CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
PENGAKUAN


__ADS_3

"Hallo, Assalamualaikum!" sapa Renata setelah diizinkan Jea mengangkatnya. Sesuai kebiasaan Renata akan meloudspeaker telpon Wira.


"Kangen kamu, Ta!" kalimat pembuka yang salah. Jea langsung mendelik, Renata hanya mengedikkan bahu, tidak menyangka Wira akan sefrontal itu.


"Ta, gue tahu Lo hanya mau denger gue, gak berniat menimpali omongan gue, terserah. Asal Lo tau Ta, saat dengar Lo nikah sama Jea, hidup gue tuh berasa hancur. Pikiran gue kalut, gue rasa gak bisa hidup tanpa Lo."


Memang Renata diam, tapi dia hanya mencibir, bibirnya manyun seolah bilang 'pret' di setiap ucapan Wira, dan itu spontan, tidak dibuat-buat.


"Kenapa Lo terima dia, Ta? Padahal Lo gak dekat dengan dia. Gimana Lo menjalani hari-hari dengan orang yang sama sekali gak pernah tahu kebiasaan Lo!"


"Bentar deh, Wir. Lo ngomong kayak gini berasa gue yang ninggalin Lo. Ingat Wir, meski kita sahabatan udah lama, tapi gue gak yakin Lo tau kebiasaan gue. Gak usah sok melankolis Lo."


Hem mode garang Renata muncul juga.


"Ta, kapan sih Lo nyadar kalau gue lebih baik dari Jea."


Perlu ditabok ne cowok biar sadar dirinya terlalu angkuh membanggakan diri.


"Gak akan pernah sadar. Gue udah berikan kesempatan berkali-kali ke Lo, datang ke rumah gue, temui bapak gue, lamar gue, dan lo gak pernah mengambil kesempatan itu. Dan Lo bilang gue lebih memilih Jea? Lo punya kaca gak sih Wir, tolong dong ngaca, introspeksi diri, Lo apa Jea yang baik buat gue.


Keduanya terdiam, terdengar isakan tangis bukan Renata tapi Wira, sepertinya dia frustasi sekali.


"Dan perlu Lo tahu, Jea bahkan sempat mundur tidak mau mendekati gue, karena apa, karena Lo! Dan Lo tidak sadar akan hal itu. Trus Lo sekarang masih bisa jelekin suami gue karena rebut gue dari Lo. Sadar Bambaaang, Lo bukan siapa-siapa gue, Lo tuh sahabat gue doang yang gak punya hak apapun atas hidup gue. Jadi berhenti omong kosong dengan Lo cinta gue. Karena semua itu bualan lo."


"Gue cinta sama Lo, Ta. Gue pacaran sama cewek lain hanya sebagai pelampiasan karena gak dapetin Lo, tapi gue cinta sama Lo!"


"Udah diam, kuping gue panas dengar cinta cinta, Lo tuh gak cinta ke gue, Lo cuma terobsesi sama gue. Gak lebih. Dengan Lo pacaran sama cewek lain itu sudah bisa membuktikan kalau Lo gak serius sama gue, Trus Lo pikir gue harus terima Lo daripada Je? Mikir sodara."

__ADS_1


"Gue tetap tunggu janda Lo!"


Uh kalau ada di dekat Wira saat ini, ingin rasanya timpuk tuh bibir. Main doain seenak jidatnya saja.


"Satu hal yang gue mau ngomong, ini yang terakhir kalinya gue terima telpon Lo dan membahas hal gak penting seperti ini. Please, biarkan gue bahagia dengan suami gue, dan gue yakin Lo akan bahagia dengan pasangan Lo juga. Jangan pernah menjadi bayangan dalam rumah tangga gue, karena itu percuma. Gue udah kontrak sampai mati dengan Jea. Jadi tolong, lupain gue. Buka lembaran baru Lo dengan cewek lain. Gue yakin Lo bisa."


"Gue akan coba, meski cinta gue tetap buat Lo. Kalau Lo janda, hubungi gue."


"Gak akan."


Tut


Renata memutus sambungan itu, langsung memeluk suami, ia menangis sampai sesenggukan. Ia sudah memutuskan sahabatnya demi kebahagiaan rumah tangganya. Bukan pilihan muda, tapi harus dipilih. Jea suaminya, Renata harus memberikan kasih sayang sepenuhnya untuk Jea.


