
Akhir pekan ini, Renata sengaja mengajak Neva kencan, lebih tepatnya double date bersama Daffa. Misi untuk menyatukan mereka harus terjadi, karena Renata tahu Neva lebih jutek dari dirinya, cowok yang dekat dengan Neva kebanyakan mundur karena tidak cocok dengan kejutkannya.
"Bisa kan?" tanya Renata pada Jea yang masih sibuk dengan laptopnya. Siang ini Renata ke kantor Jea dengan diantar Pak Dirman, ia batal ke butik mama untuk menemani Ola pesan kebaya untuk wisuda nanti. "Yang!" tegur Renata.
"Bilang sama Daffa sendiri!"
Renata beranjak keluar, tapi suara Jea menghentikannya seketika. "Mau ke mana?"
"Katanya disuruh bilang ke kak Daffa. Gimana sih?"
"Ya gak usah ke sana, habis ini juga dia nangkring di sini. Kayak gak tau dia aja, sini!" Titah Jea dengan melambaikan tangannya, menyuruh Renata mendekat.
"Kenapa sih semangat banget, jodohin mereka?" tanya Jea dengan menarik tubuh Renata ke dalam pangkuannya.
"Yang, ini kantor loh!"
"Gak pa-pa," ucap Jea dengan menempel manja di pundak sang istri. "Capek Yang!"
"Ya iyalah kerja, ya mesti capek."
"Kamu ke kantor tiap hari ya, biar moodku bagus! Suntuk tau tiap hari lihat kertas Mulu."
Renata tertawa, "Bukannya tiap hari ketemu cewek kantor yang syantik dan wangi ya, pemandangan menggiurkan masa' sih dianggurin." Cibir Renata tak percaya, kalau suaminya gak lirik-lirik pada karyawannya, minimal sekertarisnya, Dina, yah lumayan cakep lah.
"Cantik gak bisa dinikmati buat apa!" masih dengan memeluk sang istri.
"Bahasamu Yang, emang makanan dinikmati. Udah ah, jangan gini." Risih juga Renata dengan kelakuan mesum suaminya ini.
"Maunya gini?" tanya Jea yang langsung menarik tengkuk sang istri, menyesap rasa manis di bibir yang dipoles lipstik beraroma Cherry.
"Wooowww bos gak ada akhlak." Ucap Daffa yang main nyelonong ke ruangan Jea dan melihat adegan romantis pasangan muda itu. Renata spontan menyembunyikan wajahnya di pundak sang suami. Malu.
"Cih...ketok pintu dulu, jadi asisten gak ada akhlak."
"Iri? bilang bos!" cibir Renata setelah mengontrol emosinya, dan bangun dari pangkuan sang suami, menuju ke sofa.
"Memang klop kalian berdua, sadar woy ini kantor, gak cukup di kamar doang?" makin sinis saja Daffa.
Renata tertawa, "Sok tahu, kan gak harus di kamar ya kan sayang." Celoteh Renata, dan diangguki Jea dengan senyum mengejek.
"Serah deh, serah." Daffa mengakhiri perdebatan unfaedah, lebih memilih membuka beberapa berkas yang harus diperiksa Jea.
"Kak Daffa, Minggu depan kita double date yuk. Aku bilang Neva deh, mau gak?" aksi pertama perjodohan ala Renata.
Neva
Baru disebut namanya sudah membuyarkan konsentrasi Daffa. "Ck.... gara-gara istri bos, konsentrasiku ambyar." gumam Daffa.
"Heleh, lebay Lo bujang lapuk."
"Cih... mentang-mentang udah punya pasangan, seenaknya bilang bujang lapuk."
"Makanya kak, ikut kencan ya weekend ini. Pepet terus Neva deh!"
"Beres!"
"Emang Neva mau, Yang?" tanya Jea, sukses membuat Daffa mendongak.
"Eh iya, dia belum balas wa semalem, sabar ya tong, nanti dikabarin, kalau dia nolak gak jadi kencannya."
"Kalian tuh sama, klop, bikin emosi. Gak laki gak bini tukang PHP. "Ujar Daffa segera keluar ruangan bos sembari membawa tumpukan berkas yang belum selesai ia teliti.
"Dih lagi PMS." Cibir Renata. "Kalau jadi kencan di mana ya kak?"
"Pantai aja."
"Hem...villa gimana?"
