
Drama morning sicknees Renata berakhir, kini kehamilannya sudah menginjak 15 minggu. Berat badan Renata belum mengalami kenaikan berat badan, hanya perutnya saja yang membuncit, sehingga celana dan rok terasa sempit dibagian perut.
Bapak dan Ibu sudah datang dari malam tadi, karena besok akan dilakukan acara empat bulanan. Berbagai persiapan dilakukan di rumah Jea. Mama yang paling heboh, sampai menyewa tenda seperti orang mau mengadakan kawinan saja.
Keluarga Mama dan keluarga papa sudah banyak yang hadir, kecuali keluarga Danu yang tidak tampak.
"Emang ibu mau bikin apa? bukannya mama pesan semua untuk kuenya." Renata menemani sang ibu ke pasar bersama Bik Asih.
"Ibu cuma butuh ketan dan daun pisang aja!" Celetuk ibu.
"Butuh berapa kilo Bu?" tanya pedagang sembako di pasar itu.
"5 kilo cukup kayaknya, buat syarat aja!" Celetuk ibu dengan ramah. Renata dan Bik Asih ma hanya mendengar saja.
"Nah sekarang daun pisang di mana Bik Asih?"
"Mari ikut saya." Bik Asih menunjukkan pedagang yang biasa menjual daun pisang, berderet dengan lapak khusus buah-buahan. Mama membeli daun pisang seabrek, Renata shock. Mau bikin apa sih sampai segini banyaknya daun pisang.
Mang Dirman yang mengantarkan mereka cukup kaget juga memasukkan gulungan daun pisang seabrek. Setelah dari pasar, Ibu sudah mau berkutat ke dapur kotor. Membawa baskom besar untuk mencuci beras ketan itu.
"Mau bikin apa, San?" tanya Mama pada ibu dengan panggilan besan, yang hari itu tidak ke butik.
"Mau bikin procot."
"Procot?" ulang mama.
Ibu menjelaskan kalau acara empat bulanan di desanya membuat procot, makanan yang terbuat dari beras ketan plus garam yang dibungkus dengan daun pisang. Istilahnya procot untuk ini agar ibu hamil melahirkan dengan lancar tanpa ada hambatan, brusat brusut slamet.
Mama mengangguk saja, meskipun beliau orang kota dan modern, tak mempermasalahkan budaya yang dipegang sama besannya itu. Toh niatnya untuk kelancaran saat proses melahirkan nanti.
Jea tidak tampak di rumah, ia terpaksa lembur untuk hari ini, karena besok acara empat bulanan dan lusa sudah weekend.
Renata hanya bergurau ria dengan saudara sepupu dari suaminya, sebagian dari mereka memang seumuran dengan Renata. Eits ..jangan lupakan Revan, bocah cilik yang sudah memplokamirkan Renata sebagai pacarnya.
Berkali-kali Renata tangannya ditarik Revan hanya untuk menemaninya lihat kartun, main games, ataupun main tiktok..Ya Allah, Renata saja tak pernah main tiktok coba, sedangkan bocah cilik ini sudah sangat lihai berjoget ria.
Anak zaman sekarang.
Drt...drt...
__ADS_1
Panggilan video dari Jea, Renata segera menerimanya. Meskipun Jea di kantor, sejak tadi ia juga mengirim pesan pada Renata untuk tidak melakukan aktivitas apapun, takut kecapekan.
"Lagi ngapain sayang?" tanya Jea begitu melihat wajah sang istri.
"Halo om Jeje!" sapa Revan, wajahnya tampak menguasai layar, membuat Jea berdecak sebal. Saringan kecilnya ini rese' sekali. Bahkan Renata pun belum sempat menjawab sapaannya.
"Jauh-jauh dari Tante Renata, Van!" protes Jea kesal. Renata hanya cekikikan, ya kali cemburu sama bocah.
"Ini tuh pacar aku, Om!
Cup
Pipi Renata dicium oleh Revan dengan manja, sambil meringis menampilkan gigi putih nan rapinya.
"He bocah bikin gergetan aja!"
"Apaan sih Yang, Revan lucu tau."
"Cih ..kamu gitu, Yang. Kalau gak ada aku, main sama cowok lain pakai cium pipi segala."
"Gak usah lebay deh!" teriak Mita yang sengaja mengikuti Revan untuk bermain tiktok.
"Enak aja panggil tante, jangan mau Van. Panggil kak Mita, oke!"
"Beres!"
Cup
Revan juga mencium pipi Mita dengan manja, membuat Jea semakin kesal saja. Anak kecil itu calon playboy.
"Dasar bocah playboy."
*******
Kediaman Jea semakin ramai, ibu-ibu pengajian komplek sudah hadir sejak jam 10 tadi. Memang mama Jea sengaja membuat acara pengajian pagi, untuk ibu-ibu komplek, sedangkan nanti malam pengajian yang dihadiri oleh pak ustadz beserta kolega bisnis Jea.
Renata sudah cantik dengan gaun kaftan dan pasmina putih, tak henti-hentinya Jea memuji kecantikan sang istri.
