
Jea masih menatap mata cantik Renata, sambil merapikan anak rambut di kening sang istri. "Ini yang terakhir ya, aku gak mau tengkar lagi kayak kemarin. Maaf ya?"
Renata mengangguk, "Maaf, aku juga bikin kamu khawatir."
"Gak pa-pa, sayang."
"Tadi malam ke mana?" tanya Renata, penasaran juga karena Jea setahunya tidak pernah kelayapan seperti yang dibilang mama.
"Fikri, teman SMA, buka cafe. Nongkrong sama mereka, Daffa juga ikut."
"Oh...."
"Kemarin kenapa gak balas aku sama sekali. Khawatir tahu."
"Sengaja."
"Dih... jahatnya."
Renata mencibir, jahat? cih...ngaca dong, siapa yang bikin perkara juga.
"Ne mau baca?" Jea masih menyodorkan ponselnya, membuka room chat WhatsApp dan mencari kontak Nadya.
200 chat yang belum terbaca, Renata menatap horor. Gila, Nadya ngebet banget ya sama Jea. "Biasa aja kali kalau lihat!" ucap Jea dengan naik ke atas ranjang pasien.
"Dih..ngapain naik?"
"Tadi malam aku gak tidur sama sekali, Yang. Aku tidur dulu ya." Lah Jea berbaring beneran di ranjang pasien, sambil mengeratkan pelukan di pinggang sang istri.
Renata membiarkan, fokusnya pada chat Nadya. Gila 200 chat. Gak punya kerjaan, chat tiap hari tapi gak dibalas, apa gak nyesek tuh cewek.
/Maaf ya Je, aku udah sia-siain kamu/
/Kalau sudah longgar, balas wa ku ya Je/
/Je, kita satu KKN/
/ Je, kamu dan Maya udah resmi/
/Je, kayaknya kamu lagi ngincar Renata ya/
Beberapa pesan sebelum Jea dan Renata menikah. Getol juga ternyata.
/Je, aku mau ngomong sama kamu. Aku tunggu di cafe biasa/
/Je, kenapa kamu sama Renata/
/Je, kamu tahu kan aku tuh cuma sekali melakukan kesalahan sama Endru. Dan kita gak ngapa-ngapain Je/
/Je... tega kamu/
/Je, aku tahu Renata memang gadis baik. Aku juga sadar Je kalau aku gak bisa move on dari kamu/
/Bisa kita bertemu/
/Je, kamu bahagia banget sama Renata ya?/
/Yakin Je, Renata setia sama kamu?/
/Aku sakit Je/
/Kamu gak mau jenguk aku/
/Je aku gak akan capek wa kamu/
Ada juga lampiran foto, yang belum terdownload. Renata sengaja mendownloadnya, menghembuskan nafas dengan foto yang tampil. Foto Jea dan Nadya. Tidak mesra sih, hanya saat mereka berlibur bersama dengan air terjun di belakang mereka. Nadya bergelayut manja, sedangkan Jea melipatkan tangan di depan dada.
Foto kedua terdownload membuat Renata melotot, bisa-bisanya foto ciuman mereka diabadikan, memang sih kelihatan Nadya yang mengambil potret tersebut, tapi namanya hati istri ada rasa cemburu juga lah.
Reflek Renata mencubit tangan Jea setelah melihat foto kedua itu. "Apa?" tanya Jea dengan suara parau, kaget juga mendapat cubitan.
"Gak pa-pa, tidur aja, lagi gemes," jawab Renata masih menatap pesan-pesan Nadya.
/Kemarin aku melihat kalian di mall, aku mau nyapa, tapi aku tidak kuat, lihat kamu merangkul pundak Renata/
/Je, kamu gak berniat mencari istri kedua. Aku siap loh/
__ADS_1
"Astaghfirullah," Renata memekik kaget. Nadya bahkan punya pemikiran jadi istri kedua, dih... cantik-cantik calon pelakor.
/Akhirnya pesanku kamu baca Je/
Sepertinya Nadya menyadari kalau pesan yang dikirim Jea bercentang biru.
/Je, aku masih sayang sama kamu. Kamu tuh mantan terindahku, kenangan dengan kamu bikin aku lupa move on/
Renata penasaran, memantik api sebenarnya. Tapi harus siap dengan kenyataan bagaimana suaminya dengan mantannya dulu.
/Emang kita pernah punya kenangan/ Renata menjawab pesan itu.
/Banyak sayang 😍😍😍, kamu lupa atau pura-pura lupa/
/Bukannya hanya sekedar makan ya/
Dag dig dug
Hati Renata deg-degan menunggu balasan Nadya. Kenangan apa yang akan dibeberkan oleh si mantan.
/Iya, kamu tuh pacarku yang paling polos. Kamu gak pernah menyentuhku, bahkan aku sering mancing-mancing kamu buat megang aku, tapi kamu gak pernah mau. Ciuman sekali doang dengan kamu cukup membekas Je, menjadi kenangan kita terindah/
Renata menoleh pada wajah lelah sang suami, sudut bibirnya terangkat sedikit, ada rasa haru karena Jea bukan cowok playboy seperti yang ia pikir. Sangat baik, dan memang sopan.
/Bahkan aku sangat ingat ucapanmu ketika aku merayumu di villa saat kita liburan dulu/
/Apa, emang aku pernah bilang apa/
Renata masih meneruskan obrolan dengan Nadya.
