
Senin pagi ....
Jea langsung menuju kantor bersama Renata. Ia tidak berniat pulang ke rumah, bahkan ia tadi malam sempat membeli kemeja celana bahan dasi dan jas, plus sepatu. Moodnya langsung anjlok ketika mama kirim pesan.
/Ceril masih di rumah, padahal orang tuanya udah pulang/
Jengkel setengah mati Jea dibuatnya. Kalau tidak ada rapat jam 10 nanti, mungkin ia akan mengusir Ceril.
"Aku pulang naik taksi aja, ya! aku di kantor kamu gak bisa ngapa-ngapain loh!"
"Nanti setelah rapat aku antar ke kampus."
"Masalahnya draft skripsiku kan di rumah, mana bisa revisi."
"Bimbingan sama Sandy?"
"Iya!"
Jea mencari nama Sandy dalam kontak ponselnya, mendial nomornya dengan segera.
"Apa Je?"
"San, Renata hari ini gak bisa bimbingan ya. Ada urusan sama gue."
"Kenapa Lo yang izin, mana dia?"
"Lagi keramas." Jea langsung mendapat tabokan dari Renata. Keduanya di kantor, alasan super jahil memang.
"Brengsek Lo, besok gue ada seminar. Suruh taruh draftnya di meja kantor."
"Oke. Makasih." Jea memutus sambungan, terkekeh melihat istrinya sudah melipat tangan di depan dada dengan tatapan tajam. "Bikin malu."
Jea mencoel dagu Renata, "Gak usah sok jutek, tambah bikin pengen----
"Stop, silahkan bekerja tuan, saya duduk di situ ya!" Cegah Renata dan segera beranjak ke sofa di depan meja kerja Jea. Lagi-lagi Jea tertawa. Berkas yang perlu diteliti dan ditandatangani dibawa ke meja sofa, duduk di samping Renata.
"Kok di sini?"
"Pengen aja. Kenapa? gak boleh?"
"Sensi amat bos." Renata tertarik dengan tumpukan berkas itu. "Ada yang bisa dibantu, pengangguran neh."
Jea menghentikan tanda tangannya, menoleh sebentar ke arah Renata sambil menautkan alisnya, "Tumben?"
"Dih, aku tuh orangnya baik, suka membantu---"
"Tapi sengklek."
"Ih sama istrinya gitu."
"Pijitin punggungku aja."
Renata pun menurut, mungkin berurusan dengan berkas bukan keahliannya, daripada salah, nanti Jea malah kerja dua kali mending dia meringankan tubuh suaminya dengan memberikan pijatan.
__ADS_1
Hampir 10 menit Renata memijit ternyata capek juga, ia pun iseng menulis kata di punggung suami dengan jarinya.
Kata pertama Sayang, Jea hanya tersenyum tipis masih fokus dengan berkasnya.
Kata kedua Suamiku, Jea menoleh sambil tersenyum, lalu fokus pada berkasnya.
Kata ketiga, i love you. Jea menghempaskan punggungnya ke sofa, menoleh ke Renata dengan senyum, lalu menarik tengkuk Renata kemudian memberikan ciuman lembut untuk si pengganggu konsentrasi.
"Kak Jeaaaaaa." Ceril datang langsung membuka pintu, Renata mendorong tubuh Jea begitu saja. "Kalian lagi ngapain?" tanyanya curiga.
Jea tak menggubris, lebih baik fokus pada berkas daripada meladeni makhluk jadi-jadian di depannya. Ia pun tak meliriknya sama sekali. Renata menatap gadis itu tak suka. Ceril menggunakan baju dress ketat, duduknya pun menyilang. Duh Gusti gak takut kalau 'dalam negeri' nya kelihatan. Belum lagi gunung kembarnya, Masya Allah tuh kancing mau copot kayaknya. Bahaya ne, jangan sampai Jea melihat pemandangan bagus di depannya.
"Kami siapanya Kak Jea sih?"
Lah pertanyaan gak penting, bukannya di rumah sudah jelas dia melihat Renata tidur sekamar sama Jea, jelas istrinya, pakai tanya lagi. "Istrinya." Jawab Renata ketus.
"Lo hamil duluan?"
Renata diam, mengambil ponsel meladeni chat di group calon orang sukses dan lorong 13. daripada meladeni jelangkung berbaju haram itu. Toh Jea juga gak meladeni.
"Hei gue ngomong sama Lo?"
