
POV RENATA
Aku masuk ke kamar inap papa Jea, lalu aku menyalami satu per satu orang tuaku, mama dan papa. Saat mencium tangan papa, aku hanya mengernyitkan dahi, kupandangi wajah sayu beliau, ada gelanyar aneh dalam hatiku. Ada apa ini?
Jea sudah duduk di sofa, dengan menyandarkan kepalanya pada sofa, lengan kemeja sudah tersingkap sampai siku. Kasihan sekali, penat di kantor, ditambah sedih hati akan kesehatan sang papa.
Vino dan Sita duduk di samping mama yang tampak mengobrol dengan bapak dan ibuku. Ada sisa tempat kosong di sofa hanya di dekat Jea, dan aku memutuskan untuk duduk di sampingnya.
Aku menepuk punggung tangannya pelan, ia tergagap, mungkin sempat tertidur beberapa saat lalu. Aku menatap wajah lelahnya begitupun dia menatap wajahku sambil tersenyum tipis.
"Papa kenapa panas sekali?" tanyaku berbisik.
"Dari tadi pagi." Jawabnya pelan sambil mengucek matanya.
"Kata dokter gimana?"
"Keadaannya stabil hanya saja panasnya gak turun-turun, padahal sudah diberi penurun panas juga. Kalau panasnya tidak turun sampai tengah malam langsung di bawa ke ICU lagi." Jelasnya pelan.
Hufh..aku menghela nafas pendek. "Udah makan?" tanyaku pada Jea dan dia hanya menggeleng, benar juga sih keadaan kayak gini mana mungkin selera makan. "Mau makan di kantin?" tawarku lagi.
"Gak usah!"
"Ntar kamu sakit loh!"
Mungkin suaraku terdengar mama, beliau terseyum padaku, "Ajak dia makan, Ta. Udah layu banget."
"Apaan sih, Ma." Tolak Jea sopan.
"Apa mau makan sama gue?" Celoteh Vino.
"Tambah gak selera." Ujar Jea kesal.
__ADS_1
"Gitu ya, udah ada Renata gue dilupain."
"Idiih geli gue." Sambar Jea sambil melempar bantal sofa ke arah Vino.
"Makan dulu sebelum ijab!" celetuk Ibuku. Langsung aku menoleh ke beliau. Ijab apa?
Mama langsung mendekat padaku dan menggenggam tanganku, beliau terisak. Aku semakin bingung. Ku toleh Jea tapi dia memalingkan muka.
"Mau ya nikah sekarang sama Jea?"
Aku dan Sita yang kaget, kita melotot bersama. Bahkan bapak dan ibu tampak diam lalu mengangguk. Apa-apaan ini.
"Mama tahu ini terlalu cepat buat kamu, ada rasa ragu wajar itu, tapi mama mohon sebelum papa pergi...." beliau diam sebentar menoleh ke sang suami yang menatap beliau juga sambil tersenyum. Meskipun selang oksigen menghalangi senyuman itu. "Biarkan Jea mewujudkan keinginan papanya dengan menikahi kamu."
Tes
Air mataku jatuh. Entahlah aku menangis karena apa, harusnya aku bahagia mendapatkan suami yang berani memintaku pada bapak dan ibu, dan beliau menyetujui. Aku sangat rela menikah tapi bukan seperti ini. Aku belum tahu Jea mencintai aku apa tidak, mungkin saja dia terobsesi mendapatkanku atau hanya pelarian sesaat pengobat stress karena memikirkan papanya.
Aku diam, masih diam. Pikiranku kacau. Namun ketika tanganku diusap Jea pelan, aku menoleh dan menatap dia lekat. "Tidak usah diterima kalau memang kamu belum siap, aku tidak akan memaksamu." Ucapnya tulus.
Ya Allah.......
Zat yang membolak-balikkan hati. Apakah aku salah jika menolak menikah karena kondisi yang tidak sesuai dengan keinginanku? Jika aku menolaknya, apakah aku akan mendapatkan laki-laki sebaik dia suatu saat nanti?
Aku hanya tersenyum pada Jea, dia pun memaksakan terseyum juga. Bohong kalau aku tidak kasihan pada Jea, munafik kalau aku tidak mengakui ada perasaan sayang pada pemuda itu, meskipun itu kecil sekali. Inikah yang namanya jodoh? inikah keadaan yang sering dibilang orang, pacaran lama akan kalah dengan jodoh yang bertemu hanya dalam hitungan detik. Dan aku mengalaminya.
