
Kurang 5 menit lagi, pintu pagar kos tertutup. Ada Vino yang juga mengantar Sita. Jea keluar sebentar menyapa sohibnya itu.
"Wah...gercep neh!" sindir Vino pada Jea yang cengengesan.
"Thanks ya bantuan alamatnya."
Renata melipatkan tangan ke dada pada Vino dan Sita."Gak usah sok kejam Lo, mbak." Omel Sita sambil menarik tangan Renata masuk kos. Mbak Nita sudah siap dengan gembok pagar.
"Dah sayang." Teriak Sita, cukup kencang di telinga Renata.
"Pengeng Pe'a." Ujar Renata sembari menonyor pipi sahabatnya itu.
Keduanya naik tangga bersama, dan bergegas ke kamar mandi, mumpung masih banyak anak kos yang masih melek.
Setelah membersihkan diri dan sholat, ada panggilan video dari bapak. Masih dengan mukenanya Renata menerima panggilan itu.
"Udah di kos?" tanya bapak setelah mengucap salam. Renata hanya mengangguk dan bergumam iya.
"Ki, kalau kamu menikah besok gimana?" tanya bapak kemudian. Renata merebahkan tubuh lelahnya ke kasur. Ingin sekali ia terlelap, namun bapak sepertinya mengajak diskusi, sialnya pembahasan yang cukup berat.
"Kalau menurut bapak bagaimana?"
"Terima aja." Enteng sekali beliau menjawab, terkesan beliau sangat mantap Jea sebagai menantunya.
"Lagian kamu gak takut kalau berduan terus sama dia, pasti tadi kamu diantar ke kos berdua juga kan?" Ibu muncul dengan kebiasaan beliau langsung memenuhi layar.
"Ya berdua, wong bapak juga gak nawarin ngantar, gak boleh tidur hotel juga."
"Lagian nduk, papa mertuamu itu kayaknya gak lama lagi."
"Astaghfirullah," pekik Renata dan Bapak serempak. Bapak langsung memukul lengan ibu, sedangkan Renata hanya menggeleng dengan prediksi ibu. Neva yang hanya menjadi pendengar cekikikan saja.
"Hemmm gak percaya sama ibu, ya udah."
"Bu...gak boleh mendoakan gitu, Bu!" protes Renata gemas.
"Ibu itu gimana sih mendoakannya itu cepat sembuh, ini malah doain yang gak gak."
"Eh, Pak. Ibu tuh sering ya amati orang sakit, trus gak lama meninggal itu karena gak mau makan, trus omongannya ngelantur kayak mau pamit."
"Ya tapi itu tidak bisa dibuat patokan, Bu. Kasihan Jea juga, kalau sampai papanya meninggal maka mereka gak boleh menikah dulu, tunggu satu tahun dulu."
Lah ini bapak dan ibu malah berantem, yang satu pakai logika yang satu pakai penerawangan ala kebiasaan.
__ADS_1
"Bu, Pak, udah deh. Jalani aja dulu, gak usah mikir macem-macem."
"Eh tapi, Ki. Gak bisa gitu. Percaya sama Ibu, ne ibu dari tadi juga bilang sama bapak buat tunda pulang."
"Ya gak bisa gitu dong, Bu. Bapak kan juga ada checklock."
"Halah si bapak, izin cuti aja kenapa sih."
"Bu, ibu minta bapak tunda kepulangan buat apa?" tanya Renata juga, masih belum paham dengan arah pemikiran sang ibu.
"Ya ibu tuh khawatir kalau papa Jea gak lama lagi, Ki. Sebelum itu terjadi kalian dinikahkan sajalah." Ibu masih ngotot dengan penerawangannya.
"Udah Ki, kamu tidur aja!" Titah Bapak yang melihat putrinya sudah mau merem. "Gak usah dengerin Ibu kamu, pemikirannya gak masuk akal."
"Eh si bapak, gini-gini ibu itu tahu-----"
"Baik, Pak. Assalamualaikum." Ujar Renata pamit. Terdengar suara ibu yang masih menggerutu soal papa Jea. Biarlah malam ini Renata melupakan permintaan orang-orang tentang nikah. Hanya kasur, bantal dan guling yang ia inginkan.
*****
Pagi ini, Renata berangkat magang seperti biasa. Hari-hari terakhir magang berusaha ia nikmati, meskipun pikirannya harus terpecah pada masalah Jea.
"Pagi mbak!" sapa Renata ketika memasuki ruangan magang, sudah ada Elsa yang berkutat dengan komputer.