"Boleh, di puncak. Ada villa mama di sana!"
"Ajak mama juga ya?"
"Terserah!"
Renata girang. Ia langsung menghubungi Neva karena tak kunjung dibalas. Istri Jea itu begitu semangat menjodohkan mereka berdua. Feeling sebagai sahabat mereka berdua tuh cocok. Kriteria pria idaman Neva juga ada pada diri Daffa, usia yang matang, mangga mungkin kali ya matang segala, kekkekekke. Ganteng, oke Daffa juga ganteng meski lebih ganteng Jea sih. Sopan, Daffa sopan banget, kalau sama orang lain, kalau sama Jea enggak ada sopan-sopannya. Pekerja keras, wah Daffa gak usah ditanya soal pekerja keras, gila kerja itu mah.
"Assalamualaikum, Ta!" jawab Neva tergesa-gesa.
"Waalaikumsalam, di mana?" Renata penasaran sesibuk apa dia sampai mengabaikan pesannya hampir seharian.
__ADS_1
"Lagi di jalan, gue habis bimbingan. Ada apa?"
"Weekend ikut gue ke puncak yuk."
"Acara apa?"
"Ngadem doang ke puncak."
"Ya elah, rumah suami loh gak ada AC buk, ngademnya jauh amat Ampe ke puncak!"
"Bisa gak? asli deh gak mengecewakan!"
"kalau gretong gue mau,"
"Ck....gretong, tinggal bawa badan doang."
"Oke, berangkat jam berapa?"
"Berangkat pagi, jam 6 Lo udah nyampe rumah suami gue!"
"Astaghfirullah, pagi amat Nyonya!"
Renata cekikikan, padahal ia berniat menyuruh Daffa menjemput Neva. "Udah, pokoknya jam 6 teng Lo udah siap di depan rumah suami gue. Bye!"
"Pemak-"
Tut
Renata memutus sambungan sepihak, tanpa mengucap salam.
"Yang, pokoknya weekend ini jangan lembur."
"Hem!" jawab Jea masih fokus menatap layar laptop.
"Daffa juga Jumat sore gak boleh lembur."
"Hem!"
"Jam 6 kita berangkat ke puncak, biar gak terlalu macet."
"Hem!"
"Yang kamu kok ham hem ham Hem aja sih, jawab apa kek!"
"Iya sayang, kamu atur aja. Aku ikut aja."
Renata mendekat ke arah Jea, mencium pipi suaminya, "Makasih "
"Sebelahnya belum!"
"Dih fokus sama laptop aja, gak usah aneh-aneh." Renata kembali menuju sofa, bermain ponsel lagi. Jadi gini ya istri pengangguran itu, rebahan doang kerjaannya, menemani suami yang sibuk kerja eh salah gila kerja malah. Apalagi kalau Renata ikut ke kantor, malah gak ingat pulang. Hufh.
"Yang, perusahaan kamu ini pakai media apa buat promosi?"
" Web dan pamflet aja, marketing terjun ke lapangan gitu sih." Jawab Jea masih fokus dengan laptopnya.
"Kamu gak mau Yang, promosi di Instagram atau medsos lain?"
"Anak marketing kemarin sih belum ada ide untuk itu!"
"Payah ah, di ponsel kamu ada gambar atau video proyek kamu gak?"
"Ada."
Renata pun mengambil ponsel Jea, mencari beberapa gambar yang mendukung idenya, siapa tahu kreativitasnya bisa dimanfaatkan untuk memajukan perusahaan sang suami.
Hampir satu jam, Renata sama sekali tak mengganggu Jea, yah meskipun beberapa kali Jea melirik sang istri sih. Bahkan mereka sholat ashar pun sendiri-sendiri, Renata langsung fokus ke ponselnya lagi. Entah apa yang dilakukan dengan ponselnya, sampai tak berisik lagi.
"Mau sholat Maghrib di sini apa pulang?" saking khusyuknya, Renata tak menyadari keberadaan Jea.
"Di sini aja!" jawab Renata masih fokus pada ponselnya.
"Makan di luar aja ya, baru pulang!"
"Hem!" ganti sekarang Renata yang cuek pada Jea, menjawab ala kadarnya.
"Kamu sibuk apa sih?" tanya Jea.
"Ntar kalau jadi aku kirim ke kamu."
__ADS_1
"Mau bareng gak sholatnya?"
