
Kelahiran putri Bu Minah cukup menghebohkan kamp KKN, Kikan dan Cipul yang menjadi saksi hebohnya kejadian itu harap-harap cemas dengan keadaan Renata.
Kikan melihat secara langsung betapa kuatnya cengkraman pada tangan Renata, ada sedikit kelegaan karena bukan dirinya yang menjadi korban Bu Minah, tapi ia juga kasihan pada Renata. Semoga cakaran di tangan Renata tidak terlalu parah, harapnya.
Deru mobil Jea masuk ke arah Kamp KKN, sontak mengalihkan perhatian anak KKN yang berkutat pada tugas masing-masing. Kikan langsung berlari menuju mobil tersebut, bahkan sebelum berhenti Kikan terlebih dulu ngejugrug di tempat parkir mobil itu.
"Bagaimana, Ta?" sungguh khawatir Kikan, wajah cemasnya sangat terlihat ketika pintu mobil terbuka memunculkan Renata.
"Gue gak pa-pa, Ki. Tangan gue cuma diobati gak ampe dijahit."
"Syukurlah, eh kayaknya Jea tuh butuh diruwat deh."
Sejenak keduanya berhenti, dan menoleh ke arah Jea yang berada di belakang keduanya. "Kenapa?"
"Setiap dekat dia, ada aja kejadian yang tidak mengenakkan."
Renata cekikikan, "Iya bener,"
"Gue gak mau dekat-dekat dia, ah!" Ujar Kikan yang langsung lari saat Jea menyamai langkah mereka.
Renata semakin tertawa, "Kenapa dia?" tanya Jea heran.
"Takut sama kamu."
"Kok bisa?"
Renata berhenti, menatap pemuda itu intens, terik matahari cukup menyengat, semilir angin siang hari ikut menemani kedua anak muda yang saling berhadapan itu. Tampak romantis, "Kata Kikan, kakak perlu diruwat!"
"Ha???? Apa?"
Renata kembali tertawa, ekspresi Jea amat
menggemaskan, "Kalau dekat kakak bawaannya sial, selalu ada kejadian tidak mengenakan." Kembali Renata tertawa, dan membuat Jea jengkel setengah mati.
Ada-ada aja pikiran si Kikan itu, orang ganteng nyaris sempurna dibilang biang kerok kejadian tidak mengenakan di KKN ini, yang benar saja jubedahhhhhhhh.
Kikan benar-benar takut dengan Jea, sejak.saat itu, ia menghindar berkerumun kalau ada Jea. Minta bahan laporan saja, ia menyuruh anak lain berhadapan dengan Jea. Cipul sering sekali dijadikan korbannya.
"Malam Pak RT!" sapa Jea ketika pak RT mampir di kamp KKN. Beliau selalu terlihat ramah.
"Malam, gimana adik-adik ada kesulitan selama di sini?" tanya beliau basa-basi.
__ADS_1
Obrolan dengan pak RT berlanjut, banyak kesan baik yang disampaikan beliau pada anak KKN. Beliau merasa bangga, karena semangat anak muda inilah yang membuat para warga sadar pentingnya pendidikan, dan terlebih lagi pengetahuan tentang internet. Kata beliau sekarang, para warga sangat intens menggunakan Internet, yah meskipun masih terkendala signal.
"Sabtu depan, Pak Bagyo mengadakan walimahan, mas, mbak. Beliau mengadakan pesta rakyat, silahkan adik-adik ikut bergabung."
"Terimakasih, insyaallah kita akan datang!" balas Jea ramah.
Pesta rakyat?? beuuh benar-benar sultan di desa kayaknya Pak Bagyo ini. Kemarin saja sudah memberikan tempat belajar anak dan memberikan dana untuk ***** bengeknya memodifikasi ruangan. Sekarang mau mengadakan pesta rakyat, kereeen mah sultan yang satu ini.
"Karena walimahan kita beri kenang-kenangan pada anak Pak Bag, gimana?" usul Mia selepas pak RT beranjak.
"Setuju, masa' iya kita cuma datang ke pesta rakyat dengan tangan kosong." Lanjut Filza.
"Kita para cowok mah ngikut aja dah." Cipul komentar.
"Kado apa kira-kira?" Kikan bersuara.
"Mesin cuci?" usul Renata.
"Boleh."
"Bedcover?" usul Helwa.
"Yang lain?" tanya Jea, seperti biasa bagian moderator. he.he.he
"Iuran berapa dulu," kali ini Wira yang bersuara.
Memang tergantung dana juga sih, berapa dana yang terkumpul nanti baru menentukan barang yang sesuai. "Seikhlasnya aja gimana?" Rendi yang memberikan usul, menyadari juga pengeluaran untuk KKN lumayan, tidak semua kan punya uang lebih juga.
