CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
MARAH


__ADS_3

Rencana menginap selama tiga hari di rumah Sita sepertinya berubah, usai tahlilan hari pertama Ilyas, Renata diminta pulang oleh orang tuanya.


"Yakin gak mau diantar?" tanya Jea pelan, saat sarapan bersama. Mereka sedang lesehan bergabung dengan keluarga besar Sita.


.


"Gak, makasih. Deket kok cuma enam sampai tujuh jam." Posisi Jea dan Renata memang berhadapan.


"Gak takut pulang sendiri gitu?" masih saja Jea bernegosiasi agar Renata mau diantar pulang.


"Enggak lah, biasa juga pulang sendiri Jakarta-Pacitan."


"Lagian kenapa sih, kamu kan cewek kenapa kuliah jauh amat." Giliran Vino ikut obralan keduanya.


"Ya elah, kak. Namanya rizeki kuliahku di Jakarta, mau gimana lagi." Sahut Elea.


"Ilma juga dari Mojokerto. Kami ini perempuan mandiri, gak cengeng, ya kan?." Renata begitu bangga saat dirinya dan Ilma bisa mandiri kuliah jauh dari keluarga.


"Lo pulang juga, Il?" tanya Elea juga. Kebetulan Elea kan anak Semarang juga, jadi ia hanya menginap semalam saja di rumah Sita.


"Pulanglah, di sini gue sendiri gak ada kalian gak ramai."


"Pretttttt." Jawab Renata dan Elea kompak.


Memang Ilma yang sering pulang kampung dibanding mereka berempat, bolak balik naik pesawat Surabaya-Jakarta mah dijabanin sama Ilma, horang kayahhhhh.


Siang itu juga, Renata terpaksa diantar oleh Jea ke terminal, sedangkan Ilma katanya agak sorean saja pulang, atau besok pagi.


"Gue pamit ya, Sit. Sabar, gak usah nangis terus."


"Iya ,baweeelll."


Setelah berpamitan pada orang tua Sita, Renata menuju ke terminal untuk naik bus.


"Aku antar aja, ya. Atau aku sewakan travel ke Pacitan?" Jea masih usaha ternyata.


Renata tersenyum geli, menoleh ke Jea yang sedang fokus mengemudi. "Apaan sih, orang aku sering pulang kampung sendiri juga."


"Biasanya naik apa kalau pulang kampung gitu?"


"Kadang bis malam, kadang pesawat turun Surabaya, kadang juga travel. Suka-suka deh."


"Naik mobil pribadi belum pernah kan?"


"Belum, emang siapa juga yang mau nganter Jakarta-pacitan, gemporrr dah tuh bemper kebanyakan duduk."


"Aku mau."


"Modus kali kak Jea!"


"Dibilangin serius juga gak percaya."


Renata tertawa pelan, "Boleh kapan-kapan deh. Sama anak-anak, nanti tak ajak ke pantai."


"Emang ada pantai ya?"


"Banyak banget, cuantik-cuantik dan masih belum terjamah."


"Yuk aku anterin aja sekarang."


"Idiihhh ogah, gempar dunia persilatan kalau Renata bawa laki-laki, dikira minta kawin kali."


"Ya Alhamdulillah dong. Nikah sama aku juga gak rugi-rugi amat."

__ADS_1


Renata cekikikan, nikah? sama Jea? Memang gak bakal rugi sih, kaya, tampan, calon CEO muda, kurang apalagi, boleh juga dipertimbangkan. he..he..he


drt..drt...ponsel Renata bergetar, kali ini panggilan video dari Wira Sableng.


"Taaaaaaaa," panggil Wira dalam video tersebut.


"Hem."


"Lo di mana?"


"Di mobil, mau pulang ke Pacitan gue."


"Ouh...sendiri?"


"Iyalah, Ilma dan Elea masih di rumah Sita. Disuruh bokap gue pulang."


"Ta, ini masuk jalur bis mana?" tanya Jea di sela-sela obrolan video. Wira kaget, ada suara laki-laki di dekat Renata. Gak mungkin dong, pak sopir grab manggil hanya nama.


"Siapa, Ta?"


Renata tak menjawab Wira, ia meladeni Jea sebentar dan menunjukkan jalur bis yang menuju rumahnya.


"Ta, Renata Adzkiya."


"Apa sih, Wir. Bentar gue lagi jelasin jalur bis tahu."


"Lo diantar siapa sih, grab?"


"Gue."


Wajah Jea tiba-tiba mendekat ke ponsel Renata, sontak saja Renata melotot, begitupun dengan Wira.


