
"Tumben bos udah dua hari gak ke sini?" Elsa mulai ghibah. Karena dua hari ini dia bisa sedikit longgar, pak bos gak datang, boleh dong longgar dikit.
"Ke Pacitan." Celetuk Pak Fahmi, masih dengan laptopnya.
Deg
Renata dag dig dug, pikirannya menerawang jangan-jangan ke rumahnya, menemui bapak, hendak melamar.
"Mau buka perumahan di sana?" Elsa si kepo mengurai alasan pak bos ke Pacitan, jauh amat gituloh.
"Gak tahu, kata asistennya ada urusan pribadi."
Makin melotot saja Renata, mungkinkah Jea benar-benar menginginkannya?? Hemm...beberapa detik kemudian, Renata mencari nama Jea di ponselnya, mengirim pesan adalah tujuannya.
"Kak Jea, di mana?"
Byuh.....bukan Renata sekali, kirim wa ke cowok dan menanyakan hal pribadi. Renata juga tidak masalah kalau Jea memang ke rumahnya. Cuma kaget saja, gak ada angin gak ada hujan, Jea masuk daftar pelamar hati Renata, meskipun kemarin Jea bilang ingin dekat dengannya.
Mungkin dia laki-laki yang baik, tidak perlu kata-kata langsung tindakan yang nyata. Gumam Renata sembari melihat pesannya yang centang dua abu.
Renata kembali menatap laptopnya, hari ini ia juga sedikit longgar, sehingga dia bisa menyelesaikan laporan magangnya agar Minggu depan bisa dimintakan legalisasi pada admin kantor.
Ting
Bunyi ponsel Renata, satu pesan dari Jea, entah mengapa terbit senyum kecilnya.
"Di Surabaya, ada apa?"
Renata mengangguk dan tak berniat membalasnya, mungkin ke Pacitan memang urusan bisnis.
Ting
Kangen?? tulis Jea, lagi-lagi tak dibalas oleh Renata.
******
Selepas maghrib, Renata dan anak lorong lain ditraktir Ilma makan steak, duh anak horang kayah, traktir ala mahasiswa aja ke steak. Enak bener dah.
Lagi, mereka naik motor. Yah mau gimana lagi, kos mereka tidak memperbolehkan membawa mobil karena tidak ada lahan untuk parkir.
Ramainya jalanan ibu kota menambah euforia anak muda pada mereka, menikmati kebebasan dengan sahabat satu server, tertawa dan saling ledek sudah terbiasa. Bahkan saling menyalip laju motor di jalan raya pun dijabani.
"Samain semua aja, Il." Tukas Elea, ya karena warung steak langganan mahasiswa itu selalu ramai pengunjung, daripada kelamaan, menu makanan dan minuman yang dipesan disamakan.
Mahasiswa kalau sudah nongkrong apa aja dibicarakan, mulai dari gosip tentang dosen, teman yang absurd, anak kos lain, bahkan kondisi keluarga sekalipun.
"Keluarga Vino jadi Minggu depan, Sut ke rumahmu?" tanya Neva sembari memotong steaknya.
"Iya, mbak. Mumpung Minggu depan longweekend."
"Gue juga pulang!" Ilma menyahut, anak yang lagi ultah ini hampir tiap bulan pulang. Berasa Jakarta-Mojokerto itu cuma lima menit. Ya namanya anak bontot sih, horang kayah juga wajarlah bolak balik pulang kampung, beda dengan Neva, Elea, Sita dan Renata, semester sekali baru pulang.
__ADS_1
"Mungkin gue juga pulang!" Renata menyahut sambil memasukkan sepotong steak.
"Tumben?"
"Magang tugasnya tinggal dikit, laporan juga hampir selesai, trus long weekend 4 hari, lumayan lah buat pulang."
"Bareng gue mbak naik pesawat ya!"
"Hemmmmmmm balik ya aja naik pesawat, ke Pacitan naik travel aja."
"Beda dikit doang mbak, enak naik pesawat."
"Subsidi deh kalau mau gue temenin naik pesawat."
"Ogah."
"Ya Allah semoga ada hamba Allah yang baik hati memberikan tiket pesawat pulang pergi Jakarta- Surabaya." Doa tulus Renata sambil mengadahkan tangan.
"Aamiin." Balas Neva dan Elea kompak, tapi bernada sinis.
"Mimpi itu gratis kok, mbak!" sindir Sita, geli juga dengan doa mbak kosnya itu.
Iya juga sih, emang Renata pesimis akan doanya, siapa juga yang bakal kasih tiket cuma-cuma.
