CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
GANTUNG


__ADS_3

Setelah pulang dari Puncak, hubungan Neva dan Daffa tak berjalan mulus, kesibukan Neva yang berkutat pada skripsi. Mengejar target wisuda di bulan April, benar-benar mengabaikan keberadaan Daffa. Dalam menjawab WA pemuda itu pun Neva terkesan singkat padat dan jelas serta dingin. Bahkan pernah menjawab pesan Daffa jam setengah 12 malam, setelah menyelesaikan revisian skripsinya.


"Lemes amat, Kak?" tanya Renata yang kebetulan hari itu ikut ke kantor Jea. Dengan dress selutut warna tosca, Renata tampak cantik. Pipinya yang mulai chubby dan perutnya semakin membesar, dia terlihat semakin mempesona.


"Neva kayaknya gak mau sama gue, Ta!" ucap Daffa sembari duduk di sofa, berdampingan dengan Renata, membiarkan pelototan Jea yang tak rela ada laki-laki di dekat istrinya, yah meskipun gak terlalu dekat juga sih, cuma gak rela aja. "Awas bola mata bos copot, biasa aja kali, udah mau jadi bapak masih aja cemburu." Gerutunya lalu menghela nafas berat.


"Sebenarnya kak Daffa cinta gak sih dengan Neva?"


"Kenapa terkesan gue gak serius gitu?"


"Bukan, aku lihatnya kurang usaha aja."


Daffa menghela nafas berat lagi, "Gue tuh maju mundur tau, tiap hari gue coba kirim WA ke dia, jawabnya sak uprit, mau gue pancing percakapan takutnya malah dia ilfeel sama gue."


Renata tertawa, "Sabar dulu aja, kak. Dia lagi garap skripsi, katanya mau wisuda bareng aku."


"Skripsi sih skripsi, tapi masa' balas wa aja gak bisa. Kamu kan juga pernah skripsi, tapi bisa kan kekepan sama dia."


Jea yang disindir hanya meliriknya sekilas lalu kembali ke dokumen yang diserahkan Daffa barusan. "Kenapa jadi bahas aku sih, beda kali."


"Bedanya?" ulang Daffa.


"Aku punya kewajiban melayani suamiku, sedangkan Neva gak balas juga gak masalah, belum jadi apa-apa."


"Bentar deh, Ta. Kamu niat gak sih bantu gue!"


Renata cekikikan, masih menatap wajah frustasi Daffa, "Niatlah."


"Makanya bantu gue!"


"Usaha sendiri napa, biar dia tahu perjuangan Lo!" bukan Renata yang menjawab, tapi si sinis Jea.


"Suami Lo ngeselin."


"Ihhh bener kali, kak Daffa usaha, ke kos Neva bawain makanan, atau apalah."


"Kalau gak mau nemuin gue,"


"Belum apa-apa, udah nyerah. Situ Cowok gak sih!" tantang Renata yang gemas juga, perjuangan yang dimaksud Daffa hanya kirim WA, gak dibalas langsung menganggap Neva gak mau sama dirinya. Cemen.


Daffa tiba-tiba berdiri, mau menurunkan sleting celananya, sontak saja Renata berteriak dengan menutup matanya, Jea spontan melempar box tissu dari meja kerjanya. Si pelaku hanya tertawa saja, "Makanya jangan remehin gue."


Renata berjalan mendekati Jea, kejadian itu membuat dia ogah berdekatan dengan Daffa lagi. "Gue gak mau bantu kak Daffa." Mode ngambek on.


"Sukooooorrr!" Jea tak kalah nyolot.


"Seraaaahhhhh!" Daffa yang sudah frustasi memilih keluar dari ruangan bosnya itu. Mungkin dulu dengan sang mantan, dirinya tak perlu susah untuk PDKT, ya memang beda cewek beda juga karakternya. Kali ini yang dihadapi Neva, tipe cewek yang gak peka dan juga gak centil menerima WA dari cowok. Jutek lagi.


"Kamu ada meeting gak siang ini?" tanya Renata yang sudah kembali duduk manis di sofa.


"Kenapa?"


Sambil mengelus perutnya yang sudah terlihat membesar, dia membuka sandi ponselnya. "Aku mau ngajak makan siang Neva."


"Di mana? Cafe atau Restoran aja, jangan di pinggir jalan, ingat kamu hamil. Jaga kebersihan makanan juga, nanti pilih makanan yang sehat-sehat, ke sananya diantar sopir kantor aja."


"Ya Allah, Yang. Aku masih ngomong satu kalimat loh." Renata baru kali ini dibuat melongo dengan Jea yang ngomong seperti kereta api, nyerocos tak tertahan.

__ADS_1


Jea meringis, ekspresi sang istri cukup menggemaskan, ia pun mendekati sang istri. Mencium pipinya yang chubby, lalu mengelus perut Renata. "Sayang kalian banget."


"Kita berdosa tau Yang,"


"Kenapa?" tanya Jea dengan meletakkan kepalanya di badan sofa, tak melepas pelukan pada Renata.


"Kita sering pamer kemesraan pada Kak Daffa, dua pengen kali kayak kita."


Jea tertawa, mencubit lagi pipi sang istri, " Kamu lucu."


"Ih...beneran kali. Kasihan dia."


"Emang Neva gak nanggepin dia sama sekali?"


"Aku gak tau, toh aku juga jarang WA sama dia. Sibuk sama kamu."


Oh Renata sepertinya salah bicara, kegiatan mengasyikkan antara dirinya dan sang suami dibahas, membuat signal dalam diri Jea langsung bangkit.


"Gak usah mupeng, jatah kamu sudah overload." Tolak Renata sembari menutup wajah Jea dengan telapak tangannya.


