CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
DUFAN


__ADS_3

Jea dan Renata keluar rumah tepat pukul 6.30, hanya Mama dan Mita yang di meja makan, sedangkan tamu agung masih belum pada keluar. Jea menyampaikan setuju dengan ide mama, niatnya menginap di hotel sampai Senin pagi. Mereka pamit dan segera melaju ke hotel yang dibooking Jea. Dufan juga belum buka jam segini.


"Kak, emang Tante Sintya setuju dengan pembagian warisan itu?" tanya Renata, pembahasan warisan sepertinya akan berlanjutnya karena Renata masih penasaran.


"Kalau Tante Sintya mah gak pernah komen, Papa dan Tante itu sama-sama pekerja keras, gak pernah bergantung dengan orang lain. Kalau bisa cari sendiri ya sudah cari sendiri."


"Kok om Danu punya sifat kayak gitu sih, mana istri dan anaknya Masya Allah, pengen gue timpuk pakai bakiyak deh."


Jea tertawa, suara celometan istrinya ini seperti radio rusak tapi ia sangat suka. Bucin parah.


"Kenapa?"


"Si Ceril itu bajunya." Keluh Renata sambil memegang dada, memberikan stok sabar ketika menceritakan baju Ceril. "Aku sebagai cewek aja jijik lihat bajunya."


"Emang bajunya kayak gimana sih?" pancing Jea. Penasaran dong, Renata aja sampai susah mendeskripsikannya.


Renata memukul lengan sang suami yang sibuk mengemudi, "Aku gak bakal cerita, ntar kamu bayangin yang enggak-enggak lagi."


"Denger ya sayang," ucapnya lembut sambil mengelus pipi Renata dengan tangan bebasnya. "Gak semua cowok seneng lihat perempuan pakai baju haram, kecuali istrinya. Sama juga kayak kamu, jijik."


"Ya itu kamu kalau gak khilaf."


"Astaghfirullah!" pekik Jea pura-pura kaget dengan tuduhan Renata, "Suka bener deh istriku ini."


"Tuh kan, ih....kamu tuh sama kayak kucing garong, mau aja dikasih ikan basi." Renata memukul-mukul lengan sang suami, eh Jea malah tertawa. Dia terlalu bahagia kalau Renata menunjukkan sisi cemburunya. Benar kata dia, cemburu itu gemes-gemes bikin kesel.


"Istriku cemburu." Goda Jea dengan mencoel dagu Renata.


"Au ah."


"Cie istriku takut suaminya kecantol jelangkung berbaju haram," masih menggoda, Renata malas menanggapi ocehan suami, ia melipatkan tangan di depan dada, menoleh ke arah jendela, menatap jalan lengang di akhir pekan menuju Jakarta Utara pagi hari.


"Sekarang ngambek, nanti sampai hotel jingkrak-jingkrak peluk-peluk aku, Ya Allah sayang hotelnya bagus banget, sukak deh." Jea ahlinya jahil, Renata menarik sudut bibirnya. Tak kuasa untuk tidak tertawa, suaminya cukup tahu kebiasaan dia kalau mengagumi sesuatu.


"Rese'." Keluhnya sambil menonyor pipi suami.


Jea terkekeh. Seperti ini rasanya punya istri yang moody, harus sabar. Padahal usia mereka hanya terpaut 2 tahun, tapi Jea cukup dewasa menghadapi sifat kekanak-kanakan Renata. Mungkin keadaan yang menuntut Jea dewasa sebelum waktunya ketika papa sakit, sehingga dia sangat pintar dalam mengolah emosi.

__ADS_1


Setelah berkendara kurang lebih 20 menit, mereka sudah sampai di hotel dekat Dufan, setelah check in ke meja resepsionis keduanya menuju kamar yang dibooking. Renata sudah tidak sabar, bagaimana rasanya tidur di hotel mewah. Norak amat deh.


"Saya permisi tuan!" pamit pegawai hotel dengan ramah dan diangguki Jea. Sedangkan Renata sudah menilik kondisi kamar hotel dan kamar mandi, ia menyingkap gorden dan tampak jendela besar dengan view pantai Ancol. Vitamin mata yang bagus.


"Suka?" tanya Jea dengan memeluk istrinya dari belakang. Meletakkan dagunya pada puncak kepala istri. Terasa anggukan dari kepala Renata. Istrinya ini memang gak pernah minta neko-neko, cukup ditemani jalan-jalan, sereceh itu. "Gak gratis ya ini." Lanjut Jea mulai deh jahil.


Renata mengerutkan dahi, berbalik badan menatap sang suami. "Bayar berapa aku?" yah...dikira booking hotel patungan kali. Jea tertawa, ekspresi Renata sangat menggemaskan, masa' iya peritungan sama istri, yang benar sajalah, Ta!


"Pakai ini!" Jea langsung menyambar bibir pink Renata. Masih pagi dan Jea memastikan tidak akan terlambat kencan bersama, karena letak hotel cukup dekat dengan tempat wisata tujuan. Jea tetap yang mendominasi, mengulang adegan buka kado tadi malam.