"Iya neh mbak, gak kebayang deh tiap hari kayak gini."
"Ya namanya kerja, Ta. Pengais rupiah, mau gimana lagi. Kamu emang gak mau kerja kantor?"
Renata menggeleng. "Aku mau kerja di rumah aja, jadi selebgram." Ucapnya cengengesan.
"Bikin konten apa kamu nanti?" Elsa terpancing, padahal Renata hanya bercanda, ya kali jadi selebgram, orang posting IG aja bisa diitung pakai jari.
"Video 19 detik." Jawab Renata cekikikan.
"Astaghfirullah." Pekik Elsa, langsung melotot.
"Hayoooo Mbak Elsa mikir apa hayo?" ledek Renata. gumpalan kertas mendarat cantik di meja Renata, Elsa pelakunya.
Drt...drt....Ibu menelpon.
"Iya, Bu?" tanya Renata.
"Ki, ibu di rumah sakit sama mamanya Jea." Dengan suara lantangnya. Renata melirik Elsa, sepertinya dia lagi fokus.
__ADS_1
"Kia, lagi magang, Bu. Nanti jam 3 mungkin Kia ke sana."
"Ini Ibu lagi bahas kondisinya papa Jea."
"Ibu.....please, jangan bahas yang kayak tadi malam Bu, Renata malu, Bu."
"Malu kenapa? Malu punya ibu kayak gini?"
"Bukan, Renata malu kalau ibu sampai bahas yang gak bisa dilogika."
"Ya Allah Renata, ibu pakai mata batin."
"Kapan pakai mata pisaunya?" Renata jahil.
"Emang pisau punya mata ya, Ki?" Yah...ibu malah fokus mata pisau.
"Punya Bu, lebih tajam dari mata batin Ibu."
Ibu mendesah kesal, beliau baru menyadari kalau diajak bercanda sama putrinya. Ibu Renata juga menyampaikan kalau mama Jea juga punya firasat sama dengan omongan Ibu. Hem....beliau merasa ada dukungan penuh untuk menikahkan sang putri secepatnya. Sedangkan Renata tetep kekeuh jangan tergesa-gesa memutuskan pernikahan ini terjadi atau tidak, karena saat keputusan itu dibuat berefek pada kehidupan mereka.
Setelah sambungan ibu terputus, Renata kembali membantu Elsa dan Pak Fahmi, di tengah kesibukan mereka, Pak Fahmi membuka obrolan yang membuat Renata diam seribu bahasa.
"Ta, Pak Bos gak bilang sama kamu ya?"
"Bilang apa Pak?" tanya Renata penasaran. Pasalnya kemarin ia bersama Jea, tapi tak ada pembahasan kantor.
"Pak Sanjaya pingsan dan masuk rumah sakit."
Renata hanya ber oh ria, ya iyalah dia tahu..Orang kemarin Jea telpon juga karena papanya pingsan. Cuma, Renata berlagak pilon saja, ia tidak mau kedekatan dengan keluarga Jea dikonsumsi publik, macam artis pula dah Renata ini.
"Kemarin kamu dicari Pak Jea kenapa, Ta.?"
Nah loh, mau bilang apa kamu, harus hati-hati menjawab, agar tida terbongkar. "Masalah kuitansi KKN, Pak!" Yassalam alasan Renata. KKN udah buyar dari zaman kapan, kwitansinya baru dibahas.
"Saya kira kamu disuruh menemani Pak Jea agar beliau kuat menghadapi keadaan sang papa yang lagi drop. Karena saya waktu pulang kantor, ngelihat kamu diantar Pak Jea. Diturunkan di depan kos kamu, kan??"
Haduhhhh Pak Fahmi, kenapa gak tanya to the poin aja sih, gini kan ketahuan kalau lagi bohong.
"Mungkin kamu mau dinikahi Pak Jea kali, Ta. Setahu saya, Pak Jea udah lama gak punya pacar, nah sekarang kan kondisi Pak Sanjaya lagi kurang baik, trus nih Pak Jea diminta menikah, nah cewek yang lagi dekat sama beliau kan cuma kamu, dan itu bisa jadi permintaan terakhir Pak Sanjaya. Makanya pak bos nyari kamu." Cetus Elsa. Padahal tatapannya fokus pada komputer, kenapa bisa membuat analisis seperti itu.
Jleb...
Prediksi Elsa mantap, tepat 10000%. Kenapa semua orang mendadak jadi dukun sih, udah bisa memprediksi jadwal antrian menghadap ilahi. Gile bener.
__ADS_1