
Tepat adzan shubuh, Renata berlari sempoyongan menuju kamar mandi, muntah. Kepalanya pusing. Jea ikut terbangun, ia mengikuti sang istri dan memijat tengkuk Renata.
Setelah drama kamar mandi, Renata kembali lemas karena muntah. Masuk angin ditambah tidur di kamar mandi, mantap.
"Kita ke rumah sakit ya!"
Masih dengan memuntahkan isi perutnya, Renata menggelengkan kepala.
"Kamu udah lemas, jangan egois deh." Mulai deh Jea keluar jiwa kepemimpinannya, tegas dan tak mau dibantah.
Oke tak ada air mata lagi, Renata bukan cewek yang gampang mewek, ia tidak mau terlihat lemah pada Jea yang jutek pagi ini, eh tadi malam juga.
"Aku gak pa-pa, aku mau mandi dulu." Ujarnya setelah membersihkan bibirnya, mengisi bath up dengan air hangat, karena muntahnya akan selesai setelah berendam air hangat.
Jea keluar kamar mandi saja, istrinya tampak sudah lebih baik sepertinya. Mereka sholat shubuh sendiri-sendiri. Pertengkaran tadi malam sepertinya masih berlanjut. Usai menyiapkan baju kerja suaminya, Renata kembali menatap laptop. Ia akan mengalihkan emosinya ke skripsi saja. Menghindari Jea lebih baik daripada bertengkar lagi.
"Ini, kalau mau buka!" Jea menyodorkan ponselnya pagi itu, matahari saja belum muncul tapi suasana kamar sudah panas. Jea berusaha tidak berkata kasar atau membentak istrinya lagi.
"Gak perlu, simpan aja." Jawab Renata masih mengetik.
Jea menghela nafas pelan, duduk di sofa, memegang pundak Renata. "Maaf ya!" ucapnya sambil mencium puncak kepala sang istri. Renata berusaha menahan agar tidak menangis mendapat perlakuan lembut seperti itu. Hatinya masih kesal, dan Renata ingin menjauhi Jea lebih dulu, takut emosinya meledak lagi.
"Hari ini ke kampus?" tanya Jea berusaha mencairkan suasana.
"Iya nanti agak siang, masih revisi." Renata juga berusaha agar tidak emosi ketika menjawab Jea.
"Mau aku bantu?"
Renata menggeleng. Keduanya terdiam kemudian, Jea tahu istrinya masih marah, sebisa mungkin ia tidak merusak suasana hati istrinya, yang penting dia masih mau menjawab.
Hingga ponsel Renata bergetar, tertulis nama Pak Ito dilayar, Jea mendelik, sedangkan Renata tak menggubris ponselnya. Gara-gara masalah ponsel mereka bertengkar.
Jea langsung mengambil ponsel Renata, membuka pesan itu tanpa berkata apapun pada Renata.
/Pagi Renata Adzkiya/
"Cih....ngapain dia wa kayak gini ke kamu?"
__ADS_1
Renata masih marah woy, trus bahas orang yang gak penting seperti itu, dengan nada curiga lagi. Tambah kesal, tanpa menjawab pertanyaan Jea, Renata keluar kamar. Berniat menyiapkan sarapan plus menghindar dari Jea.
"Yang!" tegur Jea yang ditinggal begitu saja. Ia mendengus kesal, meletakkan ponsel Renata, dan mengekori istrinya ke ruang makan.
"Yang, gak usah balas Wira atau Ito ya. Aku gak suka kalau kamu berhubungan sama mereka."
Ya Allah.. kenapa juga Jea membahas hal itu di ruang makan, ada Bik Asih dan setelah ini pasti ada mama juga. Dih.... memancing perkara saja.
"Iya!" jawab Renata sekenanya, dirinya sibuk menata sarapan buat suami cerewetnya itu.
"Yang jangan iya iya aja!"
Renata menunduk sebentar, berusaha menahan tangisnya agar tidak tumpah. Sebegitu curiganya sih, padahal ponsel Renata bisa diakses olehnya.
"Bik, saya jahe angetnya bikin sendiri aja ya!" pinta Renata, mengabaikan pertanyaan Jea lagi.
"Udah nanti dibuatkan Bik Asih, sekarang kita ke kamar, bantu aku pakai dasi." Asal ceplos saja Jea mencari alasan.
"Kamu ke kamar saja dulu nanti aku menyusul."
"Udah ayo naik."
"Aku gak suka duda itu menghubungi kamu."
Renata hanya menjawab dengan deheman saja. Tak puas sama sekali jawaban yang diberikan Renata, Jea kesal. Ia pun langsung memeluk tubuh Renata erat. "Aku gak mau kamu diperhatikan cowok lain, yang boleh perhatian sama kamu itu cuma aku, sayang."
