CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
PERTAMA


__ADS_3

"Ayo!" ajak Jea beberapa menit kemudian setelah memberikan ultimatum pada mama untuk tidak mengetuk pintu.


"Tunggu, kamu merem!" pinta Renata, mereka sengaja keluar dari ruang kerja papa paling belakang.


"Kenapa sih?"


"Udah pokoknya kamu merem."


Daripada ribet dan keburu dini hari, Jea menurut tanpa protes. Ia dituntun Renata menuju kamarnya, matanya yang merem pun ditutup tangan Renata juga, saat berjalan tiba-tiba ada suara perempuan yang memanggilnya, ia sangat hapal suara itu, suara Ceril, dan Renata semakin mempercepat langkahnya.


"Eh gue juga mau masuk." Ceril memaksa untuk masuk ke kamar Jea, namun kalah cepat dengan Renata yang sudah mengunci pintu kamar. Mungkin Ceril sedang sembunyi saat orang-orang keluar dari ruang kerja papa. Dia muncul saat Jea keluar. Jelangkung emang tuh cewek.


"Kenapa sih?" Jea masih penasaran.


"Kakak jangan keluar sendiri, keluarnya sama aku aja, ada jelangkung pakai baju haram."


Pikiran Jea sudah Travelling, keluar? sama aku? baju haram? Beres.


"Ayok." Ajak Jea sambil menarik tubuh Renata.


"Kemana?" tanya Renata heran.


"Berkeringat." Jawab Jea langsung menyerang Renata begitu saja. Renata paham sekarang, dan dia pasrah juga. Memang ini sudah waktunya, ia sering sekali ditanya sama ibu apakah sudah menjalankan kewajibannya sebagai istri, dan dia selalu mengelak untuk pembahasan ini.


Malam ini Renata sudah siap, sudah sayang dan cinta sama suaminya. Selama sebulan ia benar-benar dijadikan ratu oleh Jea.


"Siap kan?" tanya Jea.


Renata mengangguk. Mempersilahkan Jea menyentuhnya dengan begitu lembut, menyalurkan rasa sayang dan sangat menghargai sang istri. Rasa sakit yang mengoyak tubuh Renata tidak menghentikan aktivitas Jea. Ia begitu semangat menjadikan Renata sebagai istri seutuhnya meskipun Isak tangis masih terdengar.


"Makasih sayang." Ucap Jea masih di atas tubuh Renata setelah pelepasan. Mencium seluruh wajah istrinya dengan sayang. Peluh di kening sang istri membuktikan betapa ganasnya Jea menyerang Renata. Cakaran di lengan Jea menunjukkan ia sedang bergulat dengan kucing rumahan.


"Awas ih, berat!" Ucap Renata sambil mendorong tubuh sang suami dengan sisa tenaga yang dimiliki. Ia mendesis, karena rasa sakit pada inti tubuhnya.


Jea yang sudah berpakaian lengkap, langsung membopong tubuh Renata ke kamar mandi. Sekedar membersihkan diri dari bekas percintaan mereka.


"Masih sakit?" tanyanya sambil membaringkan Renata di ranjang.


Renata mengangguk, ada rasa malu juga ketika ditatap Jea begitu dalam saat ini. Please jangan minta diulang, masih sakit, batin Renata.


"Tidur ya, besok kan ke Dufan."


"Jangan minta lagi ya, badanku sakit semua. Gak tahu deh besok bisa bangun apa gak."


Jea tertawa lalu mengangguk, kemudian memeluk istrinya mengajak segera tidur, jam dinding sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, masih ada waktu 3 jam untuk mengembalikan tenaganya.


Cukup sekali saja untuk dini hari ini. Untuk malam selanjutnya tidak mungkin, pasti lebih dari sekali.


******


Alarm ponsel Renata berbunyi cukup kencang. Si empunya hanya mematikan begitu saja, tanpa berniat bangun. Matanya masih ada lem, lengket bener. Tubuhnya sakit semua seperti habis digebukin orang. Belum lagi pusat intinya, baru bergerak sedikit saja sudah nyeri.

__ADS_1


"Hoom." Jea menguap. " Jam berapa sayang?"


"Jam 5. Kamu mandi duluan gih."


"Mandi bareng aja gimana?"


Tawaran Jea langsung membuat Renata melek, menggeleng pelan. Kalau saja ia punya tenaga lebih udah ia pukul lengan suaminya itu. Pagi-pagi sudah membuat badmood.


Mereka mandi secara bergantian, Jea menunggu Renata untuk sholat berjamaah. Dengan sabar ia menggelar dua sajadah, mukenah Renata juga sudah di atas sajadah.


Usai sholat berjamaah, Renata menyempatkan mengaji. Jea duduk di pangkuan Renata sambil memejamkan mata. Rambutnya sedikit basah.


"Kak, kamu belum cerita kebiasaan kamu loh!" Ucap Renata sambil mengusap rambut sang suami usai menutup mushafnya.


"Masih penasaran? Udah merasakan gitu." Jawab Jea sambil menatap wajah cantik Renata yang masih berbalut mukenah.


