
"Kok kaget gitu?" Renata curiga, respon Jea terlalu berlebihan.
"Gak penting." Jawab Jea sambil melengos, wajahnya memerah dan ia berniat langsung tidur. Tapi Renata menarik selimutnya.
"Jawab aja kenapa sih." Adegan tarik-menarik selimut terjadi, Jea ngakak di bawah selimut sedangkan Renata masih berusaha mendapatkan jawaban itu.
"Apa ayo bilang." Paksa Renata, ia malah mengunci tubuh Jea biar gak bisa nafas lalu buka selimutnya, pikirnya. Namun Jea malah menyuruh dia pergi.
"Udah tidur sana!" Ucap Jea masih dibalik selimut.
"Oke kalau gak mau bilang, aku tanya mama!" Ancam Renata dan berhasil, sontak Jea membuka selimut. "Jangan, bahaya!" Cegah Jea.
"Bahaya? makanya bilang kak!" Ah kalau saja menonjok wajah suami gak dosa, udah Renata lakukan sejak tadi. Tinggal jawab apa susahnya sih.
"Tunggu kamu selesai halangan aja." Malah bikin penasaran Renata.
"Apa hubungannya coba." Cewek ini polos atau oon sih.
"Udah tidur ya sayang." Pinta Jea sambil mengelus pipi mulus Renata, tapi ditepis.
"Bilang dulu kenapa, jangan bikin aku penasaran."
"Sejak kapan kamu penasaran?"
"Sejak dua Minggu kita nikah."
"Kenapa baru tanya?"
"Ya aku baru ingat sekarang,"
"Tidur ya!"
Renata menggeleng, ia malah mengambil ponselnya. "Mau ngapain?" Jea waspada.
"Tanya Ola, Ceca, atau Bian."
Tangan Lebar Jea langsung menutup layar ponsel Renata, gelagapan sekali. "Jangan, udah dibilang bahaya. Tunggu sampai kamu selesai halangan baru aku cerita. Kapan kamu selesai?"
"Paling Besok!"
Yesssss! batin Jea.
"Janji ya?" tantang Renata. "Janji sayang."
Merekapun tidur dengan berpelukan, tak lama derun nafas teratur Renata terdengar. Jea menatap wajah cantik sang istri, sedikit menahan tawa karena Renata sudah curiga dengan kebiasaannya, mandi tengah malam.
*****
Hari ini Renata ada jadwal bimbingan dengan Pak Sandy, pembimbing kedua. Bab 3, metode penelitian, banyak coretan dari Pak Sandy. Huh sebal. Padahal dosen muda, tapi jelinya minta ampun, jiwa idealis masih kental rupanya.
"Meskipun udah nikah, jangan begadang terus Ta, bab 3 dikerjain yang benar, bab penting ini." Omel beliau, Renata hanya menautkan alis.
"Bapak kok tahu saya sudah menikah?"
Beliau tersenyum, masih membubuhkan beberapa komentar di kartu bimbingan. "Jea adik kelas SMA, waktu saya takziyah juga melihat kamu."
Renata meringis, "Maaf, Pak. Saya tidak melihat bapak."
"Gak pa-pa, banyak tamu juga, wajar."
Renata mengangguk, Pak Sandy pun memberikan kartu bimbingan lalu menatap Renata, "Saya gak menyangka kamu menikah secepat ini, Ta. Tau gitu kamu saya lamar dulu daripada Jea."
Renata tersenyum kaku, ini dosennya juga nembak??? duh....
__ADS_1
"Salam ke Jea, ya!"
"Baik, Pak. Terimakasih, selamat siang." Ucap Renata sopan, dan diangguki oleh dosen muda itu.
Renata menuju lobi gedung jurusan. Sudah ada Ceca, Ola, Bian, dan Wira. Ia cemberut membawa draft skripsinya.
"Kenape nyonya?" Sejak nikah, Ceca memanggil Renata dengan Nyonya CEO, bahkan nomor kontak Renata di ponsel juga diganti dengan nama itu. Alay memang.
"Gue balik dulu." Ujar Wira saat Renata duduk di samping Ola.
"Baik-baik di jalan ya babang Wira!" cicit Ola, sahabat gak ada akhlak memang, tidak ada dari mereka yang melarang Wira pergi. Suka-suka dia lah.
"Masih marah ya sama gue?" tanya Renata pura-pura beg*.
"Cuekin aja, Ta!" saran Bian yang sudah jengah dengan kelakuan Wira.
"Gimana bimbingan Lo?" tanya Ola.
Renata tak menjawab, hanya menyodorkan kartu bimbingannya. "Busyet, komennya banyak amat."
"Lo gak serius ngerjain bab 3 mungkin, maklum kekepan terus sama Jea." Bian lemes amat yah.
"Pak Sandy teliti banget, sebel gueeeeeeeeee." Rengek Renata, pengen mewek tapi malu. Ya Allah baru bab 3 kok susah amat sih.
Drt...drt.... Suamiku❤️ memanggil.
"Cih...nama kontaknya lebayyy." Cibir Ola yang sempat melihat layar ponsel Renata.
"Siriiikk aja Lo." Balas Renata sebelum mengangkat telpon Jea. "Halo?" sapanya.
"Aku udah di depan, udah selesaikan bimbingannya?"
"Iya aku keluar."
Renata mematikan sambungan dan pamit pulang pada mereka. "Hemmmm pulang sonoh....kekepan sonoh." Cerocos Bian.
"Ke Dufan bisa kan?" Ceca memastikan.
"Bisa, dah gue balik dulu."
