
Hufh...
Jea menghela nafas berat, wajahnya murung setelah sholat shubuh tadi. Terlebih melihat istrinya sangat cantik. Sungguh ia tidak rela membiarkan dia berkeliaran di kantor si duda itu.
"Nanti bisa jemput aku saat makan siang?" tanya Renata sambil memasangkan dasi.
"Hem." Jea hanya berdehem, tak juga menatap Renata seperti pagi biasanya.
Renata tersenyum, ia tahu pasti suaminya ini berpikir macam-macam tentang dirinya saat penelitian. Ia pun berjinjit, mengalungkan kedua tangan pada leher Jea, setelah itu mengecup bibir sang suami sekilas. "Gak usah cemburu, ya sayang. Niatku hanya penelitian, tidak mencari apa-apa."
Mulai deh manjanya keluar. Ia memeluk tubuh erat sang istri, masih tidak rela dia dekat dengan sang duda.
"Kamu nanti sampai jam berapa?" akhirnya bersuara juga babang Jea.
"Sampai jam 12 mungkin, mau jemput?"
"Pasti. Kalau sudah selesai langsung telpon aku, biar aku jemput."
Renata memanyunkan bibir, bisa jemput katanya. Pret. Orang tadi habis shubuh Daffa mengingatkan kalau ada meeting jam 10. "Kalau sibuk gak usah jemput gak pa-pa, nanti aku naik ojol aja ke kantor kamu."
"Eits jangan. Bahaya, aku bakal antar jemput kamu."
"Cih... biasanya gak gini gini amat, curiga deh."
Jea mencoel hidung sang istri, "Demi kesejahteraan hati Jea, aku bakal jemput kamu meski ada meeting."
Giliran Renata yang mencoel hidung Jea, "Gak usah lebay." Renata pun segera memakai jas almamater kampus, mengambil tasnya lalu menarik tangan sang suami untuk segera sarapan.
"Ta, Udah ketemu Ito, anak Jeng Ratna?" Duh.. pertanyaan mama Jea mengandung duri. Renata sontak menoleh ke arah sang suami yang langsung berhenti mengunyah, pasti cemburu lagi hanya mendengar nama Ito.
"Sudah, Ma!" jawab Renata singkat, ketar ketir juga dengan bayi besarnya yang siap ngambek.
"Ito itu anak baik, tapi sayang nasibnya yang kurang baik. Usianya masih muda, masih 28 tahun kalau gak salah, tapi sudah duda. Kasihan kan, Ta?"
Waduh mama Jea benar-benar memancing di air keruh nih. Gak sadar apa raut merah menahan amarah sang anak.
"Ouh begitu, Ma." Renata menjawab sekenanya saja, menghargai sang mertua. Tapi setiap kali menjawab ia akan melirik sang suami yang pura-pura fokus pada sarapannya.
"Kamu kan punya teman, coba deh comblangin."
"Gak usah, Ma. Nanti dia kepincut Renata lagi, dia gak perlu dekat-dekat dengan Renata, emang mama mau kehilangan menantu kesayangan mama." Kan, tanduk si Jea sudah keluar. Ketus dan menyakitkan.
"Nih anak kenapa, Ta. Pagi-pagi sudah sewot."
__ADS_1
Lah si emak gak sadar juga, anaknya cemburu level akut kalau bahas bos duda itu. "Ayo berangkat."
Padahal Renata masih belum menghabiskan jatah sarapannya, suaminya sudah ngacir begitu saja. Cemburu yang menyusahkan.
Di dalam mobil, Jea hanya diam. Sedangkan Renata terus menatapnya. "Kamu tuh kenapa sih, Yang. Aneh tahu gak."
"Aku lagi menahan cemburu, aku juga lagi me-restart otakku kalau kamu gak akan tertarik sama duda itu."
Astaghfirullah... Renata tak kuasa menahan tawa. Nih orang cemburunya berlebihan, kenal sama si Duda aja gak, mana bisa tertarik juga..
"Kamu ih, mikirnya kejauhan sayang, aku cuma penelitian. Just it."
"Iya aku percaya sama kamu, tapi tidak percaya sama si duda."
"Ih ..sewot banget sih, nyebut statusnya terus."
"Kesel sayang, aku cemburu."
Renata makin ngakak saja. Bingung sebenarnya, apa yang menjadi alasan Jea cemburu pada Ito. Renata tidak pernah chat dengan Ito tentang hal pribadi, tidak pernah janjian bertemu juga. Berlebihan.
