
Hari ini Neva dan Renata akan berangkat ke lokasi KKN. Neva bersama rombongan berangkat pukul 7 pagi, sedangkan Renata sudah sejak 6 pagi dijemput Wira. Sahabat rasa pacar.
"Wir, mampir supermarket ya!" ajak Renata sambil memasukkan koper dan tas jinjing di bagasi, mana mau Wira bantu, dia malah duduk manis, main hp di belakang kemudi. Rese'.
"Buseeett...banyak banget bawaan Lo, Ta!"
" Biasa cewek. Lagiyan cuma koper kecil dan tas jinjing satu aja. Gak usah lebay Lo!"
Perdebatan unfaedah tetap dimenangkan perempuan dong. Setelah menjemput Renata, kini mobil mereka menuju kos Kikan dan Saiful. Renata bersikeras mengajak keduanya numpang di mobil Wira. Apa kata dunia kalau dia hanya berdua semobil dengan Wira. Tidak akan.
"Kamu kok gak jemput Maya juga, Wir?" Cipul kepo.
"Gak boleh calon istri!" alasan Wira sambil melirik Renata dan tersenyum jahil.
"Beneran, Ta. Lo calon istri si Wira?" lagi-lagi Cipul kepo.
"Cuekin aja, Pul. Cuma ngomong doang tuh anak, mana berani ngadep bapak gue."
"Jeuh...nantangin."
"Ya udah sono kalau mau ngelamar."
"Emang kamu mau nikah muda, Wir? mau kamu kasih makan apa Renata?" kali ini Kikan nimbrung.
"Eh....gue anak sultan batu bara ya, gue cemilin batu bara lah." Sontak ketiganya tertawa terbahak-bahak. Masa iya anak gadis orang disuruh makan batu bara.
"Kayaknya Jeanlagi dipepet terus tuh sama si Maya." Sepertinya akun lambe-lambe pindah tempat ke mobil Wira. Cipul pelopornya.
"Ya biarin aja, palingan kalau ngelihat yang lebih tajir, pindah lagi."
"Kok Lo gak cemburu, Wir?"
"Gak lah ngapain, kalau ada gadis yang lebih dari dia."
"Siapa?"
"Jangan bilang gue ya Wir, gue udah bosen denger gombalan Lo!" serobot Renata sambil mengarahkan bogem ke wajah Wira.
"Widi, pede amat Lo, Ta!" cicit Wira mengelak. "Jelas Renata lah!" lanjutnya dan langsung dapat tabokan keras di bahunya.
"Kayaknya Wira beneran suka sama Lo deh, Ta!"
__ADS_1
"Moon maap ya mbak Kikan, itu cuma pencitraan dia doang buat nutupin kejombloannya. Kalau ada cewek bening ma gue gak dikenal."
"Set dah, Lo kok suka bener si Ta!" puji Wira cengengesan.
"SABLENGGGGGG!"
********
Terik matahari tepat di atas kepala mahasiswa KKN di desa X. 2 mobil dan 6 motor terpakir di tanah lapang depan rumah pak RT, Jea datang terlebih dulu dengan Iwan dan Maya, loh kok Maya bareng Jea?? PDKT berlanjut sepertinya. Selain itu ada Nadya, mantan si Jea, yang juga datang bersama mereka.
Rombongan mobil Wira juga sudah sampai, selebihnya pasukan motor juga sudah siap bergabung, berkenalan dengan pak RT lalu pembagian kamar di rumah kontrakan dan ditutup dengan rapat koordinasi untuk kegiatan besok.
"Pembagian kamar bagaimana teman-teman?" Kikan yang memulai percakapan di rumah kontrakan untuk mahasiswi.
"Kocokan aja deh, ini Kan ada 4 kamar. Jadi masing-masing kamar dihuni 4 orang, dan 1 kamar yang dihuni 3 orang." Usul Renata.
"Gue kamar depan." cetus Maya spontan.
"Gak bisa gitu, Maya. Dikocok, Lo ntar tidur di kamar sesuai dengan nomor yang ada di kertas kocokan itu." Terang Kikan.
"Ribet."
Renata segera membuat kertas kocokan dan segera dikocok, satu per satu mengambil kertas dan segera menuju kamar untuk beberes.
