CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
PEMAKSA


__ADS_3

Dua gadis duduk berdekatan, yang satu menunduk dan merapatkan kedua kakinya, tangannya ditautkan satu sama lain. Gadis satunya melihat ke arah suaminya lalu ke sahabatnya bergantian. Siang menjelang sore, Renata dan Ola diminta Jea ke kantor.


Saat membuka ruangan Jea, Renata menatap suaminya yang tampak angker, namun karena ketidak pekaannya level tertinggi, ia menyapa suami, memeluk dan mencium seperti biasa. Diperlakukan seperti itu, Jea tersenyum tipis meskipun hatinya dongkol setengah mati. Bukan pada istrinya, tapi pada sahabat istrinya yang somplak habis.


Satu jam sebelum makan siang, Jea menerima kedatangan paruh baya yang memang salah satu rekan bisnis papanya, hanya saja beliau jarang sekali bekerja sama dengan sang papa karena bisnis mereka jauh berbeda. Sanjaya Group bergerak dalam bidang konstruksi sedangkan usaha papa Ola utama berupa fashion dan ATK (produksi alat tulis kantor).


Beliau datang ke kantor Jea ingin mengonfirmasi terkait omongan Ola yang berhasil membatalkan perjodohan dengan Wira. Sanjaya Group akan menanamkan modal di perusahaan papa Ola, Grass & OK company.


"Saya hanya memberikan kesempatan dengan meminta Ola mengirim proposal hari ini, Pak. Saya belum menyetujuinya." Jawab Jea sopan. Bagaimanapun pria dihadapannya sebaya dengan sang papa.


"Tapi Ola tadi malam bilang kalau dia sudah menemukan penanam modal untuk perusahaan kami, dan itu perusahaan Anda."


"Saya mempelajari tentang proyek baru Anda terlebih dahulu, kirimkan file proposalnya pada email asisten saya."


"Baik saya akan saya kirimkan, tapi saya harap Anda tidak mengingkari ucapan Anda pada Ola. Kalau bisa bolehlah Ola dijadikan istri Anda." Dengan seringai bahagia papa Ola pun pamit mengundurkan diri.


Saat pintu ruang tertutup. Daffa tidak henti-hentinya tertawa hingga memegang perutnya yang keram akibat tertawa terlalu keras. Sedangkan CEO muda itu hanya memijat kening, pusing.


Berhubungan dengan sahabat istrinya sama saja menyenggol istrinya juga. Kalau ditolak, istrinya juga bakal kena imbasnya. Sumpah dilema.


"Sayang kok ngelihatin Ola kayak gitu?" tanya Renata bingung. Sahabatnya yang seperti radio rusak ini benar-benar kincep.


"Coba, La. Deskripsikan proyek baru papa kamu sampai saya percaya untuk menanamkan modal, dan peluang untung setelah saya membuang beberapa digit uang saya." Titah Jea dengan menahan emosinya.


"Proyek dari bidang fashion....hemm....emmmm...hemmm," dia bingung mau menjelaskan apa, dia tak tahu sama sekali urusan proyek. Saat magang dulu memang dia sering diajak meeting sama papanya, bertemu klien, tapi setelah keluar ruangan jelas langsung dilupakan. Otaknya enggan memikirkan hal yang tidak penting, dan sekarang, mati kutu.


"Apa?" Jea meminta penjelasan lebih. Daffa fi sebelah Jea hanya menahan tawa sebisa mungkin agar tidak meledak.

__ADS_1


"Ah...Pak CEO gue gak tahu perusahaan bokap gue kayak apa. Plis kasih modal aja kenapa sih."


"Enak saja, emang kamu siapa saya yang bisa perintah ini itu. Uang yang saya keluarkan itu 0 nya ada sembilan, bukan ecek-ecek."


"Gue kan sahabat istri Lo, masa' gak mau bantu sih. Lo kan kaya, rugi dikit kek. Demi kemaslahatan kita semua, Helwa, Wira, gue. Bantuin napa, Ta!" oceh Ola yang membuat Jea dan Daffa langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Gue..."Renata menatap suaminya, akan memelas juga demi sahabatnya.


