CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
POTRET BAHAGIA


__ADS_3

Siapa sangka kencan absurd ala Ola dan Daffa selesai, gara-gara Renata juga, mereka berdua harus bertemu lagi setelah hampir tiga minggu tak bersua.


Butik Mama Jea


Pertemuan dengan gadis cantik setengah waras itu cukup membuat Daffa trauma. Pasalnya menjelang makan siang, Renata menelpon Jea ingin makan bersama di restoran Korea, ingin ngegrill dengan embel-embel ngidam. Alasan yang terkesan dibuat-buat. Mana ada kehamilan yang sudah memasuki trimester akhir itu masih ngidam segala.


"Kita langsung ke restoran?"


"Ke butik mama dulu." Ucap Jea yang masih fokus dengan ponsel berbalas pesan dengan sang istri.


Daffa menuju butik mama Jea dengan berdoa dalam hati, semoga Ola pergi, ada keperluan mendadak hingga dia tak bertemu gadis itu. Hari ini pekerjaan di kantor cukup mumet, ia tak mau berdebat dengan si kunyuk itu.


"Udah selesai?" tanya Jea dengan mengecup puncak kepala sang istri, kebetulan Renata sedang di ruang mama, selonjoran di sofa, merebahkan badannya yang lelah.


"Aku mah udah, gak usah fitting fitting segala dari awal. Ola aja yang rempong."


"Trus?"


"Bentar dia masih ke toilet, habis ini langsung cus makan ya, aku lapar!"


Jea mengangguk dan tersenyum, "Dedek ndut ya, makannya banyak nih." Padahal Jea berniat sekali menggoda bayinya, tapi Renata yang tersinggung apalagi bilang 'ndut' dan 'makan banyak'.


"Kami nyindir aku, Yang?" tebak Renata dengan menabok lengan Jea. Cemberut dah bumil ini.


"Eh ..aku kan bilang dedek bukan kamu." Sangkal Jea gelagapan, bisa panjang urusannya kalau sampai si nyonya marah.


"Emang aku gak gendut?" lanjut Renata menyelidik.


"Gak kok!" jawab Jea cepat, takut salah omong kalau terlalu jujur. he...he..


"Cih...kamu bohong banget tahu, aku aja udah naik 12kg masa' gak gendut. Kalau ngomong tuh yang jujur!"


Lah....


"Iya, kamu agak gendutan!"


"Tuh ..kan, gendut. Kamu pasti gak cinta sama aku, iya?"


Jea menghela nafas berat, bahkan pundaknya pun sampai turun ke bawah, "Kamu tetap cantik sayang, kamu tetap wanita yang paling aku cintai selain mama dan Mita, mau gendut mau langsing mau langsung, gak ngefek ke aku."


Jea memeluk Renata, memang istrinya ini selama hamil tidak terlalu ngidam aneh-aneh, tapi emosi dan manjanya bikin kepala mumet. Sedangkan Jea selalu menjadi sasaran, yah ..gak pa-pa juga sih, toh dia yang bikin Renata hamil juga.


Perdebatan dengan bumil sebaiknya dihentikan daripada menambah kekesalan di hati. Jea langsung mengajak Renata makan siang, toh Ola juga selesai. Sahabat istrinya itu sudah menenteng paperbag dari butik sang mama.


Tumben anteng, batin Daffa ketika Ola duduk kursi depan, ia sempat melirik gadis yang sangat ia hindari itu.


"Fa, kamu gantiin aku ya meeting dengan Pak Ilham, saat istriku wisuda." Titah Jea karena ia lupa belum memberitahu sang asisten kapan istrinya itu wisuda.


"Sabtu ini kan?" Daffa memastikan, karena ia tahu jadwal meeting si bos itu.


"Sabtu ini."


"Hufh.....iya!" jawabnya malas.

__ADS_1


"Lagian kakak kan juga gak ada jadwal kencan, mana jomblo." Renata sengaja mengkode Ola untuk menimpali ocehannya, tapi sayang sahabatnya itu sedang sibuk dengan ponselnya.


"Gak usah diperjelas." Gerutu Daffa, disambut kekehan Renata.