Drt...drt...drtt.. panggilan telpon dari Bapak Negara, bukan presiden ya, tapi Renata memberi nama kontak bapaknya dengan istilah itu, semoga tidak dianggap anak durhaka, he..he...he..
"Assalamualaikum, Nduk?"
"Waalaikumsalam, Pak. Bapak sehat?"
"Di warung. Lagi makan, Pak! Wonten nopo pak (Ada apa, Pak)?"
"Minggu ngarep moleh o, bakal onok tamu!"
(Minggu depan pulang ya, mau ada tamu)
"Kia kudu muleh?"
(Kia, panggilan keluarga untuk Renata Adzkiya, harus pulang)"
"Ya mesti wong ape ngelamar awakmu!"
"Haaaaa!" Kaget dong, untung Renata lagi tidak mengunyah daging, bagaimana kalau Renata keselek daging gara-gara kabar ini.
"Ada apa, Mbak?" tanya Sita khawatir, hanya gelengan yang diberikan Renata. Mbak kosnya itu masih khusyuk mendengar wejangan yang diberikan bapak.
"Tenang, engkok awakmu numpak pesawat, budal karo bocah e."
(Tenang, kamu nanti naik pesawat bersama orang yang mau melamar kamu)
"Hahhhhhh?" semakin kaget saja Renata, tiket pesawat? sama calonnya? gak salah dengar kan???
__ADS_1
"Ojok ha..ho..ha...ho ae, bocah Iki kancamu. Kok awak mu ora nate cerita nek nduwe konco ganteng, sugeh, sopan sisan."
"Hah?"
Ini bapak lagi ngomongin siapa sih, kedengarannya kok seneng banget, batin Renata.
"Ha maneh...awakmu Iki Lapo seee kok ha ho ha he ae, gurung mangan ta?"
(Ha lagi, kamu ini kenapa sih kok ha ho ha he saja, belum makan kah?)
"Belum minum juga." Canda Renata, pasangannya makan ya minum, kenapa yang selalu ditanyakan belum makan, gak pernah ada yang tanya belum minum? Ya kan, padahal minum kan penting??? Serah deh, kekkekekk.
"Wes ndang mangan, paling mene kamu dikek i tiket pesawat e. Ojok mabok nek numpak pesawat."
(Sudah segera makan, besok mungkin kamu dikirimi tiket pesawat, jangan mabok naik pesawat ya)
"Gak elit banget sih, Pak, pesannya. Bapak emang setuju?"
"Setuju banget nduk. Nek isok pas ketemu langsung tak rabekno!"
(Setuju sekali, Nak. Kalau bisa pas ketemu langsung dinikahkan)
"Bapaaaakkkkkkk." Rengek Renata yang disambut tawa menggelar dari bapak.
"Udah, makan steaknya. Gak ikhlas Gue kalau steaknya nggak dimakan." Cicit Ilma.
Renata pun memakan steaknya yang hampir dingin, selera makan steaknya anjlok. Penasaran siapa yang datang ke rumah dan meminta langsung ke bapak.
Apakah Wira? kayaknya gak mungkin, dia masih sibuk magang dan bimbingan skripsi.
Mungkinkah Jea? Kata Pak Fahmi kan ke Pacitan, tunggu, tapi dia bilang di Surabaya kok??
Perang batin Renata berhasil membuat si cerewet kincep. Guyonan anak lorong tak bisa mengalihkan pikiran siapa yang melamarnya. Kalau dari ciri yang diceritakan bapak sih menjurus ke Jea. Dibanding dengan Wira memang Jea lebih menonjol dari segi apapun, cuma denger-dengernya dia kan mantan playboy juga. Sama aja dong seperti Wira.
Ting
Ting
Lagi-lagi Wira dan Jea kirim pesan bersamaan, keduanya pun kirim foto. Semakin deg-degan saja Renata, diantara keduanya siapa yang kirim tiket pesawat. Dalam hati kecilnya, Renata mengharap Jea saja sebagai calon pelamar hatinya. Bukan Wira, karena Renata benar-benar menganggap Wira sebagai sahabat saja.
Dengan menyipitkan mata, ia membuka foto yang dikirim Wira.
"Astaghfirullah," pekiknya sedikit keras.
Pasukan lorong 13 menatap heran pada Renata, ada apa lagi.
"Mbak!" panggil Elea sambil menepuk pundaknya.
"Anter gue ke RS Internasional, Va. Wira...."
*****
__ADS_1
Terimakasih teman atas jempolnya dan dukungannya, maaf kalau masih banyak typo, pengalaman pertama menulis novel online,
lopeeee all ❤️❤️❤️❤️❤️❤️