
Renata meregangkan otot-otot tangannya, hari ini otaknya lumayan berat dibuat mikir desain promosi lagi. Pak Fahmi masih berkutat dengan laptopnya, begitupun dengan Elsa. Hmm..udah setengah 5 ne, waktunya pulang. Kok gak ada yang angkat pantat sih, gerutu Renata dalam hati.
"Pulang aja, Ta. Aku dan Elsa masih ada kerjaan, toh kamu kan wajibnya hanya sampai jam 4." Kelakar Pak Fahmi, seolah tahu gerutuan Renata.
"Mau bareng Pak Fahmi kali," entah hanya bercanda atau menyindir Elsa cukup ketus mengucapkan itu.
Meski masih menatap layar laptop Pak Fahmi terlihat tersenyum tipis mendengar ocehan Elsa, "Paling juga ditunggu Pak Jea."
Hemmm Jea lagi.
"Pak Jea emang masih di sini?" bukan Renata, tapi si Mak lampir Elsa bertanya. Kepo.
"Sepertinya."
"Aneh, biasanya habis meeting, inspeksi di berbagai devisi habis itu cabut, ini kok sampai jam kantor bubar." Keluh Elsa tak suka.
"Maklumlah, ada adik kelas yang ditaksir, lagi magang. Bener gak, Ta!"
"Enggak, Pak. Saya gak sedekat itu sama Pak Jea. Saya hanya sebatas kenal." Masih saja Renata mengaku hanya sebatas kenal, padahal si bos pengen banget melamarnya, cari aman ajalah dari penggemar si bos.
Setelah berpamitan pada Pak Fahmi dan Elsa, Renata melangkah masuk ke lift bersama karyawan lain.
Ting
Lift terbuka, para karyawan berhamburan keluar satu per satu, termasuk Renata. Ia berjalan gontai, capek sekali.
"Ta!" samar dia mendengar namanya dipanggil, cukup pelan sehingga dia tidak yakin dirinya yang dimaksud. "Renata Adzkiya," panggilan sekali lagi. Dan ini membuat dirinya terpaksa menoleh.
Pak Bos keluar dari lift petinggi dan berusaha mengejarnya. Gila, situasi bahaya nih. Apa kabar para penggemar si bos???? Renata pun segera berbalik dan mempercepat langkahnya, namun sial, Jea sudah berada di sampingnya dengan terengah-engah.
"Bapak kenapa panggil saya?" tanya Renata dengan suara sangat pelan.
"Aku antar pulang ya!"
"Tidak perlu, Pak. Saya bawa motor.".
"Ck..sekali aja, Ta. Gue juga pengen dekat Lo," Lah hilang sudah bahasa formal Jea.
Renata menatap sekeliling, tatapan sinis banyak yang mengarah ke dirinya. "Buat apa sih?"
"Daftar pelamar hati Lo, lah!" beuh enteng sekali bos muda ini, berjalan santai menuju lobi setelah mengatakan hal pribadi seperti itu. Renata sengaja memelankan langkahnya agar sedikit jauh dari sang bos, ia belum siap dicaci.
__ADS_1
"Kenapa?" Jea menyadari gadis itu sedikit menjauh darinya.
"Maaf, Pak. Saya minder jalan sama bapak!" ucap Renata lirih. Sungguh ia tidak memiliki kepercayaan diri sore itu, baju hitam putih yang ia kenakan jelas sangat berbeda dengan penampilan atasannya itu.
"Ck...udah gue bilang gue Jea seperti yang Lo kenal. Yuk." Jea meraih pergelangan Renata begitu saja, menariknya tanpa melihat raut protes Renata.
"Pak lepas!"
"Gue antar baru gue lepas!"
"Sekalian saja bunuh saya, Pak!"
Jea menghentikan langkahnya, heran dengan ucapan Renata barusan. "Kenapa saya harus membunuh kamu!"
Renata segera menarik tangannya pelan, "Maaf, Pak. Saya hanya mahasiswa magang di kantor ini. Saya ingin menjalani magang saya dengan tenang, tanpa ada sindirian ataupun gosip tentang kita, jadi tolong menjauh dari saya."
"Gak usah menjauh, nanti kamu saya kasih nilai A, kalau perlu A+."
"Terimakasih, Pak. Saya hanya butuh diakui sesuai kemampuan saya, bukan karena kedekatan saya dengan bapak. Permisi."
Renata menyempatkan mengangguk hormat, lalu mendahului sang atasan dan berjalan dengan menunduk, banyak pasang mata sudah siap menerkamnya hidup-hidup.
