
Mobil Jea melaju ke arah mall, mereka berdua seperti anak ABG yang sedang pacaran. Jea yang terus merangkul Renata membuat cewek ABG di belakangnya kecewa. Yah...sejak turun dari mobil, menuju loby mall ada segerombolan anak ABG usia SMA yang lagi asyik selfie di depan loby. Begitu Jea dan Renata masuk, salah satu anak ABG langsung melirik Jea, dan itu bikin Renata ilfeel. Awalnya Renata dan Jea berjalan beriringan saja, tapi anehnya ABG centil itu malah mengikuti Jea. Waspada dong, Renata menatap mereka, gak mempan. Justru mereka mencari cara agar dapat perhatian Jea.
"ABG belakang kita norak amat," bisik Renata. Jea dengar dari tadi apa yang mereka omongkan, namun itu bukan urusan Jea.
"Biarin aja!" jawab Jea santai, lalu merangkul pundak Renata dan merapatkan tubuh istrinya itu. Sontak saja desahan kecewa terdengar, "Yah..... ternyata ceweknya."
Renata cekikikan, Jea mendekatkan bibirnya di telinga Renata, "Lain kali peluk aja langsung, gak usah nunggu ada yang goda, makasih udah cemburu ya sayang." Dasar Jea super jahil, rona merah Renata jelas terlihat. Secara tidak sadar Renata sudah cinta sama Jea, buktinya dia ilfeel kalau ada cewek yang mengagumi suaminya.
"Rese'." Kesal Renata sembari memukul lengan suaminya, dan Jea pun tertawa. Keduanya berjalan tak tentu arah. Renata yang kebiasaan jalan sama Ceca dan Ola selalu mampir ke outlet baju Korea. Begitupun sore ini, mau tidak mau Jea menuruti keinginan Renata.
"Hem unyu banget." Ujar Renata sembari tersenyum saat merentangkan baju couple pink pada tubuh Jea.
"Jangan bilang kamu beli ini buat aku?" Jea waspada, oh my God, gak sanggup deh pakai baju pink. Ya Allah Tuhaaaannnnn.
Renata mengangguk sambil tersenyum manis, "Kita pakai ke Dufan, besok."
"Enggak!" Ucap Jea tegas.
"Ayolah sayang, please."
"Enggak mau. Emang aku cowok apakah."
"Apaan kalee. Udah pakai aja." Renata tetap memaksa. Jea juga Keukeh gak mau. Dih...bos muda gantengnya naudzubillah disuruh pakai baju pink apa kata dunia.
"Enggak Yang, aku gak mau. Ya udah aku gak ikut ke Dufan." Ancam Jea. Mengancam perempuan tuh percuma, justru malah jadi boomerang.
"Ya udah kalau gak mau ikut, aku berangkat sendiri. Lagian kata Ceca, Wira ikut, sekalian aja aku mau ngobrol sama dia, biar leluasa."
Hei....nona tidak bisa!!!!
"Ya udah aku ikut, mau pakai juga!" Tepat sesuai dugaan, pihak cowok kan yang mengalah. "Tapi jangan pink ya sayang, please. Putih atau biru muda deh, atau abu-abu." Masih merayu rupanya.
"Kamu gak kasihan sama aku kalau ada karyawanku yang lihat aku pakai baju pink. Apa kata dunia sayang."
Renata tampak berpikir, dan kemudian mengangguk. Ia tidak boleh egois, bagaimanapun suaminya harus berwibawa. "Oke kita ambil warna putih."
Yess!!! senangnya dalam hati Jea.
"Pakai ini!" Ucap Jea menyerahkan ATM debit pada Renata yang akan membayar belanjaannya. Ia juga membelikan kaos BTS untuk Mita, hemm kakak ipar yang baik.
"Buat apa, aku ada uang cash kok."
__ADS_1
"Nafkah lahir, nafkah bathin otw." Bisik Jea lalu terkekeh.
Renata cemberut, suaminya ini jahil banget sih. Bisa-bisanya bahas nafkah lahir batin di tempat umum seperti ini. Setelah keluar dari outlet baju kegemaran Renata, kini Jea mengajak ke toko perhiasan. Renata langsung berhenti, menarik tangan Jea, "Mau apa?"
"Beli cincin, lihat tangan kamu belum sempat aku belikan cincin nikah."
"Harus ya?"
"Harus, biar cowok yang naksir kamu sadar diri, cewek idamannya udah punya suami."
