CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
SESERAHAN


__ADS_3

Selepas maghrib, anak lorong 13 siap jalan-jalan, menggunakan motor, mencari seserahan untuk Kisut.


Renata dibonceng Neva, Sita dengan Elea, sedangkan Ilma naik sendiri. Dengan kecepatan sedang, mereka menyusuri jalanan kota menuju mall.


"Emang enak ya jadi jomblo, bebas mau kemana-mana!" tutur Neva yang diangguki Renata.


"Gue ragu, Va. Kisut sama Vino kalau sampai nikah, moga aja ini perasaan gue aja ya, secara Vino kan terkenal playboy dulu, nah Kisut ceoet banget move on."


Renata mencoba mengutarakan perasaan gak enak tentang hubungan Sita dan Vino. Rasanya terlalu mendadak, ya meskipun dia pendukung ta'aruf, hanya saja perasaan gak enak siapa yang tahu.


"Sama gue juga, ada hal yang gak gue suka dari Kisut, terlalu cepat menerima cowok buat jadi pacarnya."


Obrolan di atas motor memang sangat menyenangkan, diiringi dengan jitakan di helm ataupun suara ha....he...ha...he karena tidak terdengar, tapi itulah seninya. Sejak meluncur dari kos, Neva dan Renata tak henti-hentinya mengoceh dengan pembahasan sama, lamaran mendadak Sita-Vino.


Sengaja sekali, Neva melajukan motor hanya 40 KM/Jam demi mengobrol dengan teman kamarnya itu.


"Tadi siang gue udah meyakinkan dia, buat memikirkan lamaran mendadak ini."


"Apa mungkin Sita udah tekdung ya?" Neva ngawur.


Pletak


Jitakan di helm Neva terdengar cukup keras, Renata pelakunya. "Bisa gak sih Lo tuh mikir bener, Va!"


"Ya gue cuma nebak aja, Ta. Lagian ngapain buru-buru lamaran kalau ujung-ujungnya nikahnya 5 tahun kemudian."


"Nah itu juga yang gue maksud, buat apa lamaran dulu kalau nikahnya ntar. Ini mah sama halnya kayak pacaran."


"Gue juga udah kasih tahu Sita, menikah itu seumur hidup. Kalau udah bosen gak boleh main pisah, belum lagi punya anak, sanggup???." Neva bijak.


"Ya udahlah, Va. Kita kan sudah mengingatkan terserah Sita sendiri sih, toh orang tua mereka setuju."


Motor yang dikendarai Neva sudah menuju ke parkiran motor mall, ketiga anak lorong sudah melipat tangan di depan dada, jengah menunggu Neva- Renata yang lambat bener.


"Tadi motornya gak diseretkan?" sindir Ilma yang spontan mendapat tonyoran pipi dari Renata.


"Kita memang sengaja lambreta, udah lama gue dan Renata gak kencan bareng."


"Mahasiswa tua, udah pada sibuk dengan tugas akhir sih." Ledek Elea.


"Heleh, pacaran sama mahasiswa tua juga gak enakkan, ditinggal garap penelitian." Balas Renata, karena beberapa Minggu ini Ibam tidak terlihat ngapel ke kos, alasannya karena sibuk penelitian.


"Ah lu mbak, bikin mood gue ancurrrre!"


"Halah gak usah dipikir, yuk kita jelong-jelong, anggap kita semua jomblo!" Renata memberi usul sambil merangkul pundak Elea.


"Ogah!" Balas Ilma, Sita dan Elea kompak.


"Dasar adik kos lucknut kalian!"


Kelima gadis itu mulai mencari barang seserahan. Seorang Sita diberikan kekuasaan penuh atas ATM Vino, so..sebagai cewek tentu tidak melewatkan kesempatan itu untuk memilih barang branded. Di mall ini, Sita berencana membeli sepatu, tas, baju, pakaian dalem, handuk, dan make up.


Pasukan lorong 13 langsung menuju outlet mata**ri, yang menyediakan kebutuhan baju, pakaian dalam, handuk dan make up.

__ADS_1


Untuk make up, Sita memilih war**h sebagai seserahannya, mulai dari bedak padat, lipstik, tonner, pelembab wajah, dan perlengkapan make up lainnya.


Menuju ke pakaian dalam, Sita berpikir gak usah mahal-mahal deh, oke diputuskan merk Ne**da saja. Renata dan Neva yang somplak, malah membantu Sita dengan mengambil ****** ***** dengan size besar. Sontak saja Sita mendelik, "Bemper gue gak segede itu kaleeeee." Keduanya cekikikan. Cukup lama juga di bagian ini, karena Neva memaksa untuk memasukkan lingerie sebagai seserahan juga.


Sita tentu menolak, tapi kedua kakak kosnya yang setengah waras itu terus memaksanya, dan sudah pasti siapa yang menang. Jelas Renata-Neva, oke barang itu masuk ke keranjang. Kalau dilihat geli juga, warna merah menyala, terawang dan sumpah sangat menggoda. "Gue kira kalian gak pernah pacaran gak tahu apa-apa soal baju haram, ternyata....ck...ck...ck.." Elea hanya menggelengkan kepala.


"Soal teori kita sudah jago kali." Sambar Neva.


