
Sorot mata marah dari Wira tampak jelas, ia ingin memecahkan layar ponselnya. Belum siap menerima kenyataan, gadis idamannya benar-benar dinikahi orang. Mungkin ini mimpi.
"Percaya kan?" Jea memantik api, Wira langsung mematikan panggilan videonya.
"Kakak ih....malu tau."
"Dia gak percaya omongan kamu, langsung tindakan ajalah. Selesai kan?"
Renata mencibir, ia tahu karakter Wira, sebelum dia puas mendapatkan alasan pasti ngejar terus deh tuh anak.
"Selesai malam ini, tidak untuk esok." Ketus Renata.
"Besok dipikir besok aja sayang."
Renata menahan tawa, Jea begitu mudah memanggilnya sayang. Emang udah cinta? Oke malam ini ingin ngobrol banyak dengan sang suami, apapun terutama soal perasaan.
"Kak, kamu masih sibuk?"
Jea terlihat masih berkutat dengan tabletnya, "Kenapa?" masih fokus juga.
"Aku pengen ngobrol sama kakak!" Barulah Jea menoleh ke arah sang istri. Betapa terkejutnya Renata tidur di pinggir kasur, dan ia yakin bergerak sedikit saja ia akan jatuh.
"Kenapa disitu, sini deketan!"
Duh....ne cowok gak grogi sama sekali seranjang dengan cewek. Apa sudah sering seranjang seperti ini? Semoga tidak.
"Nanti kamu jatuh sayang." Ucapnya lembut.
Renata menurut, menggeser tubuhnya agak ke tengah tapi masih berjarak dengan Jea. "Mau tanya apa?"
"Kakak gak risih seranjang sama aku?"
"ini pertanyaan apa mancing?" goda Jea, sebenarnya ia juga ingin menyentuh istri yang baru 24 jam dinikahi itu. Hanya saja ia juga tidak mau egois karena ia yakin belum ada rasa cinta dalam diri Renata untuknya.
Renata memukul pelan lengan Jea, dan pemuda itu tertawa. Tablet ia letakkan, sudah tidak konsentrasi lagi kalau berdekatan seperti ini. Dia merebahkan tubuhnya di ranjang berbantal lengan kiri dan menatap langit-langit.
"Ada juga aku yang tanya, kamu siap gak seranjang dengan aku?" tanya Jea lalu menoleh ke Renata.
Gadis itu hanya menggeleng, lalu mengangguk. Jea tentu heran dengan perubahan gerakan kepalanya. "Kok?"
"Aku gak siap, takut juga seranjang sama kakak, tapi aku juga tahu lah statusku sekarang apa."
Jea menarik tubuh Renata dalam dekapannya, ia menikmati degupan jantung Renata, sambil tersenyum tipis. "Kita mulai dari awal ya, kita pacaran dulu, pacaran setelah nikah. Kayaknya lebih nikmat."
Terasa anggukan kepala Renata, ia pun melonggarkan dekapannya, lalu berhadapan dengan sang istri. "Gak usah takut aku menuntut malam pertama, aku juga sadar kok kamu belum cinta sama aku, iya kan?"
__ADS_1
Dasarnya Renata yang polos dan kelewat gak peka, ia mengangguk saja toh emang benar belum ada rasa cinta untuk suaminya itu.
Jea berdecih, "Bohong dikit kek, biar aku juga seneng!"
Renata tertawa lalu menepuk lengan Jea pelan, "KDRT terus kamu!"
Lagi-lagi Renata tertawa, entahlah biasanya dia tidak bisa leluasa tertawa dengan laki-laki apalagi berdua, tapi dengan Jea kebiasaan itu sedikit berkurang. Mungkin karena stempel halal kali.
"Daripada pura-pura mending jujur, Kak! Cinta bilang cinta, enggak bilang enggak. Kalau kakak emang udah cinta sama aku?"
"Belum!" jawab Jea cepat.
Renata diam, kalau gak cinta kenapa melamar, gimana sih.
"Kok gak tanya?" pancing Jea karena respon sang istri cukup datar.
"Bingung, kan gak cinta kenapa melamar?" akhirnya uneg-uneg dalam hatinya ia ungkapkan.
"Katanya harus jujur. Aku emang belum cinta sama kamu, tapi aku pengen dekat sama kamu terus, aku gak suka kalau kamu dekat dengan Wira, aku juga pengen tahu kabar kamu tiap saat. Tapi aku gak bisa, kamu kasih palang dilarang berdekatan gitu, jadi langsung aku lamar aja deh, sekalian stempel halal."
Renata tersenyum, pengakuan dari seorang laki-laki yang gak pernah ia dengar, biasanya cowok yang nembak dirinya selalu bilang aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu, mau ya jadi pacar aku. Cih...ngapain pacaran kalau gak dinikahi, rugi dong cuma gandeng renteng kayak truk gandeng ujungnya jadi mantan.
