
Rombongan cewek KKN entah melenggang ke stand apa, yang jelas para cowok sedang duduk manis di meja bundar dekat gerobak kopi. Ada juga yang merokok, ada juga yang hanya bermain ponsel plus nyeruput kopi. Posisi Wira di sebelah Jea. Anak sultan batu bara itu sedang sibuk chat di grup CALON ORANG SUKSES
"Ne cewek, cepet amat balasnya." Gumam Wira, Jea pun menoleh sekilas pada tampilan ponsel Wira, sempat terlihat nama Renata ❤️ memberikan komentar.
"Siapa, Wir?" tanya Jea pura-pura gak tahu.
"Hem? Oh Renata, neh cewek padahal asik ghibah sama anak lain, tapi cepet balasnya di grup," Wira beralasan. Fokus lagi ke chat grup tadi.
"Kalian itu pacaran atau gimana sih?"
"hehehe..Lo kepo ya, Je. Kenapa naksir juga sama Renata?" padahal Wira cuma iseng dan asal nyeplos aja, eh ditanggapi anggukan kepala oleh Jea.
Melongo, nambah satu lagi saingan neh, batin Wira.
"Sejak kapan Lo tertarik sama dia, perasaan gue gak pernah lihat Lo PDKT sama si cerewet?"
"Sejak di rumah sakit."
"Rumah sakit? kapan? kok dia gak pernah bilang ketemu Lo dan rumah sakit, siapa yang sakit?" Wira lumayan gelagapan, ternyata Jea pernah bertemu di belakangnya dengan Renata. Sebenarnya gak masalah juga sih, toh dia dan Renata sebatas sahabat, yang masih punya privasi masing-masing.
" Santai bro," ucap Jea sambil menepuk pundak Wira. "Kita gak sengaja ketemu karena teman kita ada yang sakit. Kebetulan teman gue cowoknya adik kos Renata."
"Ooooooo."
"Cepet perjelas hubungan Lo ma Renata, bro. Banyak yang naksir soalnya." Saran Jea, meski salah satu yang naksir Renata adalah dirinya juga.
"Udah jelas kok hubungan kita, sa.ha.bat."
"Rasa pacar," celoteh Jea.
"Yah gue anggap Renata itu teman tapi mesra lah."
"Lah Renata anggap Lo apa?"
__ADS_1
"Dia mah anggap gue cuma teman, semua cowok yang pernah nembak dia dianggap teman. Tapi hanya gue yang bisa dekat sama dia, yang lainnya mah hanya dikasih senyum doang kalau ketemu. Di WA juga gak pernah dibalas."
"Kok bisa gitu, Renata gak suka sama cowok?"
"Bukan gak suka sih, lebih tepatnya dia gak mau pacaran maunya langsung dihalalin."
"Emang kalau gak pacaran bisa dapat cowok?" tanya Jea, pada dasarnya pemikiran Jea dengan berpacaran jalan menuju halal lebih mudah.
"Kata dia kalau gak ada yang ngelamar, gue bakal dihubungi. Njirr ...gue dijadikan cadangan coba. Melas amat." Wira tertawa kecil, mengenang obrolan absurd Renata dulu.
Jea pu ikut tersenyum, "Lucu."
"Siapa? Renata?" tanya Wira yang dijawab anggukan, "Ngeselin iya!" lanjutnya sambil tertawa.
"Kenapa Lo gak halalin dia aja?"
Wira mengernyitkan dahi, heran dengan pertanyaan Jea. Katanya naksir Renata, kok malah menyuruh Wira halalin gadis taksirannya. Aneh.
"Gue mah sadar diri, gue cuma anak sultan batu bara, masa' iya nanti gue nyuruh dia nyemilin batu bara dari bapak gue. Yang bener aja lah, Je!"
"Bapak gue yang punya woy, anak juga bukan gue doang. Bini bapak gue tiga Lo tau gak!"
Jea tertawa ngakak, malam itu dia baru tahu sisi seorang Wira. "Meskipun gitu masih cukuplah buat biaya hidup Lo dan Renata."
"Gak lah, gue mau sukses atas hidup gue sendiri, gak mau bergantung dengan harta bapak gue. Yang ada malah istri gue diinjak-injak sama saudara tiri gue."
