
"Masih sanggup?" tanya Jea setelah turun dari wahana Halilintar itu, ia menyeka keringat sang istri dengan tissue basah, kening dan leher. Ah ia lupa ada bekas percintaan mereka di leher Renata yang ditutupi foundation . "Maaf sayang." Cengir Jea.
"Duh pasti kelihatan." Keluh Renata, terlambat Ceca dan Neva sudah melihatnya. Ada sekitar tiga bekas yang tercetak dengan jelas.
"Mata gue mata gue, ternoda." Keluh Ceca sambil menutup matanya.
Renata menonyor pipi sahabatnya itu sambil tertawa, lalu merangkul pundak Ceca, "Gue gak sepolos dulu sodara." Jea ikut tertawa melihat keakraban sang istri dengan para sahabatnya ini.
"Pikiran gue traveling, sumpah!" Neva kesal.
"Maafkan anak perawan ya, Mak!" Renata memelas pada Neva yang memandangnya kesal.
"Idih ngapain minta maaf, Lo mau jungkir balik sama laki Lo, gak ada urusan sama gue." Lanjut Neva.
"Gitu ya kamu, Va. Udah punya pengganti teman tidur trus ngelupain gue."
"Hi ...geli gue. Diem Lo!" Hentak Neva lalu bergabung dengan anak lorong lain.
"Ta, Lo mau ikut naik alap-alap?" tanya Ola agak berteriak.
Renata menggeleng, ogah dengan wahana yang memacu adrenalin. Ia ingin ke wahana air saja.
"Gue jalan sama suami gue aja, kalian naik aja."
Ola dan yang lain menuju ke wahana alap-alap. Renata mengajak Jea istirahat beli minuman dan Snack.
"Capek?" tanya Jea.
"Banget."
"Lagian tenaga tinggal setengah masih aja naik wahana begituan."
Renata meringis, "Seru sih jalan sama mereka."
"Dan lupa sama suaminya."
"Maaf deh! Makanya sekarang aku temenin kamu."
Jea gemes, mengacak rambut Renata sebentar.
"Eh jangan diacak dong, udah lepek sama keringat nih."
"Kuncir aja, lagian cuma kita berdua gak ada yang lihat leher kamu."
Renata menguncir rambutnya lumayan tinggi. Tengkuk lehernya pun sampai terlihat, Jea yang melihatnya hanya menelan ludah dengan kasar. Bayangan buka kado masih terekam jelas.
"Kucel gini kok tambah cantik ya, jadi pengen.."
"Yaaaangggg!" rengek Renata menghentikan kelakuan mesum suaminya. Ia memukul lengan Jea, eh Jea malah tertawa. Begini ya rasanya nikah muda, selalu tertawa bila berdekatan. Renata si manja dan setengah waras selalu menjadi hiburan tersendiri bagi Jea. Ada saja ide untuk menjahilinya, dan membuat Renata kesal.
"Ehem...ehem."
__ADS_1
Keduanya menoleh, ada Wira di belakang mereka, dan langsung duduk tanpa permisi. Dia ikut beneran?
"Baru datang, Wir?" tanya Jea basa basi.
"Iya, anak-anak mana Ta?" hanya melihat Jea sekilas lalu menatap lekat ke arah Renata. Ingin sekali memeluk gadis itu, sangat kangen, dan diakui Wira, Renata memang terlihat lebih cantik. Pernikahannya bahagia mungkin.
"Lagi naik alap-alap. Lo sama siapa ke sini?"
"Sendiri, jomblo sih, kemana-mana ya sendiri." Ngenes dah hatinya babang Wira. melow amat bang. Jea yang mendengarnya hanya tertawa sinis.
"Cari pacar dong, Wir. Kayak gak ada cewek lain aja." Sambar Renata, niatnya memang kasih semangat agar segera move on.
"Cewek yang gue taksir udah nikah, males gue cari cewek lain."
"Dih...kayak gak ada cewek lain aja." Renata meledek. Bagaimanapun Wira adalah sahabatnya, dia tidak setega itu untuk mengacuhkannya.
"Emang Lo bahagia, Ta?" sebuah pertanyaan yang menyentil diamnya Jea. Yah...sejak Wira datang, Jea membiarkan keduanya mengobrol, dia hanya diam mendengarkan percakapan mereka. Ia sadar betul, Wira butuh ngobrol dengan istrinya. Hanya saja ia gak mau mereka berduan. Lagian, Renata juga ngobrol biasa, tidak terlihat gugup atau canggung dengan kehadiran Wira.
"Banget, suami gue selalu bikin gue bahagia tiap hari." Ucapnya sambil menatap Jea sebentar sambil tersenyum. Jea pun menatap manik mata sang istri, terlihat berbinar.
"Gue ke sini mau curhat sama Lo, tapi malah tambah panas, nyesek. Gak ada akhlak Lo!"
"Dih...situ aja yang baper kebangetan. Dah cari cewek sonoh,. Gue mau berdua sama suami gue, hush...hush...."
Wira langsung menonyor kening sahabatnya itu, "Sahabat lucknut."
"Ih...rese' Lo!"
