CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
MEMILIH


__ADS_3

Acara syukuran empat bulanan Renata berjalan lancar. Alhamdulillah. Berbagai kado ia terima dari kolega bisnis keluarga Jea. Bahkan teman arisan mama pun ikut datang. Ada Jeng Ratna yang diantar Ito. Sebenarnya kesal sih Jea menyambut kedatangan Ito, tapi mau gimana lagi dia tamu juga.


Sialnya. Ito memilih bergabung dengan teman Jea dan Renata, bahkan si Duda itu ikut nimbrung dengan obrolan mereka setelah pengajian selesai.


"Cie...yang tadi dikira pasangan suami istri!" Goda Renata pada sahabat mantan teman tidurnya itu.


"Gak usah ngarang Lo!" protes Neva dengan menonyor pipi Renata. Kebetulan Renata duduk di samping sahabat-sahabatnya, berhadapan dengan Jea, Daffa dan Ito. "Kenal aja engggak!" lanjutnya sambil melihat Daffa, dan sialnya Daffa pun menatap Neva.


"Ecie...saling tatap.Yang, Daffa suruh ngomong sama Neva nih, kenalan kek."


.


Daffa mencibir ke arah Renata, ember banget si calon ibu itu. "Gimana, kenalan gih sama Neva!" kompor emang si Jea juga. Klop deh suami istri jadi biro jodoh.


"Pilih mana kak, Neva apa Ola!" ujar Renata yang langsung mendapat pukulan di lengan kanan kirinya, dan pelakunya adalah Neva dan Ola.


"Gak ada pilihan lagi gitu, sengklek semua." Desis Daffa dengan membuka ponselnya, menghindar lebih tepatnya.


"Eh....awas ya jatuh cinta sama gue." Ucap Neva dan Ola kompak, bahkan nada omelannya juga sama. Amazing.


"Mbak Neva jomblo akut loh!" Sita ikut mengompori.


"Pak Duda pilih mana kira-kira?" tanya Daffa menoleh pada Ito yang sedari diam dan hanya menatap Renata itu.


"Yang tengah."


"Eh..rese' emang bos duda ini!" Jea langsung berdiri tak terima dengan jawaban Ito.


"Sama kalau boleh pilih yang tengah aja ya bos duda!" Daffa menyerang balik, merasa di atas angin karena berhasil membuat Jea kesal. Si bos cemburuan itu langsung menarik tangan Renata, mengajaknya duduk berdekatan.


"Aku mah gak usah dipilih, udah diborgol sama cintanya pak CEO ganteng ini." Ujar Renata sembari tersenyum pada Jea, seketika Jea pun menunduk sambil tersenyum bangga.


" I love you!" ucap Jea dengan mendaratkan kecupan di kening Renata.


"I love you too." Jawab Renata dengan posisi masih dikecup oleh sang suami.


Cekrek


Daffa berhasil mengabadikan moment romantis mereka, lalu mengirimkan foto itu ke Jea.


"Cinta banget kayaknya mereka." Gumam Ito dengan senyum ngenesnya.


"Makanya bos duda pilih sahabatnya aja, gak kalah cantik dan punya sifat sama juga, setengah waras." Jelas Daffa, keduanya terpaksa berbicara pelan. Karena para wanita di depannya juga terlibat obrolan sendiri. Sedangkan yang punya hajat, menyambut tamu yang baru saja datang.


"Emang sahabat Renata namanya siapa?"


"Bos duda tunjuk aja siapa namanya, kalau sekedar nama gue tahu."


"Bisa gak sih kamu gak panggil aku duda,"


Daffa terkekeh, dari tadi panggil bos duda kenapa baru protes sekarang. Dasar duda labil.


"Kalau yang pakai blouse biru muda itu namanya Ola, cerewet minta ampun, pintar sih, Hem maksudnya pintar berimajinasi," Jelas Daffa diiringi cekikikan. Mengingat proyek imajinasinya yang gagal total beberapa bulan yang lalu.

__ADS_1


"Imajinasi apa maksud kamu?"


"Membuat proyek imajinasi, bos duda, dan itu disodorkan pada Jea, tanpa rancangan, tanpa proposal bisa menjelaskan sebuah proyek pada Jea, aneh kan?" cicit Daffa serasa para juri di ajang pencarian bakat, mengomentari seorang Ola.


"Lucu, kamu gak tertarik?"


"Cantik si cantik, tapi kelewat gak waras, gak berani saya."


"Eh...bisa jadi kamu yang lempeng gini berjodoh dengan dia."


"Dih...berjodoh, apa kabar dengan Anda?"