"Kok gue sekamar sama Lo sih, tuker dong Cindy!" Maya tak terima, dia mendapat kertas bertuliskan angka 4, yang artinya dia mendapat kamar no 4 yang posisinya dekat dapur dan kamar mandi. Pengen ketawa takut dosa. Ditambah dia sekamar dengan Nadya. Apesnya.
"Udah terima aja, lagian Nadya orangnya baik kok." sahut Isti, teman satu jurusan dengan Nadya tapi beda kelas.
"Takut kayaknya dia ma gue, secara mau pdkt ma mantan gue. Takut kebiasaannya gue bongkar."
Jleb
Maya kincep.
Renata hanya memutar bola matanya, jengah. Belum apa-apa sudah ada masalah hati.
Semoga gue gak terlibat dalam masalah hati, doa Renata.
Sebenarnya Nadya cukup populer di kalangan anak arsitek. Gadis cantik itu begitu menarik perhatian kaum Adam saat menjadi mahasiswa baru, tak terkecuali dengan Jea. Hampir setahun Jea dan Nadya menjadi sepasang kekasih, tapi akhirnya kandas juga.
Bisik-bisik kabar, si Nadya katanya selingkuh dengan anak jurusan administrasi. Wah klop dong dengan si centil Maya, dia juga selingkuh dengan Tyo, anak administrasi.
__ADS_1
Beuh....heran. Cewek yang dianggap sebagai makhluk setia ternyata ada yang menyimpang juga, ck...ck..
Setelah berdebat, mau tak mau Maya tetap sekamar dengan Nadya. Pasukan Mahasiswi segera beberes barang bawaan. Berbeda dengan rumah kontrakan depan, terdengar ramai dengan gelak tawa.
Entah apa yang dijadikan topik obrolan, gelegar tawa terdengar hingga kontrakan mahasiswi. Kepo, apalagi Maya. Gadis itu ingin sekali bergabung dengan kaum berjakun itu.
"Ke depan yuk!" ajaknya pada Kikan dan Tiara. Keduanya hanya saling pandang seolah berkomentar 'Ne cewek ngebet banget cari perhatian para lelaki'.
"Ta, ke depan yuk! Wira ketawa loh,' masih usaha juga rupanya, dan mengajak Renata pula.
"Gak salah Lo ngajak gue, May. Katanya gue pelakor. Kok Lo mau akur ma gue sekarang. Curiga gue."
Renata mah kalau ngomong gak usah dipikir dua kali, langsung jeplak aja. Noh hasilnya, Maya komat-kamit gak jelas merutuki mulut tak berfilternya Renata. "Udah samperin aja sendiri, mayan kan semua cowok teralihkan ke Lo, ntar kalau gue ikut, mereka pasti milih gue daripada Lo."
Wah semakin terpojok saja si Maya, teman-teman pada cekikikan mendengar omongan Renata yang kelewat PD.
"Sialan Lo, Ta."
*****
"Piket belanja ke pasar, masak sudah clear semua? Ada sanggahan lagi?" tanya Jea malam ini.
Yap, di ruang tamu kontrakan mahasiswi, ketiga puluh mahasiswa KKN terlibat rapat koordinasi. Ada banyak pembahasan, salah satunya jadwal piket terkait pemenuhan bahan makanan.
"Kenapa kita gak ke supermarket aja sih, harus ya ke pasar!" celetuk Maya.
"Gak pa-pa kalau Lo mau nanggung biaya makan kita," Renata mode julid.
"Yah gak bisa gitu juga, iuran kita kan cukup apalagi ada ayang Jeje yang sanggup bayarin, ye kan?"
Dih, centil banget deh.
"Udah kita pakai rencana awal aja, sesuai jadwal ke pasar dan memasak. Lagian kita ada di sini buat sosialisasi sama kehidupan masyarakat, bukan manja."
Tepat sasaran, manja. Maya terbungkam, tampak Nadya tersenyum sinis, sedangkan Jea memang cukup bijaksana menghadapi satu cunguk seperti Maya, main seenaknya kasih usul setelah kesepakatan diputuskan. Dari tadi ke mana mbak.
"Lagian kan Lo harusnya seneng May, jadwal ke pasarnya kan disopiri ayang Jea." Goda Cipul, menirukan panggilan sayang untuk Jea.
"DIAM LO!" Maya dan Jea kompak.
Cie...cie....
__ADS_1