CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
UJIAN SKRIPSI


__ADS_3

Berakhir sudah, setelah menyadari yang berbalas pesan dengan dirinya adalah Renata, sejak itu Nadya tak pernah mengirimi Jea lagi. Malu atau mungkin sedang mencari cara untuk menghubungi mantan terindahnya dengan media lainnya.


Jea tak mempermasalahkan hal itu, toh sejak dulu jengah juga dengan Nadya. Putus ya putus, gak usah berniat balikan. Kesalahan Nadya cukup berat bagi Jea. Bilang sedang jalan bareng Lusi, ternyata berlibur di Puncak bersama Endru. Fatal bukan? Cantik sih cantik, tapi tak setia buat apa.


Ting


Sebuah pesan dari nomor luar negeri, membuat Jea hanya mengernyitkan dahi. Renata tak pernah punya teman di luar negeri. Kebetulan malam itu, ponsel Renata di dekat Jea, ia sedang merebahkan tubuh lelahnya dengan bermain ponsel, sedangkan sang istri sibuk mencetak skripsi yang bakal diujikan hari Jumat besok.


"Yang, kamu punya teman dari luar negeri?"


"Gak punya. Kenapa?"


"Ada pesan WA dari nomor luar!" ucap Jea sambil menunjukkan ponsel Renata. Perempuan yang belum terlalu mengalami kenaikan berat badan itu langsung mengambil ponselnya, membuka pola dan segera membaca pesan itu.


"Siapa?" tanya Jea yang ikut melihat roomchat dan menampilkan foto bayi baru lahir dengan caption, Alhamdulillah anak gue udah lahir, Ta. Cewek, gue izin mau kasih nama Renata ya. Lo kasih izin gak?


Renata tersenyum namun detik berikutnya menutup mulutnya, menghentikan Isak yang tiba-tiba datang. "Loh kok nangis, siapa sih?" tanya Jea yang langsung memeluk sang istri, membelai lembut surai hitamnya, lalu mengusap air mata di pipi Renata.


"Helwa. Anaknya cantik, mau dikasih nama Renata. Hu...hu..." makin haru saja Renata.


"Bangga deh aku punya istri kayak kamu sayang,"


"Kok bisa?"


"Dicintai banyak orang."


Cup


Jea mencium kening sang istri. "Dulu ruh kamu dapat antrian pertama mungkin saat pembagian sifat baik."


"Ngaco." Jawab Renata dengan memukul dada sang suami.


"Bahkan seorang Ito saja mengaku kamu perempuan yang baik, selalu menjaga kehormatan suami."


Renata menatap wajah Jea, mengajaknya rebahan saja. Bunyi printer dibiarkan saja, sudah malam, waktunya istirahat juga.


"Kenapa bahas Ito?"


"Tadi dia ke kantor, awalnya sih bahas kerjaan. Tapi saat makan siang, dia bilang kalau aku harus bersyukur punya istri kaya kamu. Gak pernah menanggapi perhatian laki-laki lain."


Jea membelai pipi sang istri dengan sayang, "Entah kebaikan apa yang aku lakukan hingga mendapat istri seperti kamu."


"Karena kamu juga menjaga diri kamu, pada dasarnya jodoh itu cerminan kita kok. Kalau kita baik, maka dapat pasangan yang baik juga, begitu sebaliknya. Banyak syukur saja, aku juga bangga sama kamu."


"Apa?"


"Di chat Nadya kemarin aku membaca kamu tidak mau merusak anak orang, ya kali dengan tingkat kemesuman kamu kayak gini gak nyangka saja kamu bisa menolak."


Jea menjetikkan jari di kening Renata, "Enak aja bilang aku mesum."


"Terus apa kalau gak mesum?"

__ADS_1


"Aku mesumnya sama kamu tuh berpahala kali."


Renata mencibir, "Emang kamu gak nafsu lihat Nadya yang begitu sexi loh."


Jea mengubah posisinya, berbantal lengan dengan menatap langit kamar, sedangkan Renata masih menghadap dirinya. "Takut, Yang."


"Kenapa?"


"Takut anak orang hamil."


Renata tersenyum, "Lalu?"


"Gak sehat pacaran dengan Nadya itu, terlalu agresif."


"Emang cewek kamu gak ada yang gitu?"


"Dibilang aku gak punya mantan, selain Nadya gak percaya banget sih. Yang mutusin mama, Yang iyain mama juga."


"Trus kamu kenapa bisa pacaran sama Nadya?"


Jea menerawang, mencoba mengingat masa itu. Lalu dia tersenyum, "Dia innocent banget saat menjadi maba. Ya menjadi omongan anak-anak juga, penasaran dong. Aku ikutan aja wa dia, eh ditanggapi lanjut deh. Awal sih kita pacaran biasa, makan jalan nonton. Setelah berlibur di Villa milik Sofi, dia menunjukkan aslinya."


"Digoda dong."


"Dipancing lebih tepatnya."


"Suka?"


Jea menoleh ke arah Renata, mencium kening istrinya sekilas, "Namanya cowok normal, suka lah."


