CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
BALADA SKRIPSI


__ADS_3

Kehebohan, kemeriahan serta kekonyolan yang terjadi di resepsi pernikahan Jea dan Renata menyisakan kenangan yang selalu membuat tawa muncul.


Kini mereka semua kembali pada aktivitas masing-masing. Jea berkutat dengan kesibukan di perusahaan, kadang masih mengantar jemput Renata, tapi lebih sering membiarkan istrinya naik motor atau diantar sopir.


Renata yang sempat uji coba webnya pada teman Mita dan anak kos, mencobah menganalisis hasil uji cobanya. Kali ini ia diminta bimbingan pada pak Wayan, pembimbing pertama.


"Kalau mau mencari responden itu ada alasan secara ilmiah, Ta. Kalau kamu ambil hanya anak remaja mahasiswa bagaimana dengan orang kantoran?"


"Pemikiran saya, orang kantoran itu ketika saya ambil datanya, Pak. Bagaimana?"


Pak Wayan tampak berpikir. "Timpangnya beda jauh loh, Ta! pemikiran anak SMP , mahasiswa, dan waktu ambil data orang kantoran. Yakin webmu bisa dijadikan alat penelitian untuk orang kantoran. Mungkin saja saat uji coba, bagus sekali responnya. Saat ambil data ternyata tidak bisa dianalisis, bagaimana?"


Byuh....pening kepala Renata, kenapa ada perbedaan pemikiran antara Pak Wayan dan Pak Shandy. Huaaaa rasanya pengen mewek.


"Lalu solusinya?"


"Ambil lagi respon dari orang kantoran, data yang kamu dapat jangan dibuang."


"Baik."


Renata pamit, wajahnya murung. Ia langsung mengendarai motornya ke kantor Jea. Di jalan dengan berkendara, ia bergumam sendiri, mengeluh capek, tapi air mata tidak keluar. Masih ada rasa kecewa karena belum segera ACC untuk ambil data.


"Pak Jea, masih rapat mbak Ren." Ujar Dina, "Mau minum apa?" tanyanya lagi. Istri atasannya itu hanya meminta air putih saja, karena setelah ini masuk jam makan siang, Renata pun pamit masuk ke ruangan suami. Ia merebahkan tubuhnya di sofa, menghela nafas berat dan membuka Instagram sebagai pengalihan.


Baru membuka Instagram, pintu ruangan terbuka. Suaminya muncul diikuti Daffa di belakangnya dengan membawa tablet.


"Loh, udah selesai bimbingannya? kok cepet?" tanya Jea belum melihat raut kecewa Renata.


"Kita lanjutkan setelah makan siang saja, Daff!" titah Jea yang langsung diangguki Daffa. Sang asisten pamit pada Renata juga.


"Gimana bimbingannya?" baru Jea mendudukkan bokong di sofa dekat Renata, istrinya langsung menubruk tubuhnya, memeluk erat sang suami dan menangis. Air mata yang dari tadi tidak mau keluar meluncur deras saat dirinya di dekat Jea. Ada sisi rapuh Renata.


Jea membiarkannya menangis hingga tersedu-sedu sambil mengelus rambut panjang Renata. Ia tahu betul, istrinya termasuk perempuan mandiri kuat, menangis hanya sebagai ungkapan rasa kecewanya saja, gak usah dibujuk cukup ditemani tanpa ditanya ini itu.


"Aku disuruh nyari orang kantoran buat uji coba lagi loh, capek akunya tuh. Cari di mana?"


Jea menahan senyum mendengar istrinya kembali celometan. "Kamu lupa suamimu punya kuasa untuk itu."

__ADS_1


Sambil mengusap dengan tissu air mata dan ingus yang bercampur satu, Renata menatap wajah Jea yang tersenyum padanya, "Kamu butuh berapa orang untuk responden?"


"Setidaknya ada 30."


Jea menghubungi seseorang, meminta dikumpulkan 30 karyawan dari berbagai devisi, baik manajer maupun anggota tim devisi.


"Sini sayang!" titah Jea sambil membuka MacBooknya di kursi kebesarannya. "Buka web kamu, silahkan gunakan karyawan di kantor ini. Apa yang kamu butuhkan lagi?"