"Oke seikhlasnya, nanti kalau terkumpul dan sedikit, boleh lah pak ketua nyumbang gedean." Goda Renata seperti biasa pada anak sultan itu.
"Boleh, tapi Poto berdua ya."
"Cih...maunya!" dengus Renata kesal.
"Kalau foto sama Renata ma gue nyumbang gedean dah!" Agus mulai gombal juga.
"Murahnya harga diri gue, Bung...."
Renata pura-pura ngambek, dan diiringi tawa yang lain.
Akhirnya diputuskan iuran secara sukarela, dan tak butuh waktu lama uang pun terkumpul sebesar satu juta.
__ADS_1
"Jadi beli apa? kalau bedcover masih ada sisa, kalau mesin cuci kurang." Jelas Kikan sambil menatap layar ponsel, mengamati harga perabotan rumah.
"Gue tambahin sejuta dah." Jiwa sultan Jea keluar.
"Anak sultan batu bara gak mau nyumbang kah?" sindir Renata ngeselin. Wira pura-pura mengambil ponsel, tak menggubris ocehan Renata. "Sultan abal-abal Lo!"
"Ngeselin emang nih cewek!" lagi-lagi Wira memiting leher Renata, pemandangan seperti ini sudah biasa terjadi. Tidak ada cowok yang berani mendekati Renata selain Wira, dan tampaknya hanya Wira memang yang diperbolehkan dekat dengannya.
Pagi itu, sekitar pukul 8. Wira, Kikan, Mia serta Cipul akan ke pasar sekaligus beli kado untuk nikahan anak Pak Bagyo. Setelah diberi suntikan dana iuran dari Sultan Jea, mereka membeli mesin cuci sekaligus bedcover. Di depan pasar memang ada toko perabotan rumah yang lumayan lengkap, termasuk barang elektronik seperti mesin cuci.
"Ini nanti dibungkus kado atau gimana?" tanya Cipul, melihat besarnya mesin cuci kapasitas 7 kg merk Sha*p, dan bedcover merk my ❤️.
"Dibungkus kertas kado lah, nanti biar ciwi-ciwi yang ngatur." Ujar Wira.
"Beli kertas kado yang kembar 10 lembar." Cetus Mia.
"Buat jaga-jaga Cipul, ntar kalau kurang masa' disambung sama sarung kamu." Cerocos Kikan.
"Sembaraaaaangaaannnnn."
*******
"Solasi-solasi." Pinta Renata, setelah menjalankan rutinitas program KKN, sore hari adalah waktu lengang untuk istirahat dan bercanda gurau. Kali ini, para ciwi sedang membungkus kado untuk nikahan anak Pak Bagyo.
"Eh pegangin dong!" kali ini Mia meminta bantuan yang lain untuk membungkus kado mesin cuci itu.
"Solasinya kurang itu, Ta!" koreksi Helwa ketika melihat sisi kertas kado belum sepenuhnya rapat.
"Eh kartu ucapan udah masuk belum?" Filza menginterupsi sebelum semua sisi terbungkus.
"Yaaaaahhhhh lupaaaaa!" Renata dan Mia kecewa, bungkus mesin cuci hampir 80% selesai malah ada yang terlewat.
"Udah kartu ucapan dimasukkan ke bedcover aja, yang belum terbungkus." Lega rasanya mendapat usulan dari Helwa, otak calon dokter emang cerdik ya.
"Kalau di sini masih ada Maya, mungkin gak dia bantuin?" tiba-tiba Renata membayangkan kehadiran Maya di saat bungkus kado seperti ini. Maklum suasana saat ini menunjukkan betapa kompaknya cewek KKN ini. Tidak ada yang ongkang-ongkang, semua duduk lesehan dan saling bantu.
"Halah palingan dia tinggal komentar, ih kok kertas kadonya milih batik sih, eh kok disambung-sambung kertas kadonya, pelit amat." Kikan menirukan gaya Maya spontan. Mungkin saking eneg-nya pada Maya, Kikan cukup hapal dengan kebiasaan temannya itu. Eh dianggap teman???? hehe....
"Yang soulmatenya Maya, hapal bener dah logatnya." Renata usil, tonyoran kepala langsung dia dapat dari Kikan diiringi dengan umpatan 'Najong'.
"Udah ah, becanda mulu, bungkus lagi, masiha da bedcover juga. Kartu ucapan jangan lupa." Lagi-lagi calon dokter mengingatkan, akhirnya ciwi-ciwi yang lagi ghibah stop sementara.
__ADS_1