CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
DILAMAR


__ADS_3

Obrolan dengan sahabat setengah warasnya, membuat Renata diam, selama di mobil ia hanya menatap lurus atau memalingkan wajahnya ke jendela mobil. Berusaha menikmati pemandangan jalan raya yang mulai macet karena waktu pulang kerja.


Jea sesekali melirik Renata, bingung juga kalau diam begini. Pasalnya istrinya itu serasa seperti akun lambe-lambe yang ada di Instagram, tiap hari pasti ada sesuatu yang diceritakan.


"Ada apa?" tanya Jea sambil menangkup pipi mulus Renata dengan tangan bebasnya. Mendapat sentuhan tiba-tiba, Renata mengerjap kaget.


"Eh.."


"Kepikiran Wira?"


Renata mengangguk.


"Emang dia kenapa?" tanya Jea penasaran, karena sampai mereka berdua Renata belum menceritakan apa yang terjadi.


"Punya pacar baru, dan kakak tau siapa?"


"Siapa?"


"Helwa teman KKN kita."


"Masalahnya?"


"Kalau buat aku sih gak masalah, dari dulu kalau dia punya cewek ma terserah dia. Hanya saja Ola yang terlalu ikut campur."


"Trus?"


" Ola tuh gak percaya kalau Wira benar-benar pacaran sama Helwa, secara dia---" Renata tak berani meneruskan, ia hanya menatap Jea.


"Cinta banget sama kamu."Potong Jea sambil melihat Renata, dan istrinya itu hanya mengangguk.


"Prediksi Ola, Wira hanya membuat Helwa pelarian dan Ola khawatir kalau Helwa sampai hamil."


"Hamil?"


"Tadi kita habis dari kampus melihat Wira dan Helwa masuk apartemen di jalan S, dan aku heran, mereka berpikir ke apartemen pasti melakukan 'itu', bisa aja gak kan?"


Jea menahan tawa, ia mengacak puncak kepala sang istri, meskipun sudah melakukan hubungan suami-istri, Renata masih saja menjadi cewek polos dan berpikir positif.


"Ya udahlah, biarin. Itukan pilihan Wira."


"Iya." Jawab Renata pelan.


"Kamu sedih Wira punya pacar?" Jea penasaran dengan perasaan Renata yang sebenarnya pada Wira, sahabat rasa pacar, sebutan untuk keduanya saat KKN dulu.


"Enggak, kenapa?"


"Iya siapa tahu, Wira kan ganteng, kaya, dekat sama kamu, masa' kamu sedikitpun gak pernah naksir Wira?"


Renata mengingat-ingat peristiwa yang pernah dilewati mereka berdua, tak ada spesial, toh keduanya memang tidak pernah jalan berdua, selalu ramai-ramai.


"Kagum dulu pernah, saat ospek dulu. Ne anak kok ganteng, murah senyum, baik, trus pas mulai pdkt, males aja, cuma enak diajak berteman aja."


"Yakin gak naksir?"

__ADS_1


Renata mencibir, cemberut juga ini mancing apa memastikan, nanti kalau jawab salah ngambek, marah-marah, cemburu akut. Buhhh..menyebalkan.


"Enggak."


"Sini deketan!" titah Jea sambil menarik baju Renata, menyuruh perempuan kesayangannya merapatkan ke tubuhnya. "I love you."


"Love you too!" jawab Renata sambil mencium pipi kiri Jea. Jea hanya mengusap pipinya sambil tersenyum. Manis banget sih nikah muda itu.


Suasana manis di mobil Jea berbeda dengan ketegangan di rumah Jea, ada seseorang laki-laki bernama Bagas. Ia menemui mama Jea, membawa parsel buah dan mengutarakan niatnya melamar putri beliau.


"Anak perempuan saya masih SMP Lo nak Bagas." Jelas mama Jea yang heran dengan kedatangan tamunya ini. Gak ada angin gak ada hujan datang melamar. Toh mama Jea baru melihat pemuda itu sore ini.


"Maksud saya bukan Mita, Bu. Anak perempuan ibu yang lain. Mita bilang kakak perempuannya begitu."


Mama Jea hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung, ini siapa yang dimaksud sih. Mama Jea berniat memanggil Mita untuk mengartikan siapa perempuan yang dimaksud pemuda ini.


Baru saja mama Jea akan memanggil Mita, Renata tiba-tiba masuk dengan mengucapkan salam, tak sadar kalau ada tamu.


"Bu, mbak ini yang saya maksud." Bagas langsung tersenyum menatap Renata. Mama Jea melongo.


"Ada apa, ma?" tanya Renata sambil memegang lengan mertuanya, sekaligus menganggukkan kepala tanda sopan pada tamunya.


"Sebentar ya nak Bagas!" Mama langsung menarik tangan Renata, masuk ke ruang makan yang langsung tembus dengan garasi, Jea juga kebetulan lewat situ.


"Gawat, Ta!"


Renata langsung mengernyitkan dahi, gawat apaan nih? Ceril masih di sini? bukannya udah diusir mama ya tadi siang???


"Ada yang mau lamar kamu, Ta!"


"Ha??? Jea dan Renata kaget..


"Dia Abang temannya si Mita, tapi mama lupa siapa nama ya tadi."


Renata menatap Jea yang tampak kesal. Ingin ketawa tapi takut dosa. Duh....ada juga ya kejadian kayak gini.


