
Neva menghembuskan nafas berat, ucapan Renata terngiang hingga membuatnya susah memejamkan mata. Memang benar menggantung perasaan orang memang gak baik. Sungguh hati Neva bimbang, sebenarnya Daffa adalah cowok yang sesuai dengan kriterianya, tapi ia sadar setiap berdekatan dengannya tak ada rasa deg deg-an atau gelanyar aneh, berarti ia tidak tertarik dengan Daffa dong.
Kalaupun melepasnya, mungkinkah ia akan mendapatkan lelaki baik seperti Daffa. Aaargghhhh. Menjengkelkan, lagian Renata kenapa juga mengenalkan dirinya dengan Daffa, eits....bukan salah Renata juga sih, dirinya dan Daffa bertemu saat acara 4 bulanan Renata tempo hari. Ah...mungkin gara-gara omongan ibu tambun di acara itu hingga Daffa dibuat baper.
WA ...Enggak...Wa ...Enggak...Wa...enggak.
Oke Fix ...Neva mengirim pesan pada Daffa.
/Kak, besok bisa ketemu?/
Akhirnya kalimat itu yang terkirim, Neva bingung juga mau kirim pesan apa. Bukan dirinya sekali untuk berbasa basi ria dengan cowok. Mau jawab pesan Daffa yang dulu, mana mungkin juga, pesan itu sudah terlewat beberapa hari dan saat itu Neva hanya membaca sekilas.
/Boleh, jam berapa? Kamu tentuin saja tempat dan waktunya/
Neva mengetik tempat dan waktu untuk bertemu Daffa, ia sengaja memilih sore saja, setelah pulang kerja agar tidak menggangu aktivitas Daffa. Toh dirinya pagi hingga siang berniat mengerjakan revisi skripsi di perpustakaan.
/Ta, gak pa-pa ya kalau aku tolak kak Daffa?/
Pesan WA yang sengaja ia kirimkan pada sahabatnya. Hanya butuh lima menit saja, Neva mendapat balasan dari bumil itu.
/Gak pa-pa, Va. Sesuai hati nurani saja. Lo yang bakal menjalaninya, pokoknya terbaik buat Lo gue dukung/
/Hubungan kita tetap baik kan?/
/Idih.....baik lah, Va. Gak ngaruh juga kali, kalian tetap sahabat gue/
/Makasih, Ta/
/Hem/
/Lo gak marah kan?/
/G/
/Kok cuma satu huruf gitu sih Taaaaaa/
/Gue mau garap bayi besar gue/
/Siaaaalaaannnn🤛🤛🤛🤛🤛🤛/
*******
__ADS_1
Nyatanya pesan yang dikirim Neva petang kemarin, berhasil membuat Daffa kliyengan. Semalaman dia tidak bisa tidur karena memikirkan apa yang akan disampaikan oleh gadis itu. Jujur saja, Daffa memang menyukai gadis itu, cuek dan juteknya membuat tekad Daffa ingin sekali menaklukkannya. Meski usahanya masih sebatas kirim WA, setelah ini dia akan menyusun strategi untuk dekat dengan Neva.
"Cie...yang nanti mau ketemu gebetan!" goda Renata, hari itu ia kembali dipaksa sang suami ikut ke kantor.
"Gak usah ngeledek, masih pagi, ketemuannya aja ntar pulang kantor." Daffa jutek, malas sebenarnya meladeni istri si bos ini.
"Pasti tadi malam gak bisa tidur." Tebak Renata diiringi cekikikan.
"Sok tahu."
"Idih...boong banget pak asisten, kantung mata tuh gak bisa boong."
"Bos, istri bos kayaknya perhatian banget sama aku." Jurus mengadu domba agar Daffa bebas dari ledekan Renata.
"Yaaaaanggg!" tegur Jea, berisik juga mendengar perdebatan keduanya. Pekerjaan yang tak pernah habis, ditambah ocehan unfaedah antara istri dan asistennya semakin membuat kesal. Tahu gini, gak usah ajak dia ke kantor.
"Diihhhhh...ngambekan." Cibir Renata sembari ke luar ruangan, menuju kantin perusahaan karena lapar mendera. Segelas jus alpukat sepertinya bisa mengganjal perutnya sebelum makan siang.
"Mau ke mana, tumben gak ditanya bos?" tanya Daffa, heran dengan bosnya ini, biasanya Renata akan dipersulit untuk keluar dari ruangan ini.
"Ke kantin, mau jus alpukat katanya tadi." Jea menjelaskan tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.
"Istri bos hamil makin aneh." Gerutu Daffa yang langsung mendapat pelototan si bos.
"Iya iya bos, gue fokus lagi dah."
"Lagian belum tentu diterima juga, siapin tissue buat nangis Bombay." Ledek Jea yang sudah tahu jawaban Neva dari Renata tadi malam, meskipun istrinya juga tak yakin Neva benar-benar mundur dari sisi Daffa.