Tepat di depan pelataran kantor menuju parkiran motor, ada sebuah mobil yang begitu Renata kenal, ia memperhatikan cukup tajam hingga dibuyarkan dengan panggilan RENATA cukup lantang.
"Ih....kok bapak ngekorin saya terus sih." Benar-benar Renata tidak suka dengan sikap Jea seperti ini.
"Kan udah gue bilang, gue mau antar Lo. Makanya gue ngekorin Lo."
Sumpah keeseeellll, Jea memang cari gara-gara nih, Renata bahkan tidak berani sedikit pun menoleh ke arah lain, selain menatap wajah tampan sang atasan. Dengan melirik saja, wajah perempuan bengis yang berkedok karyawan terpampang nyata seolah berkata 'jauhi bos gue, Lo tuh anak magang doang!"
"Udah gak usah meladeni karyawan di sini, mereka sudah tahu kali kalau gue yang naksir Lo."
Renata meringis. Naksir?? alamakkkk bisa-bisa nih ya pak, mereka akan bilang Lo bisa na-ksir gue karena gue udah tidur bareng Lo, atau gue pakai pelet, atau gue jual mahal biar Lo kejar-kejar gue. Please dong pak, peka dikit dengan kondisi gue. Gue gak mau mati di tangan mereka, ya Allah Tuhaaaaaan.
"Ta!"
Bolehkah Renata girang dengan panggilan namanya, ia pun menoleh ke sumber suara. Matanya melotot seketika, WIRA.
Bebas dari kandang macan, masuk ke kandang buaya ini mah. Renata yakin sebentar lagi bakal ada perang dunia, entah Wira vs Jea, ataupun dirinya vs Wira.
"Wira!" sapa Renata canggung. "Tumben Lo ke--"
__ADS_1
"Ternyata Lo lebih milih dia daripada gue ya?"
Nah....
Nah...
Nah....
Salah paham terossssss
"Lo salah paham terus deh, Wir kayaknya sama gue." Ucap Renata menatap sahabatnya itu, "Hari ini gue capek pakai banget, jadi gue mau pulang. Dan untuk Pak Jea, saya permisi."
Lebih aman adalah dengan segera pergi dan segera mengambil motor di parkiran, Renata sudah tidak mau dijadikan bahan tontonan gara-gara bos gilanya itu, apalagi ditambah kemunculan Wira.
"Kamu tuh siapanya bos sih?" salah satu karyawan yang kebetulan motornya bersebelahan dengan Renata.
"Hanya adik kelas di kampus kok, Mbak!" Ucap Renata sembari memasang helm.
"Aku kira kamu pacarnya bos, bagus deh. Jangan sampai suka atau berniat merebut bos dari kita-kita, yah. Kita udah lama incar tuh bos, situ yang baru magang gak punya hak."
Beuh....kalau Lo gue kasih tahu, bos Lo mau melamar gue, mau apa Lo? ingin rasanya Renata membalik omongan perempuan yang sok senior itu, entah dari devisi apa dia tidak pernah melihat perempuan itu. Bikin kesal saja.
"Saya duluan, mbak!" Renata masih menyempatkan pamit dengan sopan dan segera melajukan motornya ke jalan raya, berbaur dengan pengais rupiah. Mencoba melupakan apa yang terjadi antara Wira dan Jea di depan kantor.
******
Seorang pemuda bersetelan kerja dan berkharisma, menatap sedikit angkuh pada pemuda yang hanya berbalut kemeja putih.
"Mau jemput Renata atau -----?" Jea yang memulai pembicaraan.
"Lo ngapain di sini?" Wira sewot.
"Ini kantor gue!"
"Selangkah lebih maju dibanding gue dong, lebih mapan!"
Jea tersenyum sinis, "Status kita sama, masih memperjuangkan dia."
"Gak perlu, gue gak akan memperjuangkan cewek yang sok punya prinsip ternyata munafik."
"Apa yang Lo lihat bukan berarti sesuai dengan pemikiran Lo. Coba tanya pada Renata sebelum menyesal . Gue balik dulu." Jea pamit undur diri sembari menepuk bahu Wira.
__ADS_1
"Satu lagi," Jea menghentikan langkahnya lalu menoleh ke Wira. "Ucapan Lo tadi gue anggap Lo melepas Renata, jadi gue gak akan sungkan lagi kalau mendekatinya."
B*NGS*TTTTT