
Mama heboh melihat menantu kesayangannya terkulai lemas tak berdaya, keluar dari mobil dipapah Jea, beliau langsung memanggil Bik Asih untuk membawa minyak angin dan koin.
Allahu Akbar. Dikerok??? Tidakkkk.
Mata Renata langsung mendelik, badannya langsung tegap. Dia bersembunyi di balik tubuh Jea. "Yang aku gak mau."
"Mama mau apa?" tanya Jea, bingung juga dengan tingkah istrinya.
"Renata biar dikerok Bik Asih, ayo bik, ikut ke kamar Jea." Dengan santainya kedua wanita paruh baya itu melenggang cantik ke kamar Jea. Renata menahan Jea agar tidak naik..
"Aku gak mau, pasti sakit itu."
"Lah ..ke dokter gak mau, sekarang dikerok gak mau. Udah pucat banget kamu ini."
Renata menangis, ia benar-benar gak mau dikerok. Ya Allah apa jadinya koin itu berselancar di punggung Renata yang mulus, duh tidak bisa membayangkan ada lukisan garis merah di punggungnya. Ya Allah....
Dengan penuh bujuk rayuan, Jea berhasil membawa Renata ke kamar mereka. Bik Asih sudah siap di atas ranjang, yassalam. Sedangkan sang ratu hanya mengawasi Renata di sofa kamar.
"Astaghfirullah, sakiiiiiit." Jerit Renata saat koin kerokan sudah menggores kulit punggung Renata. Merah. Mama langsung berseru.
"Kamu kebanyakan begadang sayang, baru saja dikerok udah merah gitu."
"Ma...sakit. Meskipun gak masuk angin tetap aja merah ma, kulitku kan tipis. Allah... sakitnya. hu..hu.."
Jea cuma mengelus lengan Renata, tak tega sebenarnya. "Pelan-pelan saja, Bik."
"Ini sudah pelan, Den!"
"Udah, Bik." Renata masih menjerit kesakitan, sampai menggigit ujung bantal.
"Eh.. bentar, Bik." Kanjeng mamih mengintrupsi, "Ta, kamu sudah haid bulan ini?"
Renata yang lemah dan sakit di sekujur punggungnya, hanya menggeleng. Wajah mama berbinar seketika. Menyuruh Bik Asih berhenti, lalu memberi uang Bik Asih untuk ke apotik. "Beli testpack Ya Bik. Minta antar Mang Dirman."
Renata tak menghiraukan mertuanya lagi. Ia kembali tidur saja, bahkan untuk memakai bajunya kembali ia sudah tidak sanggup. Kepalanya pusing dan berat sekali.
"Akhirnya, Je. Kamu membuktikan kejantananmu." Ucap Mama sebelum keluar kamar Jea, dan otomatis putra semata wayangnya hanya melongo, tidak tahu maksud mamanya. Jantan? Emang Jea sapi, jantan. Hadehh....
Jea dengan telaten mengubah posisi tidur Renata, tak lupa juga memakaikan baju dan menyelimutinya agar sang istri hangat. Ia tak ingin kembali ke kantor, menelpon Daffa agar membawa berkas penting ke rumah.
Hingga menjelang maghrib, Renata belum bangun. Mama terpaksa membangunkannya, menyuruh Jea menyiapkan air hangat untuk menantunya mandi.
Kepala Renata masih pusing dan wajahnya semakin pucat, Jea terus saja memaksa membawa Renata ke dokter tapi ditolak. Mama dengan telaten menyuapi bubur Renata, meskipun berkali-kali ia juga menolaknya.
"Kamu tuh harus banyak makan sayang, gak kasihan bayi di dalam perut kamu."
Renata bengong. "Emang Renata hamil ma?" Jea yang bertanya. Eh si mama malah tersenyum. Aneh.
"Besok pagi dicek ya, Ta. Bik Asih tadi udah beli testpack loh."
"Beneran, Yang?" Jea memastikan, terlihat sekali wajah bahagianya, sumringah. Renata hanya menggeleng, "Aku gak tahu."
__ADS_1
"Udah percaya aja sama mama, pasti positif. Aaa." Ucap Mama sambil menyodorkan sendok ke mulut Renata.
Setelah makan, Renata berendam air hangat. Baru setelah mandi itu, wajah Renata agak cerah, tidak seperti tadi pucat pasi.
"Emang kamu telat datang bulan, Yang?" Tanya Jea dengan mengeringkan rambut Renata.
"Udah telat 10 hari sih, tapi aku juga gak yakin. Kok hamil sekarang ya, hiks...hiks..." Renata menangis, belum siap juga kalau dirinya hamil sekarang. Tanggungan skripsi masih ada, mungkinkah bisa dikerjakan dengan lancar karena Renata menarget ujian bulan februari, agar bisa ikut wisuda kloter bulan april, lalu apa kabar dengan kebayanya nanti. Kenaikan berat badan jelas ada, duh....moment wisuda sekali seumur hidup masa' gak bisa dandan syantiiikkk.
"Kan kamu hamil ada suaminya, gak usah takut." Jea memegang tangan Renata, memberikan kekuatan agar istrinya bisa menerima kenyataan kalau memang hamil.