"Dibilang aku takut, kesalahanku cuma satu, mau berciuman dengan dia. Nyoba aja sih."


"Rasanya?"


"Gak boleh marah ya!"


Renata sudah cemberut, tapi penasaran juga. "Iya!" jawabnya malas.


"Cium dulu!" titah Jea sambil menunjuk bibirnya, dan Renata pun dengan ikhlas mengecup bibir Jea. Lugunya Renata ternyata dimanfaatkan Jea, ia memegang tengkuk Renata, memberikan pagutan mesra pada istrinya.


"Kamu tuh." Kesal juga Renata dengan kemesuman Jea.


"Enakan sama kamu, halal lebih mesra dan nikmat."


"Boong banget, paaak." Renata berseloroh, Jea tertawa, istrinya ini tak bisa dikibuli.


"Terkesan bernafsu, kalau ciuman sama dia tuh pakai mikir juga. Dalam hati, duh harus tahan, jangan lebih, anak orang, gak mau jadi bapak, gitu terus."


Ganti Renata yang tertawa, menangkup pipi sang suami, gemas. "Kalau sama aku gak mikir."


"Gak lah, malah berharap lanjut mendesah "

__ADS_1


"Hiiii....apaan sih." Protes Renata, bahasa suaminya sudah jauh di atas normal.


"Heleh, menikmati banget aja, sok sok an geli." Jea kembali menonyor pipi sang istri yang pura-pura geli mendengar bahasa Jea.


"Yuk."


"Gak ah, Yang. Kamu lupa kalau ada debay?"


Jea mana peduli, langsung saja ambil posisi di atas Renata, mengamati wajah protes sang istri. Istri cantik kok dianggurin. Rugi besar!


******


Perut buncit Renata sudah mulai tampak, rok hitam dan kemeja putih yang ia kenakan terasa press, tidak menyangka saja, bajunya kini sempit.


"Cantiknya!" puji Jea melihat penampilan Renata. Ia mendekat lalu memeluk sang istri. "Sudah siap?"


Renata mengangguk, "Kasih semangat dong!"


Jea hanya memeluk istrinya dan mengusap perut sang istri, "Bunda lagi berjuang, doain bunda ya sayang."


"Iya papa!" Ucap Renata menirukan suara anak kecil. Pada akhirnya, Jea ingin anaknya nanti memanggil papa saja.


"Yuk berangkat, hari ini aku jadi suami siaga."


"Tiap hari juga jadi suami siaga, makasih."


"Gak gratis loh!" Jea mulai melakukan aksi tawar menawarnya. Renata hanya memutar bola mata malas. Menarik sang suami untuk segera keluar kamar, dan segera berangkat ke kampus.


Di depan ruang ujian, sudah ada Ola dan Ceca, serta Bian-Kia. Sahabat somplaknya begitu setia mendampingi Renata. Kebetulan mereka bertiga mendapat jadwal ujian hari senin.


"Lo yang ujian gue yang tegang, Ta!" Ceca.


"Pak Shandy cuakep, Ta, awas terpana sampai gak bisa jawab Lo!"


"Gantengan suami gue lah!" ucap Renata sambil menyenggol lengan sang suami.


"Pak CEO mah lewat!"


Jea hanya mencibir, ocehan perempuan sengklek gak usah ditanggapi, istilahnya yang waras ngalah.


Renata mencium punggung tangan suami, meminta restu pada sang suami. "Doakan aku ya!"


"Sukses sayang!" Ucap Jea sambil mengelus puncak kepala sang istri, dia hanya menatap punggung Renata yang akan masuk ke ruang ujian. Menunggu dalam diam, ia gunakan untuk mengontrol kantor. Membalas chat Daffa ataupun mengecek email.


Hanya 45 menit Renata berada di ruang ujian, senyum bahagia langsung terpancar, lega rasanya puncak dari empat tahun menimba ilmu di bangku perkuliahan kini telah usai. Dia memamerkan form telah selesai melakukan ujian skripsi. "A punya!" ujarnya bahagia, disambut pelukan Ola, Kia dan Ceca, tak lupa Bian yang hanya berani menyodorkan tangannya untuk bersalaman. "Selamat!" cetus Bian.


Setelah pelukan dari sang sahabat, Renata reflek memeluk Jea, "Aku berhasil, makasih doanya."


"Sama-sama!" pandangan keduanya bertemu, Jea kan mengecup kening tiba-tiba ada celutukan yang menghentikannya, "Kampus Woy!" bukan sahabat istrinya, tapi dosen pembimbing Renata, Pak Shandy.


Jea memukul lengan kakak kelasnya itu, "Pak dosen apa kabar?"

__ADS_1


"Cih....sudah tahu buruk dan nyesek, masih ditanya." Jawabnya jujur dan membuat Jea tertawa. Sedangkan sahabat somplak Renata hanya bengong melihat keakraban keduanya.


"Suami idaman gak jadi vs suami kaya akrab banget!" Bisik Ola yang langsung mendapat jitakan Renata.


__ADS_2