CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
AWAS JATUH CINTA


__ADS_3

Ola


Kenapa juga makhluk jadi-jadian ini muncul di saat hati lagi sakit, kedatangan yang sangat tidak diharapkan menambah perih dalam hati Daffa. Rasa sakit dan kesal bercampur jadi satu, padahal rasa itu diciptakan oleh dua perempuan yang berbeda.


"Ngapain Lo?" tanya Daffa yang mendelik saat gadis sengklek itu duduk di depannya tanpa permisi.


"Dih jahatnya, tanya tuh baik-baik, sewot amat sama cewek. Lagian jangan benci-benci sama gue, jatuh cinta klepek-klepek sama gue nyaho'!" Ejek Ola.


See, pertanyaan Daffa sak uprit dibalas dengan rentetan jawaban Ola, gak penting lagi jawabannya.


"Dari sekian banyak kursi kenapa Lo pilih kursi di depan gue?"


Ola terkikik, makin aneh saja sahabat Renata satu ini. "Bentaran numpang di sini, nunggu teman, ntar kalau dia datang aku cabut kok."


"Iya kalau datang, kalau gak?" Daffa makin emosi.


"Ya udah duduk di sini, menemani Kak Daffa."


"Cih...najis."


"Cih...nujas najis, daripada duduk sendiri, kelihatan banget kalau lagi jomblo, mending ditemani akunyang cantik dan unyu."


"Tapi gak waras."


Ola semakin tertawa, dan gak ada manis-manisnya, entah Daffa yang kelewat benci sama nih cewek atau memang Ola yang gak bisa pasang muka jaim.


"Udah, santai aja kak, aku gak ganggu kakak kok."


Daffa mencibir, "Dengan Lo duduk di sini, udah bikin gue emosi. Jelas ganggu lah!"


"Lagian kakak ngapain duduk di sini sendiri? Tau gak, signal kakak dari sonoh nih," ucap Ola sambil menunjuk pintu masuk, "Udah kenceng banget, berasa ada tarikan magnet buat mendekat."


Daffa menggelengkan kepala, semakin gak jelas saja, tadi ngomongnya signal, sekarang tarikan magnet, nih anak ngomong apa sih sebenarnya, batin Daffa meronta.


"Dah gue mau pulang, stress gue duduk sama Lo."


"Hati-hati ya kak!" jawab Ola cengengesan.


Daffa yang semula sudah berdiri dan siap beranjak menjauh dari gadis sengklek itu, tiba-tiba duduk kembali. Ola mengerutkan dahi, seolah bertanya 'ngapain duduk lagi?'.


"Kenapa Lo gak nahan gue?" tanya Daffa penasaran.


"Idihhhh ..najong, emang kakak siapanya aku?"


Kikuk. Iya juga ya, emang dirinya siapa bagi Ola yang harus ditahan, "Ya seenggaknya Lo tanya kek kenapa buru-buru pergi?".


Drt...drt...


Ponsel Ola berbunyi, tanpa meladeni Daffa Ola mengangkat ponselnya. "Halo!" sapanya agak menyalak pada si penelpon.


"Yah..Lo kok gitu, gue udah nyampe di cafe. Rugi dong make up sama baju gue yang baru keluar dari lemari." Ola kecewa dengan si penelpon yang membatalkan janji mereka.


Daffa melongo, sumpah nih cewek ajaib banget, bisa-bisanya marah karena rugi udah berdandan, yassalam, gak penting banget alasannya.

__ADS_1


"Terserah, lain kali gue gak mau janjian lagi sama Lo, emang Lo tuh dari dulu gak berubah, selalu gitu, makanya gue males sebenarnya ngeladenin Lo, udah gak usah minta maaf."


Tut


Ola menghela nafas, terlihat sekali dia kesal dengan si penelpon. "Kak Daffa jangan bikin aku badmood double ya."


Daffa mencibir, siapa juga yang biasanya membuat mood seseorang hancur, gak sadar diri banget, begitu kata hati Daffa.


"Kenapa ya cowok itu gampang banget PHP." Cicit Ola setelah memanggil waiters untuk memesan minuman dan camilan.


"Cewek juga kali."


"Cowok, selama ini yang terkenal playboy cowok."


"Cewek juga bisa."


"Selalu membela kaumnya, gak mau salah."


"Dan cewek selalu merasa benar, cih."


Ola mendengus kesal, sepertinya dia salah meluapkan kekesalannya pada Daffa. Ia pun mengambil ponsel sembari menunggu pesanannya. Daffa pun masih setia menemani gadis ajaib itu. Meski ia juga sibuk bermain ponsel, tapi sesekali melirik gadis dihadapannya.


"Kakak tadi ngapain di sini, nunggu teman juga?" Ola mengakhiri keheningan di antara keduanya.


"Udah ketemu sama teman gue, mau pulang eh Lo datang."


"Ya itu kakak jodoh sama aku." Ucap Ola dengan cekikikan, wajar juga ia ngikik gak jelas, cowok di depannya langsung kesal.


"Najis gue jodoh sama Lo."