Langkah para gadis itu menuju baju, Renata dan Neva menyarankan longdress saja. "Tapi kalau di sini macam longdressnya terbatas," ujar Sita yang memilah milah longdress.


"Ke outlet lain saja gimana?" usul Ilma,.dan lainnya pun mengangguk.


"Sepatu mau merk apa?"


"Bucher* aja!"


"Tas?"


"Elizab***!"


Meskipun mereka hanya menemani belanja, tapi mereka cukup antusias. Ikut-ikutan nyoba, padahal gak beli juga.


Pukul 9 malam, mereka baru kelar belanja seserahan. Neva mencoba menghubungi ibu kos untuk pulang terlambat, sedangkan yang lain sudah bertengger di restoran Jepang.


"Pesan aja sesukanya, nanti akyu yang bayar." Cicit Sita yang disambut gembira keempat sahabat kosnya itu. ke


Maklum kantong mahasiswa suka kering, uang jajan ngepres, sebenarnya mereka berlima berasal dari keluarga menengah ke atas, Neva dan Renata anak PNS guru, Ilma punya pabrik sandal, Elea punya ternak sapi, Sita PNS kepsek dan punya toko kelontong besar. Namun mereka jarang terlihat sekali foya-foya, cenderung hemat menuju peritungan he..he..he..


Stop


"Kirim ke grup, beb!" titah Renata. Tak lama masing-masing ponsel berbunyi, tanda pesan masuk. Sambil memegang makanan mereka juga asik mengotak atik ponsel, apalagi kalau bukan update status.


Oishii 💃💃💃......status Neva


Kencan di Restoran Jepang 👩‍🍳👩‍🍳....status Ilma


Ditraktir yang mau nikah euy👰👰.... status Renata


Makasih beb ❤️❤️....status Sita


Mak....Pak....El makan sushi 🍣🍣🍣....status Elea


Ting


Ting


Ting


Mulai deh banyak yang mengomentari status WA mereka, masih dengan pegang sumpit atau sendok tapi meladeni pesan-pesan yang masuk.


/Besok pulang magang gue jemput, kita kencan di restoran Jepang ya/ pesan WA dari Wira


/Makasih, bosen kali makan Jepang lagi/ balas Renata

__ADS_1


Ting


Ponsel Renata kembali berdenting, Jea, sejak bertemu di kantor, nomor kontak Jea telah disimpan oleh Renata.


/Keluar sama calonnya Vino?/ begitu isi pesan Jea.


/He.emm/


/Besok ketemu di kantin bawah lagi ya, makan siang bareng 😎😎😎/


/Jangan deh, takut dilahap para fans Anda/


/Ya udah, pulang magang aku tunggu di cafe seberang kantor, gimana?/


/Capek, Pak. Masya Allah dibilangin biarin saya magang dengan tenang ih/


"Mbak, makan!" titah Elea, mengingatkan Renata agar konsentrasi ke makanannya, hanya dia saja yang masih berkutat dengan ponsel.


"WA-an sama siapa sih?" Neva kepo.


"Wira paling." Ceplos Elea.


"Mbak jangan PHP-in Wira loh, kalau suka bilang suka kalau gak ya bilang gak." Saran Elea


"Kita sahabatan kok, dan dia tahu banget prinsip gue, gue juga gak kasih harapan sama dia."


"Masa' sih mbak, Lo gak pernah merasa suka sama dia?"


Renata hanya menggeleng.


"Apa yang bikin Lo gak bisa membuka hati Lo buat Wira?" giliran Neva yang bertanya, teman kamar Renata ini memang belum pernah bertemu Wira, tapi sejak awal kuliah Renata sering menyebut nama Wira di setiap kesempatan. Bahkan Neva sempat berpikir mereka menjalani hubungan tanpa status gitu.


"Dia terlalu berpengalaman."


Glek


Sorot penuh tanya ditujukan pada Renata. "Maksudnya?" keempat gadis itu kompak bertanya, meminta penjelasan lebih.


"Dia selalu bilang gue calon istri, tapi dia gak berani bertemu sama bapak gue. Dia juga berapa kali pacaran sama cewek lain, trus nyosor di mana-mana, dan gue udah berapa kali mergokin dia berpelukan sama cewek lain."


"Cemburu?" Sita bersuara.


"Awalnya. Siapa sih cewek yang gak baper diperlakukan manis sama cowok, gue pun sama. Tapi setelah gue tolak, dan gue kasih alasan kenapa gue nolak dia, dia Gonta ganti pacar kan entah sampai berapa kali, akhirnya gue B aja."


"Kalau nanti suami mbak juga punya mantan gimana?"


"Ya gak pa-pa itu kan masa lalu dia, lagian gue gak lihat sendiri apa saja yang pernah dilakukan sebelum nikah sama gue. Lah Wira, gue udah tahulah."


"Kalau Wira melamar mbak?"


Renata tersenyum tipis, meneguk segelas air sebentar, "Dia gak berani, gue yakin. Karena gue tahu dia minder dengan kelakuan yang sering gue pergoki."


"Gue yakin Lo bakalan dapat suami lebih baik dari Wira." Neva menguatkan.

__ADS_1


Aamiin


__ADS_2