CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
RESEPSI


__ADS_3

Dengan kekuatan uang semua beres dalam sekejap. Undangan cetak dan virtual beres dalam waktu 18 jam, yang cetak hanya 500 undangan. Baju pengantin Renata minta yang simple, dan tidak terlalu terbuka bagian atas dan jangan press body. Ada rasa insecure dengan bodynya yang tidak terlalu berisi. Catering sudah beres. Gedung? Pakai tanah lapang di kawasan rumah Jea, karena konsepnya outdoor dan durasi hanya 3 jam sesuai permintaan Renata.


Tempat resepsi ini ada perdebatan Renata dan Mama, pasalnya mama menginginkan ballroom hotel milik keluarga mama, tapi Renata tidak mau. Gratis padahal. Ia lebih memilih tanah lapang kawasan perumahan karena ingin didoakan para tetangga sekitar juga. Oke, mama mengikuti.


Meski tanah lapang, WO yang bertugas langsung merubah tanah lapang itu menjadi sebuah tempat pesta yang wah.... layaknya di gedung. Renata dan Jea yang mengecek lokasi dan dekorasi berdecak kagum dengan konsep mama yang pilih.


"Masya Allah bagus banget!" Ucap Renata sambil menangkup kedua pipinya, senyum manisnya terus terlihat. Semangat untuk mengadakan resepsi langsung meningkat, tidak seperti kemarin.


"Suka?" tanya Jea jahil.


"Banget!" Renata mengangguk dengan semangat.


"Gak gratis loh!" Goda Jea dan berhasil membuat Renata mengendus kesal, heran juga tiap detik, tiap ada kesempatan selalu saja belok ke 'situ'.


"Iya tahu." Jawabnya jutek.


"Tiga kali sehari ditambah vitamin pagi dan sore." Ujar Jea dengan merangkul pundak Renata menyusuri setiap titik tempat resepsinya.


"Ngomong sama dokter!" ketus Renata kesal. Keduanya mendekati mama yang berlagak seperti mandor.


"Ini tendanya kapan dipasang?" tanya Mama pada salah satu petugas WO.


"Malam sebelum hari H, Bu, takut kalau hujan." Jawab laki-laki itu menjelaskan secara logis.


"Sebenarnya gak pa-pa di pasang sekarang, Mas. Nanti biar saya kasih penangkal!" Mama sekarang berlagak seperti ibu yang main terawang menerawang. Hadeh.


"Gimana caranya, Ma?" tanya Renata polos, tertarik juga dengan ide mama, karena dekorasinya sudah sangat cantik. Ada rasa sesal juga karena tidak melaksanakannya di gedung.


"Celana da**m kamu di lempar ke atas genteng." Jawab mama santai.


"Astaghfirullah!" pekik Jea. Renata hanya melongo langsung menundukkan kepala, sumpah malu. Sedangkan para pertugas WO ada yang batuk tak berhenti , cengar-cengir, ada juga yang cekikikan sampai mau jatuh dari tangga A.


Mama Jea amajing kalau kata Sita.


*****


Sehari sebelum resepsi ibu, bapak, Mbak Via( kakak Renata) beserta anak dan suaminya datang, tak lupa paman, pak de, beserta keluarganya. Semua naik pesawat dan ditanggung Jea. Sungguh sultan mantu pak Handoko ini.

__ADS_1


Di rumah Mama, selain keluarga Renata juga ada beberapa keluarga mama dan papa yang menginap, tapi tidak untuk keluarga Ceril. Setiap keluarga berkumpul dalam suatu acara, misalnya pernikahan, keluarga Ceril tidak pernah hadir, karena pasti menjadi bahan sindiran sanak keluarga.


Ponakan Jea yang lucu dan menggemaskan turut serta meramaikan rumah mewah mama. Ada salah satu ponakan Jea, namanya Revan, usia 6 tahun. Anak dari adik mama paling bungsu, Om Gilang namanya.


Revan sejak menginjakkan kaki di rumah itu langsung mencari Jea, dan nemplok. Ganteng banget, sedikit bule sepertinya.


"Eh Om, aku gak mau gendong Om. Udah bosen." Revan berusaha turun dari gendongan Jea. Anak yang tahun depan masuk SD itu sudah tidak cadel, dan ceriwisnya minta ampun. Apapun yang tidak masuk akal akan ditanyakan sampai mulut yang menjawab berbusa. he...he..,


"Trus mau digendong siapa?" tanya mama sambil memberikan segelas susu hangat untuk Revan."


"Kakak cantik itu!" tunjuknya dengan langsung berlari tanpa menghiraukan segelas susu kesukaannya.


Jea dibuat melongo, anak sekecil itu sudah bisa melihat cewek cantik? ya salam, jiwa centil menurun dari siapa nak, ck...ck.


"Tante....mau brownies juga!" tebar pesona pertama ala Revan.


