
Sabtu
Hari yang ditunggu Pak Bagyo, sultan desa yang akan menyelenggarakan walimahan super mewah. Persiapan sejak hari Kamis lalu begitu menarik perhatian warga. Tiang-tiang tenda sudah terpasang mulai pagi hingga malam menjelang, malam Jumat yang biasanya sepi sekarang cukup ramai dengan persiapan walimahan.
Jumat tiba, ijab Qabul anak pak Bagyo berjalan lancar, iring-iringan mobil berdatangan, sebagian besar ber-plat B, ternyata mantu pak Bagyo orang Jakarta. Pagi ijab, malam dilakukan pengajian, entah berapa undangan yang disebar oleh pak Bagyo sekeluarga. Rasanya derungan motor tak henti-hentinya terdengar.
"Gila ini mah royal wedding." Kikan berkomentar saat beberapa tamu undangan membawa hantaran. Mulai dari bahan makanan berkarung-karung, kue dengan aneka jenis rasa, seserahan baju dan sepatu, buah dan parsel lain.
"Gini ya kalau nikahi anak sultan, modalnya kudu gede!" Rendi memasang wajah melas, entah kenapa dia begitu insecure melihat betapa mewahnya pernikahan anak Pak Bagyo.
Mewah sebenarnya relatif juga. Apalagi ini di desa, pesta ini juga berada di halaman rumah pak Bagyo, tapi sangat luas, hampir sama dengan separuh lapangan sepak bola, maklum tuan tanah gituloh.
Dekorasinya juga elegan memakai bunga asli, mungkin besannya menggunakan WO dari Jakarta, dengar-dengar dari warga, semua biaya pernikahan ini didanai oleh besan Pak Bagyo. Dan Pak Bagyonya bagian sewa wayang dan pesta rakyat ini.
Pesta Rakyat ini konsepnya seperti prasmanan, hanya saja didatangkan langsung pedagang sekaligus gerobaknya. Banyak pilihan makanan berat seperti bakso, soto, rawon, aneka lalapan, nasi goreng. Belum lagi jajanan khas Bandung yang terkenal ciamik, siapapun pasti tergoda.
Minuman pun tak kalah menarik perhatian, aneka es terhidang dari berbagai gerobak. Sungguh memanjakan perut.
Pesta Rakyat ini digelar selepas Maghrib hingga tengah malam, untuk menemani pertunjukan wayang yang dimulai jam 10 malam.
"Dress code batik ya!" Jea memberikan titah baju yang dikenakan pada saat ke pesta rakyat nanti.
"Kondangan kali ini amazing dah. Gak ada heels dan tas cantik." Cibir Renata.
"Gak usah rempong, biasanya juga dandan ala kadarnya." Sahut Wira yang beberapa kali menjadi pasangan Renata saat menghadiri pesta nikahan atau ulang tahun teman Renata.
"Ala kadarnya gimana, syantik gilaaakkkk coba." Renata tak terima dibilang ala kadarnya. Eh Bambang, meskipun Renata sedikit tomboy, tapi kalau ke kondangan dia bisa dibilang sangat cantik dan elegan.
"Sering ya bro nganterin Renata ke kondangan?" Jea sangat penasaran dengan kedekatan Wira-Renata, mengaku hanya sahabat tapi dilihat orang lain seperti pasangan, yah meski sering berantem daripada mesranya sih.
"Tiga kali doang, dan cuma dibayar 100 rebu.Ck...perhitungan sekaleeee."
__ADS_1
"Eh...anak sultan batu bara. 100ribu buat beli soto juga sisa banyak."
"Tau lah, Neng Renata yang maha benar. Memang sudah takdir hamba punya harga diri murah."
******
"Kondangan pakai sandal jepit, yassalam." Ejek Wira melihat tampilan Renata yang hanya memakai batik dengan model penguin, celana baggy pants warna krem, plus sandal teplek. Sedangkan wajahnya hanya dipolos bedak, eyeliner dan lip balm saja. Tampak cantik meskipun cukup sederhana.
Tak berbeda jauh dengan anak ciwi lainnya. Ya mana tahu kalau ada kondangan dadakan juga, tak ada persiapan apapun.