"Gue gak hamil duluan, tapi gue dihamili Jea cuma belum jadi aja." Jawab Renata santai, tanpa melihat Ceril, namun ia sempat melirik suaminya yang tersenyum tipis, mungkin dalam hati Jea, bagus, santai aja balasnya, bikin dia emosi.
"Ngomong yang jelas." Ceril mulai ngegas.
"Dih...oon sok ngegas." Gumam Renata, lagi-lagi Jea terseyum.
"Kenapa Lo jadi ngurusin gue?"
"Eh dengar, ya. Gue tuh lebih pantas dampingin Kak Jea ketimbang Lo."
"Ouh gitu, ya udah dampingin aja." Renata berdiri, dan mengambil tas lalu keluar ruangan kantor. Ceril tertawa menang, "Sadar diri juga Lo!" ucapnya sambil menatap kepergian Renata.
Saat dia menoleh, Jea juga beranjak berdiri, mengambil kunci mobil dan ponselnya, "Loh Kak Jea kok pergi?"
Belum sempat Ceril berdiri, pintu ruangan Jea sudah ditutup. Sial. Ceril segera berdiri mengejar Jea, saat membuka ada OB yang membawa nampan berisi kopi dan jus alpukat, karena pintu dibuka secara tiba-tiba, nampan tersebut jatuh.
Kopi mengenai kaki Ceril, "Aduh duh panas, kamu itu gimana sih, dasar OB beg*."
"Maaf nona, maaf saya tidak sengaja."
"Sana minggir." Usirnya.
Ketika hendak melangkah, heels 15 cm Ceril mengenai pecahan gelas, oleng dong, dan klek, bunyi kaki Ceril. Keseleo. "Aduh, hiks...hiks."
"Makanya mbak jadi orang jangan sombong, pakai baju yang sopan, jangan diumbar."
"Aduh...duh....kamu cuma sekertaris aja songong." Balas Ceril ngegas.
Di balik pintu ruang sebelah ada perempuan yang sedang cekikikan melihat kejadian itu, yah Renata, ia dan Jea ternyata bersembunyi di ruang Daffa yang terletak di samping ruang Jea.
"Seneng banget kayaknya." Ledek Jea sambil menyandarkan lehernya di sofa.
__ADS_1
"Siapa sih bos?"
"Jelangkung berbaju haram."
"Hah?"
"Kamu mau lihat siapa dia, noh depan ruangan gue."
Daffa penasaran, ia pun mengintip. Lalu masuk lagi dengan cekikikan juga. "Ceril?"
"Kok Kak Daffa tahu Ceril?" tanya Renata curiga, jangan-jangan Ceril sering datang ke kantor ini.
"Dia mah penggemar nomor satu bos, ngejar sampai jungkir balik juga gak direspon."
Renata tersenyum sambil menepuk punggung tangan suaminya, bangga.
"Eh tapi Jea pernah sih kencan di Bali sama Ceril." Daffa sengaja memancing perkara.
"Kapan gue kencan sama dia?" Bantah Jea, ia pun melirik Renata, takut kalau istrinya itu jadi singa yang lapar.
"Beuh...gak ingat apa pura-pura lupa, waktu tahun baru dua tahun lalu, lupa sodara."
Bantal sofa langsung dilempar Jea ke wajah Daffa, sebel, karena Daffa berhasil membongkar aibnya di depan Renata. Sial.
"Oh gitu ternyata,"
"Iya, mesra banget nona, sambil gandengan tangan."
"Diam Lo, kamprett! bentak Jea, "Gak sampai gandengan Yang, suer." Cicit Jea yang mulai ketakutan.
"Berarti kencan, kan?"
"Iya tapi ramai-ramai, si kampret juga ada!"
Renata hanya memicingkan mata, curiga pada Jea. "Ya sih, kalau gak pernah kencan, gak mungkin dia berani peluk-peluk juga."
"Yang, gak gitu ceritanya." Jea ketar ketir..
"Bucin." Gumam Daffa yang mendapat pelototan dari Jea.
"Udah ah, minggir, aku udah dijemput Ola. Males di sini." Renata cemburu.
"Yang." Panggil Jea sambil menahan Renata.
"Lepas kenapa sih, dah sana katanya ada rapat jam 10. Aku pamit."
"Yang, jangan gini dong." Jea menahan handle pintu.
"Apaan sih, udah sana rapat. Bye." Renata keluar, Jea pun tak mengejarnya, karena rapat ini juga penting.
"Siap-siap tidur luar ya bos!"
"Brengsek, ember Lo!" umpat Jea sambil berkacak pinggang.
__ADS_1