Makan siang kali ini cukup nikmat, obrolan yang terjadi pun mengalir tanpa ada perdebatan. Aneh malah, Ola bersikap seperti perempuan asli, sisi feminimnya tampak siang itu, membuat Daffa berkali-kali meliriknya, mengamati dengan seksama apakah gadis di sampingnya ini memang benar Ola???


"Lo Ola kan?" bisik Daffa, kebetulan duduk mereka berdampingan.


Ola menoleh dan hanya mengangguk, lalu kembali fokus pada makanannya. Mengambil dengan sumpit perlahan dan mengunyahnya pelan. Sungguh berbeda dengan biasanya.


"Kak Daffa heran ya Ola kayak gini?" tebak Renata, mengamati kerutan di dahi Daffa saat Ola berbicara dengan nada feminim dan tegas. Tak ada kesan gadis setengah waras lagi. Bahkan Daffa hanya mampu mengangguk saja.


"Akunya lagi sariawan, hiks..hiks."


"Gak percaya, sariawan kok makannya banyak." Cecar Daffa, dalam hatinya juga kangen berdebat dengan gadis itu. Aneh memang.


"Males aku ngomong sama kakak." Cicit Ola sembari memasukkan potongan daging ke dalam selada, dan segera melahapnya. Pantas saja Daffa tak percaya dia sariawan, makannya masih lancar jaya.


*******


Wisuda


Yap...hari ini Renata wisuda, sudah sejak malam tadi orang tua, dan keluarga kecil mbak Via berada di rumah Jea. Moment penting penobatan sarjana akan menjadi kenangan yang tak terlupakan, sehingga keluarga dari Pacitan pun turut serta menemani wisuda besok.


Terlihat sekali Renata sangat bahagia, sejak tadi ia bergelayut manja dengan sang ibu di ruang keluarga, kangen mungkin, karena sejak menikah dia belum pernah bertemu kedua orang tuanya. Bahkan Jea harus mengalah, tatkala istrinya itu meminta tidur bersama orang tuanya. Berasa perjaka untuk malam ini.


Pagi sekali setelah sholat shubuh, Renata sudah memulai make up, dibantu MUA langganan mama Jea yang datang tepat pukul 5 pagi. Makhluk tulang lunak, tapi asli cuantik. Bahkan Renata pun berkali-kali memuji kecantikan dan kulitnya yang glowing. Jea melihatnya geram juga, meskipun begitu tetap saja MUA yang biasa dipanggil Reva, singkatan dari Revaldo (nama aslinya) adalah seorang laki-laki, terlebih Renata sedang hamil, Jea sengaja menyindir dengan kata 'nyebut sayang', 'Yang amit-amit', sampai si Reva main pletat pletot tak suka pada Jea.


Tiga mobil menuju kampus Renata, mobil yang ditumpangi Jea dan Renata dikendarai oleh Daffa, sengaja memang mengajak bujang lapuk itu menghadiri wisuda Renata, toh janji meeting dengan Pak Ilham diundur. Sedangkan mama bersama Mita di antar Pak Dirman, untuk keluarga Renata menggunakan mobil mama lainnya yang disopiri bapak Renata sendiri.


"Pastilah, biar ada kenangan juga, si dedek menemani bundanya mengerjakan skripsi dan wisuda." Ucap Jea dengan nada lembut, menunjukkan betapa ia mencintai sang istri dan buah hatinya.


Daffa hanya bisa tersenyum tipis ketika melihat dari spion keromantisan mereka berdua. Berharap juga, dia segera mendapatkan jodoh.


Prosesi pelepasan sarjana dari berbagai jurusan, baik sarjana, magister maupun doktor berjalan cukup lancar. Tangis keluarga pecah ketika satu per satu nama mahasiswa disebut. Ah leganya. Satu tahapan penting dalam hidup terlewati. Semoga mendapat ilmu yang bermanfaat.


Bertemu di pintu keluar, Jea sudah menyambut kehadiran sang istri dengan buket bunga, boneka, snack bertuliskan happy graduation my lovely wife, Renata sayang ❤️❤️❤️.


Ah... rasanya cukup terharu, di dalam gedung ibu dan bapak menghadiri penobatan gelar sarjana desain, saat keluar pun sudah disambut senyum sayang suaminya. Nikmat Allah yang tak terkira.