"Gue ikhlas, seikhlas ikhlasnya, lebih baik kasih putusan di awal daripada gue terus menunggu gadis itu."
Jea mengangguk, memang sahabat Renata itu terkesan menggantung Daffa, gak jelas maunya apa. Katanya di puncak dulu mau menjalani dulu, tapi sampai sekarang belum ada kemajuan apapun. Bagaimana mau lebih dekat dan mengerti satu sama lain kalau dianya menjauh. Di WA gak dibales, mau diapeli khawatir gak ditemui, serba salah kan. Dan sore ini fix...harus ada kejelasan.
Jea memberikan kesempatan pada Daffa untuk pulang lebih awal, setidaknya mandi dan ganti baju. Masa' iya bertemu dengan calon pacar masih dengan baju kantor, ya meskipun masih terlihat cakep sih.
Di cafe yang cukup ramai, Daffa datang terlebih dahulu, tak lupa ia memberi kabar pada Neva di mana ia duduk. Laki-laki itu memesan cappuccino sembari menunggu kedatangan Neva yang sudah menjawab 'OTW'.
Tak berselang lama, Neva datang dengan senyum khasnya. "Maaf lama."
Daffa pun membalas sapaan Neva dengan senyum manisnya, "Gak pa-pa, aku juga baru datang kok. Kamu mau pesan apa?"
"Jus jambu aja."
__ADS_1
Sekian detik keduanya terdiam, bingung mau mulai dari mana. "Ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Daffa, mengakhiri sesi mute ala mereka.
Neva tiba-tiba gugup, jemari tangannya saling bertaut, ditatapnya wajah lelaki baik di depannya itu, ia mengambil nafas dalam-dalam.
Daffa tersenyum, "Kenapa gugup banget?" tanyanya santai.
"Kakak..aku...aku mau bilang sesuatu." Neva tergagap, kalimat demi kalimat yang tersusun rapi di dalam otaknya menguap begitu saja melihat Daffa. Kenapa jadi gak singkron sih, tadi di kos dia sudah mantap untuk tidak menerima lelaki itu. Namun saat bertemu langsung dia jadi kikuk. Terlebih Daffa sore ini terlihat sangat tampan, cukup menggoyahkan niatnya. Hufhhh...
Daffa menatap Neva lekat, ia meminum kopinya dengan santai tanpa memutus pandangan dari gadis yang tampak gusar itu. "Ngomong aja, Va, gak usah grogi gitu."
"Kakak..aku...mau minta maaf." Neva menjeda lagi, jantungnya bergemuruh tiba-tiba. Gugup. Tak tega juga dengan lelaki baik itu. Masa' iya dia menerima laki-laki itu sedangkan hatinya tidak suka. Hishh.... menjengkelkan.
"Untuk?" tanya Daffa dengan mengerutkan keningnya.
"Aku gak bisa menjalani hubungan dengan kakak."
Daffa sudah menduga, tapi nyatanya diungkapkan secara langsung seperti ini ia kecewa juga. Mencoba tenang dan santai, Daffa hanya tersenyum tipis dan mengangguk.
"Yakin, Va? Ditolak nih akunya?"
"Maaf."
"Kenapa?" Daffa mencova mencari tahu alasan dibalik dirinya ditolak.
"Aku...aku tidak merasakan deg-degan bila berdekatan dengan kakak, kayak temen aja gitu." Neva berusaha jujur, memang itu yang ia rasakan pada Daffa selama ini.
"Hanya itu alasannya? yakin kamu gak mencoba jalani hubungan denganku terlebih dulu." Daffa ingin memberikan kesempatan lagi agar Neva mau menerimanya.
"Iya hanya itu alasannya. Mungkin lebih baik kita berteman saja."
Hening, keduanya masih saling tatap dengan pemikiran masing-masing. Daffa tentu tidak menginginkan menjalin hubungan hanya satu pihak saja yang mencintai, tentu berat dan kasihan sekali hatinya nanti.
Begitupun dengan Neva, mungkin ia dipikir bodoh karena menyia-nyiakan lelaki baik dan mapan seperti Daffa, hanya saja cinta tidak bisa dipaksakan.
Dengan terpaksa, sangat terpaksa Daffa mengangguk saja, daripada terus mengharap, jauh lebih sakit nantinya.Terlebih perasaan yang ia rasa belum dalam, jadi alangkah lebih baik untuk segera move on.
Setelah berbincang ala kadarnya, Neva pamit. Ia juga menolak Daffa untuk mengantarnya karena Neva beralasan sudah ada janji dengan temannya, dan lagi-lagi Daffa mengangguk saja. Meyakinkan dalam hati, gak usah maksa kalau nyatanya sudah ditolak, semakin dikejar semakin dia ilfeel.
Menatap kepergian Neva yang semakin menjauh, tiba-tiba Daffa dikejutkan oleh suara perempuan centil yang membuat dirinya semakin kesal.
"Kak Daffa di sini juga?" tanyanya dengan gaya centilnya. Bikin eneg.
__ADS_1
Shiiittttt