"Bareng."
"Ya taruh ponselnya dulu sayang, ayo wudhu!"
Istri yang patuh, Renata pun meletakkan ponselnya dan beranjak ke ruang istirahat Jea untuk mengambil wudhu lalu sholat berjamaah.
"Sayang istriku!" ucap Jea sambil mencium kening Renata setelah salam.
"Sayang suamiku!" ujar Renata dengan memeluk tubuh Jea. Tempat paling nyaman untuknya, saat sedih dan bahagia dalam dekapan Jea Renata merasa aman dan nyaman. Ia juga tak menyangka bisa jatuh cinta pada lelaki ini dengan cepat. Mungkin karena sikap Jea yang kelewat romantis dan perhatian, membuat Renata gampang menyukainya.
"Sehat-sehat yan, Nak!" tuh kan perhatian banget deh.
"Iya papa!" jawab Renata mewakili jawaban anak dalam kandungannya.
"Dari tadi ngapain sih, sibuk banget sama Hp?"
"Habis ini aku kirim ke kamu deh, tapi gak maksimal kayaknya." Renata segera melipat mukenahnya dan berkutat pada ponselnya kemudian. Jea merapikan meja kerjanya terlebih dulu.
Tok...tok...
Daffa masuk setelah dipersilahkan.
"Mau pulang jam berapa?" tanya Daffa, biasanya Jea meminta disupiri juga kalau ada nyonya di kantor.
"Habis ini, kamu pulang aja dulu. Aku bawa mobilku sendiri."
Tanpa menjawab, hanya mengangkat jempol Daffa pun keluar. Renata yang sudah finishing segera mengirimkan hasil karyanya ke wa suaminya.
"Buka nanti aja, yuk pulang, horor banget kantor kamu."
"Kenapa? takut?"
"Udah ah, yuk, lapar juga."
Keduanya pun segera pulang, masih ada beberapa karyawan yang sepertinya masih lembur, hanya saja sebagian besar bilik kerja sudah gelap. Renata terus menggandeng lengan sang suami, takut juga.
Di parkiran pun tampak sudah sepi, entahlah suasana horor terasa sekali saat itu. Tanpa menunggu Jea membuka pintu mobil untuknya, Renata langsung masuk dan duduk anteng begitu saja.
"Kenapa sih, takut banget kayaknya!"
"Gak tahu, merinding. Udah ah yuk pulang."
"Aneh, aku yang biasa pulang habis isya aja gak ada apa-apa Yang." Celoteh Jea dengan menyalakan mobilnya. Tak lama keduanya sudah meninggalkan kantor dan menuju rumah makan Padang, sesuai request sang istri.
"Makan yang banyak!" titah Jea ketika pelayan resto menyediakan beberapa lauk khas masakan Padang yang menggugah selera.
"Beres!"
Keduanya makan dengan tenang, Hem lebih tepatnya tak ada obrolan. Tangan kiri Jea masih sibuk dengan ponselnya, malam begini biasanya melototi saham. Kadang Renata kasihan sama Jea, hampir 24 jam otaknya diperas. Memang sih uangnya melimpah. Ucapan ibu kembali terngiang, kalau mau sukses gak ada yang instan, bukan masalah dikorban atau mengorbankan hanya saja mana yang menjadi prioritas. Jadilah seorang istri yang tak banyak menuntut pada sang suami, karena suamimu sudah memperlakukan kamu layaknya seorang putri.
"Hemmm mahal nih!" celetuk Jea, membuyarkan lamunan Renata.
"Apa?"
"Video promosi kamu!"
"Iyalah, karya mahasiswa S1 bos!"
"Bayar berapa?"
" 15 Juta!"
"Busyet, mahal amat Neng!"
"Kalau jual murah ma kacang goreng Bang!" Renata mengimbangi candaan suaminya.
"Senin besok meeting sama anak marketing ya, ide bagus nih, merambah ke Instagram juga."
"Jangan lupa bayar, gak gratis loh!" ujar Renata menirukan Jea yang selalu meminta imbalan atas apa yang diberikan ke Renata.
"Beres, ntar malam aku kasih imbalannya."
"Ih ..bukan itu imbalannya."
"Itu apa?" Goda Jea. "Makan yang banyak, siapin tenaga buat nanti malam."
"Ogah!"
__ADS_1
"Nolak dosa loh!"
Hufhhhh