
Perkuliahan telah dimulai, semester baru dengan semangat baru. Renata berhasil menjadi mahasiswa magang di Wijaya Property, devisi kreatif marketing. Salah satu tugasnya membuat pemasaran secara digital.
Hanya Renata sendiri yang magang di perusahaan ini, teman lainnya magang di perusahaan keluarganya, termasuk si Wira, anak sultan batu bara.
"Si Wira masih marah sama Lo?" tanya Ola. Kebetulan Ceca, Ola, dan Renata sepulang magang menyempatkan ngobrol di cafe dekat kos Renata.
"Masih kayaknya. Udah gak pernah chat gue juga."
"Emang kalian tengkar apaan, sih?" Ceca kepo.
Renata hanya mengedikkan bahu. Ia juga tidak merasa bertengkar sih, obrolan terakhirnya karena dia semobil dengan Jea beberapa bulan yang lalu. Memang setelah itu, keduanya tak pernah kontek-kontekan lagi, bertemu hanya ngobrol biasa, ditambah Wira keluar dari grup makin jauh saja kesannya.
"Kita foto yuk, siapa tahu Wira mau ngajak hang out bareng." Usul Ola, dan dia siap dengan camera dari ponsel berlabel apel tergigit itu.
Cekrek
Pose ketiga gadis itu hanya tersenyum saja, Ola pun segera update status 'hang out bareng kesayangan ❤️❤️❤️❤️'
"Si Sableng statusnya galau terus tau." Jelas Ceca, ia pun mengotak atik ponselnya mencari status WA Wira. "Noh!" ucapnya sembari menyodorkan ponsel ke Renata.
Kangen tauuuuuu😭😭😭😭
Begitu caption yang tertulis, Renata hanya menaikkan alis, "Mungkin kangen sama keluarganya kali." Ceplos Renata datar.
"Oke gue komentari statusnya yah, kita lihat dia kangen sama siapa." tantang Ola.
Tik...tik...tik...Ola sedang memainkan jarinya, mengetik beberapa kata yang dikirim pada Wira.
Ting
Ola dan Ceca melongo melihat jawaban Wira
Ola: kangen sapa tuhhhh, kepo dehhhh!
Wira: Calon istri gue
"Tuh kan, Ta. Dia kangen Lo!" Ceca gemas dengan ketidakpekaan Renata. "Jangan apatis dong. Dia kan sahabat kita."
"Trus gue harus gimana, Ca!"
"Coba Wa, dibales gak." Giliran Ola memberi ide.
Oke, untuk kali ini Renata mengalah, dia akan kirim pesan pada Wira, demi persahabatan mereka tentunya.
Renata : Wir, kita lagi ngopi di cafe kesukaan Lo, gak nyusul???
__ADS_1
Satu detik
Satu menit
Lima menit
Sepuluh menit
Tak dibalas juga, "Tuh kan, calon istri dia bukan gue kali, mana ada kangen sama gue trus chat gue gak dibales."
"Gengsi." Ledek Ola. Kemudian mengetik pesan untuk Wira lagi.
Ola: sapa woyyyy calon istri Lo?
Wira : Yang lagi ngopi sama Lo, pakai kemeja maroon.
Fix, Ola hanya menjentikkan jarinya pada wajah Renata. "Dia kangen Lo, neh baca!"
Renata terkekeh, "Gengsi anak sultan gede juga ya!"
"Apa susahnya si, Ta, Lo terima Wira?" Ola mengorek perasaan Renata yang sebenarnya.
"Gue hanya menganggap dia sahabat doang, La. Dia juga tahu banget, perasaan tuh gak bisa dipaksakan,"
"Kalau dia melamar Lo, gimana?"
"Ya kali ketemu bapak Lo bawa cinta doang." Protes Ceca kesal.
"Ya makanya, biar konsen sama kuliah dan kerja, baru kenal cinta." Renata masih kekeh dengan prinsipnya.
"Kalau magang, Lo juga sama gak mau dekat dengan cowok?"
"Dekat kok, dekat dalam artian ya kerja, mengerjakan tugas, ya sama kayak kita kuliah gini lah, Ca!"
