
"Semangat bener kayaknya?"sindir Ceca saat menemani Ola bersama Renata juga, di mall mencari baju untuk pertemuan nanti malam.
"Kalau mau ngancurin seseorang harus tampil all out dong!" cicit Ola sambil memilih baju di gantungan butik.
Puk
Renata memukul lengan sahabatnya itu. "Gak boleh ngomong gitu, Wira sahabat lo."
"Mantan sahabat lebih tepatnya, dia bukan dari kita yang punya sifat ajaib kayak gitu."
"Ho.oh, sekeluarga biang rese'." Ceca langsung menyambar, sakit hati pada Tante Wira masih mendarah daging, entah sampai kapan.
Renata hanya menggeleng saja, tak mau meneruskan, karena bagaimanapun ia juga perempuan, pasti sakit hati juga di posisi mereka.
Dua buah dress sudah digenggam Ola, warna navy dan gold, ia membayar dan segera mengajak kedua sahabatnya makan siang di kedai dimsum dalam mall tersebut.
"Ta, bagi nomernya Helwa!" pinta Ola selagi memasukkan dimsum ke dalam mulutnya.
"Buat apa?"
"Kejutan buat Wira."
"Jangan macem-macem ah."
"Ntar kalian nginep di rumah gue aja biar tahu surprise buat si kampret itu." Ola tampak emosi.
"Emang apa yang Lo rencanain?" Ceca kepo.
"Ada pokoknya, cepet, Ta, bagi nomornya."
"Jangan bikin dia tambah mewek pokoknya." Renata mengirim nomor Helwa via WA ke Ola.
"Beres." Jawab Ola sambil mengetik pesan untuk Helwa. Ia berniat mengajak Helwa dalam pertemuan keluarga kali ini. Enak saja Wira habis manis sepah dibuang dan akan mendapatkan dirinya. Jelas Ola tidak mau, dia bukan perempuan yang gampang ditindas. Kalau masalah investor, nanti Ola akan mencari pengganti bapaknya si Wira buat menanam modal di perusahaan papanya.
"Terus rencana S2 loh gimana, La?" tanya Renata, dia masih ingat sahabatnya itu akan pindah keluar negeri setelah menyelesaikan S1 nya.
"Batal gara-gara perjodohan ini." Ucapnya santai sambil menyeruput mango floatnya.
Ting
Ponsel Ola berbunyi, ada pesan masuk dari Helwa.
"Lo baca!" pinta Ola yang menyodorkan ponselnya pada Renata dan Ceca.
__ADS_1
/Gue udah putus asa, La. Biarkan gue tanggung sendiri. Gue juga udah bilang orang tua gue./
"Kasihan." Renata iba, dia tahu Helwa sangat terpuruk saat ini. Bagaimana dia menjalani kehamilan tanpa suami di akhir kuliahnya. Belum juga koas. Memang penyesalan selalu datang di akhir acara.
Setelah mereka makan siang, Renata diantar Ola ke kantor Jea. "Ta, gue mau nego sama suami Lo."
"Nego soal apa? Jangan bilang Lo, mau daftar jadi istri kedua, gue timpuk Lo!"
Tonyoran di kening Renata langsung. mendarat cantik, Ola kesel juga sama sahabatnya ini, betapa dangkalnya pemikiran Renata.
"Gue mau cari investor lain selain bapak si Wira. Suami Lo kan kaya."
Renata manggut-manggut, otaknya baru ngeh, jadi ini adalah salah satu cara untuk menggagalkan perjodohannya. "Yuk turun. Tapi murni investor ya, gak ada niat buat jadi pelakor kan?"
"Tega Lo, Ta." Ola pura-pura marah. Renata terkekeh juga. Keduanya langsung masuk ke lift khusus pimpinan perusahaan, sudah tidak ada yang meragukan posisi Renata sekarang. Dulu sebelum resepsi dan sering ke kantor, banyak orang yang mencibir hanya pacar Jea.
"Assalamualaikum!" sapa Renata dengan menyembulkan kepalanya di ruangan Jea.
Jea tersenyum melihat siapa yang datang, ia hanya bilang masuk sayang, lalu melanjutkan berkutat pada laptop dan dokumen. Ada Daffa di depan meja Jea sedang memilah dokumen juga.