"Ta, kok Lo semobil sama dia berdua juga." Wira mulai geram.


"Terpaksa Wir, gak ada yang nganter gue ke terminal juga."


"Apa salahnya sih gue ngantar Renata," meskipun pelan, gerutuan Jea masih terdengar jelas oleh Wira.


"Je, gak usah sok baik. Gue tahu Lo juga incar Renata, kan! Gue tahu modus Lo, dan Lo Ta, gue kecewa sama Lo. Selama ini Lo gak mau berdua ama cowok, tapi udah berapa kali Lo berdua sama Jea, cowok yang baru Lo kenal." ?


"Wiraaaaaaaaaaaaaaaa, gak usah ngegas gitu. Gue kan udah bilang terpaksa. Gak mungkin kan gue pesan grab, apa kata keluarga Sita kalau ada Jea yang bisa antar. "


"Sejak kapan Lo dengar kata orang,"


Tut


Renata kembali memutuskan sambungan sepihak, namun Wira kembali menghubunginya, dan Renata juga tidak mengangkatnya. Ia yakin Wira marah, karena memang hanya dengan Jea, Renata bisa semobil dengan cowok. Bahkan Wira pun tidak pernah semobil berdua dengan Renata.


Kecewa, itulah yang dirasakan Wira. Selama hampir 4 tahun mengejar cinta Renata, ia tak dapat, dan sekarang baru satu bulan Renata kenal Jea, dia berani semobil berdua dengan cowok itu. Tidak adil sekali, protes Wira.


"Udah Kak aku turun di sini saja! makasih."


Jea mengangguk saja, "Hati-hati."Ucapnya kemudian, membiarkan Renata pergi. Setelah mendapat panggilan video dari Wira, mood Renata anjlok, dan Jea tahu pasti keduanya bertengkar.


"Perjelas hubungan kalian, biar tidak ada orang yang mengharap lebih." Begitu pesan Jea pada Wira usai mengantar Renata.


******


CALON ORANG SUKSES


Bian: link pendaftaran magang udah aktif guys.


Ola : Ta, Lo magang di mana??

__ADS_1


Renata : Rencananya sih di Wijaya property aja,


Ola : Gue di perusahan pacar gue neh, siapa yang mau ikut


Ceca : Gue disuruh di perusahaan Abang ipar gue.


Bian: anak sultan batu bara magang di mana??


Ola : atannnnn? ( Atan\= anak sultan)


Wira keluar


Ceca: Wah Atan marah woyyyyy


Ola : Atan Lo lagi PMS? sensi amat


Bian: Ada masalah anaknya kemarin, misuh-misuh terus kerjaannya.


Ola : Ta, Wira sableng Lo apain?


Ceca : ditikung kayaknya, lihat dia semarah ini.


Renata: lagi PMS kali.


Bian : Ya kali PMS sampai keluar grup gini


Ola : Ouh gue tahu, dia mau konsen sama bokapnya yang mau kawin keempat


Ceca: Ya Allah, paaaakkkk. Gue satu aja masih belum situ udah empat,


Ola : hush....rizeki bapaknya si sableng tau, banyak istri banyak reziki


Ceca : salah woyyyyyy, banyak anak banyak rizeki


Bian: banyak istri meriang kali, minta belanja bulanan terussssss


Ola: Wah Bian bagusss, tanda-tanda suami setia pada satu istri.


Bian: iyalah, gue mau nyari istri anak tunggal, bapak dan ibunya udah tua, warisannya banyak, biar gue gak usah capek kerja.


Ola: Astaghfirullah


Ceca: mati masuk surga, enak banget hidup Lo yaaaannnn.


Bian : salah satu usaha adalah dengan doa, siapa tahu terkabul.


Ceca: calon mertua lohhh rugi dapat menantu modelan kayak Lo tahu gak, belum apa-apa udah mikir warisan, astaga anak Jaka gueeeee, bengek sekali


Renata: kenapa Lo gak nikah sama nenek-nenek lincah dan super tajir sekalian.


Bian: alot dodoooolll


Ola : gesrek Lo Yan!


Ceca: Halah...ngomong doang Lo, Yan. Kia yang masih piyik aja bikin lo bucin, dasar!!!


Bian : Eits...jangan salah Kia, anak tunggal, warisannya banyak kali.


Ceca: kok Lo tahu?


Bian: habis interview 😂😂😂😂😂


Renata: kehabisan obat neh anak

__ADS_1


Ola : lagi step


Obrolan unfaedah itu berlanjut tanpa menyadari ada anggota yang lagi ngambek. Maaf babang Wira, sahabat somplak Lo kagak peka.


__ADS_2