Kecupan manis di puncak kepala sang istri dan eratnya pelukan, membuat Renata tak kuasa menahan haru. Di hari bahagia ini, perempuan yang sebentar lagi bergelar ibu itu dikelilingi orang-orang yang ia sayangi.


"Nyonyaaaaaaaa CEEEO!" Teriak Ceca. Kemesraan pasangan itu terusik dengan kehadiran Ceca, Ola dan Bian. Ketiganya juga menunggu orang tua yang belum tampak di pintu keluar.


"Poto dulu, ya! Pak CEO tolong potoin kita dong." Pinta Ceca dengan menyodorkan ponselnya.


"Sekali deh pak CEO, besok udah jarang ketemu loh sama kita." Cetus Bian slengean.


Alhamdulillah malah, batin Jea.


Cekrek


Cekrek

__ADS_1


Cekrek


Cekrek


Entah berapa kali bunyi kamera terdengar, saat mereka sibuk mengatur posisi ataupun pose Jea sengaja memotret moment persahabatan mereka. Meski sang istri terus ngomel, "Yang, belum juga siap," atau "Ih....Yang moto terus, bentar napa." Belum lagi, Ola yang mencibir, "Nih CEO ngeselin ya, bentar woy."


Dari mulai pose lucu, pose serius, sampai pose haru ada. Bian pun sampai menitikkan air mata, perasaan baru kemarin mereka berkenalan, eh sekarang bersalaman untuk berpisah, menyambut kehidupan nyata, berbaur dengan masyarakat.


"Bos, disuruh ke stand foto, sudah ditunggu Tante." Daffa tiba-tiba muncul, entah kebetulan atau apa, dia sempat menatap Ola sepersekian detik. Gadis cantik dengan balutan kebaya modern yang sedang bermain ponsel di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya terdapat toga, berdiri dengan cantik dan anteng. Terlihat dari samping pun Daffa mengakui, gadis itu amat cantik.


Jujur Daffa terpesona.


"Kakak, ayok ke KUA, bajuku udah siap buat ijab nih." Celoteh Ola saat manik matanya bertatapan dengan Daffa. Ia memasang wajah manis dengan tersenyum.


"Nyesel gue muji Lo." Gumam Daffa yang langsung balik kanan, menghindari ocehan gadis yang sedang kumat. Namun, mungkin disiapkan untuk menjadi ke kasih, Ola langsung menarik lengan Daffa, di saat laki-laki itu menoleh, Ola mendekatkan wajahnya. Hanya beberapa centi saja, bibir Daffa akan menubruk pipi Ola.


Cekrek


Pose itu terabadikan dan langsung diunggah ke Instagramnya, diikuti beberapa fotonya saat memakai toga di dalam gedung, atau dengan para sahabatnya.


Saatnya Ijab Sah😂😂😂😂


Begitu caption yang dibagikan Ola.


"Cieee....bakalan lanjut nih." Ledek Renata sebelum menarik Jea menuju stand foto.


Cekrek


Foto keluarga Renata


Terimakasih bapak, ibu, mbak Via atas doa dan dukungan selama Renata menuntut ilmu, terimakasih atas cinta yang tak terhingga untuk Renata. Maaf belum bisa membahagiakan kalian semua. I love youuuuuuu my mom, my dad, my Via.


Cekrek


Foto keluarga kecil Renata-Jea


Tawa dan bahagia serta kemesraan yang diiringi kemesuman hakiki dari kamu, suamiku. Keputusan yang tak pernah kusesali saat menerimamu menjadi imamku. Terimakasih... Terimakasih cinta yang kau berikan kepadaku, Terimakasih sudah memilihku menjadi ibu dari anak-anakmu....


Hay sayang, i love you, Jea Andra Sanjaya.


Cekrek


Foto keluarga besar


Cekrek


Foto Persahabatan Renata


Terimakasih sudah menemani hari-hariku dengan gelak tawa, canda, dan belanja. Aku tak pernah menyesal memilih kalian menjadi sahabatku. I love you guys....


##########


TAMAT

__ADS_1


END


Terimakasih atas jempol komentar kalian untuk Karya pertamaku ini, terimakasih banyak


__ADS_2