"Ati-ati." Pesan Ola.
Ketiga sahabatnya hanya memandang punggung Renata yang semakin menjauh, kalau diamati memang sejak menikah dia semakin cantik. Aura bahagia memang terlihat jelas. Alhamdulillah.
"Nungguin siapa, Bang?" canda Renata yang melihat Jea duduk di atas motor Vix*on merah.
"Ojol, Mbak!" balas Jea, mengimbangi candaan sang istri. Renata pun tersenyum.
"Motor siapa?" tanya Renata, karena meraka tadi berangkat naik mobil.
"Motornya Daffa. Biar cepet, makan siang di kantor aja ya."
"Kenapa?" tanya Renata sambil dipakaikan helm.
"Pengen ditemani kamu."
Renata memukul lengan Jea, "Gombal teroooosss."
"Suudzon teroooosss." Balas Jea kemudian keduanya tertawa. Saat Renata naik motor, tiba-tiba ada motor gede yang mepet banget di motor Jea sambil mbleyer.
"Astaghfirullah." Pekik Renata kaget.
"Kamu gak pa-pa kan?" tanya Jea khawatir.
__ADS_1
"Gak pa-pa, yuk!" Renata menyudahi saja perkara mbleyer itu, karena ia tidak mau ada masalah dengan Wira.
"Wira ya tadi?" tanya Jea agak teriak, karena takut tidak terdengar Renata saat laju motor mulai kencang.
"Iya!" balas Renata sambil teriak juga.
Jea tidak melanjutkan lagi, hanya tersenyum sinis. Ternyata siangan mendapatkan Renata memang tidak dewasa sekali. Main mbleyer yang bikin Renata ilfeel, pasti itu.
Keduanya sampai di lobi kantor, masih sepi karena jam istirahat. Jea langsung mengajak Renata ke kantin kantor. Jarang juga sebenarnya Jea ke kantin, biasanya dia makan siang di restoran bersama klien atau diorderkan sekertarisnya, Dina.
Tapi untuk siang ini, dia sengaja masuk kantin, makan siang berbaur dengan karyawannya sekaligus pamer istri, he..he.., tidak banyak yang tahu Jea sudah menikah. Karena memang dia menikah secara siri. Namun, dua Minggu setelah menikah, ia meminta Daffa untuk mendaftarkan pernikahannya ke KUA. So...udah nikah resmi agama dan negara.
"Siang, Pak." Sapa karyawan dengan name tag Andina. "Siang," jawab Jea dengan wajah datar, tapi Renata yang menyunggingkan senyum membalas keramahan Andina.
"Kamu mau makan apa?" tanya Jea ketika mereka sudah mendapat tempat duduk.
"Hem....biar aku pesan sendiri, CEO masa' ikut ngantri." Sindir Renata hanya dibalas senyuman Jea. Manis di tengah panas yang terik.
"Ya udah barengan aja, tas sama draft skripsi taruh sini saja." Usul Jea
Renata menurut, mereka berdua menuju ke stand nasi lalapan, kebetulan kantin kantor di desain seperti pujasera. Banyak stand makanan dan minuman. Siang ini, menu yang dipilih Renata adalah lalapan bebek goreng sambal ijo, dan teh hangat, begitupun dengan Jea.
Sambil menunggu pesanan, mereka kembali ke tempat duduk dengan membawa nomor meja. Jea benar-benar merakyat siang itu.
"Gimana bab 3 nya?" tanya Jea sambil menatap sang istri yang bermain ponsel.
"Buruk."
Jea tertawa pelan, "Pasti banyak coretan."
"Sakit hati mungkin Pak Sandy." Renata salah ngomong, panjang deh urusannya.
"Maksudnya?" telat dugaan, Jea langsung memastikan arti sakit hati tersebut.
"Gak penting kok." Jawab Renata tergagap, semakin membuat Jea curiga.
"Yakin gak penting? Kita udah janji loh gak ada yang ditutupi meskipun itu menyakitkan."
Renata meringis diingatkan kesepakatan mereka berdua. "Pak Sandy kakak kelas kamu SMA, kan?"
Jea mengangguk.
"Beliau emang belum nikah?"
"Kenapa? Nembak kamu?"
Glek
Kok tahu????
"Sandy tuh waktu takziyah sempat kaget melihat kamu di rumah. Dikira kita saudaraan, trus dia bilang kalau naksir kamu dan beruntung bagi dia karena kamu mahasiswa bimbingannya. Bakal PDKT habis-habisan katanya." Jea masih menjelaskan dengan santai dan menahan tawa. "Dia malah minta bantuan aku sebagai Mak comblang."
"Lalu?"
"Ya aku bilang jangan Renata, cari cewek lain aja. Eh dia ngotot maunya kamu, dia juga cerita kalau sejak ketemu kamu di semester 4 itu dia udah naksir, cuma dia khawatir saja sama gosip yang membahayakan karirnya sebagai dosen muda."
"Oooooo."
"Kok cuma o?"
"Ya harus jawab apa kalau gak O doang. Aku lagi sebel sama dia main coret-coret aja, padahal gak dibaca. Tahu gak saat aku sodorin cuma balik draftku langsung coret, masa' iya baca bab 3 cuma sekilas."
Jea tersenyum, celometan Renata yang seperti inilah yang ia suka. Ghibah campur kesal, ahlinya.
__ADS_1
"Ya mungkin triknya dia biar kamu bolak balik bimbingan." Tebak Jea, khawatir juga tapi sebisa mungkin ia tidak posesif pada Renata.
"Ngacooooo."