Renata tak menjawab tak juga membalas pelukan Jea.
"Sayang?" tanya Jea sambil mencondongkan wajahnya pada Renata.
"Aku mau kerjain skripsi, kalau kamu bawa hpku, silahkan, balas saja wa nya siapapun itu terserah."
"Yang!"
Renata tak menggubrisnya lagi, sudah muak sekali permasalahan dengan ponsel. Apalagi membahas hal yang tidak penting. Renata tahu lah batasan berteman dengan lawan jenis. Dari awal saja ia tidak mau pacaran karena ia tahu batasan dengan lawan jenis.
"Yang, aku gak akan bawa hp kamu. Aku cuma mau kamu gak usah membalas pesan dari Wira atau Ito, yang potensial PDKT sama kamu."
__ADS_1
"Iya."
"Kenapa kamu jawab iya iya aja sih, masih marah sama aku?"
"Enggak."
"Kenapa singkat dan ketus gitu sih?"
"Terus aku harus jawab apa? kamu mau aku jawab apa?" Renata harus menghentikan jari-jarinya di atas laptop, menoleh pada Jea dengan tatapan sendu.
Jea diam, sebenarnya Jea tahu Renata tidak akan membalas cowok itu, tapi dia hanya ingin mengobrol seperti biasanya, tidak jawaban singkat. Hanya saja langkahnya salah memilih topik Ito.
"Ck.." Jea kesal juga, lebih baik mandi, dan segera berangkat kerja. Berharap nanti sepulang kerja, mood keduanya sudah baik. Bercanda seperti biasa.
Suasana emosi masih terasa, saat Renata mengantarkan Jea, memang benar dia masih kesal dan terkesan dingin, tapi masih ingat kewajibannya sebagai istri.
"Aku sayang kamu, pakai banget!" ucap Jea setelah Renata mencium punggung tangan Jea, memeluk sang istri sebentar lalu masuk mobil. Sempat melihat Renata mengusap matanya di kaca spion, Jea hanya menghela nafas berat. Bersalah sekali terhadap perempuan itu.
Bertengkar dengan istri tentu membuat moodnya juga buruk. Wajahnya semakin suram saja, Daffa pun tak berani bercanda meski hanya berdua, malah terkesan menghindari bosnya hari itu.
Mencoba konsentrasi tapi pandangannya tertuju pada ponselnya, tak ada pesan dari sang istri, dilihatnya terakhir online pukul 06.10 itu artinya Renata belum online lagi setelah Jea membuka pesan Ito.
"Kamu ke mana sayang?" gumam Jea. Masih menimbang kirim pesan atau tidak, tapi akhirnya ia pun mengirim pesan pada Renata.
/Udah di kampus?/
Satu menit sudah tak juga ada balasan, Jea mendengus kesal, masih berpikir positif, mungkin berkutat pada laptop.
Hingga 20 menit berlalu, masih tak ada balasan. Jea tidak fokus sama sekali. Diliriknya jam dinding sudah mendekati makan siang. Dia pun memutuskan menelpon sang istri, berniat mengajak makan siang bareng.
Niat baik Jea tak sebanding dengan nasibnya, Renata sama sekali tidak mengangkat atau membalas pesan Jea. Semakin frustasi saja.
Berbeda dengan Jea. Renata sudah berada di kampus sejak setengah 9 pagi. Diantar sopir rumah dan segera bimbingan pada Pak Wayan. Ponsel tidak dipegang sama sekali dan disilent. Setelah dari pak Wayan, ia bertemu Ola dan Ceca yang selesai bimbingan juga. Mengobrol lama, di kantin pula. Kesal dengan Jea terlupakan. Ia bisa senyum bahkan tertawa ngakak bersama sahabat somplaknya.
Ting
Jea langsung membuka ponselnya, berharap sang istri, ternyata Fikri, teman SMAnya. Dalam pesan itu terdapat undangan pembukaan cafe baru Fikri, dan acaranya nanti malam.
__ADS_1
Jea tersenyum ada ide untuk mengajak istrinya datang juga, ia pun meneruskan pesan itu pada Renata, tetapi hasilnya sama, tidak ada balasan.
"Kamu tuh sebenarnya ke mana sih?" gumam Jea kesal, sambil menelpon Renata. "Oke..fine kalau gini ceritanya...aku biarkan kamu sendiri dulu. Hufhhh.." Jea meletakkan ponselnya, dan tidak berharap Renata membalasnya lagi. Kembali fokus ke beberapa dokumen dan dia akan hadir ke cafe milik Fikri bersama Daffa saja.