CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
LAHIR


__ADS_3

Pagi ini, Helwa, mahasiswi jurusan kedokteran ikut meramaikan pemeriksaan gratis di posko KKN, dibantu dengan Filza dan Hani, Mahasiswi keperawatan yang bertugas mencatat rekam medik para warga. Program DESA SEHAT merupakan program di Minggu ketiga.


Renata, Kikan, Jea dan Cipul ikut meramaikan dengan berbagai tugas. Jea dan Cipul bagian dokumentasi, Renata dan Kikan bagian mencatat nama warga yang datang.


"Ki, ya ampun tuh ibu-ibu bahenol amat yak." Sesi julid mode on dari Renata. Pandangan Kikan beralih ke ibu-ibu yang tambun sembari membawa anak balita digandengnya plus anak bayi dalam gendongan.


"Itu mah bukan bahenol lagi, Ta. Subur banget dah. Lihat aja anaknya masih balita sudah punya adik, hobi bikin anak kali ya!"


"Hush Lo kata kucing hobi bikin anak. Yang bener aja lah, Ki!"


"Ssssttt....suara kalian keras banget kalau mau gunjing orang." Interupsi Cipul yang membuat keduanya kincep, hufh bagaimana kalau sampai terdengar bisa-bisa keduanya digibeng, muoodyyyaaaarrrr.


"Coba hadap sini semua, senyum ya!" pinta Jea yang siap membidik dengan kamera. Cekrek, dokumentasi untuk bagian pendaftaran sudah dapat. Kini masuk ke ruang pemeriksaan. Pesona Helwa, calon dokter muda memang tak perlu diragukan lagi. Dia sungguh cantik, terlebih memakai jas putih, alamaakkk, cantik sangat dah.


"Poto-poto aja, gak usah bengong gitu natap dokter Helwa," sindir Renata saat melewati Jea.


"Calon dokter, Ta!"


"Eh iya masih calon ya!"


"Lo mau gue Poto?"


"Enggak, terimakasih!" ketus Renata.


"Calon dokter Helwa, ini daftar warga yang mau periksa ya."


"Makasih ya, Ta! Manggilnya biasa aja, Helwa kali."


"Udah cantik, baik, sopan lagi. Kalau gue cowok pasti gue naksir kamu neh."


"Bisa aja,Ta!"


"Eh bener kali, noh siap-siap dicuri potonya ma pak ketua."


Helwa terkekeh, "Jangan ah, Ta! takut dijambak."


Renata pun langsung tertawa, kejadian beberapa hari yang lalu masih menjadi obrolan hangat di kalangan mahasiswa KKN. Sejak kejadian itu, Jea juga merasa insecure. Padahal dia juga gak salah. Setiap ada cewek yang mendekati Jea, dan itu pasti berhubungan dengan KKN, selalu saja ada suara yang nyerocos 'jangan dekat-dekat nanti dijambak.'


Pengen ketawa tapi takut dosa, padahal yang hobi Jambak udah get out.


"Ibu mau periksa juga?" tanya Renata sesaat kemudian.


"Ini sudah berapa bulan, Bu?" lagi Renata bertanya, penasaran juga dengan perut sebesar itu.


"9 bulan, sudah waktunya lahir si Mbak, cuma belum kontraksi."


Renata mengangguk, kemudian mulai mencatat nama, keluhan yang dialami Bu Minah, wanita hamil itu.


"Silahkan duduk di sini saja dulu, Bu. Nanti dipanggil sesuai giliran." Ujar Renata sambil memapah Bu Minah, ia tak tega membiarkan wanita dengan perut sebesar itu.

__ADS_1


"Mbak..." panggil Bu Minah.


Renata hanya mengerutkan dahi, karena pada pelipis Bu Minah ada buliran keringat sebiji jagung. Wajahnya memucat, dan tangannya bergetar.


"Iya ada apa, Bu?" Renata mencoba menggenggam tangan Bu Minah, namun tak berselang lama, "ASTAGHFIRULLAH, SAKIT!" pekik Renata.


"Ada apa, Ta?"


"Helwa cepet ke sini, ibu ini mau melahirkan." Masih saja Renata berteriak, tangannya menjadi sasaran empuk dari cakaran Bu Minah.


"Kita ke klinik terdekat, peralatanku gak lengkap. Kak Jea, bawa mobilnya ya. Pul, bantu angkat," titah Helwa.


Saat Bu Minah dibopong, beliau masih menekan tangan Renata, alhasil ia pun ikut ke rombongan. Kontraksi semakin kuat, cengkraman pada Renata juga semakin kencang.


"Kak Je, CEPETAN!!!!!


"Sabar, Ta. Ini juga udah kecepatan penuh."


"Bu tarik nafas ya Bu!" Helwa memberikan instruksi sambil mengelus punggung Bu Minah, ia juga sempat mengecek denyut nadi Bu Minah.


"Aduuuuuuhhh," rintihan Bu Minah sekaligus mencakar kembali tangan Renata.


