
Lima minggu sudah, mahasiswa KKN berkutat menyelesaikan berbagai macam program kemasyarakatan. Suka, duka, canda, tawa menemani perjalanan calon sarjana seperti mereka. Meski sempat ada insiden Nadya-Maya, over all semua berjalan lancar.
Laporan individu KKN juga rampung, setiap mahasiswa saling mengingatkan akan tanggung jawab setelah KKN berakhir. Siang ini, rombongan mahasiswa KKN berpamitan pada pak RT, beliau masih tetap sama ramah dan menganyomi.
"Nanti kumpul-kumpul lagi ya, grup KKN gak usah bubar!" Titah Renata sebelum masuk ke mobil Wira.
"Beressss saaaayyyaanngggg!" Balas Agus sebelum melajukan motor gedenya.
"Hemmmmmm!" Renata kincep, geram juga pada Agus.
Mobil Wira melaju sedang, di dalam mobil itu ada Renata, Kikan dan Helwa. Hanya Wira saja yang cowok, bukan malah minder eh malah nyerocos kemana-mana, apalagi sama Helwa. Sepertinya ada signal-signal PDKT.
"Kalau butuh jasa desain ruang praktik, Wa, hubungi gue yah!" salah satu obrolan receh Wira pada Helwa, ketahuan banget kalau sedang PDKT
"Masih lama, Wir. Belum koas juga, kepikiran juga mau ambil spesialis." Jawab Helwa malu-malu, kelihatan sekali rona wajahnya jika dia lagi didekati Wira.
Apa kabar Kikan??? Sejak mobil berjalan, dia merem sampai mangap, beuh gak malu sekali. Yah meskipun hanya Wira, cowok setengah waras sih.
Sedangkan Renata, dia hanya bermain ponsel dengan grup Lorong 13, ada pembahasan serius, Sita pelakunya.
"Kalau sama Renata, desainnya bisa gratis. Kemarin dia bilang gitu."
Wira sontak menyikut lengan Renata kesal.
"Hah?? apa??" Renata gelagapan.
"Lo ngapain sih hp-an mulu?" tanya Wira mengalihkan topik pembicaraan dengan Helwa tadi.
"Gue mau liburan."
"Ke?"
"Belum dipastikan, tunggu keputusan anak kos gue."
"Sama siapa?"
"Idiihhhh kepo banget Lo, Wir." Cibir Renata.
"Tinggal jawab doang apa susahnya si, Ta!" Wira kesal, meskipun lagi PDKT dengan Helwa, ia masih perhatian dengan sahabat rasa pacarnya itu. Apalagi ini liburan, mau ikut juga lah. Toh Wira juga kenal beberapa anak kos Renata.
"Renata kok gak suka sih diperhatikan Wira kan enak banget disayang pacar sendiri."
Sepertinya Helwa juga menganggap ada perhatian lebih antara Wira dan Renata ini. Biasanya dia hanya mendengar bisikan dari anak KKN saja, tapi kali ini Helwa melihat dengan mata kepala sendiri, Wira sayang banget dengan Renata.
"Bukan pacar, Wa. Wira milik umum."
__ADS_1
"Ya Allah, lo kata gue ponten, Ta! Milik umum, sembarangan." Wira menonyor pipi Renata dengan tangan kirinya, kesel.
"Lah emang masih milik umum kan Wir, bukan punya gue."
"Seraaaaaaahhhh."
********
"Assalamualaikum sayaaaaaaaaaaaaang." Teriak Renata sesaat memasuki lorong 13. Sita, Ilma dan Elea menoleh ke sumber suara.
"Weyyyyyy, anak desa udah pulang." Ilma langsung memeluk Renata. Kangen juga sama mbak kos yang satu ini.
"Nyalon, yuk." Langsung saja Renata mengajak pasukan lorong 13 hang out ke salon.
"Mbak Neva pulang kapan?" Sita yang siang itu sengaja berada di kamar kos, biasanya kelayapan dengan pacar barunya, si Vino.
"Katanya sih ntar jam 4 nyampe kos." Jawab Renata sambil menggeret kopernya ke kamar.
Hening
Mereka kembali ke aktivitas sebelum kedatangan Renata, nonton film. Sedangkan Renata mulai membersihkan diri dan segera bobok syantiiikkkkk.
ASTAGFIRULLAH
Jeritan Sita dari kamar samping cukup nyaring, Renata tergagap bangun. Dilihatnya Elea, Ilma sudah merangkul Sita. Gadis itu memegang ponsel di tangan kirinya. Linangan air mata menggenang di pipi Sita.
