
Tok...tok..tok....
"Masuk!" Suara Bian mempersilahkan tamunya untuk membuka pintu, ternyata si Ola dan....Wira yang berjalan di belakangnya.
"Eh ada anak perawan yang lagi PMS berbulan-bulan," sindir Ceca ketika Wira tiba-tiba duduk di hadapannya, mencomot cilok yang begitu menggoda selera.
"Gak usah mulai deh," ketus Wira. Cowok itu masih belum sadar kalau Renata juga ada di ruang itu, tapi lagi di kamar mandi.
"Set dah, Wir. Gue gak Lo tanyain kabar malah langsung ngejugrug di depan Ceca, mentang-mentang Renata duduk di situ juga." Bian ngomel, bagaimana bisa dia yang sakit malah dicuekin juga demi cilok. Astaga.
Renata, nama gadis yang beberapa bulan ini dihindari Wira, ada di sini, selera makan cilok langsung anjlok. Sialan.
"Emang dia di sini, Ca?"
Ceca hanya mengangguk lalu bermain ponsel lagi. "Kenapa? gengsi Lo gedein, ditinggal nikah nyaho' Lo!"
"Cih...nikah-nikah aja, emang gue pikirin."
"Bener ya! Oke....biar dia sama manajer di tempat magangnya." Cerocos Ola, ngetes reaksi si Wira sableng.
Sontak saja Wira mendelik, manajer? gawat, udah mapan dong. Kunyahan cilok berhenti total, ia meneguk air mineral sebanyak mungkin, membasahi tenggorokan yang begitu kering mendengar ancaman Ola. Shiitttt!!!
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, semua mata beralih menatap gadis yang sedang merapikan lengan kemejanya, habis wudhu.
"Eh, ada Wira sableng." Renata menyapa begitu santai, seperti tidak ada beban kalau dirinyalah penyebab Wira ngambek. "Gue sholat dulu, jangan tinggalin gue buat ngrumpi ya."
Melongo, mereka yang mendengar ocehan Renata menatap heran, nih cewek beneran gak peka apa gimana sih, si Wira udah uring-uringan kok dia malah ngajak ngrumpi. Ajaib.
"Gue pulang aja." Pamit Wira sepeninggal Renata yang sedang sholat.
"Pulang aja." Jawab Ola santai.
"Kok kalian gak ada yang ngelarang gue sih."
"Beuh ...beneran anak perawan lagi PMS lu. Kita jadi renggang gara-gara lu, ngambek gak kelar-kelar." Ceca malas juga meladeni Wira.
"Kalau Lo marah, ungkapin lah, malah dibiarin begitu saja. Lo kenal sama dia gak sehari dua hari, dan Lo udah tahu kan prinsipnya." Bian ikut mengomel.
__ADS_1
"Seraaaahh."
"Kalau gak kuat patah hati, gak usah kenal cinta. Cemen amat." Omelan Ola pedes level mampus.
"Eh Wira mau balik, cepet amat!" Renata kembali bergabung dengan mereka. Wira sudah di depan pintu, dan membelakangi mereka.
"Dia punya janji sama ceweknya, mau kencan!" Ceca sepertinya emosi karena sikap Wira yang kekanak-kanakan itu.
"Ouh, pajak jadian Wir." Renata terlihat santai mengucap itu, tak ada rasa canggung meskipun sudah lama lose contact.
Wira benar-benar pulang, dan ketiga sahabatnya hanya menghela nafas kesal, Renata hanya mengerutkan dahi. "Kalian kenapa sih?"
"Sini, Ta. Duduk. Gue mau tanya sama Lo, serius." Ceca mode bijak on.
"Lo harus memperjelas hubungan Lo sama Wira!" cepat sekali Ceca memberikan perintah, gak ada angin gak ada hujan kenapa pertanyaan seperti itu muncul.
"Maksud Lo?"
"Lu mau jadi pacarnya atau sekalian gak usah kenal dia."
Sungguh Ceca memberikan sulit. Jadi pacar itu gak mungkin, Gak kenal Wira juga gak mungkin, mereka sahabatan sejak menjadi mahasiswa baru. Pilihan sulit.
"Benar Renata, Ca. Kalau Wira udah gak mau berteman sama Renata lagi, ya Renata juga gak bakal ngerengek jadi temannya. Yakin gue." Bian memperjelas dan diangguki oleh Renata.
