
Puas bermain, mereka menuju outlet es krim di lantai dua. Namanya juga anak kuliahan, jalan rame-rame pasti ada banyolan yang tercipta. Saat mereka naik eskalator, mereka sengaja berpose, cekrek...selfie berlima naik eskalator diabadikan. Banyak orang yang mencibir 'norak', tapi tidak dipedulikan. Maklum yang mencibir terlalu gengsi untuk berbuat konyol. Pasti hidupnya flatttttt.
"Gue traktir," Renata inisiatif dan berbaris mulai mengantri.
"Ta, kok Lo gak tanya rasa yang gue mau?" tanya Bian.
"Gak usah tanya, samain aja semua. Original." Ketus Renata.
"Set dah, murah amat traktiran Lo, Ta!" cibir Bian.
"Ntar kalau gue istri sultan gue traktir es krim sepuasnya sekalian mas mas penjualnya."
Hadehhhhhhh
Meskipun anak sultan, mereka ditraktir Renata hanya ice cone original tetap aja lahap. Mereka tidak sombong meskipun kadang omongannya selangit. Renata pun nyaman berteman dengan para anak sultan ini, karena mereka tidak pernah memperlihatkan kekayaan orang tuanya yang berlebihan.
Keseruan jalan dengan geng nya membuat Ceca sedikit lupa dengan kejadian beberapa menit yang lalu.
Flashback on
"Halo ini siapa?" tanya perempuan di seberang.
"Siapa sayang?" tanya sang laki-laki, fix Ceca kenal suara ini, suara Edo. Semakin melotot saja mata bulat Ceca. "Dari siapa si sayang?" si laki sepertinya mau melihat nama yang tertera di layar.
"Dari Bos Masa Depan."
"Halo!"
"Halo!"
"Halo!"
Terus saja suara laki-laki itu berucap halo, Ceca hanya membuka dan tak berniat mematikan sambungan, sampai senggolan dar pengunjung mall menyadarkannya.
"Kita putus." Adalah kalimat Ceca sebelum mematikan ponselnya.
Flashback off
"Ada photo box, mampir yuk!" ajak Ola sambil menggeret tangan Bian.
"Ogah! Kayak anak alay!"
Yah.....alay??? emang situ gak, main Selfi sembarang tempat dengan alibi, mumpung masih anak kuliahan sebelum berdasi.
"Mumpung kita bisa jalan bareng, habis ini boro-boro, yang ada sibuk skripsi." Alasan Ola, masuk akal juga.
Mau tak mau, dua cowok hanya bisa menurut pada keinginan Ola, pasrah saja.
"Emang cukup, La?" tanya Wira melihat kotak di depannya.
"Gak cukup deh!" tebak Renata dengan menilik lebarnya box.
"Yes!!" teriak Bian girang. "Lagian foto selfie berlima tanpa ginian kan juga bisa sih, La!"
"Namanya kepengen, Yan!"
"Pulang yuk, bokap nyari gue nih!" Ceca yang memang sejak tadi sibuk dengan ponselnya ingin sekali pulang dengan segera.
__ADS_1
"Lo antar gue dulu, Ca!"
"Bareng Ola aja, ya? Kan lebih dekat juga!"
"Gimana, La?" tanya Renata khawatir, jangan sampai Ola menolak. Bahaya, karena Wira pasti menawarkan tumpangan. Tatapannya saja sudah girang karena Ceca gak bisa antar.
"Boleh, yuk!" Ola pun merangkul pundak Renata, sedangkan yang lain mengekor begitu saja menuju parkiran.
"Kalau sudah sampai rumah kabari di grup!" Renata selalu berpesan seperti itu, agar tidak ada kekhawatiran, karena ini sudah malam dan takut terjadi apa-apa.
"Baik, Nyai!" Bian mulai rusuh, memancing cibiran Renata.
"Da.....ati-ati," pamit Renata dengan melambaikan tangan, masuk ke mobil Renata. Ketiga sahabatnya pun sama, menuju mobil mereka masing-masing.
"La, kok bisa foto itu di elo?" pertanyaan yang disimpan Renata sejak tadi, sekarang saatnya untuk mengurai siapa sebenarnya cewek dalam foto itu.
"Gue lagi meeting sama papa di hotel situ. Saat di lobi gue lihat mereka. Sumpah Ta ..Lo bakal nimpuk tuh cowok."