"Dih...apaan sih."


Jea bangun, lalu membisikkan alasan dia sering mandi malam. Mata Renata melotot dan langsung menepuk paha sang suami. Tidak menyangka alasannya seperti itu.


"Kenapa gak minta?" Renata merasa bersalah, ingat sekali setiap ibu telpon pasti ditanya hal ini. Tapi karena Jea gak minta, yaudah dia juga tidak menawari. Lagian Renata belum memiliki keberanian untuk menawari hal itu. Ada dua alasan yang membuat Renata belum berani menawarkan, yang pertama dia masih belum cinta saat itu, kedua dia masih kuliah dan takut hamil. Kurang skripsi saja, sayang kalau gak dituntaskan sekalian. "Kasihan kamunya, jahatnya aku!"


Jea tersenyum, mengusap kepala sang istri dengan sayang. "Tadi malam udah dibayar sekali."


"Cih...!" Renata mencebikkan bibirnya, dengan kata lain malam berikutnya dibayar beberapa kali. Hadehhh.


"Nanti malam lagi ya!"


"Semakin sering gak sakit kok." Masih terus berusaha membujuk. "Atau sekarang?"


"Enggak mau, telat kita ke Dufan nanti, kamu mana mau sebentar."


Jea tertawa melihat istrinya yang cemberut, gemes pengen cium.


Tok...Tok....


"Je!" suara mama.


Jea mendengus kesal, lalu beranjak membuka pintu. "Iya Ma!"


"Lemes amat," mama langsung masuk ke dalam kamar Jea, duduk di sofa kamar dan menyuruh Jea mengunci pintunya.


"Mama nanti kondangan ke Bandung, Mita mama ajak. Kalian jangan di rumah kalau bisa rumah ini kosong, biar bibik-bibik di sini. Semua kamar kita dikunci aja. "


"Kenapa ma?" tanya Renata, gak biasanya mama begitu khawatir.


"Ada keluarga Om Danu, mama malas sama mereka. Kamu juga jangan sampai lepas dari istri kamu, ada si Ceril, haduh mama pengen bejek banget tuh perempuan, sama laki-laki kok langsung nyosor gak tau sopan."


"Lagian mana pernah sih aku dekat sama dia, dianya aja yang sok dekat sama keluarga kita."


"Hem kalian nanti nginep aja di hotel."

__ADS_1


"Ya ampun, Ma. Kenapa kita yang repot-repot pergi sih, gak mereka aja."


"Kita kacangin tuh mereka, kalau gak ada kita mereka langsung cus keluar."


"Mama yakin mereka langsung keluar, bukannya malah bebas karena gak ada tuan rumah?"


"Udah....yang penting kita keluar hari ini, jangan ada yang di rumah."


"Iya, Ma!" jawab Renata mewakili sang suami.


Sepeninggal mama, Jea duduk di ranjang, bersila dan menopang dagu. "Menurut kamu gimana?"


"Kita ikuti rencana mama aja, toh nanti ada Bik Asih kan yang kabari mereka udah keluar apa belum."


"Nginep hotel ya?" tawar Jea sambil menarik tubuh Renata di pangkuannya. Renata mengalungkan tangan ke leher sang suami, menatap lekat matanya, "Boleh, hotel mana?"


"Dekat Dufan aja, aku booking sekarang." Ujarnya semangat 45.


"Dih maunya." Renata mengambil koper kecil, memasukkan bajunya dan baju suami. Ia pun segera bersiap-siap ke kencan bersama sahabatnya.


Drt...drt...lagi asyik ganti baju. Kisut memanggil.


"Halo!" Sapa Renata menyelipkan ponselnya di antara pipi dan pundaknya.


"Kita mau ke Dufan! ikut yuk."


"Yeayyy...gue juga mau ke sana. Ketemu di pintu masuk ya! Sama siapa? anak lorong? ih asyikkk. Eh bentar kak Vino ikut kan, dia kan punya hutang sama gue, Sut." Mendengar nama Vino, Jea yang fokus pada tabletnya langsung menoleh ke istrinya, sejak kapan dia dekat dengan Vino??


"Suami Lo kaya, Mbak.. Astaghfirullah, masih pelit juga ne orang."


"Eh, Sut. Dia udah janji Lo saksinya."


"Iya-iya, ntar ditraktir makan siang."


"Jangan pop mie!"


"Astaga, Mbak gue, dah kita mau siap-siap. Jam 8 kita berangkat. Bawa baju, Mbak. Main air ntar."


"Beres!"


Tut...sambungan terputus, Renata kembali melanjutkan ganti baju dan dandannya.


"Sejak kapan kamu dekat dengan Vino?"


"Enggak dekat, cuma dia punya janji bakalan traktir aku apapun itu kalau aku terima lamaran kamu."


"Dih....suami sendiri dibuat taruhan, sakitnya."


"Lebayyy, saat itu belum jadi suami kaleee."


"Aku hukum kamu!" Jea mendekat pada Renata, dan mulai mengganggu acara pakai lipstiknya.

__ADS_1


__ADS_2