"Emang gak ada manajer yang naksir Lo?"
"Gak ada, siapa juga yang bakalan melirik anak magang, sehari-hari pakai kemeja putih rok hitam, hari ini aja kebetulan boleh pakai bebas."
"Kalau gue sih gak bakalan ada yang naksir secara semua udah tahu gue siapa!" cetus Ola
"Sama gue juga, belum apa-apa Abang gue sudah ehem ehem terus." Kali ini Ceca tampak frustasi.
"Kalian kan punya pacar, ngapain cari yang baru lagi?"
Ola dan Ceca terkekeh, "Cewek tuh suka, Ta. Kalau banyak yang naksir berasa istimewa gitu." Cicit Ola sambil mengibaskan rambut panjangnya.
__ADS_1
"Trus jambak-jambakan karena rebutan cowok juga bikin Lo bangga!"
Ola mengetuk ketuk meja cafe,"amit-amit, jangan sampai lah, malu banget kalau kayak gitu,"
"Eh jangan salah, Maya, mantan si sableng kayak gitu tahu di KKN." Terang Renata.
Ola dan Ceca melongo, Maya?? KKN?? dan Renata pun menceritakan jambakan maut yang dilakukan Maya.
"Makanya cukup satu aja, La, Ca, dicintai dan mencintai untuk satu orang." Cibir Renata.
"Siap ustadzah....." jawab Ola dan Ceca kompak, mengakhiri acara nongkrong di cafe itu.
Sesampainya di kos, obrolan di cafe masih terngiang dalam benak Renata, ada rasa bersalah karena Wira tidak pernah kumpul dengan mereka.
Renata: Wira Sableng, apa kabar Lo?
Oke, Renata berbasa-basi mengirimkan pesan pada Wira lagi, sekali lagi kalau tidak ada balasan, terserah dan Renata tidak akan mengirim pesan lagi.
Sampai tengah malam pesan Renata hanya dibaca saja, cukup sudah Renata menunggu, berarti Wira memang masih marah.
Renata: kalau gue salah, gue minta maaf ya Wir, tapi jangan pernah putus hubungan persahabatan kita. Kalau udah gak marah hubungi gue.
Sejak itu, tak pernah lagi Renata mengirim pesan. Begitupun dengan Wira yang tidak membalas dan hanya membaca pesan Renata. Mereka menjalani hari-hari tanpa ada tegur sapa, atau hang out bareng. Bian sampai uring-uringan di group karena pada sibuk sendiri, hah sibuk? atau menyibukkan diri, entahlah.
Bian: Laaaa......Caaaaa....Taaaaa.... group ini bubar aja, yuk. Udah ada sawang tuh dipojokkan.
Ceca mengetik....
Ola mengetik....
Satu detik
Dua detik
Ternyata pesan kedua gadis itu tak kunjung dikirim, status mengetik pun hilang seketika.
Bian: Gue kangen kaliaaaannnn tahuuuu, magang tuh sesibuk inikaaahhhhh, benci gue.
Tak ada yang mengomentari Bian. Entahlah, kenapa Bian begitu longgar, siang malam bisa meramaikan group sendiri, ia tak peduli ada yang mengomentari atau apalah yang jelas dia sudah kangen kumpul bareng, chat gak penting bareng, ke mall bareng. Sampai
Bian: send photo
Ola : Astaghfirullah Bian.....sekarang di mana Lo?
Renata :Gak usah bercanda, Yan. Lo sekarang di mana?
__ADS_1
Ceca: Yan....gak usah prank Lo!
Bian : 😀😀😀😀😀 kalau kalian kangen gue, datang aja di VIP kamar no 2 Rumah Sakit Harapan Kita. Saat gue sehat, ngoceh sendiri di group, kirim voice note gak penting, kirim sticker unyu-unyu gak pernah kalian komentari, tapi sekarang di saat gelang rumah sakit tertulis Abian Raditya, semua pada muncul, tegaaaaaaaaaaaa. Untung aja bukan batu nisan yang terkirim, kalian gak nyesel???? Gue kangen kalian, please jangan karena Wira marah ke Renata kalian saling menjauh, sumpah gue kangen.