"Aku gak takut, aku cuma gak mau waktu wisuda badanku gemuk. hu...hu...hu." Renata menangis sesenggukan, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Eh...kok nangis."Jea gelagapan, memeluk sang istri yang belum terima akan kehamilannya. Padahal belum dites juga.
"Kamu tuh!" Renata memukul pundak sang suami. "Udah dibilang pakai pengaman, gak mau." Protesnya masih memukul pundak sang suami.
Jea tertawa, menangkap pergelangan tangan Renata, "Kamu juga menikmati." Cibirnya masih dengan tertawa nyaring.
"Tega kamu, aku masih kerjain skripsi tahu."
"Ya udah kalau emang beneran hamil, cuti dulu aja."
"Gak mau, kurang dikit doang, Yang!"
"Ya trus kamu maunya gimana?"
"Aku selesaikan skripsi dulu baru hamil."
"Ya udah hamil plus skripsi, aku gak mau cuti, capek tau mikir skripsi terus. Bayangkan nanti sudah punya anak masih mikir skripsi, males banget."
Jea memeluk Renata, menepuk punggungnya pelan, mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja dengan kehamilannya.
"Kita jalani bersama ya, sebisa mungkin aku akan bantu skripsi kamu."
Renata mengangguk, dia juga tidak boleh egois. Kalaupun memang hamil, ya sudah. Skripsi akan jalan terus, toh hamil bukan penyakit yang menghentikan aktivitasnya.
Hingga menjelang tidur, Renata masih lemas, dia hanya di kamar bermain ponsel atau lihat TV, Jea bersama Daffa di ruang kerja papa, pasti berurusan dengan berkas yang harus ditandatangani.
Hampir tengah malam, Jea baru masuk kamar. Ia melihat istrinya sudah meringkuk tidur, dibelainya rambut panjang sang istri lalu ia kecup. Saat mau beranjak, Jea melirik ponsel Renata yang masih digenggam, ia menariknya pelan. Ada satu pesan yang belum terbaca, dari Ibu Negara, begitu Renata menamai kontak sang ibu.
/Nduk, besok coba kamu periksa ya, siapa tahu kamu hamil😂😂😂, ibu kemarin mimpi dapat buah apel/
Jea ingin tertawa ngakak, namun ia tahan. Ibu mertuanya begitu lucu dan tetap tak meninggalkan penerawangannya. Astaghfirullah. Apa hubungannya mimpi dapat apel dengan hamil.
Jea telah meletakkan ponsel Renata di atas nakas, membenarkan selimut sang istri, lalu dia pun ikut tertidur sambil mendekap erat Renata.
"Cepat sembuh sayang."
Hoekkk
Renata kembali memuntahkan isi perutnya saat menjelang shubuh. Fix....hari ini ia mau ke dokter. Sudah tidak punya tenaga lagi. Berlari ke kamar mandi pun harus menahan rasa pusing di kepalanya.
__ADS_1
Jea yang menyadari istrinya tidak ada di kamar, langsung beranjak ke kamar mandi, ia memijat tengkuk sang istri.
"Pagi ini harus ke dokter, gak boleh nolak." Tegasnya dan diangguki Renata.
"Apa mau dites dulu kayak saran mama?" tanya Jea masih memijat tengkuk Renata.
Lagi-lagi kepala Renata mengangguk, kesal juga dengan Jea, main tanya ini itu sedangkan dirinya masih muntah.
"Aku udah gak kuat, kita ke dokter aja."
Jea mengangguk, membantu Renata mengelap mulut lalu berwudhu juga. Renata sholat dengan duduk, kepalanya cukup pusing.
Tok...tok...
Jea sudah bisa menebak, pasti mama yang mengetuk pintu.
"Udah bangun?" tepat tebakan Jea, sang mama dengan senyum cerianya membawa nampan dan secangkir wedang jahe sudah berdiri di depan pintu.
"Siapa? Renata?"
"Ya iyalah, masa' kamu." Cerocos mama langsung masuk ke kamar. "Diminum sayang."
"Makasih, Ma."
Selagi minum jahe, mama mengambil alat uji kehamilan di meja sofa kamar,. menyodorkan pada Renata dengan semangat.
"Harus dicoba ya, Ma..Tapi aku tadi sudah pipis."
"Gak pa-pa, sayang. Kayaknya di tes kapanpun bisa deh, udah telat 10 hari kan?"
Renata mengangguk, lalu menuruti sang mertua, mengambil urin dan segera mencelupkan alat itu.
Satu detik
Sepuluh detik
setengah menit
Satu menit
Tiga menit
"Gimana?" tanya Mama saat pintu kamar mandi terbuka, Jea yang ikut ke dalam kamar mandi langsung tertawa lebar. "Sesuai perkiraan mama, istriku hamil."
"Mana coba!" pinta Mama menagih hasil tesnya. "Alhamdulillah. Makasih, Ta. Akhirnya mama punya cucu."
Jea dan Renata melongo, mama keluar kamar dengan teriakan "Mama update di wa status ya sayang."
"Mertua kamu." Ucap Jea sambil menyenggol lengan Renata.
Hufhhhhhh..
__ADS_1