
Setelah mendapat nomor Neva dari bos rese' nya, Daffa segera menghubungi gadis itu. Meski sudah lama jomblo, ia masih ingatlah cara PDKT dengan cewek.
/Assalamualaikum Neva/ tulisnya lalu dikirim, menurut pandangan Daffa, siapa pun kalau diberi salam insyaallah akan membalasnya.
/Waalaikumsalam wr wb, maaf ini siapa?/
See! hanya hitungan detik gadis itu sudah menjawabnya.
/Daffa, asisten pribadi Jea. Kamu apa kabar?/
/Baik, Alhamdulillah. Pak Daffa apa kabar juga?/
Pancingan sudah mulai berhasil, Neva mulai memberikan umpan balik. Daffa membaca pesan itu dengan senyum gak jelas.
/Lagi ngapain nih, longgar banget kayakny?/ Lah semakin lebar saja senyum Daffa, ketika pesan Neva masuk lagi. Tahu aja kalau lagi longgar.
/Iya, pak bos lagi mengajak kencan istrinya, pulang cepat deh. Kamu lagi di kosan?/
/Iya, baru beres bimbingan dari kampus/ Neva
/Wah penat dong, mau aku traktir es krim?/ Daffa melancarkan aksinya. Agak to the point sih, cuma kalau dilihat Neva setipe dengan Renata yang ilfeel bila diberi kata romantis.
/Boleh, habis Maghrib aja ya/
Yes!!!
Berhasil!!!
PDKT lancar
Senyum Daffa semakin merekah. Ada alasan tertentu Daffa memilih Neva, meskipun agak setengah waras, level cantiknya di atas Ola. Eh kok tiba-tiba membandingkan dengan Ola sih, apa kabar juga tuh anak.
Persiapan menuju kos Neva, Daffa geram karena ada pesan dari Ola, duh kenapa juga perempuan jadi-jadian ini menghubunginya, toh proyek imajinasinya juga gatot, gagal total.
/Kak Daffa, jalan yuk, lagi sendiri nih/
"Dih ni cewek gak ada jaim-jaimnya sama cowok, malah ngajak jalan." Gumam Daffa dan membiarkan pesan Ola begitu saja. Rencananya hanya satu mengajak kencan Neva.
Hanya butuh 45 menit, Daffa sudah di depan kos Neva. Ia menunggu di ruang tamu kos, tak lupa mengabari Neva.
"Maaf lama!" sapa Neva yang sudah berdiri di depan Daffa. Keduanya terpesona. Daffa begitu gantengnya hanya menggunakan kaos berkerah dan celana cargo, cukup sederhana tapi sangat mempesona. Sedangkan Neva hanya menggunakan celana jeans dan kaos lengan panjang, rambut juga dikuncir begitu saja. Tampak manis, terlihat sekali seperti mahasiswa, ya emang masih mahasiswa juga sih.
"Beli es di mana?" tanya Daffa memutus pandangan keduanya.
"Mall aja."
"Sekalian kencan?"
Neva melongo, sepertinya ia salah jawab. "Hah?"
"Gak usah bengong gitu, gak ada yang marah kan kalau kamu aku ajak kencan sekarang?" Gercep juga si Daffa.
"Enggak, gak ada yang marah." Jawab Neva dengan nada ketus, persis seperti cara bicara Renata. Maklum sih mantan teman tidur, kebiasaan mereka mungkin juga hampir sama, hidup selama 4 tahun juga.
Di dalam mobil hening, hanya lagu dari MP3 saja yang menemani mereka. Daffa lagi-lagi setuju kalau Neva dan Renata adalah kembar siam. Dia mengingat ucapan Jea dulu, Renata cukup datar juga bila berduaan, bahkan gadis yang sudah tak gadis itu betah untuk diam. Jadi, Jea selalu membuka obrolan terlebih dahulu. Fix...mereka tipe dipancing dulu.
__ADS_1
"Kamu sama Renata kenal sejak kapan?" oke sementara kita bahas Renata dulu sebagai benang merah awal kedekatan ini.
"Sejak mahasiswa baru, kita kenal saat registrasi ulang, nyari kos bareng."
"Tapi kalian kelihatan banget kalau setipe!"
Neva terkekeh, "Kamu adalah orang yang keseratus bilang seperti itu."
"Iya kah? Kalian tuh mirip banget dari cara ngomong dan sengaknya sama."
"Dih ..yang jeleknya aja yang diingat, kita juga ada baiknya kali Pak."
"Tua banget aku, panggil aja kak, mas, abang, sayang juga boleh." Jurus PDKT ala Daffa.
Blush
"Jadi?" Neva memastikan panggilan apa yang cocok untuk Daffa.
