mandi. Iya kamu cuma pakai kemeja doang, cepet."
Jea bangun sambil mengucek mata, lalu tersenyum. "Aku yang wisuda kenapa kamu yang heboh sih."
Renata tak menggubris, ia lalu masuk ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri, sholat dan segera bermake-up. Jea setelah sholat hanya duduk di tepi ranjang masih dengan baju Koko dan sarung, menopang dagu, menatap sang istri yang sibuk di meja rias.
"Kenapa gak ganti baju?" tanya Renata sembari melihat bayangan suami dari cermin.
"Maunya kekepan dulu, Yang!" ucapnya sambil merebahkan diri di kasur dengan decakan sebal.
Renata cekikikan, memang sengaja dia merempongkan diri, menghindari serangan suaminya yang seperti singa kelaparan. Maklum enam hari tak bersua, ingin segera melampiaskan. "Ntar aja, habis wisuda. Janji deh!"
"Maunya sekarang, masih pagi juga."
Renata mencoel pipi Jea sambil tertawa, "Aku udah wangi, males ah mandi dua kali."
Jea menarik tangan istrinya, lalu memeluknya erat, menghirup aroma tubuh sang istri. Renata memberontak, terus saja badannya bergerak.
"Jangan gerak terus, nanti ada yang bangun!" bisik Jea sambil memejamkan mata.
"Makanya lepas," pinta Renata sambil memukul dada Jea.
"Bentar!" pinta Jea, sepertinya memang dia kangen berat dengan istrinya. Wajar sih, sejak menikah baru kali ini ia meninggalkan Renata dinas keluar kota. Biasanya dia akan menyuruh Daffa menggantikannya.
Tok..tok...
"Je....Renata..." suara mama. Pelukan Jea mulai mengendur.
"Bukain gih, sebelum ngomel!" pinta Jea yang sudah sangat hapal dengan kebiasaan mamanya.
"Loh, kok kamu belum ganti Ta?" tanya Mama saat pintu kamar Jea terbuka.
"Lagi bujuk bayi buat ganti baju, Ma!" jawab Renata enteng, ia kembali memoles bedak tipis, eyeliner, dan maskara, plus lipstik, minimalis dan sangat cantik. Ditambah ia menggunakan kebaya modern warna blue ice dengan rok batik, cukup elegan. Heels navy 5 cm pun ikut mendukung cantiknya perempuan ini.
"Cantik banget, sih!" puji Jea yang sedang dibantu memakai dasi oleh Renata. Ia melingkarkan tangannya di pinggang sang istri, menatap lekat wajahnya yang merona.
"Bisa aja, Pak CEO ini." Ucap Renata malu, "Toga nya mau dipakai sekarang atau nanti?"
"Nanti aja, saat masuk gedung."
Mama, Renata, Mita mengantarkan Jea ke gedung wisuda. Hanya dua orang yang boleh ikut masuk ke gedung. Harusnya papa yang mendampingi Jea, tapi karena keadaan, Renata menggantikan beliau.
__ADS_1
Mama yang menyaksikan dari layar ketika nama Jea dipanggil, langsung menangis, putranya sudah menjadi sarjana. Di usianya yang muda harus memikul tanggungjawab besar terhadap perusahaan dan sebagai tulang punggung keluarga.
Sukses anakku...