Renata bisa apa selain pasrah, mungkin ini akan menjadi rutinitas harian mereka seperti makan, tiga kali sehari atau bahkan lebih. Meski masih berdenyut, tapi kali ini ia sudah lebih rileks.


"Makasih sayang!" Jea tak pernah lupa mengucapkan terimakasih setelah pelepasannya. Ia kemudian berbaring di samping sang istri lalu menarik selimut. Memejamkan mata sebentar karena kelelahan.


Drt ..drt...Entah ponsel siapa yang berbunyi, karena keduanya hanya memasang mode getar.


"Tolong ambilkan hp, Yang!" pinta Renata, karena ia yakin itu bunyi ponselnya.


Jea langsung bangkit, mengambil ponsel Renata yang masih di dalam slingbagnya. Benar saja, Ola yang melakukan panggilan video call.


"Heh wajah lo kenapa jadi seperti selimut hotel sih." Cerocos Ola, dih pagi-pagi ni cewek ngajak ribut juga.


"Lo habis ehem-ehem ya, gak berani liatin muka Lo!"


Tut


Renata lebih baik memutuskan panggilan tersebut, cari aman, daripada dibuat bahan bulian seumur hidup kalau lagi kumpul.


"Kamu tuh kalau belum siap video call gak usah diterima," saran Jea sambil memberikan baju atasan Renata.


"Iya gak aku ulangi lagi. Aku mau mandi, awas minggir."


"Mancing?" goda Jea langsung mendapat tabokan di lengannya. Tapi Jea justru ikut berdiri dan mengekori Renata, dan terjadi lagi di dalam bathtub, meski Renata sempat menolaknya.


Tepat 10.30


Ola, Ceca, Renata, Jea, dan Bian sudah bertemu. Begitupun dengan anak lorong 13. Makin ramai saja acara weekend ini.

__ADS_1


"Eh foto dulu yuk." Ajak Ceca di pintu masuk.


Jea yang tidak hobi foto, mendengus kesal. Berteman dengan mereka yang setengah waras sepertinya harus dibiasakan moment apapun diabadikan.


"Senyum sayang!" pesan Renata sebelum berpose alay seperti mereka. Ketika fotografer dadakan alias petugas pintu masuk Dufan mulai menghitung 1..2...Jea langsung mencium pipi Renata, sontak saja Renata menoleh dan cekrek.


"Ah...kamu rese', sekali lagi mas!" pinta Renata kesal dengan tingkah suaminya, main nyosor depan umum.


Kali ini Jea hanya merangkul pundak sang istri, sedangkan Renata tersenyum sambil menunjukkan finger heart, beda dengan Ola dan Ceca berpose ala model, senyum tiga jari. Bian dan Kia jangan ditanya, pasangan yang halal aja kalah mesra dengan mereka. Apa kabar dengan anak lorong. Ah mereka gaya seperti biasa senyum sambil menggandeng tangan pasangan masing-masing kecuali Neva. Mantan teman tidur Renata itu berpose ala pas foto, sumpah bikin ngakak.


Wahana pertama yang dinaiki adalah Turangga Rangga, sebahai pemanasan sebelum ke wahan ekstrem. Sebenarnya mereka terserah mau berpencar, tapi perjanjiannya kalau mau naik wahana ekstrem harus bersama-sama.


Renata kalap, ia malah menggandeng tangan Neva dan Ola berasa jomblo mencoba wahana yang membuat pusing kepala.


"Udah ya, sekarang nyoba halilintar ya gaes." Ajak Ceca setelah puas dengan Turangga Rangga, biang Lala, Kicir-Kicir. Begitupun dengan para ciwi-ciwi lain termasuk Renata.


"Eh bentar suami gue di mana?" Renata menarik tangan Ceca, menoleh ke belakang tidak ada Jea.


"Ya Lo, suami ditinggal, kepincut ciwi lain, mewek Lo!" Ceplos Ola,


"Sama Vino, mbak!" Sita memberi tahu, pasalnya Vino juga ditinggal oleh Sita, karena cowoknya itu takut dengan ketinggian. Alasan.


"Bentar gue tel-" baru saja Renata mendial nomor Jea, sudah ada kecupan di pipi kanannya. Sontak saja sahabat Renata memutar bola mata jengah.


"Pasangan Bucin." Ledek Ceca.


"Ikut naik halilintar yuk," pinta Renata.


"Boleh!" jawab Jea. Malas sebenarnya, tapi ia takut Renata kenapa-kenapa, so...lebih baik ikut. Memilih duduk di samping Renata. Mengecek pengaman yang terpasang. Menjulurkan satu tangan untuk bergenggaman. Renata hanya tersenyum bahagia, suaminya ini sangat perhatian sekali.


"Eh tunggu-tunggu, mas foto in kita, pasukan yang kubawa banyak loh!" Cicit Ceca sambil menyerahkan ponselnya.


"Gaes senyum....." Titahnya


Cekrek....


Detik berikutnya hanya teriakan yang terdengar, Ceca dan Ola super heboh. "Ya Allah...saya belum nikah ya Allah....ya Allah tolong.....aduh aduh kebelet kebelet....ini sampai kapan turun....nyaaaaa....Allaaaaaahhhhh." Seru Ceca sampai menitikkan air mata.

__ADS_1


__ADS_2