Aku tidak pernah memiliki rasa pada Jea sebelumnya, meski kami pernah satu KKN bareng. Aku sangat membatasi pergaulanku dengan laki-laki. Namun sekarang, ketika ada laki-laki baik, bersungguh-sungguh, dan berniat menikahiku haruskah aku tolak. Bodoh kalau sampai itu terjadi.
Meski hatiku tidak ingin secepatnya ini, tapi logikaku masih berjalan bagus, aku sadar tidak ada kesempatan kedua yang diberikan oleh Allah seperti saat ini. Apalagi melihat bapak dan ibu yang begitu suka dengan Jea, sanggupkah aku mengecewakannya.
Bismillahirrahmanirrahim, aku melafalkan basmalah sebelum mengambil keputusan, yah mungkin ini adalah keputusan terbaik untuk semua. "Ma, pak, Bu, kak, insyaallah aku siap menikah sekarang."
__ADS_1
Keputusan final. Mama di sampingku segera memelukku, ku tatap wajah lelah ayah dan ibuku yang tersenyum. Vino hanya mengacungkan jempol sedangkan sahabatku menangis hingga sesenggukan. Kulirik Jea, dia hanya menunduk, kedua tangannya bertautan diletakkan di atas pahanya, bahunya naik turun aku yakin dia menangis.
Tepat setelah sholat Maghrib semua berkumpul, bahkan Mita sudah ada di kamar inap ini. Papa dengan pandangan kosong terus menatapku. Vino memanggil pak ustadz yang mengimami masjid dekat rumah sakit. Aku didampingi Sita dan ibuku.
"Yakin mbak gak mau make up dulu, aku bawa bedak dan lipstik loh." Sita menawariku, karena wajahku tampak pucat dan sembap.
"Gak usah, aku gini aja." Jawabku pelan, dan aku masih menggunakan mukenah. Aku meminta ketika ijab nanti biarkan aku menggunakan mukenah ini, dan ibuku setuju. Berbalut mukenah memang lebih baik.
Tepat pukul 18.30
Dengan wali nikah bapakku sendiri, dokter dan perawat, Vino serta Pak Tarmin, sopir keluarga Jea, sebagai saksi. Akad nikahku dengan Jea berlangsung di depan ranjang papa.
Saudara Jea Andra Sanjaya bin Sanjaya Hadikusuma, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandungku, Renata Adzkiya binti Handoko Purwanto, dengan mas kawin uang 750ribu rupiah, dibayar tunai. Ucap bapakku tegas sembari menjabat tangan Jea.
Saya terima nikah dan kawinnya Renata Adzkiya binti Handoko Purwanto dengan mas kawin tersebut dibayar tunai. Jawab Jea tegas dalam satu tarikan nafas.
"Sah?" ucap pak ustadz pada para saksi.
SAH, dijawab para saksi dengan tegas.
Barakallah...... Pak Ustadz mulai membaca doa pernikahan, dan kami mengadahkan kedua tangan, mengaminkan segala doa yang dilantunkan untuk keberkahan rumah tanggaku dan Jea. Ijab Qabul tak sampai 10 menit berhasil mengubah hidupku.
Air mataku luruh, aku dipeluk ibu dan Sita, mereka berdua menangis. Bapakku yang beberapa menit lalu menikahkanku tampak menyeka air mata.
Aku menyingkap mukenahku lalu mencium tangan Jea. Lagi-lagi air mataku jatuh ketika punggung tangannya kucium,
Terimakasih telah memilihku menjadi pendamping hidupmu, insyaallah pernikahan kita akan bahagia, sakinah mawadah warahmah. Aamiin. Batinku pun ikut berdoa akan kebahagiaan pernikahan ini.
Sekarang Jea mencium keningku, hangat sekali kecupannya mungkin dia berdoa akan kebahagiaan pernikahan ini.
Aku menyalami satu per satu orang tuaku. Mama, papa, bapak dan terakhir ibuku. Aku memeluk beliau, meminta doa restunya menjalani rumah tangga ini. Sambil memelukku, beliau berbisik, "Sekarang percayakan, terawangan ibu kalau kamu menikah sekarang."
__ADS_1
Astaghfirullah ibuuukuuuuuuuuuu