"Ya udah mama bilang aja kalau Renata anak mantu mama." Usul Renata, masih mencoba menahan tawa.


"Kalau dia gak percaya?"


"pasti percaya mamaku sayang," Aku memberi dukungan kepada mama untuk segera klarifikasi pada orang itu. Bukan tak mau membantu mama, tapi Renata mau mengurus suaminya dulu yang sedang menahan amarahnya. Shock mungkin istrinya ini dilamar orang. he..he..


"Ya udah mama ke depan."


Sepeninggal mama, Renata mencuci tangan di wastafel dan ikut duduk di samping Jea yang sedang meneguk air dingin untuk yang ketiga kalinya.


"Aus ya sayang?" Renata mencoba bercanda. Eh Jea menatapnya sinis lalu menghembuskan nafas pelan.


"Wajah kamu bisa gak sih dibuat jelek aja."


Hmmpph...Renata gak kuasa menahan tawanya. Sore itu Jea asli kesal. Lucu sih sebenarnya, tapi jangan bikin dia malah lebih ngambek deh. Renata lalu merangkul lengan Jea, menatap wajah lelah sang suami, dan tersenyum manis. "Kamu tuh gak usah kesal gitu napa, udah tahu kamu tuh cinta pertama dan cinta terakhir aku juga."


"Kesal aja, ada laki-laki yang mau lamar kamu."

__ADS_1


Renata cekikikan, memang konyol sih, tapi bukan salah Renata dong. Di jidat Renata tidak ada stempel yang menyatakan dia istri Jea. Wajar mereka gak tahu.


"Yuk mandi, biar fresh gak cemberut lagi "


"Mandi bareng!"


"Ogah!"


Jea mana bisa ditolak, ia langsung menarik tengkuk Renata, mendaratkan ciuman lembut, tidak peduli di ruang makan. Renata memukul dadanya, ia takut ada orang yang melihatnya. Pasti memalukan.


"Ya ampun.....mata gue!" Mita masuk dapur dan langsung koar-koar. Dia menghentakkan kakinya, kesal melihat kelakuan kakaknya itu. Renata malu setengah mati, wajahnya merah. Sedangkan Jea hanya memasang wajah tanpa dosa. "Apa lu, ganggu aja!" sahut Jea pada adiknya yang hendak mengambil air.


"Nyosor tuh di kamar!" Ketus Mita sambil memukul pundak sang kakak.


"Maaf ya, Mita." Renata merasa bersalah mencemari pemandangan di ruang makan sore ini.


"Makanya nurut sama suami, diajak mandi bareng gak mau."


"Kakkkaaakkkkk," setelah perbuatan yang bikin mata Mita terkontaminasi sekarang ucapan kakaknya yang gak ada akhlak itu. Renata hanya menutup mata dan menunduk, sumpah malu.


"Ta, Bagas mau ngomong sama kamu. Mama udah bilang dan sebelum dia pamit dia ingin ngomong sebentar sama kamu." Mama datang dengan sedikit tergesa semakin menambah kesal Jea.


"Bagas, abangnya Luki, teman aku ma? Lah ngapain?"


"Gara-gara Abang teman Lo, mood gue anjlok." Ucap Jea sembari berdiri dan segera mengajak Renata ke ruang tamu.


Karena Mita baru meltek dan pikirannya gak nyampe memahami ocehan kakaknya, ia mencari tahu dari mama saja, tapi baru memanggil ma, Mita langsung kincep. Mama ngomel.


"Kamu tuh bisa gak sih sama kakak kamu tuh akur, mama pusing tahu gak. Gara-gara kamu bilang Renata itu kakak kamu ada orang yang mau melamarnya, dan besok siap membawa keluarganya. Ya ampun, Mita. Kamu bikin Mama pusing."


Mita putar balik, gak jadi duduk di ruang makan mending masuk kamar, ia mlipir menjauh dari mama itu lebih baik.


"Perkenalkan saya Bagas, abangnya Luki, Luki itu teman Mita. Saya pernah ke sini, kamu ingat gak?"


Renata duduk di sebelah Jea. Meringis saja mendengar sapa perkenalan Abang teman Mita ini. Sore yang mengejutkan memang.


"Ingat!" jawab Renata sambil mengangguk pelan lalu menoleh ke arah Jea.


"Saya tidak tahu kalau kamu menantu di rumah ini, karena Mita bilang kamu adalah kakak perempuannya."


Renata mengangguk.


"Maafkan saya, untung saya belum membawa keluarga besar saya. Rencananya kalau hari ini saya direstui oleh orang tua kamu, besok saya lamar."


Renata mengerjapkan mata dua kali. Shock.


"Maaf ya mas, perempuan ini istri saya," Ucap Jea sambil merangkul pundak Renata. Bagas mendelik, kaget juga perempuan yang ia suka dirangkul laki-laki yang sialnya adalah suaminya.


"Baiklah, saya permisi. Terimakasih sudah mengizinkan menatap wajah kamu, kamu cantik."


Renata meringis, hidung Jea sudah kembang kempis menahan amarah. Berita Istrinya dilamar saja membuat darahnya mendidih. Apalagi sekarang, istrinya dipuji cantik dihadapannya pula. Nyesek.


"Pintu di sana!" Ucap Jea menunjuk arah pintu, mengusir secara halus lalu menarik tangan Renata begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2