"Gak usah melas, Yang. Kalau suami kamu bangkrut, kamu tambah pelit loh!" ancaman Jea, padahal dalam hati ingin tertawa ngakak.


"Noh, gue gak mau lah suami gue bangkrut. Kasihan siang malam bekerja, gue aja ampe ngalah gak pernah diajak jalan-jalan, demi kemaslahatan gue, mama, dan Mita. Belum lagi kalau gue hamil, anak gue mau makan apa nanti? Lo yang tanggung?.


Bisa-bisanya Renata lebih nyerocos dari Ola. Daffa ingin keluar saja, tapi tidak bisa semudah itu, karena Jea sudah melototinya.


"Ya udah, gue bakal bikin proyek baju anak-anak seri Disney, seri profesi, seri dinosaurus, seri anime, seri kendaraan. Masing-masing diproduksi 5000 pcs, dipasarkan via pre-order untuk para distributor. Harga per baju 45ribu, untuk harga grosir 30ribu. Packaging pakai plastik berseal. Di depan plastik itu nanti ada tema bajunya, lucu kan, Gimana?" Jelas Ola dengan lancar.


"Silahkan buat proposal proyek baju seri dalam imajinasi kamu itu, saya tunggu tiga hari, serahkan proposalnya pada Daffa," Jea memutus perdebatan unfaedah ini. Cukup sudah berdebat dengan sahabat somplak istrinya ini.


"Lah bos kok ke saya?" protes Daffa.


"Udah babang Daffa kerjasama bareng gue tuh mengasyikkan kok, nanti kalau proyek baju seri ini berhasil dan untung, babang Daffa bakal gue traktir deh, mau beli es krim boleh, ayam pok pok boleh, atau burger ayok. Gue baikkan?."


Daffa langsung mengetukkan kepalanya di meja kerja Jea. "Cewek ajaib." Gumamnya.


"Sekarang kamu," tunjuk Jea pada Ola , "dan kamu," tunjuk pada Daffa. "Silahkan keluar." Jea.sudah jengah dan pusing.


Keduanya keluar dengan ekspresi berbeda. Si cewek dengan riangnya sedangkan si cowok gergetan pengen pites cewek di sampingnya.

__ADS_1


Kutukan apa gue ketemu cewek somplak kayak dia, Astaghfirullah. Gumam Daffa dalam hati.


Sepeninggal mereka berdua. Jea mendudukkan tubuhnya di samping sang istri. Memijat kepalanya yang pusing sambil memejamkan mata. Istrinya memeluk pinggangnya sambil menatap wajah kalut suaminya.


"Yang.." panggil Renata.


"Hem."


"Kamu banyak kerjaan ya, kelihatan pusing banget?"


Jea membuka matanya, tatapannya tepat bertemu dengan mata bulat sang istri. Tersenyum sebentar lalu bersandar di pundak sang istri, nemplok manja.


"Kerjaanku banyak itu sudah biasa, yang gak biasa itu bertemu dengan perempuan gak jelas kayak sahabatmu."


Renata ngakak, wajar sih suaminya pusing. Ola begitu percaya diri menjelaskan proyek yang hanya berdasarkan imajinasinya, yang tidak bisa diterima begitu saja oleh suaminya yang berotak waras.


"Senang banget kamu kayaknya lihat aku gelagapan menghadapi Ola." Cibir Jea sambil menghirup aroma leher istrinya.


"Anggap aja hiburan sayang, kan lucu dengan kekonyolannya." Usul Renata sambil menepis tangan suaminya yang mulai nakal.


"Kalau gitu hibur aku biar gak pusing lagi." Pinta Jea yang sudah bermain di 'masa depan' sang istri.


"Ih...kamu, ini kantor. Ah..." protes Renata sambil sedikit mendesah. Jea pun tertawa, gampang sekali memancing hasrat sang istrinya ini.


"Yuk." Jea sudah membopong Renata menuju ruang di balik kursi kebesarannya, sambil tak lupa menekan tombol lock, mengunci pintu ruangannya terlebih dahulu.


Renata meskipun kesal, tetap saja ia menuruti sang suami. Emang dia bisa apa selain pasrah. Setiap kali menolak, suaminya itu pasti mengeluarkan jurus andalan 'nolak dosa loh'.

__ADS_1


__ADS_2