Renata melongo, berurusan dengan bos cepat juga ternyata. "Aku cuma butuh responden terhadap webku dan mengisi angket survei yang tersedia dalam webku juga."


"Oke."


Hah? jawabannya cuma oke? Tampak Jea mengirim pesan ke seseorang, lalu menarik tangan Renata untuk keluar makan siang.


"Gak jadi uji coba?" tanya Renata sambil memegang lengan Jea.


"Nanti saja, sekarang waktunya makan siang. Biarkan para karyawan makan dulu baru isi surveinya, paling sekitar jam 3 isi survei. Tenang saja diurus Daffa." Jelas Jea, yang disambut pelukan hangat Renata.


"Sayang suamiku." Ujar Renata dengan suara manjanya. Jea mencium pipi sang istri sebentar lalu keluar untuk makan siang. Renata lagi ingin makan soto dan teh hangat, kuah panas dan dicampur sambal mungkin saja bisa meredakan peningnya uji coba, ingat, masih uji coba, belum ambil data penelitian.


Pantas saja banyak yang kuliahnya molor terkendala skripsi, memang tahap akhir menuju sarjana ini sungguh menguras pikiran, tenaga, dan biaya. Ah ditambah emosi juga. Kadang mahasiswa yang bersikap idealis memilih tema skripsi yang berbeda dengan contoh yang sudah ada, termasuk Renata yang mengikuti proyek dosen, tapi juga tidak mudah seperti mahasiswa lain yang hanya memodifikasi skripsi lain.


"Kalau ada apa-apa kamu bilang sama aku, siapa tahu aku bisa bantu." Ucap Jea sambil memeras irisan jeruk nipis di kuah sotonya.


"Kamu sibuk, aku takut ganggu dan merepotkan."


"Urusan kantor kan bisa Daffa yang tangani."


"Hem...masalahku juga Daffa yang tangani, kamu tinggal perintah."


Jea tertawa, memang segala urusannya dialihkan ke Daffa sang asisten, kecuali urusan pribadi dengan istrinya, Jea akan turun tangan sendiri soal itu. He...he...


"Gitu kamu bayar berapa kak Daffa?"


"25."


"25 Juta?"

__ADS_1


Jea mengangguk. "Belum bonus bulanan, subsidi makan, subsidi kesehatan dan transportasi."


"Kalau bonus bulanan gimana hitungnya, kan dia hampir 24 jam kerja sama kamu."


"Setahuku sih 5% dari gaji pokok!"


Jea tampak menahan tawa melihat Renata tampak menghitung gaji Daffa. "Kenapa kamu mau jadi asistenku?"


Renata menggeleng sekaligus mencibir, "Bahaya kalau aku jadi asisten kamu?"


"Kenapa?" tanya Jea sambil mengulum senyum, ia ingin tahu apakah istrinya berani membahas hal 'itu' di depan umum.


"Kamu ajak ke ruang di belakang kursi kerja kamu terus."


Sontak saja Jea tertawa, istrinya sudah sangat hafal dengan kebiasaan dirinya, terlebih urusan 'itu'.


"Habis ini kita praktikan ucapan kamu!"


"Ogah!"


"Nolak dosa loh!"


"Gak pa-pa sekali, toh pahalaku membahagiakan suami sudah luber luber." Ucapnya jumawa. Jea tertawa lalu mengacak rambut Renata pelan.


Tepat pukul 3 sore, ketiga puluh karyawan siap menjadi responden uji coba dalam penelitian Renata. Daffa yang mengurus semua, sedangkan yang punya tanggung jawab skripsi bobok cantik di ruang kerja sang suami.


"Bos, semua sudah ready, bisa dimulai sekarang?"


"Bisa, setelah itu cek anggaran yang dikirim bagian keuangan."


Daffa mendengus kesal, bagaimana tidak pekerjaannya sekarang bertambah, melayani istri bosnya juga. Ia melirik tidak suka pada perempuan yang meringkuk di sofa.


"Kenapa lihat istri aku!" cibir Jea geram.


"Pengen pites, dia yang skripsi gue yang pusing."


Jea cekikikan, "Kalua dia sibuk skripsi, aku yang pusing juga. Kurang jatah tuan!" sindir Jea yang langsung mendapat desisan kesal dari sang asisten.

__ADS_1


"Cih....enak di bos, sengsara di gue!"


__ADS_2