
Kejadian horor tadi malam, membuat anak lorong ketakutan. Elea sampai menahan pipisnya hingga shubuh, dan konyolnya kelima gadis itu tidur di satu kamar, kamar Elea-Sita.
Tidur berhimpitan, tak leluasa membuat Renata ngilu di bagian leher.
Ia pun pergi magang dengan ojol, takut kalau berkendara sendiri, apalagi ia masih cukup mengantuk. Hari ini ia tidak terlalu lama di kantor magang cuma sampai jam istirahat, setelah itu ia akan mengunjungi Ceca.
"Selamat pagi." Sapa beberapa karyawan .
Aneh, anak magang dihormati banget.
"Pagi, Renata!"bisik Jea yang mensejajarkan langkahnya dengan Renata, kemudia berjalan agak cepat menuju lift petinggi perusahaan.
. Whattt??? datang lagi??? Yah...niatnya pengen kerja santai karena badan lagi remuk, apalah daya pak bos muncul. Pasti Pak Fahmi dan Elsa juga bakal ngebut mengerjakan deadline yang masih belum rampung. Hufhhh
"Assalamualaikum!" sapa Renata lemas, masih ada Elsa yang sudah mengotak atik komputer.
"Waalaikumsalam, tumben Ta, 5L?" tanya Elsa sempat melirik kondisi Renata.
"Habis lihat hantu mbak, kurang tidur!"
Elsa menghentikan pekerjaannya. "Yakin hantu?"
Renata mengangguk dan mendekat ke meja Elsa, membantu pekerjaan Elsa sebelum mendapat tugas dari Pak Fahmi.
"Pak Bos datang, Ta. Kamu bisa kan mengerjakan ini sendiri, aku mau melanjutkan membuat laporan promosi. Lagian itukan keahlian kamu, bikin video promosi. Ah ...Ta, ide kamu tuh bikin gue mumet tau gak, mana bisa gue buat begituan dengan tugas bejibun gini." Gerutu Elsa, tapi Renata hanya diam, sumpah dia mengantuk dan ingin menyelesaikan tugasnya.
"Mbak kan informatika, jago juga lah bikin beginian."
"Ya tapi itu kalau gue longgar dulu, sekarang buat alis aja gak bisa."
Renata cekikikan, mungkin Elsa sering marah-marah karena tugasnya yang begitu banyak, mana Pak Fahmi gak mau menambah anggota devisi lagi.
"Kenapa gak open rekruitmen aja sih mbak khusus bikin video promosi gini?"
"Kayak gak tahu Pak Fahmi aja, perfeksionis, gue nyesel juga sih masuk devisi ini." Elsa pura-pura mewek dan itu membuat Renata tertawa.
"Ya tapi keterlaluan juga mbak, semua devisi minimal 3-5 orang loh timnya, lah ini cuma dua dong. Hem.... jangan-jangan...." Renata sengaja menggantung kalimatnya.
"Jangan-jangan apa?"
"Pak Fahmi naksir mbak sejak ketemu mbak mungkin."
__ADS_1
"Ngacoo!"
"Heleh...mbak seneng kan sebenarnya?"
Tampak Elsa malu-malu, lalu mengangguk. Meski sambil mengerjakan tugas masing-masing, ocehan dua perempuan itu tak ada hentinya. Kebetulan Pak Fahmi hari ini ada rapat pagi dengan Pak Bos dan manajer marketing.
"Kamu gak punya pacar, Ta?" cukup kaget juga Elsa mendengar obrolan pribadi tentang Renata. "Secantik kamu gini?" tanyanya masih heran.
"Emang aku cantik ya, mbak?"
"Kami punya kaca gak sih, Ta?"
"Ya elah, sekedar kaca punya lah."
"Kami tuh cantik, imut, lesung pipimu bikin tambah manis." Puji Elsa, tapi membuat Renata menghentikan pekerjaannya, memicingkan mata pada Elsa. Curiga.
"Mbak, aku masih suka cowok loh?"
Puk....Elsa memukul kepala Renata dengan bolpoin pelan. "Hiiiii...jijik gue."
Renata tertawa, "Aku tuh gak mau pacaran, mbak. Maunya langsung dihalalin aja."
Elsa mengangguk, "Prinsip bagus. Jarang loh ada cewek yang punya prinsip begitu zaman sekarang, yang ada tuh trendnya jadi pelakor."