"Bijak banget."
"Lo sendiri?"
"Gue udah megang perusahaan orang tua gue. Skripsi dan magang gue kan udah kelar, tinggal KKN ini doang."
"Bisa ya ngeloncatin gitu."
__ADS_1
"Bisa, dosen tahu lah gue anak siapa."
"Widiiiiihhhh, sombong amat."
Jea terkekeh. Salah satu keuntungan anak sultan yang punya banyak koneksi, pendidikan pun bisa loncat.
"Gue kan cuti setahun, nah saat itu gue terpaksa pegang perusahaan bokap, ya udah sekalian menulis laporan magang dan skripsi. Begitu selesai cuti, gue sodorin ke pihak akademik, beres. Udah ujian juga."
"Jadi?"
"Oktober gue bisa wisuda." Entah apa maksud Jea memberikan pengumuman Wisuda pada Wira, gak penting juga. Mereka hanya sebatas kenal di KKN ini. "Kalau gue mapan duluan, boleh dong Renata gue tikung dulu."
"Anjriiiiiiiiiittttttt,"
*************l
Sebenarnya poin apa sih yang menjadikan Renata banyak yang naksir. Cantik? relatiflah, dibandingkan dengan Helwa, sang calon dokter lebih cantik Helwa.
Renata yang terkesan tomboy, ceplas-ceplos dan apa adanya mungkin itulah daya pikatnya di mata cowok. Hampir 4 tahun Wira dekat dengan Renata, tak bisa juga meluluhkan hatinya. Hanya sekedar jalan berdua saja, sulitnya minta ampun.
Renata, gadis yang sangat memperhatikan batasan berteman dengan cowok, mungkin hanya Wira yang sering menonyor kening atau jidatnya atau memiting lehernya, tapi untuk berpegang tangan, Wira pun tak pernah. Ada apa sebenarnya dengan Renata ini.
Masa' iya dia belok? atau sudah punya calon suami atau juga punya trauma percintaan? Wira pun hanya tahu Renata tidak mau pacaran dan maunya langsung dihalalin.
"Gak takut jadi perawan tua?" sering sekali Renata mendapat pertanyaan ini baik dari sahabat, teman kos, ataupun cowok yang pernah nembak dia.
Cukup santai Renata menjawabnya, dengan tersenyum tipis dia hanya bilang 'aku tidak mau menjaga jodoh orang, tak perlu khawatir aku tak laku, karena suatu hari nanti ada lelaki yang melamarku.'
Bagi Renata menemukan jodoh tidak harus melalui pacaran, justru dengan banyak teman jodoh akan mendekat. Dia pun ilfeel kalau ada cowok yang naksir dia dan berusaha menerornya dengan kata-kata puitis, ditanya kabar tiap hari, atau hanya di wa sudah makan? alamakkkk muak sekali rasanya Renata menghadapi rentetan pesan itu-itu saja. Ini masih usaha PDKT loh, gimana kalau sudah jadian. Rempong pastinya, bahkan kalau ada kata posesif di setiap hubungan, beuh makin rempong saja.
So, jomblo adalah pilihanku, kunikmati masa remajaku dengan banyak teman, aku ingin melewati usia mudaku dengan tertawa tanpa ada rasa cemburu, marah dan kecewa. Aku juga tak mau punya musuh yang berlabel mantan, karena mantan bisa menjadi momok di saat nanti.
Cukup menjadi diri sendiri, berteman dengan siapapun tanpa memberikan harapan palsu untuk seseorang. Sebelum janur kuning melengkung, nikmati jiwa petualangmu dengan kawan yang banyak. Buat pengalaman yang bisa diceritakan pada anak cucu kelak. Soal cinta tercatat di nomor kesekian, karena jodoh sudah ada yang mengatur.
__ADS_1
Selama apapun kita berpacaran akan kalah dengan jodoh yang bertemu hanya hitungan menit, begitulah uniknya jodoh.
So....aku bahagia sebagai Jomblo, pacaran bukan prioritas dalam hidupku, karena kasih sayang dan cinta bisa datang tanpa pacaran, itulah Renata.