Renata menurut, ia disuruh memilih cincin kawin sesuai seleranya. "Mbak cincin kawin yang murah, simpel tapi bagus dan elegan yang mana ya!"
Jea menahan tawa, ucapan sahabat Renata yang menyebut istrinya kelewat pelit muncul juga. Bukan malu, justru gemes, lihat penjaga tokonya sudah underestimate pada Renata. Apalagi dilihat dari baju Renata yang dipakainya hanya kaos dan celana jeans, ke bawah dikit sepatu sneakers merk mata**ri doang.
"Ini mbak!" tunjuk penjaga toko dengan senyum dipaksakan. Cincin itu cukup simpel dan terkesan manis.
"Aku ambil ini aja, gak terlalu heboh."
Jea mengangguk, lalu menyodorkan kartu ATM lain. Renata mencegahnya, "Pakai kartu yang tadi aja!" cegah Renata.
"Gak usah, kartu tadi buat kamu. Tolong proses ya mbak, cincinnya langsung dipakai saja." Ujar Jea.
"Jaga cincin ini, jangan dilepas ya sayang."
Renata mengangguk, ingin rasanya memeluk laki-laki ini, tapi ia masih waras dan tahu tempat.
"Mau ke mana lagi?"
"Es krim ya, habis itu pulang, mau maghrib."
"Oke." Keduanya pun menuju outlet es krim.
*****
"Ini buat kamu, dek!" Ucap Renata sembari menyerahkan paper bag kepada Mita.
"Apa ini?"
"Buka aja!" Titah Renata sambil menguncir rambut panjangnya. Malam itu Renata menggunakan jumpsuit batik selutut lengan pendek, dengan rambut dikuncir tanpa make up, sangat manis. Mita saja sampai melongo, "Pantes kak Jea klepek-klepek, kakak cantik banget."
"Biasa aja kali dek,"
__ADS_1
"Eh tapi mbak beneran cantik natural."
"Dih...yang habis dikasih hadiah, mulutnya manis banget." Jea mulai mengusili adiknya. Ia mengacak rambut pendek sang adik sebelum duduk di samping Renata.
"Kakak aku pecat aja deh, usil banget coba, mbak Renata tuh baik, padahal baru kenal aku satu bulan udah kasih hadiah kayak gini, suka deh."
"Emang kalian satu server, demen ama pria cantik." Ucap Jea sambil mencium pipi Renata.
Mita langsung melempar bantal sofa, "Ma ...kak Jea tuh berbuat mesum di depan anak di bawah umur." Protes Mita geram.
"Kamu tuh." Renata mencubit tangan Jea geram juga, udah berapa kali dibilang jangan main nyosor di sembarang tempat, eh selalu saja dilakukan. Punya malu gak sih.
"Je....jangan bikin rusuh." Teriak mama dari arah ruang makan.
"Lagian kenapa sih, istri kakak sendiri juga!" kembali Jea akan mendaratkan ciuman ke pipi Renata, tapi si empunya langsung menangkup wajah suaminya, "Gak sopan, di depan umum."
Jea berdecak sebal. Mita tertawa ngakak.
"Eh kak Renata, dapat salam abangnya Luki loh!" Mita yang kembali berkutat pada tugasnya sengaja memantik api cemburu pada kakaknya itu.
"Eh?" Jea meletakkan remote TV. "Apa barusan Lo bilang?"
"Istri kakak dapat salam dari abangnya Luki." Ulang Mita tanpa melihat sorot marah sang kakak.
"Yang kamu kenal abangnya Luki?" tanya Jea pada sang istri. Renata menoleh ke arah Jea, dia dari tadi sibuk dengan ponselnya, berselancar di group lorong 13. "Siapa?"
"Ituloh kak, temanku yang dijemput abangnya setelah belajar kelompok di sini."
"Ouh yang pakai motor satr*a?" Renata memastikan dan diangguki Mita.
"Cih...gitu ya kamu, Yang." Jea mulai ngambek.
"Salam balik ya, Ta. Bilang kalau Kaka udah punya suami yang ganteng tapi cemburuan." Ucap Renata sambil mencoel dagu suaminya.
"Dah ah, aku balik kamar aja, mataku ternoda melihat pasangan bucin."
"Eh apaan bucin."
"Budak cin----
"Kak Jea....." suara teriakan perempuan yang cempreng masuk ke rumah setelah dibukakan pintu oleh Bik Asih.
__ADS_1