"Mas aja deh, lebih mesra!" Daffa pun ingin menepuk mulutnya, PDKTnya dulu juga gak sebegitunya. Menjijikkan.
"Lidah saya minder, kakak aja ya. Takut ada yang marah juga kalau saya panggil mas."
"Gak ada yang marah kok, aku jomblo!"
Neva senyam-senyum, malu-malu tapi mau juga, signal PDKT dari Daffa cukup kuat. Ia tahu pandangan laki-laki itu sejak di rumah mertua Renata tampak berbeda dengannya, apalagi ocehan ibu tambun yang menganggap mereka pasangan suami istri membuat keduanya salah tingkah juga.
"Masa' sih, gak percaya aku."
"Beneran."
Shitttt!!!
Daffa ingin sekali mengumpat kesal. Bisa-bisanya perempuan jadi-jadian ini menghubunginya lagi. Merusak suasana saja.
Daffa menolak panggilan itu, dan sialnya Ola menghubunginya lagi. Oke..fix, diterima saja panggilannya.
"Apa?" ketus Daffa mengabaikan kata 'halo' pada perempuan setengah waras itu.
"Dih jahat banget, kak Daffa kencan yuk."
Mampus, Daffa tak bisa berkutik. Neva semakin diam saja dan tidak menghiraukan obrolan Daffa dengan perempuan yang juga sahabat Renata.
"Gue lagi kencan juga!"
"Sama siapa?"
"Ceweklah.
"Ya siapa namanya, aku kenal gak?"
"Gak. Kamu gak kenal."
Tut
Daffa memutus sambungan itu, suasana canggung sangat terasa. Neva juga tidak berniat memulai obrolan. Daffa bingung harus berbuat apa, oke lebih baik diam hingga mobil Daffa menuju parkiran mall.
__ADS_1
"Turun yuk!" ajak Daffa dengan menatap Neva sembari melepas sabuk pengamannya.
"Yakin, Kak. Kita jalan?"
Daffa mengernyitkan dahi, "Emang kenapa?"
"Cewek tadi--"
"Kamu tahu dia kan?" tanya Daffa dan Neva pun mengangguk. "Aku hanya pernah membantu mewujudkan proyek imajinasinya, itu saja."
"Yakin?" Neva meragukan, pandangan menelisik pada mata Daffa. Si calon playboy hanya tersenyum.
"Cemburu, Mbak?"
"Ya elah, ge-er amat Pak, kenal juga baru sekarang. Aku gak mau aja dicap pelakor."
"Udah dibilang aku jomblo."
"Cih..." Neva mengakhiri perdebatan dengan keluar dari mobil, diikuti dengan Daffa. Meskipun kesal, tetap saja Neva masuk ke mall. Daffa pun menyelaraskan langkahnya di samping Neva.
"Outlet es krim di sana!" tunjuk Daffa yang melihat langkah Neva menuju ke tempat lain.
"Duh...Kakak gak pernah kencan ya, kalau tujuannya ke es krim doang habis itu pulang, itu gak kencan namanya." Ketus Neva masih dengan wajah juteknya.
"Juteknya, ini kencan pertama kita loh!"
"Dan terakhir."
"Kenapa sih, gak suka banget jalan sama aku?"
"Dibilang aku tuh gak mau jadi pelakor, Kak. Aku dan Renata tuh anti yang namanya jalan sama cowok milik orang. Kayak gak ada cowok lain aja." Masih ketus nada bicaranya.
"Biasa aja kali, emang kamu pikir aku ngajak jalan kamu kenapa?" Daffa memancing emosi Neva, lebih jutek dari Renata ternyata.
"PDKT lah, modusnya udah kebaca!"
"Berarti kalau aku mau PDKT, aku jomblo kan?"
Neva diam, menatap wajah Daffa, dia pun mengerucutkan bibirnya, "Beneran?"
"Mau aku tembak sekarang?"
"Mati dong!" cibir Neva. Daffa terseyum, "Jadi?"
"Jalani dulu, baru kenal aja langsung nembak."
"Gak mau kayak Renata? baru kenal langsung nikah loh!"
"Aku bukan Renata, kalau mau dekat sama aku ya udah kita jalani dulu, aku gak mau mengambil keputusan besar seperti dia. Rizeki dia beda dengan rizekiku."
"Bijaknya, yuk kita jalani saja, kalau sudah siap bilang mau dilamar kapan."
"Beres, Pak!" Neva langsung menarik tangan Daffa, "Gak usah ge-er, ayo cepet traktir es krimnya."
"Beres, Nyonya!" Jawab Daffa yang pasrah saja ditarik Neva.
__ADS_1