"Janji yaa tidak main belakang sama dia."
"Enggak, aku main depan aja sama kamu."
"Gak usah aneh-aneh deh,"
"Kamu gitu mancing-mancing, giliran diajak nolak, PHP banget sih."
"Aku gak mancing, kok."
"Heleh...gak mau ngaku, tadi main depan."
Renata langsung menonyor pipi Jea, gemas. Salah arah tuh pikiran Jea.
"Hp gak usah dimatikan, siapa tahu aku sidak." Pesan Jea ketika mobilnya sudah sampai di lobi kantor Ito.
"Pret. Dah ah, aku masuk dulu, doakan aku lancar ya." Ucap Renata sambil mencium punggung tangan suami dan dibalas kecupan di kening oleh Jea.
"Pasti, hati-hati sayang."
Mereka pun berpisah. Sebisa mungkin Jea berpikir positif, yakin juga kalau istrinya akan setia dengannya di manapun berada.
Renata masuk ke kantor langsung menuju ruang administrasi, menunggu arahan dari Mbak Fany, sebelum menuju devisi marketing.
__ADS_1
Tepat pukul 8, Renata bertemu dengan Fany. Gadis berjilbab itu begitu ramah dan dengan senang hati mengantarkan Renata menuju ke bilik marketing.
Setelah berkenalan dengan kepala devisi, dan berbasa-basi, Renata mulai mengambil data penelitian yang dibutuhkan. Dimulai dari interview pada kepala devisi yang bernama Tommy, tentang media promosi yang digunakan perusahaan selama ini, berikut kelebihan, kekurangan serta kendala yang dihadapi.
Cukup serius Renata menggali informasinya, berharap data interview bisa digunakan sebagai pembanding ataupun data pendukung bagi hasil penelitiannya.
Tepat jam 12, Renata pamit dan berniat besok sudah mengaplikasikan web yang ia kembangkan untuk perusahaan makanan ini. Ia sudah menghubungi Jea untuk menjemputnya.
Karena tidak ada yang ia kenali di kantor itu, Renata memilih menunggu Jea di lobi. Sambil bermain ponsel tentunya.
"Sedang menunggu Jea?" suara laki-laki di hadapannya cukup mengagetkan Renata.
"Iya pak!" jawab Renata tergagap. Kaget, kapan datangnya. Ia pun menoleh ke arah luar, khawatir Jea datang sedangkan dirinya terlibat pembicaraan dengan Pak Ito.
"Boleh saya duduk di sini?"
Hah? kenapa harus izin? ini kantornya, serahlah mau duduk di mana.
"Silahkan." Renata merasa seperti tuan rumah. kekkekekekek. Keduanya saling diam, Renata sibuk mengirim pesan pada Jea.
/Cepetan jemputnya, jangan sampai cemburu, Pak Ito ikut duduk di lobi/
/Pokok aku gak mau dicuekin ya, salah sendiri jemputnya lama, tuh si pemilik kantor ikut duduk di depanku/
Dua pesan tak kunjung dibalas Jea, Renata menghela nafas pendek. Mungkin sedang diperjalanan ia tak mau mengganggu konsentrasinya lagi.
"Gimana tadi ambil datanya?" Ito mulai mencairkan kecanggungan keduanya.
"Alhamdulillah lancar, Pak. Tim Marketing baik semua."
Ito mengangguk, tetap memperhatikan gelagat Renata yang sepertinya tidak nyaman duduk berdua dengannya.
"Sayang." Panggil Jea tiba-tiba, berusaha mengontrol emosinya ketika melihat istrinya duduk berhadapan dengan Ito.
Renata tersenyum, mengambil jas almamater yang sudah ia lepas tadi. "Saya permisi dulu, Pak Ito." Ucapnya sambil menganggukan kepala tanda hormat.
"Iya!" jawab Ito.
"Pamit dulu ya, To." Jea terpaksa sekali bertegur dengan duda itu, padahal dalam hati dongkol setengah mati.
"Hati-hati, Je!" Balas Ito yang diangguki Jea. Pasangan itu menjauh, dan yang membuat Ito tertawa geli, Jea langsung merangkul pundak sang istri, padahal masih di wilayah kantor. Mungkin ia sengaja memberi tahu Ito, "ini milik gue gak usah macem-macem lo.'
Dasar posesif, batin Ito.
__ADS_1