"Nolak dosa tau." Jea pantang menyerah, diturunkannya tangan sang istri, berusaha mencuri ciuman pada bibir sang istri.


"Yang, jangan gini dong. Kamu tuh pikirannya bisa gak sih gak belok ke sana."


"Belok ke mana?" goda Jea sambil mencium leher sang istri.


"Yang, aku gak mau!"


Jea tertawa, "Enggak, aku juga lagi bahan, kerjaanku banyak!" ucapnya lalu menuju kursi kebesarannya. Kembali fokus pada laptop dan beberapa dokumen.


Tok...tok...


"Ada Pak Ito, Pak!" jelas Dina.


"Iya, bilang tunggu di ruang meeting saja. Lima menit lagi saya ke sana!"


"Baik."


Memang kalau ada Renata, Jea meminta tamunya menunggu di ruang meeting saja, tidak mau kolega bisnisnya menatap sang istri yang makin cantik dengan kehamilan yang menginjak 6 bulan ini.


"Nanti jam 11, Pak Sam akan mengantar kamu." Ucap Jea yang memakai jasnya, akan menemui Ito.


Renata hanya mengangguk, dan fokus pada ponselnya menghubungi Neva, sekaligus menentukan kafenya.


Cup


Jea mencium puncak kepala sang istri, "Kamu gak salam ke Ito?" goda Jea.


"Cih ..kalau aku salam ntar ada yang cemburu, malas deh, biar aku wa aja kalau aku ada perlu."


"Gak boleh."


Renata tertawa, "Makanya gak usah cari masalah, punya level cemburu akut aja sok sok an."


"Ya siapa tahu."


"Udah sonoh!" usir Renata yang geli juga dicium terus oleh Jea. Bos kok kelakuannya kayak gini, mana sudah ditunggu tamu lagi.

__ADS_1


Tepat jam 11 siang, Renata sudah berada di mobil bersama Pak Sam menuju cafe, Neva juga sudah mengabarkan OTW.


"Pak Sam nanti saya dijemput suami saya, terimakasih banyak pak." Ucap Renata sembari membuka pintu mobil, padahal Pak Sam sudah keluar dari mobil untuk membukakan pintu mobil istri majikannya.


"Baik, Nya." Jawab Pak Sam sambil menganggukkan kepala tanda hormat.


Renata melangkah dengan pelan mencari tempat yang strategis untuk berdiskusi dengan Neva, oke kali ini ia akan menanyakan secara detail bagaimana perasaan Neva terhadap Daffa. Bukan ikut campur, hanya saja rasa kasihan pada Daffa yang terlihat frustasi, wajarlah di usia Daffa ia menginginkan calon pendamping. Berhubungan dengan perempuan pasti niatannya juga serius, terlebih melihat Jea membina rumah tangga dengannya yang cukup harmonis, dan lucu.


"Udah lama, Ta?" tanya Neva yang menarik kursinya dengan meletakkan draft skripsinya di kursi lain.


"Barusan, Va! Capek ya?" Renata melihat Neva yang penat sekali.


"Banget, gue dapat dosen ya Allah rempongnya." Ia melambaikan tangan memanggil waiters untuk segera memesan makanan.


"Nikmatin saja, Va. Gue kemarin juga sampai jungkir balik tau. Gue juga ngebut, takut banget kalau gak segera selesai, hamil gitu."


"Lo dibantuin Jea, kan?"


"Idih.....diganggu iya, Lo tau sendiri kemesuman suami gue gimana!"


Neva cekikikan, mengangguk juga. Di depan umum saja, main sosor aja, gimana di dalam kamar.


"Sekali-kali tuh jalan, Va. Buat refreshing, biar gak spanneng, kayak gini. Jangan di kos mulu."


"Cih...gue jalan sama siapa, iya Lo, ngrengek sama suami." Cibir Neva yang langsung menyeruput milkshake mangga.


"Daffa gimana?" Renata mulai masuk ke dalam misi perjodohan mereka.


"Kenapa?" Neva curiga ada udang di balik pertemuan mereka siang ini.


"Lo siap dilamar kapan?"


"Gimana ya, Ta. Gue belum sreg sama dia, kaku banget kayaknya."


"Enak kali kalau kaku, lembek mana bisa masuk "


Sontak saja Neva menonyor kening ibu hamil itu, pikiran Neva langsung traveling pada hal yang tidak patut dipikirkan. Renata cekikikan, heran juga dia bisa punya bahasa ajaib seperti itu.


"Daffa itu baik Lo, Va. Sopan juga, Lo belum kenal aja. Tapi Lo pernah gak sih terbersit jadi pendamping kak Daffa."


Neva menggeleng. "Gue lepas kayaknya, Ta. Gue belum tertarik sama Daffa."


"Gak berniat bilang sama dia, biar dia gak mengharap Lo!"


"Gitu ya?"


"Sikap Lo yang kayak gini tuh PHP loh, gak baik tau."


"Gue juga merasa kayak gitu, gue sebenarnya gak mau menjalin hubungan dengan siapapun dulu, Ta. Gue mau berkarier, nikah gue ya mungkin usia 27 tahun lah."


"Ya kasihan Daffa juga sih, kalau harus nunggu 5 tahun, tapi kalau dia mau ya gak masalah."


"Tapi gue juga gak deg deg kalau dekat sama dia."


"Kalau lihat dia telanjang, Lo pasti deg deg."


"Astaghfirullah, Ta. Anak perawan gue gini amat omongannya."

__ADS_1


Renata tertawa, "Ya udah segera ngomong gih, biar jelas. Jangan menggantung perasaan orang, gak baik."


" Iya bawel."


__ADS_2