"Ya Allah salah apa aku, ya Allah Bu sumpah sakit Bu. Suami ibu dimana sih, ya Allah. Gak ikut buat tapi ikut merasakan sakitnya..... astaghfirullah...ya Allah.....sakiiiitttt...lepassss Bu. Ya Allah ...." semakin merancau saja Renata. Berkali-kali juga dia membentak Jea agar segera sampai ke klinik.


Ciiiiittttttttt


Tak butuh waktu lama, seorang bidan membawa kursi roda dan mengambil alih Bu Minah dibantu dengan Helwa. Entah punya dendam apa ibu itu pada Renata, saat bidan datang, cengkraman di tangan Renata terlepas.


"Ya Allah sakiitttt." Rintih Renata di depan mobil.


"Kita obati luka kamu yuk," ajak Jea. Tanpa sadar Jea pun menggenggam pergelangan tangan Renata. Mungkin rasa sakit di tangan cukup dalam, hingga tak ada kekuatan untuk protes pada Jea.


Tiga plester diletakkan pada titik terparah di tangan Renata, perih. Cukup perih, untung tidak sampai robek, jadi tidak perlu dijahit.


"Masih sakit?" tanya Jea dengan tatapan penuh kekhawatiran. Mereka berdua menunggu Helwa yang membantu persalinan ibu tadi.


Renata hanya mengangguk, ia sudah lelah berteriak. "Mau minum lagi?" tawar Jea menyerahkan botol air mineral. Lagi-lagi Renata mengangguk dan segera meneguknya.


"Kita tunggu Helwa ya, kasihan kalau kita tinggal nanti."


Sekali lagi Renata mengangguk, Jea sampai takut, tidak biasanya Renata bisa mingkem lama.


"Mau makan? Di depan ada warung soto. Biar kamu punya tenaga."


Sekali lagi Renata mengangguk, dia pun dipapah Jea. Sebenarnya sakit di tangan masih bisa ia tahan, hanya saja otaknya masih belum bekerja secara maksimal setelah berkutat dengan wanita kontraksi tadi.


Dua mangkuk soto dan dua gelas teh hangat sudah terhidang di meja. "Makan, Ta, atau gue suapin."


"Gak perlu!" akhirnya Renata bersuara setelah meneguk teh hangat, sepertinya ia sudah mulai sadar.

__ADS_1


"Ada yang masih sakit?"


"Enggak, tanganku juga udah gak terlalu perih. Cuma aku masih shock aja." Jelasnya sambil menatap mangkuk soto yang masih mengepul.


"Dimakan, Ta!"


Keduanya pun berkutat pada soto, tak ada pembicaraan lagi. Meskipun warung ramai dengan pengunjung, kedua mahasiswa itu hanya diam dan menikmati soto.


"Amazing ya orang mau lahiran itu."


Renata sudah pulih dari keterkejutan kontraksi. Setelah membayar makanan Jea mengajak Renata kembali ke lobi klinik, siapa tahu Bu Minah sudah melahirkan dan Helwa sudah selesai bertugas juga.


"Iya, aku juga lumayan panik. Gak teriak kesakitan, tapi cengkeramannya bikin kamu histeris."


Puk....


Renata memukul lengan Jea pelan. "Malu tahu."


Jea terkekeh, ternyata gadis cerewet ini punya malu juga. Sebenarnya kondisi di dalam mobil tadi, lucu-lucu menegangkan. Si ibu diam mengatur nafas tapi cukup kuat memberi tanda pada tangan Renata, sedangkan Renata yang tidak merasakan kontraksi justru berteriak kesakitan. Ingin tertawa tapi kasihan, ingin membantu melepaskan cengkraman tapi nyetir mobil. Duh....


Cklek


Pintu utama klinik terbuka, sosok Helwa muncul dengan senyum lebar. "Kalian masih di sini?"


Keduanya hanya mengangguk. "Gimana?" Renata yang memulai bertanya, meskipun ada rasa jengkel pada Bu Minah, ia masih penasaran juga dengan kondisi beliau.


"Alhamdulillah sudah lahir, selamat, ibu dan bayinya sehat "


"Alhamdulillah, gak sia-sia gue jadi korban."


"Cantik, Ta. Kayak kamu."


" Kok kayak aku?"


"Karena kamu sudah ikhlas menemani perjuangan ibu melahirkan."


"Ikhlas dari Hongkong, tangan gue nih cacat gara-gara cakaran. Udah ah, yuk pulang."


"Kalian duluan saja, aku menemani Bu Minah dulu kasihan kalau tidak ada yang menjaga."


"Beneran?" Jea memastikan, karena bagaimanapun Helwa juga anak buah KKN nya.


"Iya, aku gak pa-pa kok, kalian pulang saja dulu."


Keduanya pun mengangguk dan segera pamit undur diri.


/Selamat jadi ibu, Bu Minah, batin Renata seiring jalannya menuju parkiran.


/Terimakasih Bu Minah, karena ibu saya ada kesempatan semobil dengan Renata lagi, gumam Jea girang, di dalam hati juga.

__ADS_1


__ADS_2