******
Makan siang bareng di cafe depan kantor, aku tunggu.
Sebuah pesan dari Jea, mata Renata seketika membulat sempurna, bukan karena ajakan makan siang itu, tapi pesan yang belum dibaca tadi malam. Renata masih ingat Wira dan Jea mengirimkan pesan bebarengan, dan hanya pesan Wira yang dibaca.
Tiket Pesawat
Yah... pesan Jea tadi malam adalah sebuah barcode tiket pesawat. Jadi????
"Pak, Mbak, saya pulang dulu ya!" pamit Renata tepat makan siang, karena hari ini ia hanya punya kewajiban hadir di kantor hingga jam makan siang. Niatnya setelah dari kantor ke kampus sebentar untuk bimbingan skripsi lalu ke rumah sakit, menjenguk Ceca.
Oke...Renata setuju untuk makan siang bersama Jea, sekalian meminta penjelasan juga, pikirnya. Ia pun mengambil motor dan segera menuju cafe depan kantor.
Setibanya di cafe, ia pun mencari sosok Jea, ternyata sang bos sudah duduk manis, tersenyum menatap gadis incarannya di pojokan cafe. Kenapa juga memilih tempat pojok????
"Maaf telat." Begitu Renata menyapanya, sangat canggung. Dari dulu, Renata mati kutu kalau bertemu dengan lawan jenis berdua saja, kecuali Wira dan Bian.
__ADS_1
"Santai, Ta. Gak usah formal gitu, kita lagi di luar kantor. Silahkan duduk." Ucap Jea ramah.
Situasi yang tidak mengenakkan kembali terjadi, si bos tak kunjung membuka obrolan. Masa iya gue dulu yang ngomong, batin Renata meronta.
"Makan siang dulu ya, habis itu aku mau ngomongin sesuatu. Mau pesan apa?"
Renata mengangguk sebentar, "Samain aja, pak."
Jea hanya tersenyum, gadis cerewet ini begitu canggung dan tampak sekali tidak nyaman, "Mulai sekarang biasain manggil aku, mas ya?" pintanya tulus.
"Kenapa?" mode jutek Renata muncul.
"Udah di telpon bapak, kan?"
Deg
Mungkinkah???
"Jadi?" Renata meminta penjelasan.
Yah..Jea berkunjung ke rumah Renata di Pacitan, menemui orang tua Renata. Beliau sangat kaget karena ada tamu dari Jakarta. Jea memperkenalkan diri sebagai teman dan tujuannya memang menanyakan apakah Renata sudah ada yang mengkhitbah atau belum.
"Bentar deh kak, kakak kan baru kenal aku kenapa juga langsung meminta ke orang tuaku. Kakak yakin memilih aku?"
"Sejak kita makan siang di depan rumah sakit dulu, aku sudah tertarik sama kamu. Selama satu bulan kita KKN aku juga merhatiin kamu diam-diam. Tapi ada Wira, aku gak mau hanya masalah perempuan kita tengkar. Sampai akhirnya kita gak bertemu, gak komunikasi. Aku pikir rasa penasaran itu hilang, ternyata tidak. aku menahan buat gak wa, gak telpon eh...taunya kamu magang di kantor. Jodohkan?"
"Diiihhhh.... hipotesa dari mana??"
Lagi-lagi Jea tersenyum, melihat 'calonnya' jutek cukup menggemaskan ternyata.
"Yakin ne milih aku jadi teman hidup. Seumur hidup loh?"
"Yakin." Jawabnya tegas sambil menatap wajah Renata, "Mau ya?"
Renata tertegun, ini melamar non resmi kan ya? takut ge-er aja. "Mau apa?" tanya Renata pura-pura.
"Jadi teman hidup, teman berbagi suka duka, sekaligus teman bobok."
Blush
Rona merah terlihat jelas di wajah Renata. Perempuan mana yang tak tersipu mendapat ungkapan sederhana itu, apalagi ini yang pertama untuk Renata.
__ADS_1
"Tergantung bapak lah!"
"Bapak setuju banget kayaknya," tutur Jea, tingkat kepercayaan dirinya meningkat, ia ingat betul rona bahagia lelaki paruh baya ketika seorang laki-laki ingin meminta putrinya. Saat pamit pulang pun, beliau menepuk pundak Jea, memberikan sebuah pesan kamu laki-laki baik, semoga kamu berjodoh dengan putri saya.