/Aku gak akan menyentuh kamu, aku gak mau merusak anak orang, karena aku masih punya adik perempuan yang tidak mau dirusak orang juga/
Renata menangis setelah membaca balasan Nadya, suaminya begitu peduli dengan orang terdekatnya. Ia mencium mesra kening Jea, rasa cintanya pada laki-laki itu melonjak drastis. Merasa beruntung memiliki suami yang begitu sayang padanya dan menjaga keperjakaannya.
Tok..Tok...
"Masuk!" jawab Renata, ia pun membangunkan sang suami, tapi dasar Jea saja yang tak menggubris Jawilan Renata.
"Pasiennya ganti?" canda dokter Ibra. Dokter yang menangani Renata. Disindir seperti itu, Renata hanya meringis.
"Gak pa-pa, Bu. Biarkan suaminya tidur, saya hanya mengecek kondisi ibu."
"Oh sudah bagus, semuanya normal. Jangan kecapekan lagi ya, Bu. Jaga kesehatan dan perhatikan asupan gizi untuk si kecil juga. Mau pulang sekarang atau bagaimana?"
"Sekarang saja dok!"
Renata mengecup seluruh wajah suaminya setelah perawat melepas infusnya. Sesekali menatap Jea dengan begitu bangga.
"Kenapa?" tanya Jea sembari membuka matanya.
"Pulang, yuk."
Jea bangun sambil mengucek matanya, "Dokter sudah visit?"
"Udah, ne tanganku udah gak ada infus!" jawab Renata dengan menunjukkan tangan bebasnya.
"Kok gak bangunin aku tadi?"
"Gak pa-pa, kamu kelihatan capek banget, gak tega aku."
Cup
Jea mencium pipi istrinya, "Sayang istriku." Ucapnya manja.
Cup
Renata membalas di pipi juga, "sayang suamiku."
Jea pun ke bagian administrasi terlebih dulu, menghubungi Daffa untuk menjemputnya. Setelah urusan dengan rumah sakit beres, dan Daffa sudah datang. Keduanya segera pulang ke rumah.
Selama di mobil, Jea yang menemani Renata di jok belakang terus saja membicarakan keadaan kantor. Saat Jea menelpon, ia baru saja selesai meeting dengan Ito.
"Bagus juga sih ide Ito, kayaknya beneran pengen kerja sama deh., gak ada maksud lain" Daffa mengoceh, lebih tepatnya menyindir pikiran negatif Jea akan kerja sama yang disodorkan.
"Hem gak percaya gue."
__ADS_1
"Ealah, Je. Sejak kapan Lo mencampurkan urusan pribadi dengan kantor, lagian Ito juga gak ada gelagat mau merebut dedek unyu.
Puk
Jea memukul kepala Daffa sedikit keras hingga si empunya meringis kesakitan. "Kira-kira dong kalau mau pukul, otak gue nih lebih berharga daripada punya situ."
"Gimana lebih berharga coba!" tak terima otak Jea dibilang tak berharga.
"Otak gue penuh dengan pikiran positif, gak kayak punya situ negatif terus, suudzon terus."
"Cih...belagu."
Jea mengakhiri perdebatan unfaedah itu. Melirik ke arah Renata yang khusyuk dengan ponselnya.
"Kenapa sih serius amat?" penasaran dong Jea dengan aktivitas istrinya, ponsel Jea loh. Tidak terlalu banyak aplikasi yang menarik perhatian mahasiswa. Instagram pun tidak pernah aktif.
"Chat sama Nadya."
"Hah?"
"Lucu dia, mengharap kamu banget!" ucap Renata sambil menunjukkan room chat.
Krik...krik....
Jea melongo, maksud istrinya ini apa chat ria dengan mantannya. "Ngapain?"
"Aku cuma penasaran aja, ternyata dia seneng banget loh pesannya kamu balas."
"Yang aku gak mau ya ujung-ujungnya dia ngejar aku,"
"Gak bakal udah tenang aja."
Jea menatap roomchat itu, dia mendelik dengan pembahasan mereka. Yassalam, benar-benar horror.
/Aku gak mau punya istri dua/ Renata memposisikan sebagai Jea dalam chat itu.
/Masa' sih kamu gak tergoda dengan aku, Je. Yakin? Aku kirim fotoku sekarang/
"Yang, jangan ngawur deh!" cegah Jea.
"Gak usah lihat fotonya, Yang. Dih..mantanmu Yang gini amat cari perhatian sama cowok."
Nadya benar-benar mengirimkan foto, dan Renata juga mendownloadnya, tapi menjauhkan ponsel dari Jea.
"Apaan sih?" Jea penasaran.
Renata sempat melotot, benar-benar nih cewek bibit pelakor banget. Ia pun segera menghapus foto itu.
/Gimana Je?/
/Lebih seksi Renata/
"Ini kalian ngomong apa sih?" Jea bingung.
/Masa' sih, bukannya Renata datar banget ya?/
"Dih, Nadya. Kurang ajar banget sih ngatain gue."
Renata mulai ngegas. Sedangkan Jea tak peduli dengan apa yang dilakukan Renata, lebih baik melihat saja.
/Lo cinta banget ya Je sama Renata?/
/Banget/
/Apa yang harus gue lakukin agar Lo balik ke gue?/
/Gak ada, gue gak mau balik sama mantan/
/Gue bakal bilang ke Renata kalau Lo habis lihat foto bu**l gue/
/Bukannya dari tadi Lo chat sama Renata?/
/Maksud Lo/
/GUE RENATA, ISTRI JEA, MAU APA LO/
__ADS_1
Tak ada balasan lagi, hingga membuat Jea mencium pelipisnya, "Pintar banget istriku, makin cinta deh."
Cih