"Eh adek ganteng ini siapa namanya?"


"Revan, Te. Anak papa Gilang. Tuh papa lagi ngobrol sama om Jeje." Anak kecil itu menyebutkan nama panggilan untuk Jea.


"Kata mama aku gak ganteng, Te. Tapi manis."


Renata tak kuasa menahan tawa, anak kecil ini sudah narsis banget, ditambah wajahnya yang malu-malu saat dipuji ganteng. Hem calon playboy kayaknya. he..he..


Jea mendekat, dari jauh memang ia memperhatikan interaksi keduanya. Ada rasa tergelitik ketika Renata tertawa dengan Revan. Ia langsung merangkul pundak Renata sambil menatap Revan.


"Ternyata kamu maunya sama Tante Renata, ya. Trus cuekin om Jeje!" Jea pura-pura ngambek pada Revan. Namun bukan itu fokus Revan yang tiba-tiba cemberut.


"Om kenal sama Tente Renata?"


Renata dan Jea langsung saling tatap. Merasa aneh dengan dengan pertanyaan bocah cilik itu. " Lah Tante Renata kan istri Om, yang mau kawinan kan om sama Tante Renata."


Lah bibir Revan langsung mewek, menangis kejer, dan mencari mamanya. "Tante cantikku diambil om Jeje, maaaaaa. Huaaaa."


Keduanya melongo. Beberapa detik kemudian Jea menyenggol lengan Renata, "Bahkan anak kecil pun bakal jadi sainganku."


Renata cekikikan..

__ADS_1


*******


Resepsi pernikahan Jea dan Renata dimulai pukul 10 pagi. Tamu dari pihak Renata maupun Jea sudah banyak yang datang, termasuk anak lorong 13, Ola dan Ceca. Mereka berperan menjadi bridesmaids, bisa dibayangkan betapa hebohnya mereka berkumpul. Selfi tak henti-henti, dari wajah senyum sampai bibir berpose pletot dijabani mereka. Bahkan Renata yang menggunakan gaun putih rancangan butik mama bisa jadi sengklek karena mereka. Aura princess pudar.


Renata dan Jea beriringan menuju pelaminan dengan tangan saling bertautan, sesekali menyapa para tamu dengan senyuman. Meski sudah menjalani pernikahan selama 2 bulan, keduanya terlihat masih seperti pengantin baru. Tampak bahagia.


Sesi foto keluarga dimulai, ada rasa haru ketika mengingat papa. Bahkan Jea sempat menyeka air matanya. Renata hanya menggenggam tangan Jea, sambil tersenyum.


Foto keluarga dari pihak Jea lancar, giliran keluarga Renata, ibu tiba-tiba tidak mau dekat dengan ayah. Heran dong, why???


"Kata orang kalau lagi mantu gitu, ibu dan bapak gak boleh berdekatan, takut kita hamil bareng."


Renata dan Jea melongo, apa maksudnya??


Cekrek


Sudah, foto dengan pihak keluarga Renata terabadikan, meski pose senyum terlalu dipaksakan setelah mendengar celetukkan ibu.


Si bapak berulah, memeluk Jea dan berbisik, "Ayo siapa cepat bikin istri hamil, kamu atau bapak." Beliau melepas pelukan dengan tertawa cekikikan. Sedangkan Jea menoleh ke Renata dengan tatapan melas.


Dengan keluarga beres, ganti dengan keluarga besar. Revan si piyik musuh baru Jea, menempel erat dengan Renata, bahkan saat foto pun dia dengan tuxedonya berhasil menggeser posisi Jea. Dia tersenyum puas, memamerkan rentetan giginya saat kamera fotografer berhasil mengabadikan fotonya yang digenggam sang tante.


"Om Jeje, istrinya aku pinjam buat foto, wek!"


Jea hanya mengelus dada, anak sekecil itu siapa yang mengajari, ya Allah. Kalau bukan ponakan udah dipites kali.


Sekarang giliran teman sengklek Renata. Jea ingin cepat turun saja kalau berdekatan dengan mereka. Apalagi Ceca, suaranya cemprengnya membuat Jea ingin menyumpalnya saja. "Pak kok gak kerasa sih fotonya, ulang!"


"Pak, kamera ponsel saya dong!"


"Lagi pak, pose unyu belum"


Begitulah rentetan permintaan Ceca yang mebuat Jea geleng-geleng kepala. Istrinya ini kok betah sekali punya teman seperti Ceca, ups Jea lupa kalau istrinya juga sealiran, coba kalau gak pakai baju pengantin bisa-bisa Renata juga sama.


Resepsi pernikahan Jea dan Renata diakhiri dengan pelemparan bunga. Ola beruntung mendapatkan bunga itu, tapi detik berikutnya ia reflek melempar lagi ke arah Renata.


"Ola..... parah, Yang!" cicit Jea kesal.

__ADS_1


__ADS_2