CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
OBROLAN CALON MERTUA


__ADS_3

Ceklek


Mama Jea kembali ke kamarnya, beliau melihat papa yang masih berkutat dengan tabletnya. Meskipun semua pekerjaan telah diserahkan pada asisten dan Jea, beliau masih mengamati pasar saham. Selain itu, tablet adalah salah satu media untuk berkomunikasi, karena Papa Jea menggunakan tangan kiri untuk mengetik omongannya.


"Papa besok mau ikut mama beli seserahan?" tanya Mama.


Papa menggeleng. Beliau menuliskan sesuatu di tabletnya dan segera menunjukkan pada istrinya.


/Mama saja pergi, calon Jea masih ragu, ajak ngobrol juga/


"Iya, Pa. Papa setuju gak Jea dengan Renata?"


Beliau hanya mengangguk.


"Mama suka dengan Renata, Pa. Anaknya kalem. Dan yang paling penting bisa membuat Jea berubah. Dulu mana mau berjuang. Apa-apa Mama, apa-apa Papa, bahkan mantan-mantannya saja mama yang sering urus."


Pak Sanjaya hanya tertawa pelan mendengar ocehan istrinya.


"Kalau sama Renata ini beda banget, dia merasakan betapa susahnya mendapatkan sesuatu yang diinginkan dan harus memperjuangkannya. Nekad juga loh dia berangkat ke Pacitan sendiri, menemui orang tua Renata."


Lagi-lagi Pak Sanjaya mengangguk, menyetujui apa yang dikatakan sang istri memang benar.


"Kalau papa kenapa merestui mereka?"


Papa mulai mengetik, cukup lama juga, dan mama sabar menunggu.


/Dia anak yang sopan, cantik, sederhana, dan terlihat sekali canggung dengan Jea, keluarganya juga baik dan ramah/


Mama tersenyum, ia menyadari putranya itu memang sudah terlalu dalam menyukai gadis itu, hanya saja Renata memang tidak punya pengalaman berhubungan dengan lawan jenis, sehingga dia sangat tidak nyaman dengan tatapan Jea.


"Mama tadi bilang sama Jea lebih baik ke Pacitan sekalian akad, papa setuju?"


Papa menggeleng, beliau mengetik lagi.


"Apa lusa?" Mama kaget, beliau kira Minggu depan terlalu cepat, malah suaminya meminta lusa. Ini nikah loh, masa' iya persiapan cuma sehari doang.


/Papa takut gak nutut, Ma/ Tulis beliau lagi.


"Maksud Papa apa?"


Beliau mengetik lagi, Mama seketika menatap sendu pada suaminya yang semakin kurus itu. Tubuh gagah dan rupawan, kini kurus dan terlihat tua. Andai saja sang suami dulu mau berbagi masalah tentang semua hal, tidak dipikir dan dipendam sendiri mungkin serangan stroke tidak terjadi.


Koma hampir 3 bulan dan menjalani pengobatan hingga keluar negeri hampir satu tahun, tidak membuat tubuhnya pulih.


/Papa merasa sudah tidak lama lagi, Ma/


Spontan saja mama Jea memeluk sang suami sangat erat, seolah firasat itu benar terjadi. Berbagai usaha pengobatan telah dijalani, tapi semangat hidup Pak Sanjaya sudah tidak ada. Beberapa hari ini memang beliau sering melamun, malas melakukan terapi dan makan.

__ADS_1


"Papa gak boleh merasa seperti itu. Papa harus berpikir positif, papa bisa sembuh." Mama semakin menangis dengan memeluk sang suami. Ia tidak bisa membayangkan betapa hancurnya kehilangan belahan jiwanya. Merintis usaha bersama dari nol, hingga sukses seperti sekarang karena cinta dan saling menguatkan.


Setelah menenangkan suaminya, Mama Jea keluar kamar. Menuju kamar Jea, lampu kamar masih menyala, belum tidur ternyata.


Tok...tok..


"Masuk!" ucap Jea, cowok itu masih sibuk dengan tabletnya. "Ada apa, Ma?" tanyanya kemudian.


"Je, Renata sebenarnya udah siap belum sih nikah sama kamu?"


Jea menghentikan aktivitasnya, ia menatap sang mama yang tampak sendu. "Kenapa?"


"Papamu ingin menikahkan kalian sebelum orang tua Renata pulang. Gimana?"


Prok...prok...prokk...Jea bertepuk tangan bahagia, dia pun langsung setuju.


"Kamu tahu gak alasan papa menyuruh agar dipercepat?" ucapan Mama lirih dan terdengar beliau menahan isak.


Jea sudah mode waspada dengan kalimat yang akan diucapkan mamanya. Please, jangan diucapkan. Ia sangat bahagia sekarang.


"Papa kamu.....papa kamu udah gak kuat katanya." Ah....tumpah sudah tanggul air mata sang mama. Beliau sesenggukan dalam pelukan putranya. Jea pun begitu, ia menahan nafasnya agar desakan tangis tidak jebol juga.


Keadaan papanya memang cukup memprihatinkan akhir-akhir ini, beliau kehilangan semangat hidup. Sebagai anak Jea merasa sedih akan hal itu. Sebisa mungkin ia akan mewujudkan keinginan sang papa.