"Sssttt!" Elea hanya melirik Renata dan meletakkan jari tulunjuk pada bibirnya. Menyuruh diam. Renata mendekat, tidak bertanya lagi, biarlah dia mengetahui apa yang terjadi dari obrolan di ponsel itu.
"Kabari aku, Mbak!" titah Sita kepada seseorang di seberang sana, kemudian mematikan sambungan.
"Mbak Renata!!!!!" tangis Sita kembali pecah, dia langsung memeluk Renata dengan isakan tak tangis yang membuat orang lain ikut menangis juga.
Ilma pun sudah berlinang air mata, begitu juga dengan Elea, ada apa ini? baru juga sejam Renata terbuai mimpi, eh sekarang ada kejadian yang tidak mengenakkan.
"Ada apa, Sut?" Renata masih belum ngeh dengan keadaan ini. Ia menepuk punggung Sita, supaya lebih tenang.
"Ilyas, Mbak!" Sita hanya memanggil nama adiknya, kemudian terisak lagi.
"Tissue, Sut!" Ilma memberikan tissue pada Sita.
sroottt, bunyi nyaring dibalik tissue Sita. Yassalam, anak gadis yang lagi bersedih, kok bikin ketawa juga dengan hidungnya.
"Ilyas kecelakaan mbak..hu..hu..hu...."
"Innalillahi," jawab Renata spontan.
__ADS_1
"Belum meninggal mbak!" sahut Sita, masih dengan isakan tangis.
"Eh maksud gue, kalau ada hal yang tidak mengenakkan memang nyebut gitu kali, Sut."
"Ya tapi pikiran gue langsung ke situ mbakkkkkk,"
"Iya, iya, sori deh! Sekarang keadaan Ilyas gimana?"
"Ma...sih...di ICU, kepala mbak yang parah, ya Allah, adik gue, hu...hu...hu."
Drttt....drttt ...ponsel Sita bergetar, semua mata menatap layar itu. My love Vino, tertera di layar. Hidung Renata langsung membesar, Ilma langsung mendengus kesal, sedangkan Elea langsung nyeplos 'hadehhhh'. Nama yang sangat tidak diharapkan untuk saat ini.
"Masih belum ada kabar"
"Iya nanti aku kabari."
"Iya aku gak nangis"
"Ada Mbak Renata, Ilma dan Elea "
"Gak usah kak, nanti aku hubungi lagi. Iya... Assalamualaikum." Sambungan telpon diputus.
"Sit...." panggil Winda, anak kos kamar bawah, yang hanya ditoleh sekilas oleh penghuni kamar Sita, karena ponsel Sita bergetar lagi dan tertera 'Mbak Sulis'
"Iya, mbak, gimana?" tanya Sita secepat mungkin menjawab sambungan dari ART rumahnya. Hanya hitungan detik saja, ponsel Sita jatuh. Matanya sayu, air mata menetes tiada henti, tatapannya sekitika kosong.
Elea yang cukup dekat dengan keluarga Sita mengambil alih sambungan telpon. Elea pun ikut menangis, gadis itu hanya menjawab iya, iya dengan mengangguk.
"Kamu pulang sekarang ya, Sut. Aku siapin barang-barang kamu." Ujar Elea setelah mematikan sambungan telpon.
"Sut...." Renata memegang pundak Sita, dia menoleh dan langsung menjerit histeris.
"Adik gue mbak, adik gue meninggal mbak, siapa yang nemenin gue nanti mbak, astaghfirullah mbaakkkkkkk."
Renata memeluk Sita, berusaha sekuat tenaga menenangkan Sita seperti orang kesurupan. Kakinya terus dihentak-hentakan, tangisannya semakin keras, tangannya dingin. Sungguh pemandangan yang tidak patut untuk dilihat.
"Sabar, Sut. Sabar, Lo harus tabah, harus kuat demi orang tua Lo."
"Hiks....hiks....adik gue mbak, ya Allah!" hiks ..hikss...
Renata sebagai kakak kelas di situ, menjadi sandaran bagi kerapuhan Sita, memeluk sahabatnya hingga tenang, meski isakan masih ada. Rancauan tak terima atas kejadian ini sudah berganti istighfar.
"Kamu hubungi Vino dulu, El. Mau ikut ngantar Sita juga apa enggak." Saran Ilma, dan diangguki Renata.
"Coba hubungi Neva, udah sampai mana dia, jadi pulang gak, perlu kita tunggu juga?" titah Renata pada Ilma.
__ADS_1
Beginilah nasib anak rantau yang mengejar ilmu jauh dari rumah, kalau ada keadaan darurat tidak bisa menemani keluarga, padahal saat ini kedua orang tua Sita pasti shock juga. Anak bungsu mereka telah tiada. Innalillahi