"Kayaknya lebih baik kamu belajar berhijab deh sayang!" pinta Jea sambil mencium kening sang istri sebelum Keduanya bergabung dengan ibu-ibu pengajian yang akan dimulai pukul 11 siang.
__ADS_1
"Boleh, aku juga udah pengen berhijab kok!" balas Renata masih dengan senyum manisnya.
Setelah acara memuji sang istri, Renata bergabung dengan ibu-ibu pengajian, melantunkan sholawat dan kalimat thayyibah lainnya. Tak lupa, Renata juga membaca Alquran surah Al Luqman. Pesan ibu kalau diamalkan saat hamil bisa menjadikan putra putrinya cerdas dan pintar. Sebenarnya semua surah Alquran apabila diamalkan juga akan menjadikan putra putri Sholeha. Namun, Ibu saat hamil dulu selalu membaca Al Luqman ini, dan Renata dianjurkan untuk melakukannya juga.
Tepat jam 12 siang, acara pengajian ibu-ibu komplek selesai. Saatnya istirahat dan makan siang. Menu catering siang ini memang masakan rumah, sayur asem, gurame goreng, cumi crispy, tahu tempe, botokan, pepes ikan. Karena mama sengaja memesan menu itu sesuai selera ibu-ibu komplek.
"Kamu mau makan apa sayang?" tanya Renata yang menawari Jea, mengajaknya makan siang.
"Samain aja!" ucapnya, wajahnya tampak lelah juga karena dari tadi ia turut serta membantu persiapan acara untuk nanti malam, meski hanya menata kue yang diantar dari toko roti mama di ruang tengah aja sih.
"Kamu tuh tadi ngapain aja sih, sampai capek gini?" tanya Renata yang sudah membawa dua piring makanan, sedangkan Jea menselonjorkan badannya di karpet ruang keluarga.
"Aku cuma bantu nata kue, aja!" Ucapnya sambil mengeratkan pelukan di pinggang sang istri, tak lupa mengusap perut buncit Renata. "Gak nyangka ya hasil kerja keras tiap malam."
"Ayo makan!" ajak Renata sebelum suaminya berkata aneh-aneh. Keduanya makan dengan tenang, sesekali ada perdebatan kecil ala mereka, misalnya soal baju yang dipakai nanti malam. Renata menghendaki kaftan putih tulang beserta pashmina dengan warna yang sama, tapi sang suami menginginkan warna putih.
"Lebih kerasa feelnya tau kalau pakai putih itu." Alasan Jea, masuk akal juga. Tapi Renata mencibir.
"Nanti difoto, dikomen sama orang-orang, dih... bajunya gak ganti. Acara pagi pakai baju putih, acara malam putih juga."
Jea hanya meringis sambil mengunyah makanannya, cewek emang ribet yah. Baju aja bisa dibuat bahan ghibah, toh baju putih Jea kan banyak. Masa' iya pakai baju yang sama dari pagi sampai malam, yang benar sajalah. Kadang untuk ghibah pun harus pakai analisis. Misalnya soal baju putih itu, kalau mau ghibah totalitas aja, pantengin tuh coraknya, bahan, merk-nya sekalian. Rempong bener deh.
Fine.... keputusan akhir, Renata dan Jea memakai baju putih. Renata dengan gamis putih berbahan sifon lembut dan motif bunga kecil-kecil, dipadu dengan pasmina juga. Jea menggunakan Koko putih lengan pendek dan sarung serta peci.
"Pak CEO Sholeh banget!" puji Renata sebelum keluar kamar.
"Biasalah!" jawab Jea jumawa dengan nada ala-ala tiktok.
"Astaghfirullah....gak Sholeh, jadinya sombong." Cibir Renata.
"Dari dulu udah ganteng, Yang. Pakai baju Koko gini malah kelihatan ganteng maksimal plus Sholeh. Harus ikhlas kalau memuji ciptaan-Nya."
"Bisa aja Pakkkk!" cicit Renata dengan mencium lembut pipi sang suami.
"Dih....Bunda genit." Ledek Jea dengan mengusap kepala sang istri yang terbalut pashmina. Keduanya pun segera bergabung di ruang tamu, berniat menyambut para tamu yang mulai berdatangan.
"Eh....ini kah calon ibu mudanya, cantik juga. Hem si bapak, masih muda gini udah pintar cetak gol!" Ocehan ibu berbadan tambun yang baru saja datang, menyalami Neva dan Daffa, kebetulan keduanya bertindak sebagai terima tamu.
"Salah arah deh kayaknya si ibu." Gumam Daffa yang hanya meringis mendengar ocehan itu dan mempersilahkan ibu itu masuk, bergabung dengan para kolega bisnis Jea.
__ADS_1
"Looh....saya kira mbak dan mas tadi yang di depan pintu, ternyata ini toh calon ibu muda. Saya aja pangling dengan wajah nak Jea juga." Ucap ibu tadi ketika bersalaman dengan Mama, Renata, dan Jea. Sok kenal sok dekat banget.