"Kenapa?" tanya Renata, dari tadi suaminya itu menatapnya serius, dan sesekali tersenyum padanya.
Jea menggeleng, lalu menggenggam erat tangan Renata, "Takut diambil cowok itu, gak rela aku."
Renata ngakak, ia pun mencium tangan Jea. "Gak akan ada yang ambil aku dari kamu, kecuali Allah. Gak usah takut, istri kamu insyaallah bisa jaga hati kok."
"Harus." Jawab Jea sambil mengusap puncak kepala Renata, mesra.
Panggilan telpon dari Ola membuyarkan kemesraan mereka berdua.
"Ikut naik Niagara gak?" Ucap Ola tanpa salam.
"Oke gue ke sana!"
"Naik Niagara yuk, janji deh wahana terakhir. Habis itu makan siang."
"Ayo!"
"Yang, baju ganti oke kan." Ucap Renata melihat rombongan sebelumnya basah kuyup. Harus memastikan baju gantinya dulu.
"Aman, kalau gak nanti beli aja."
"Hem dasar sultan, gitu mau minta traktir." Sambar Vino.
__ADS_1
"Hutang tetap hutang kali." Cicit Renata.
Fix....rombongan Ceca naik Niagara. Seperti biasa sebelum on, cekrek dulu. Wahana ini juga memicu adrenalin, tapi di akhir byur ...cipratan air membasahi wajah dan tubuh mereka membuat fresh lagi setelah tegang.
Ceca mengajak lagi, mereka pun menurut seperti anak ayam dengan induknya. Putaran ketiga kalinya, Jea melarang Renata ikut, bajunya sudah basah kuyup, 'dalam negeri' Renata sudah terpampang, wah gak bisa dibiarkan, bisa jadi pemandangan gratis nih. Ia menarik Renata ke toilet, dan menyuruhnya membersihkan diri. Begitupun dengan dirinya.
Tepat jam 2, matahari cukup terik. Mereka sudah membersihkan diri dan sholat, kini menuju restoran untuk makan siang. Para ciwi jelas berdebat soal makanan, terutama Ola dan Ceca yang super cerewet. Ola pengen makan bakso, Ceca pengen makan lalapan. Duh.....
"Bakso mana kenyang." Keluh Ceca,
"Makan lalapan tuh berat, habis ini kita naik wahana lagi." Bela Ola.
" Haduhhhh...rempong amat sih." Renata berusaha menengahi, akhirnya diputuskan untuk makan di rumah makan yang menyediakan aneka seafood.
Seperti biasa, Ceca menjadi moderator soal iuran makan, tetap dong meskipun sultan gak mau rugi dia. he..he..
"Kak Vino mau bayar di sini apa ...."
"Kapan-kapan kalau gak ada suami Lo!"
Jea menonyor kepala belakang Vino, "Enak aja, istri gue bakal gue kekep terus."
"Kuping..kuping gue..!" Sindir Ceca memukul-mukul pelan telinganya, agar tidak membahas konten dewasa di acara makan siang ini.
"Diam ya sayang, kasihan mereka masih piyik." Saran Renata sambil tersenyum sinis pada sang suami.
"Oke, ntar di hotel saja." Cengir Jea tanpa dosa. Sedangkan para ciwi hanya saling tatap, sedangkan yang cowok udah cekikikan. Mereka sudah Travelling sesuai kapasitas otaknya masing-masing.
"Suami istri, klop, sama-sama gesrek." Cela Vino dengan senyum mengejek.
"Lo ngapain, Ta, nginep di hotel segala?" tanya Neva. Nih, mantan teman tidur Renata juga mancing perkara.
"Bulan Madu!" bukan Renata yang menjawab, tapi Jea. "Eh aduh..aduh." Jea langsung mendapat cubitan dari Renata.
"Kakak diam dong." Renata jengkel juga.
"Maaf deh!" ucap Jea sambil mencuri kecupan di pipi sang istri. Makin riuh saja acara makan siang itu. Vino langsung menonyor kepala bos muda itu.
"Mata gue...mata gue!" Ceca blingsatan.
"Makkkkkk, kawinin Neva, Mak!" ucap Neva sambil gigit sendok menatap ke arah Renata.
"Suami Lo, Ta, Piktor level akut." Cibir Ola.
Renata hanya menutup wajahnya dengan tangan, malu banget. Gadis sopan nan lugu sepertinya bukan cerminan dirinya lagi. Udah terkontaminasi gara-gara Jea.
Jea memang sengaja melakukan itu semua, terutama di depan Wira. Hanya cowok itu yang datar, sepertinya dia menahan emosi. Saat Renata malu pun, dengan seenaknya Jea memeluk tubuh Renata sambil tertawa. Hem makin riuh saja suasana meja mereka, sampai beberapa pengunjung menatap kegaduhan mereka.
"Maaf ya, aku sengaja bikin Wira panas." Bisik Jea pada Renata, sontak saja Renata menatap manik mata suaminya. Keduanya saling tatap, dan cekrek. Romantis. Ceca pelaku pengambilan foto itu.
"Gue kirim ke wa Lo, Ta!"
__ADS_1