Mencintai dan dicintai itu seperti barter. Lo mau dijadikan ratu oleh suami Lo, maka Lo harus menjadikan dia raja. Kalau Lo gak mau dipoligami, maka jangan pernah berdekatan dengan laki-laki lain. Jangan pernah merasa dirimu istimewa sebelum kamu bisa mengistimewakan pasanganmu.


"Terimakasih sudah mencintaiku dengan tulus," Renata mengangguk.


"Aku sayang kamu." Ucap Jea sambil mengeratkan pelukannya, memberikan ketenangan pada Renata.


Beberapa menit kemudian, Renata sudah tenang dengan mata sembapnya. Isakan tangis masih terdengar, Jea terus mengelus pipi Renata. Dokumen pekerjaan dinomorduakan, yang penting istrinya tenang dulu. Resiko membawa pasangan saat kerja tuh begini, bikin gak konsentrasi. Andai saja dekat sama istri tiap hari, tanpa memeras pikiran untuk kerja, tapi uang banyak. Hidup akan lebih bahagia. Maunya!!


"Aku gak suka Wira punya sikap kaya gitu, maksa banget sampai doain aku jadi janda. Tega banget dia." Keluh Renata.


"Namanya juga cinta, katanya." Cibir Jea. "Padahal tingkat tertinggi mencintai seseorang adalah melepaskannya untuk bahagia." Lanjut Jea bijak.


"Dia mana nyampe mikir kayak gitu, otaknya terlalu dangkal buat mikir baik buruknya suatu tindakan." Renata kesal, ia meletakkan dagunya di pundak Jea sambil terisak.

__ADS_1


"Ini yang terakhir aku berhubungan dengan Wira, cukup sekian dan terimakasih."


Cup


Jea mencium kening istrinya, "Dan itu memang lebih baik."


Renata mengangguk. Dan seperti biasa, ketika manik mata mereka menatap satu sama lain, Jea yang pertama kali mendaratkan ciuman mesra pada Renata. Memagutnya dengan lembut, tangan kanan Jea menelusup di pipi Renata memperdalam ciumannya. Sedangkan Renata hanya memegang pinggang sang suami, memejamkan matanya menikmati kelembutan yang diberikan oleh Jea. Membalasnya pun ala kadarnya, karena Renata belum ahli.


"Kita lanjutkan di situ!" tunjuk Jea pada ruang istirahatnya. Ia berdiri keluar sebentar memberi tahu pada Dina, akan beristirahat hingga makan siang.


"Baik, Pak!" jawab Dina tegas, padahal pikirannya udah traveling ke mana-mana setelah mendengar perintah bosnya yang akan beristirahat hingga makan siang, waoooww...dan di dalam ada istrinya, pintu ruangan dikunci. Uh ..ngapain aja istirahat sampai 3 jam di dalam sana. "Sumpah bos gak ada akhlak memang," geram Dina dalam hati.


Tepat pukul 2 siang, Daffa masuk dengan bungkusan makanan yang diorder Jea, masing-masing dua porsi.


Tok...Tok....


Jea membukanya, dan langsung mendapat Omelan Daffa, berasa atasan memang si Daffa itu.


"Ngapain dikunci sih, Lo sembunyiin cewek ya." Oceh Daffa ketika pintu terbuka tanpa melihat sosok yang duduk anteng di sofa, sambil melihat drakor kesayangan.


"Cih....jadi ini alasan Lo kunci pintu dan gak mau diganggu sampai 3 jam. Ck...parah Lo, dokumen dianggurin terus."


"Ngoceh aja lu, belum pernah ngerasain tersengat listrik sih, makanya main ngoceh." Balas Jea langsung mengambil bungkus makanan dan duduk di samping Renata.


"Ayo makan kak Daffa," ajak Renata ramah.


"Saya udah makan adek unyu." Jawab Daffa, panggilan Daffa yang terlalu manis untuk Renata membuat Jea langsung melempar krupuk ke arah Daffa yang langsung terkekeh.

__ADS_1


"CEO bucin Lo!" ledek Daffa sambil berdiri meninggalkan pasangan yang sudah kelaparan. Keduanya makan dengan tenang, tak ada candaan seperti bisa.


__ADS_2