Daffa langsung menonyor kening gadis itu, gemas. Ola tertawa, puas sekali mengerjai pemuda di depannya itu.


"Lo gak rugi gue yang rugi." Tambah kesal saja Daffa.


"Kencan yuk Kak," ajak Ola kemudian.


"Bentar deh La, Lo jadi cewek kok gak ada jaim-jaimnya sih, berapa kali Lo ngajak gue kencan."


"Emang pikiran kakak kencan itu apa? pacaran? Ini nih yang perlu diluruskan, kencan tuh gak harus jadi pacar. Cewek sama cowok jalan bareng tuh gak harus jadi pacar, cih pikiran kakak katrok banget. Sekali kali jadi orang tuh open minded, bukan hidup dengan nyinyiran dan pandangan orang."


Daffa hanya mengangkat alis, "Tumben Lo waras?"


"Cck...aku selalu waras kali, kakak aja udah sentimen sama aku."


Ola kembali fokus pada ponselnya, mengajak Ceca dan Bian kencan juga, siapa tahu mereka mau, kalau Renata malas ngajak dia, udah pasti suami posesifnya melarang.


"Jadi kencan gak?" tanya Daffa sembari melirik jam tangannya.


"Bentar nunggu jawaban Ceca atau Bian."


"Lah kalau sama mereka, ngapain ngajak gue."


"Biar kakak terhibur lah, refreshing. Kapan juga kakak bisa longgar gini."

__ADS_1


Daffa memasukkan ponselnya ke dalam saku, lalu menarik tangan Ola, "Cepetan sebelum gue berubah pikiran."


"Beres!" Ola langsung berdiri, melangkah mensejajarkan diri dengan Daffa. Sepintas memang keduanya seperti pasangan kekasih, masalah kembali muncul saat di parkiran.


"Lo nebeng mobil gue aja."


"Idih ogah, ntar gue pulangnya gimana, mobil gue gimana, besok gue ke kantor bokap gimana, ribet deh."


"Ya terus gimana, niat ngajak kencan gak sih." Protes Daffa.


"Ya berangkat sendiri aja. Pakai mobil sendiri, janjian di parkiran mall X."


"Ck....udah ayo." Daffa langsung menyambar kunci yang dipegang Ola, terpaksa hari ini mengalah pada gadis setengah waras itu.


Di dalam mobil Ola tak berhenti ngoceh, yah meskipun bukan dengan dirinya tapi via telpon. Dia dengan seenak jidatnya tertawa ngakak membiarkan Daffa sendiri. Menganggap Daffa sebagai sopir, kurang ajar.


"Ehemmmm." Deheman Daffa berhasil membuat Ola menoleh, ia hanya meringis kecil, mungkin tersadar kalau ada cowok ganteng yang dia abaikan.


"Udah dulu, Ya. Aku mau kencan nih, Lo ganggu aja emang." Dengan santainya gadis itu menutup sambungan telponnya.


"Itu tadi temanku yang kuliah di SG." Jelasnya tanpa merasa bersalah.


"Trus?" Daffa masih mencerna penjelasan Ola.


"Kakak gak usah cemburu lah, aku telpon lama sama dia." Sangat percaya diri sekali Ola bilang seperti itu. Tanpa cas cis cus, Daffa langsung menonyor kepala gadis itu dari samping.


"Sekali gesrek, tetap saja gesrek."


Bukannya marah, Ola semakin tertawa berhasil membuat Daffa kesal setengah mati.


"Kakak kenapa gak tertarik sama aku. Padahal aku juga cantekkk gilakkk." Ucapnya sambil menegakkan badan menghadap Daffa.


"Gue belum gila, ya kali pacaran sama Lo."


"Coba yuk, kita pacaran, kakak jadi gila gak." Tantang Ola dengan menyodorkan tangannya, seakan membuat kesepakatan.


"Gak usah dicoba, sekarang gue udah gila dengan menerima ajakan Lo buat kencan dan satu mobil sama Lo."


Ola cekikikan, cowok di sampingnya itu benar-benar emosi. "Kenapa sih bete banget, padahal aku yang nembak loh."


"Lo bisa gak si, La. Jadi cewek anteng, anggun, cantik." Tutur Daffa dengan nada jengkel setengah mati.


"Bisa!" Jawabnya tegas dan mantap.


"Oh ya, kapan? Gak yakin gue, perasaan tiap hari Lo kayak orang salah minum obat."


"Enak aja." Ketus Ola sambil menonyor pipi Daffa.


"Gak usah pegang-pegang."


"Gak usah jijik gitu, ntar kalau udah cinta minta dielus terus, cih...lagaknya sekarang."


"Amit-amit." Daffa mengelus dadanya, mencoba menambah stok sabar. Niatnya refreshing melupakan penolakan dari Neva malah masuk ke jurang orang setengah waras gini. Nasib.

__ADS_1


"Kakak tunggu aja, satu bulan lagi kakak pasti jatuh cinta sama aku. Yakin seyakin yakinnya deh."


"Gak akan."


__ADS_2