Jleb


Daffa ketus, Ito pun mendesah pelan, "Ya udah kenalin dia aja, sepertinya kamu lebih cocok sama teman satunya."


"Oh si Neva? Enggak juga. Bukan seleraku."


"Punya kaca gak, emang selera kamu seperti apa?"


"Renata lah!"


Puk


Jea memukul kepala Daffa dari belakang. "Dibilangin gak usah milih Renata, bandel bener sih asisten lucknut ini."


"Dari sekian cewek, emang dia yang lebih kece lah!" Daffa membela diri, padahal dia hanya menggoda emosi Jea saja.


"Ngomong apa Lo, pulang sonoh."


"Asisten misqueeen!" ledek Ola yang mendengar perdebatan mereka, dia berniat pulang karena mendapat pesan dari papanya untuk segera pulang.


"Ngomong apa Lo calon missqueeen!" balas Daffa.


"Cocok deh sama kamu." Ito berkomentar.


"Genjet aja, Fa. Udah punya nomor ponselnya juga." Jea makin gencar menjodohkan mereka.


"Ogah! Bos duda mungkin mau."


"Enggak ah, bar bar gitu." Ito menolak.


Jea cekikikan, "Kalian tuh cewek cantik gak mau, ntar kalah cepet orang mewek kejer." Cicit Jea yang meninggalkan keduanya.


******


Renata sudah tidak ada kegiatan lagi, hanya di rumah atau ikut ke kantor Jea. Di waktu luangnya, ia membuat beberapa video promosi untuk butik sang mama.


"Ma, kayak gini!" ucap Renata memutar video promosi baju kebaya modern, sebentar lagi moment wisuda. Renata berniat membantu pemasaran butik mama dengan mengunggah video itu pada status WA dan Instagram.


"Bagus, Ta, siap terima orderan nih."


"Beres, Ma!"

__ADS_1


"Kamu niat bekerja di kantor sayang?"


Renata yang mengotak atik ponselnya, seketika mendongak. "Pengennya kerja di rumah aja Ma. Jualan web dan video promosi kayak gini, habis ini juga lahiran."


Mama Jea tersenyum, membelai rambut sang menantu, "Baik banget sih, biasanya usia kayak kamu mau kejar karier sayang. Kayak mama dulu."


Renata menghentikan acara edit videonya, "Dari dulu Renata gak kepikiran untuk kerja kantor si Ma, Renata memang pengen menjadi ibu rumah tangga aja. Toh sekarang serba online, bisa banget buat kerja di rumah sambil momong anak."


"Nanti mama promosiin deh biar banyak job."


"Makasih Ma."


Aku memang berencana menjadi ibu rumah tangga, kalaupun kerja aku lebih memilih kerja di rumah..Aku ingin seperti ibu yang merawat dan mendidik anak-anaknya sendiri, karena ibu pernah bilang madrasah pertama kali untuk anak adalah ibu. Memang semua pilihan, mau jadi wanita karier atau ibu rumah tangga, semua baik untuk kehidupan keluarganya.


Ting


Pesan masuk dari Ola.


/Antar gue ke butik mama mertua loh, kebayanya kece, harga teman ya?/


/Beres/


Ceklek


Pintu kamar terbuka, Jea datang lebih awal dari jam pulang kantor, ia melempar jas di sofa begitu saja.


"Tumben pulang cepat?"


"Mau ajak kencan kamu."


Renata langsung mencium pipi sang suami, "Beneran?"


Jea mengangguk, padahal ia pulang karena lagi longgar aja, niat ajak kencan pun batu tercetus saat masuk kamar. Benar- benar punya otak cerdas.


"Mau mandi pakai air hangat atau gak?"


"Dih...mau diajka kencan aja langsung baik."


Renata tertawa, memeluk pinggang sang suami yang sedang melepas kancing kemejanya, "Tiap hari juga disayang kok,"


"Udah mandi?"


"Udah!"


"Cih....gak oke." Ujarnya langsung masuk kamar mandi.


Renata segera menyiapkan kaos dan celana jeans, untuk kencan suaminya harus tampil kayak anak muda, jangan necis seperti orang mau ke kantor.


Ting


Bukan ponsel Renata yang berbunyi, tapi ponsel Jea. Renata membukanya. Pesan dari Daffa.


/Bos, minta nomornya Neva dong. Mintain ke istri bos dong. Kalau gak bisa aku chat dedek unyu sendiri/

__ADS_1


Renata tertawa ngakak membaca pesan itu, akhirnya asisten jomblo itu mau membuka hatinya, dan memilih PDKT dengan Neva. Cihuyyyy... terpesona juga sama aura manis Neva, mantan teman tidur Renata.


__ADS_2