"Tumben kakak Daffa di sini?" tanya Renata yang langsung duduk di sofa, meminta Ola juga segera duduk.
"Menemani pak CEO yang gak mau lembur, pengennya cepat pulang." Jawabnya ketus.
"Ehem." Renata sengaja membuyarkan aksi tatap mereka berdua. "Jangan lupa niat Lo ke sini."
"Apaan si." Ola malu.
"Ada apa?" tanya Jea dari meja kebesarannya. Melirik kedua sahabat yang sama-sama sengklek.
"Gini Yang, Ola pengen kamu jadi investor di perusahaan papanya, hanya dengan cara ini buat memutuskan perjodohan mereka." Renata menjelaskan duduk permasalahannya.
"Kalau saya inves di perusahaan papa Ola, bisa untung gak?" tanya Jea to the poin, karena bagaimanapun dia juga harus memikirkan keuntungannya tidak serta-merta menyetujui demi persahabatan. Otak bisnisnya masih jalan.
"Nah untung gak suami gue kalau tanam modal di perusahaan papa Lo?"
"Untung."
"Yakin? kayaknya enggak untung deh soalnya papa Wira mau ambil Lo sebagai mantu akibat tidak beruntung."
"Lo kok gitu, Ta. Bilang kek untung besar apa susahnya."
Renata cekikikan, "Ntar suami gue rugi, Lo manggil gue gembel."
__ADS_1
"Astaghfirullah," Ola pura-pura kaget, "Lo bener juga."
"Sahabat lucknut." Renata langsung menghujani Ola dengan pukulan bantal sofa. Daffa sempat melihatnya, dan langsung ilfeel dengan keduanya. Tidak menampilkan perempuan yang cantik dan elegan.
"Kenapa ekspresi Lo kayak gitu?" bisik Jea dengan pura-pura menatap laptop.
"Istri Lo bos, bar-bar, temannya juga sama."
"Itu mah biasa, Lo belum tahu aja kalau di depan kamera, mulai dari ekspresi cantik sampai ekspresi monyong mereka jabani."
"Rugi Lo dapat istri gak waras gitu bos."
"Eh jangan salah, istri yang setengah waras gitu bikin nagih tahu."
" Kalau aja Lo bukan CEO di sini, udah gue timpuk Lo. Lama-lama Lo ketularan istri Lo deh, sengklek."
"Yang," panggil Renata mengangetkan keduanya. "Jadi gimana, princess satu ini mau pulang loh."
"Cih.. princess katanya." Masih saja Daffa mencibir kelakuan keduanya.
"Besok bawa proposal saja ke sini, serahkan pada Daffa."
Daffa melirik tak suka pada bosnya itu. Berurusan dengan cewek itu, hufh....gak sanggup bos.
"Oke. Terimakasih pak CEO. Eh, Renata boleh gak aku bawa ikut pertemuan keluarga."
Jea mendongak, mencoba mencerna omongan Ola. "Pertemuan keluarga siapa?"
"Keluargaku dan Wira."
Jea langsung berdiri, "Gak usah, ntar Renata diambil Wira."
Renata cekikikan, melihat ekspresi suaminya yang cemburu. Siapa juga yang mau sama Wira, naudzubillah. Makan hati doang.
"Idih, Yang. Aku juga gak mau diambil dialah."
"Tuh pak CEO boleh ya? Nanti ada pertunjukan menarik loh." Ola mengeluarkan rayuannya, karena ia tahu Renata tidak akan mampu menolak ada suatu pertunjukan. Padahal pertunjukan nanti adalah kehadiran Helwa untuk membongkar bejatnya Wira.
"Yang boleh ya?" Renata mulai terjebak.
Jea mendengus kesal, pekerjaannya cukup banyak, tapi ia tak kuasa mendengar rengekan istrinya. "Gimana Yang?" desak Renata. Ola sudah cekikikan, berhasil menjebak Renata dengan kata pertunjukan.
"Boleh deh, Daffa saya ikut mereka, silahkan selesaikan dokumennya. Nanti bonus kamu bulan ini aku tambah."
__ADS_1
"Ogah." Jawab Daffa sambil berdiri meninggalkan ruangan. Ngambek.