"Apaan, kalau cerita jangan setengah-setengah Lo!" hentak Renata tak sabaran.
"Mesra abis deh,"
Renata manggut-manggut, kalau sudah ada kata mesra, di hotel, cowok sama cewek, mungkin lagi main....main apa? Lego kali. Hehehee
"Tapi Ceca bilang sepupu, La!"
"Lo percaya?"
"Ya gak lah, secara kalau sepupu ngapain ke hotel ya mending ke rumah ketemu Tante dan om nya."
"Pinter." Puji Ola sambil mengelus rambut Renata, berasa seperti anak kecil tau gak.
"Lo juga dekat dia kali," Renata menepuk lengan Ola pelan.
"Gue sibuk sama ponsel,"
"Kayaknya gue doang ya g nikmatin film itu."
"Emang."
"Dua cunguks juga bobok syantiiikkkkk."
"Ceca tadi kelihatan gusar, duduk tuh gak nyaman pas gue tanya dia jawab kebelet pup. Aneh banget."
"Si Ceca itu mungkin malu, kita dari dulu udah bilang Edo tuh playboy." Ola mengomel antusias.
"Lo aja kali, gue enggak. Orang gue gak pernah kenal Edo. Dia kan teman SMA Lo, lupa?"
Ola cengengesan, "Tapi gue cuma sekedar tahu dia dan kelakuannya."
"Si Ceca kalau masalah Edo juga gak pernah cerita banyak, kayak nutup-nutupin gitu."
"Lagian nih ya, setahu gue Edo tuh suka morotin cewek. Mulutnya muanisss."
"Emang Lo pernah ngerasain mulutnya si Edo."
Ola menepuk paha Renata cukup keras, "Najong."
__ADS_1
"Heleh...bilang nojang najong tapi gue gak yakin bibir Lo masih perawan."
"Ya tapi gak sama dia juga, Ta!"
"Cih...."Renata mencibir, bibir sahabatnya ini sudah terkontaminasi.
Keduanya terdiam, menikmati perjalanan meskipun otak sedang berpikir keras. Memikirkan si Ceca, meskipun dia berusaha menutupi, tapi sorot mata tak bisa dibohongi. Ceca kalut.
"La, kalau memang Edo selingkuh, Ceca gimana?" Renata mencoba berpikir nasib hubungan sahabatnya itu.
"Menurut Lo?"
"Nangis doang, gak mau makan doang!"
"Itu mah putus cinta ala anak SMP, Ta!"
"Hadeh...gue SMP masih main bekel, La. Kalian udah kenal cinta-cintaan. Dewasa sebelum waktunya."
"Enak aja, kita mah menikmati masa pubertas."
"Trus Ceca?" kembali fokus pada Ceca.
"Kalau dia belum diapa-apain sama Edo, aman. Coba kalau udah."
Renata melongo, tangannya dipakai menutup mulutnya. Kaget. Sejauh itukah.
"Kok Lo mikir ke situ si, La!"
"Ya siapa tahu."
"Ceca kan sibuk magang."
"Sabtu Minggu bisa, kan?"
"Astaghfirullah, Olaaaa."
"Duh budek gue, Ta!"
"Jangan sampai dong melakukan gituan sebelum merit. Lo juga udah?"
"Sembarangan. Gini-gini gue jaga harga diri gue ya."
"Pinter!" gantian Renata yang mengelus rambut Ola, dengan sedikit menarik ujung rambut rebonding Ola, rese'.
"Kalau masalah cinta, Ceca kan tertutup sama kita. Paling juga dia berusaha menutupi." Sambung Ola, "Lagian dia juga kenapa milih Edo kayak gak ada cowok lain, Wira Bian kan ada."
"Cari yang beda kali."
Ola menggeleng. "Ceca tuh gak enakan sama orang. Suka gak suka dia terima."
"Iya betul, Lo ingat Kak Amir dulu, setelah OSPEK dia ngajak jalan Ceca, langsung diterima. Ujung-ujungnya Kak Amir kan yang meminta putus. Kelihatan banget kalau diajak jalan mukanya si Ceca malas banget.
"Nah itu jeleknya Ceca. Suka bilang suka, enggak bilang gak, sangat susah jadi orang berpura-pura itu. Katakan jujur meskipun itu sakit."
"Suka bener deh ustadzah."
"Ma ratus rebu, gue udah ceramah depan Lo!"
__ADS_1
"Noh uang monopoli."