"Ya udah biarin ajalah, ntar kalau udah reda ngambeknya juga balik ke kita." Ola cukup santai tak ambil pusing dengan acara ngambek si Wira. Secara mereka akan menyandang status sarjana, tindakan, pemikiran harusnya seperti lulusan S1 lah, jangan kayak bocah.
*****
Tepat jam 10, dengan setelan kerja hitam putih. Celana bahan hitam, dan blouse putih, rambut dicepol, serta blazer dan heels 7 cm, Renata melenggang cantik ke ruang meeting, menemani Fahmi, manajer devisi kreatif marketing.
Sudah ada beberapa manajer dan asisten manajer di sana, meeting ini merupakan meeting bulanan bersama bos di perusahaan anak cabang.
"Selamat pagi." Suara bos muda yang memang sebulan sekali mengunjungi anak perusahaannya.
Semua berdiri dan menundukkan kepala, tanda hormat. Hanya Renata yang melongo sambil mendelik.
Jeaaaaaaa
Begitupun dengan Jea, ia masih terpaku dengan sosok gadis yang masih terngiang di benaknya, berpisah di terminal Semarang dan tak berniat berdekatan dengan gadis itu. Jea sadar ada Wira yang mengharap Renata.
__ADS_1
Tapi kini? bolehkah dia melompat kegirangan? boleh kah dia tersenyum lebar, bertemu gadis pujaan?
Pertanda jodohkah??????
"Ehem, silahkan duduk kembali." Ucapnya mengusir kecanggungan dan menahan emosi agar tidak terpaku pada Renata.
Daffa, asisten Jea mulai membuka meeting pagi ini. Ada beberapa informasi yang disampaikan, salah satunya proyek kerja sama antara Wijaya property dengan pemerintah daerah, terkait pembangunan rumah bersubsidi.
Setelah itu dilanjutkan presentasi masing-masing devisi tentang kinerja selama bulan kemarin begitupun program kerja untuk bulan yang akan datang.
Meeting berjalan 2 jam, dan bertepatan dengan makan siang, Jea sengaja memanggil Fahmi untuk ke ruangannya.
"Sejak kapan ada anak magang di devisi kamu?" tanya Jea setelah Fahmi masuk ke ruangannya.
"Hampir 2 bulan ini pak!"
"Kenapa kamu mengikut sertakan anak magang di meeting kali ini?" Jea ingin mengorek tentang Renata berdalih kinerja anak magang.
Fahmi pun menjelaskan kinerja Renata selama magang. Dari awal gadis itu cukup cekatan, tugas pertama memang hanya menyuruhnya memfotokopi berkas, disuruh memilah-milah berkas dari devisi lain, membuatkan kopi untuk beberapa senior dari berbagai devisi.
Saat minggu ketiga, Fahmi mencoba memberikan tugas membuat file presentasi, dan sejak saat itulah Fahmi mengetahui kemampuan Renata dalam mendesain sesuatu, bahkan membuat video animasi untuk promosi.
Bangga? tentu saja. Kinerja Renata cukup meringankan beban kerja Fahmi dan Elsa.
"Semangat sekali kamu memuji anak magang itu, naksir?" sindir Jea, sebenarnya ingin tahu saja, apakah ada saingan lagi untuk mendapatkan Renata.
"Hem, maksud bapak?" Fahmi terkejut juga kenapa pertanyaan seperti itu terlontar begitu saja dari seorang CEO muda. Pertanyaan gak penting banget.
"Ya siapa tahu kamu naksir sama dia, karena kamu cukup antusias saat menceritakan anak magang itu."
Fahmi hanya menggaruk kepala, bingung juga mau jawab apa. "Renata itu adik kelas saya." Jea mulai membuka siapa Renata. "Kita satu KKN. Saya juga gak tahu kalau dia akan magang di sini."
"Maaf pak."
Ganti Jea yang mengerutkan dahi, "Kenapa minta maaf?"
Fahmi tersenyum canggung.
"Kamu pernah makan siang sama dia, berdua?"
__ADS_1
Lah pertanyaan nyeleneh apalagi ini? Fahmi menggeleng. "Bagus!" ujar Jea tersenyum bahagia. Kerutan di dahi Fahmi semakin banyak. Siang itu, sang bos cukup aneh bin ajaib. Hanya karena anak magang sampai memanggil manajer devisi, kalau boleh protes, pak pekerjaan saya masih banyak, please pulang aja dah, daripada bahas Renata, batin Fahmi dalam hatim