"Kalau kamu kenapa akhirnya menerima aku?"
"Aku takut gak dikasih kesempatan lagi buat dapat laki-laki baik seperti kakak."
"Baiklah, di KKN sering shodaqoh, trus nekad banget loh nemuin bapak ibu padahal anaknya aja belum tentu mau, kakak juga gak pernah emosi, kaget aja waktu menurunkan Maya dan Nadya di jalan. Tega itu ma."
Jea terseyum, kalau dipikir-pikir ia memang tega juga ya. Tapi mau gimana lagi buat kasih pelajaran pada mereka gak boleh setengah-setengah.
"Habis kayak anak kecil banget mereka, rebutan perhatian cowok, gak dewasa banget."
"Namanya orang cinta, semua bakal dilakukan lah,"
"Kamu juga gitu?"
"Gak bakal. Kayak gak ada cowok lain aja."
"Kalau sekarang aku direbutkan cewek-cewek, gimana?"
"Ya gue majulah, kasih ultimatum ke mereka, Gue istrinya, mau apa Lo!"
Jea tertawa lepas, bahkan terbahak-bahak, mencoel dagu Renata, "Nyonya Jea kalau marah serem."
"Udah terlatih soalnya."
__ADS_1
"Terlatih?? Maksudnya?"
"Ya..aku, Ceca, dan Ola terlatih buat ngadepin cewek-cewek yang sok centil dan mendewakan seorang cowok. Kalau diam ya ditindas lah sama mereka."
"Dilabrak?"
Renata mengangguk. "Kok bisa?" malam ini saatnya mendengarkan sisi lain dari sang istri.
"Gara-gara si sableng pernah. Gara-gara cowok nembak pernah, dikira merebut cowok pernah." Jelas Renata sambil bangun dari rebahannya, menceritakan pengalaman dilabrak nyesek juga.
"Kamu sih bikin cowok tuh penasaran sama kamu. Aku aja sampai maju mundur buat dekat sama kamu."
"Emang apa sih yang bikin cowok penasaran tuh. Kayaknya aku juga gak wah wah banget, cantik juga B aja."
Jea malah mengambil ponsel, dan menyalakan kamera depan, mengarahkan pada Renata. "Coba ngaca di sini!"
Renata mengerutkan keningnya, bingung, apa maksud perintah Jea itu, "Kenapa?"
Jea kemudian mnyentuh wajah Renata, "Hidung kecil tapi mancung, lancip juga, dagu belah, mata belok, bulu mata lentik, dan ini yang bikin penasaran rasanya!" ujar Jea sambil menyentuh bibir Renata dengan ibu jarinya.
Renata segera menipi tangan Jea, "Tuh kan, penasaran karena habis mikir jorok kan? makanya aku gak mau pacaran, pasti bikin orang mikir yang gak-gak, awalnya aja pegang tangan ujung-ujungnya yang lain, kamu kan pengalaman."
"Pengalaman apa, cuma sama Nadya doang!" ups.... keceplosan.
Renata memicingkan mata, curiga, "Ngapain aja sama dia?"
"Cuma gini doang," Jea menarik tengkuk Renata dan kembali menciumnya, agak lama.
Renata mendorong tubuh sang suami, kesel, bisa-bisanya dia reka adegan. "Cih.. jangan-jangan kamu sekarang lagi mikir aku Nadya."
Jea tertawa pelan, "Gak lah!"
"Nadya ma ahli, bikin merinding."
Renata memukul tangan suaminya, kesel, bisa-bisanya dia membandingkan dirinya dengan sang mantan.
"Aku gak mau denger!" mode ngambek on, Renata menutup kuping dengan kedua tangannya, tapi Jea yang usil malah cerita tentang keahlian Nadya itu. Semakin emosi aja Renata, sampai bantal pun dipukulkan ke wajah Jea. Herannya Jea malah tertawa terbahak-bahak, yes...otw cemburu.
"Kamu tuh ngeseliiinn."
Jea memeluk Renata lagi. "Meskipun Nadya ahli, tapi aku gak berniat menjadikannya masa depan, karena apa?? karena aku bukan yang pertama buat dia, udah banyak cowok yang merasakan dirinya, beda sama kamu."
"Iya, aku dapat sisa Nadya, kamu dapat yang pertama." Ucap Renata cemberut, ini salah satu yang gak disukainya. Untung saja ia tidak melihat langsung. Jadi bisa ditolerir lah, masa lalunya.
"Percaya deh sama aku, mungkin kamu bukan yang pertama tapi kamu udah aku tetapkan menajdi yang terakhir. Lagian kamu nanti yang pertama kok merasakan Jea Junior." Ujar Jea enteng.
__ADS_1
Astaghfirullah......