Rombongan anak KKN pun jalan beriringan, membawa kado mesin cuci dan bedcover. Urusan mesin cuci Jea cs yang mengurus, sedangkan bedcover ditenteng Renata dan Kikan.
"Ayo-ayo silahkan, selamat menikmati ya!" Sapa Pak Bagyo begitu ramah menyambut kedatangan rombongan anak KKN. Beliau sangat senang dengan kehadiran anak KKN di desa ini. Hasil panennya bisa dikembangkan menjadi produk dengan harga jual tinggi. Misalnya saja merubah packagingnya, dan dijual secara online. Beliau banyak belajar dari Mahasiswi KKN yang hobi belanja online.
Beliau pun menjual aneka macam bibit, juga dijual secara online. Melejit dah sekarang, punya online shop di platform oranye juga. he..he...tambah menggunung pundi-pundinya.
"Ta, Poto dulu!" pinta Wira sesaat di gerobak gulali. Meski berjauhan mereka terlihat apik saat selfie. Renata memegang gulali bentuk lope di kedua tangannya sedangkan Wira memegang gulali bentuk bunga.
Wira : send photo
Ola: Di mandos?? (di mana)
Ceca: Eh tempo dulu banget yakkk suasananya, acara apa?
Bian: Patah hati gue babang Wira milih Renata daripada gue.
Ola: najong
Ceca : najong (2)
Wira : kawinan sultan desa
__ADS_1
Renata: kawinan dengan sandal teplek, ya Allah Tuhan, kondangan berasa ke pasar
Wira: tetep cantik kok 😪😪😪😪😪
Renata: hoax. Lo mbully gue terus dari tadi gara-gara ne sandal.
Wira cekikikan, memang sih Renata daritadi cemberut karena sandal tepleknya. Baju sudah oke, riasan wajah minimalis tapi cantik, celana okelah, sandal??? yassalam ketahuan kalau rakyat jelata. he..he..
"Ta, Poto bareng dong!" pinta Agus melas. Sejak tadi mengekori Wira dan Renata yang berjalan kelewat mesra meski ledek-ledekan, dan tak menghiraukan keberadaan Agus.
"Boleh! Ki, Mi, Wa sini....." ajak Renata pada Kikan, Mia, dan Helwa.
"Gue maunya Lo doang, ta!" rengek pemuda jurusan sejarah itu.
"Lah katanya mau Poto bareng?"
"Dah ah, jual mahal banget dah Lo!"
"Ta, kasihan Agus tahu, ntar di kamar gue digrepe-grepe lagi." Ejek Wira, karena beberapa kali Agus merengek pada Wira agar bisa dekat dengan Renata.
"Lo tuh gak cantik-cantik amat, Ta. Tapi kenapa ya, lihat wajah loh tuh gak bosen, nggemesin." Puji Agus, mungkin dianggap gombal. Terserah.
"Calon istri orang, gak usah dipuji." Kalau boleh Wira ingin sekali menonjok muka Agus, berani-beraninya dia mengucapkan perasaan di depan umum. Ngaku saingan neh.
"Siapa calonnya? Lo? Gantengan gue lagi." Serobot Agus tak mau kalah, keduanya pun saling jitak kepala. Rebutan satu cewek tapi gak bikin emosi, justru bercanda terus. Aneh kan?? wajarlah Renata bingung, beneran suka atau gombal sih.
"Sini, Ta. Lihat gue!" Kikan mulai beraksi. Ia memegang pundak Renata, mengamati mata, bibir, riasan wajah, baju hingga ke sandal tepleknya. Gadis itu juga memutar tubuh Renata berlagak seperti mertua lagi mengamati bibit, bebet, dan bobot sang mantu.
"Wajah cukup cantik, tinggi semampai, senyum manis sih. Tapi 'masa depan' gak gede-gede amat, 'latar belakang' juga gak bahenol. Tapi Lo tuh menarik." Lanjut Kikan mengomentari aset depan dan belakang Renata.
"Eh Ki, Lo tuh lagi nyanjung atau ngehina gue sih." Kikan dan Helwa yang memang sengaja berjalan dengan Renata tertawa lepas, memang gadis itu cukup menarik, ditambah prinsipnya yang kuat, benar-benar dijalankan untuk tidak pacaran. Wira gak dihitung ya, karena dianggap sebagai cowok setengah waras oleh Renata.
__ADS_1