"Ma, papa kan hanya stroke, semua alat vitalnya kondisi baik, Ma. Mama jangan berpikiran seperti itu," Jea berusaha menguatkan mamanya.


"Aku juga gak tahu Renata siap menikah dalam waktu dekat ini, yang jelas ia akan menuruti perintah orang tuanya. Dia anak yang penurut, Ma."


"Mama hanya takut itu adalah permintaan terakhir papamu, melihat kamu menikah dengan gadis pilihan kamu, papamu merestui Renata karena kamu terlihat bahagia. Mungkin beliau merasa bersalah karena menuntutmu untuk memegang perusahaan setahun belakangan."


"Ma itu sudah kewajiban Jea sebagai anak laki-laki, menggantikan papa sebagai tulang punggung keluarga. Jangan sedih gini dong, Ma. Jea kan lagi bahagia."


"Semoga Renata mau."


"Aamiin." Jawab Jea kencang sambil mengadahkan tangannya. Doa ibu itu doa mustajab.


*****


Renata bekerja cukup serius, ponselnya mode silent. Ia membantu Elsa, karena kemarin dia izin. Disuruh fotokopi mau, setelah itu membuat konten promosi, bahkan untuk sekedar membuka ponsel pun ia tak sempat.


"Ta, ponselmu mana?" tanya Pak Fahmi tiba-tiba.


"Di tas, kenapa?"


"Pak Jea barusan telpon saya, kamu disuruh ke rumah sakit internasional sekarang."


Hah?? Kok tiba-tiba di rumah sakit ada apa???

__ADS_1


Renata pun mengambil ponsel di dalam tas. 20 panggilan tak terjawab dari Pak Bos. Ada apa ini???


/Papa masuk rumah sakit, kamu bisa ke sini?/


Pesan Jea yang ia baca kemudian. Setelah berpamitan ke Pak Fahmi, Renata segera memesan taksi online, motornya masih di kos, kemarin ia meminta tolong pada Elea dan Neva untuk mengambil motor yang ia tinggal di RS setelah menginap di kamar Ceca.


Tak butuh waktu lama, Renata sampai di RS menuju ICU, di depan ruang ICU sudah ada mama yang menangis berpelukan dengan Mita. Jea sedang menelpon seseorang entah siapa itu, maklum ini masih jam kerja.


"Ma." Panggil Renata pelan.


Mama Jea mendongak, lalu mendekat ke arah Renata. Ia memeluk gadis itu erat dengan sesenggukan. Renata bingung, ada apa ini?? Ia membiarkan wanita paruh baya itu meluapkan emosinya dengan membalas pelukan beliau. Sorot mata Jea memerah, Renata tahu cowok itu ingin menangis juga, tapi pura-pura kuat dihadapan mama dan Mita.


Perlahan pelukan mama mengendur, Renata mengajak duduk dan memberikan tissu. Jea memberikan sebotol air mineral. Renata kemudian mendekati Mita, gadis manis itu masih sesenggukan. "Sini peluk kakak!" ujar Renata, ah mewek lagi deh Mita. Ia butuh seseorang untuk menguatkannya, berdua dengan mama yang sama-sama rapuh membuat pikiran buruk terus menghantui Mita.


"Sabar ya, dek. Kamu dan Kak Jea anak kuat kok!" Renata terus memberikan semangat pada Mita, hingga akhirnya mama dan Mita sedikit tenang. Meskipun isak tangis masih terdengar.


"Mama sudah makan?" tanya Renata dan dijawab gelengan kepala. "Mita juga belum?" tanyanya lagi, dan dijawab gelengan kepala Mita. "Kak Jea?"


Jea hanya menghembuskan nafas pelan, Renata tahu pasti Jea juga belum makan, ia pun meminta izin untuk keluar beli makan, karena bagaimanapun menjaga orang sakit harus sehat.


"Biar ditemani Jea, Mama dan Mita biar di sini nanti dibungkus saja."


"Kalau ada apa-apa telpon aku, Ma!" titah Jea.


Keduanya pun menuju kantin rumah sakit, memilih menu makanan untuk mama dan Mita, sambil menunggu pesanan keduanya duduk berhadapan. Renata menepuk pundak Jea.


"Mau nangis?" tanya Renata.


Jea menggeleng.


"Sabar ya kak!" hanya kata itu yang bisa diucapkan Renata untuk menenangkan Jea.dan dibalas anggukan.


Drt...drt....ponsel Renata berbunyi, Wira memanggil.


"Aku angkat telpon Wira ya." izin Renata dan diangguki Jea.


"Halo Wir, ada apa?" tanya Renata sambil menatap wajah sendu Jea.


"Nanti pulang magang aku jemput ya, disuruh Ceca kumpul di rumahnya."


"Sori aku gak bisa, nanti aku bilang ke Ceca."


"Kamu gak pa-pa kan?"


"Enggak, udah dulu ya, Wir. Assalamualaikum."


Tut...Renata menutup sambungan.

__ADS_1


"Ta, kalau kita nikah sekarang kamu siap?" tanya Jea tiba-tiba.


__ADS_2